This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label entrepreneur. Show all posts
Showing posts with label entrepreneur. Show all posts

Thursday, December 1, 2011

Bisnis jasa binatu semakin laku

Bagi kaum urban yang supersibuk, mencuci pakaian mungkin adalah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan sendiri. Karena itu, sebagian besar dari mereka memilih jasa pembantu atau menyambangi kios jasa binatu alias laundry. Tempat terakhir ini agaknya menjadi pilihan yang paling rasional, mengingat jasa binatu sudah menjamur dan lazim digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa hingga ibu-ibu rumah tangga memakai jasa binatu dengan alasan kepraktisan.

Meningkatnya permintaan binatu pakaian jelas menjadi peluang bagus. Tak heran, pemain baru usaha binatu pun bermunculan. Jelas, hal ini membuat persaingan di bisnis ini juga kian sengit. Tapi, meski persaingan kian ketat, bisnis binatu makin berkembang. Beberapa usaha binatu yang menawarkan kemitraan atau waralaba bahkan terus berhasil menggandeng mitra baru.

Tentu saja, keberhasilan pemilik kemitraan atau waralaba ini berkat beragam inovasi yang mereka lakukan. Seperti menggunakan mesin-mesin cuci teknologi baru, membuat bahan detergen sendiri sehingga lebih ramah lingkungan atau dengan mengubah beberapa skema kemitraan atau waralaba.  Selain itu, beberapa pewaralaba berusaha untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan. Mereka memberikan layanan antar jemput binatu dan menggaransi pelayanan mereka untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

Berikut KONTAN mencoba mengulas tiga kemitraan jasa binatu, yakni Dressed Laundry, Si KinClong, dan Beach Laundry. KONTAN memberikan kilasan gambaran perkembangan mereka dengan membandingkan kondisi beberapa waktu lalu.


Dressed Laundry

Menanamkan investasi dengan bergabung menjadi mitra jasa binatu ternyata masih menjanjikan keuntungan lumayan. Tengok saja perkembangan mitra Dressed Binatu yang didirikan Dedi Setiadi pada 2009 lalu. Kemitraan yang baru ditawarkan pada 2010 ini telah memiliki 16 mitra. Jasa binatu ini membidik pasar kalangan menengah.  Pada saat KONTAN mengulas kemitraan ini tahun lalu, Dedi baru menawarkan dua paket investasi Dressed Laundry, yakni paket Rp 30 juta dan paket Rp 40 juta.

Kini, Dedi telah mengubah strategi bisnisnya. Ia tak lagi menyasar kalangan menengah. Dressed Binatu menawarkan jasa cuci untuk segmen pasar premium.  Alhasil, perubahan bisnis ini ikut merombak bisnis kemitraannya. Dedi menyediakan empat paket investasi Dressed Laundry, mulai dari harga Rp 450 juta hingga Rp 2,4 miliar. "Kami ingin menjaga kualitas pelayanan dengan mengganti mesin cuci di setiap gerai," jelas Dedi.

Perubahan lainnya, Dressed Binatu juga melayani cuci satuan. Langkah ini ditempuh untuk memberikan layanan yang lebih optimal bagi konsumen dari kalangan ekspatriat. "Kami saat ini ingin lebih fokus menjadi penyedia jasa binatu kelas premium," ujar Dedi mantap. Sejak tiga bulan lalu, Dedi pun mengembangkan teknologi robotik dalam proses pemindahan pakaian dari pencucian hingga ke tahap pengemasan. Dengan menggunakan semacam lengan robot tersebut, Dedi bilang, proses binatu menjadi lebih cepat.

Tak hanya itu, mereka juga menggunakan mesin pressing yang menggantikan proses penyetrikaan secara manual. Alhasil, tampilan akhir pun menjadi lebih rapi dan memuaskan. "Layanan kami menjadi lebih cepat dengan teknologi robotik ini," ujar Dedi.


Si KinClong

Usaha binatu ini mulai berdiri sejak 2004 silam dan mulai menawarkan konsep waralaba setahun kemudian. Saat KONTAN mengulas waralaba asal Bandung ini pada Juni 2008, Si KinClong baru mempunyai 10 gerai yang tersebar di Bandung, Indramayu, dan Lampung.

Tiga tahun berselang, kini Si KinClong sudah memiliki 16 outlet yang separuhnya merupakan milik sendiri. Hendra Susanto, Manajer Operasional Si KinClong mengatakan, yang berbeda dari waralaba ini sekarang dibanding tiga tahun lalu, adalah penawaran paket investasi dan fokus membidik pasar di daerah tertentu.

Menurut Hendra, jika tiga tahun lalu pihaknya menawarkan tiga paket waralaba yakni Paket Standar sebesar Rp 90 juta, paket Gold Rp 100 juta, dan paket Premium senilai Rp 135 juta. Kini, Si KinClong hanya menawarkan Paket Standar saja. Dengan paket itu, lanjut Hendra, mitra bisa meraih omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Sedangkan untuk jasa pencucian Si KinClong tak menaikkan tarif yaitu Rp 6.000 per kg, tarif yang sama dengan tiga tahun lalu.

Hendra mengklaim, pengerucutan paket investasi ini bertujuan agar usahanya fokus pada segmen pasar tertentu. Dengan satu paket, Si KinClong juga menghindari adanya perbedaan kualitas. Bukan itu saja, Hendra menambahkan, kini Si KinClong juga fokus bermain di wilayah Bandung. Sebab, menurut Hendra, pasar binatu di Bandung masih cukup luas dan belum benar-benar terjamah secara merata. "Tahun depan kami targetkan menambah dua hingga tiga gerai baru di Bandung ini," tegasnya.

Walau demikian, Hendra menilai potensi bisnis binatu secara keseluruhan masih sangat besar. Hal terlihat dengan konsumen binatu yang terus tumbuh. "Pasarnya menarik, permintaan terus tumbuh, tapi persaingan kian ketat," tandasnya. Untuk memenangkan persaingan, Si KinClong juga berupaya untuk menyasar segmen di luar individu, yakni kalangan perusahaan. Walau dirasa cukup sulit namun Hendra optimistis hal itu bisa dilakukan.

Beach Laundry

Perkembangan jumlah mitra juga dialami oleh Beach Laundry. Usaha binatu ini didirikan oleh Andi Rakhmat Santoso di Yogyakarta pada 2007 lalu. Saat KONTAN menulis usaha ini pada 2010 lalu, Beach binatu telah memiliki 32 mitra, yang sebagian besar berada di Jabodetabek dan Jawa Tengah. Untuk para calon mitranya, mereka menawarkan tiga paket kemitraan, yaitu Rp 100 juta, Rp 120 juta, dan Rp 160 juta. "Paket itu tak berubah," ujar Andi.

Kini, usaha binatu di bawah PT Ghalasa Putera Indonesia ini makin berkembang. Beach Binatu sudah memiliki 60 mitra yang tersebar hingga wilayah Sumatera. Mitra cepat bertambah, karena Beach Binatu mengklaim punya beberapa keunggulan. Mereka telah memproduksi detergen sendiri, sehingga harganya lebih murah. Hendra mengklaim detergen buatannya lebih ramah lingkungan. "Binatu kami telah memiliki kesadaran untuk ramah lingkungan," ujar Andi.

Tak hanya itu, Beach Binatu juga menawarkan jasa pencucian yang lumayan lengkap, yakni layanan binatu kiloan dan juga binatu satuan. Demi menjaga kepuasan pelanggan, mereka juga memberikan fasilitas pengiriman cucian secara gratis. Tak cukup sampai di situ, mereka juga memberi kesempatan pada para pelanggannya untuk mengembalikan pakaian yang terbukti kurang bersih atau tidak rapi. "Kami memberikan jaminan layanan penuh tanpa pungutan biaya tambahan," ujar Andi.

Untuk semakin mengukuhkan posisi dalam layanan jasa bersih-bersih, pemilik Beach Binatu berencana mengembangkan layanan cucian motor, juga dalam paket kemitraan. Dengan pengembangan paket usaha cuci motor tersebut, Andi berharap akan dapat meningkatkan jumlah mitra dan memperluas ekspansi usaha mereka. "Kami mencoba mengikuti kebutuhan masyarakat yang berkembang saat ini," ujar Andi.


sumber = kontan

Kisah Sukses Pengusaha Muda Thailand

Jika di indonesia ada Reza Nurhilman yang berhasil menjual sensasi camilan keripik pedas bermerek Ma Icih yang amat populer, maka di Thailand ada pula pengusaha muda bernama Aitthipat Kulapongvanich yang sukses menjual camilan keripik rumput laut bermerek Tao Kae Noi, yang sanggup meraup omzet yang amat fantastis.

Film produksi Negari Gajah Putih, The Billionaire, menceritakan kisah nyala lika-liku jatuh bangunnya seorang pengusaha (entrepreneur) muda bernama Aitthipat KulapongvanJch (Pachara "Peach" Chirathivat) atau lebih dikenal dengan nama Top" Aitthipat.

Sebenarnya, Aitthipat merupakan seorang anak orang kaya. Namun pada usia 16 tahun, ia begitu terobsesi dengan permainan game online yang mengakibatkan nilai-nilai mata pelajaran sekolahnya merosot. Karena ia sudah tak lagi memiliki hasrat untuk meneruskan sekolahnya, pada usia 17 tahun, Aitthipat dropout dan memutuskan diri untuk menjadi penjaja kacang. Walau dengan modal pengalaman yang amat minimhingga seriug ditipu dan kerja sangat keras, usaha menjual kacang ini tak membuahkan hasil dan justru membuatnya kian terpuruk.

Saat usia Aitthipat genap 18 tahun, keluarganya bangkrut dan meninggalkan utang sebesar 40 juta baht. Kondisi ini menggiring keluarganya untuk eksodus ke luar negeri untuk mencari peruntungan dan membangun kembali bisnisnya. Namun Aitthipat memutuskan untuk tidak mau ikut serta dengan keluarganya hijrah ke luar negeri.

Hingga Dada usia 19 tahun, dia tergerak untuk menciptakan camilan rumput laut yang ia beri nama Tao Kae Noi. Dengan sigapnya, ia lalu mencoba menjual camilan rumput lautnya hingga ia sukses merambah di gerai-gerai sekitar 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.

Karena camilan ini amat disukai oleh banyak orang di sana, kini, pada usia yang ke-26, Aitthipat menjadi produsen camilan rumput laut terlaris di Ihailand dengan omzet hingga 800 juta baht per tahun, dan saat ini ia telah mempekerjakan 2.000 pekerja. Kerajaan bisnisnya ini justru telah bisa membayar utang keluarganya yang bernilai 40 juta bath.

Inspirasi kisah nyata hidup Aitthipat yang luar biasa ini kini difilmkan untuk bisa menggugah semangat entrcpreneurship di negeri Thailand.

Film yang Menginspirasi

Studio Gmm Tai Hub (GTH) memang merupakan salah satu studio film Thailand yang dikenal sering membuat Film-film bernuansa generasi muda yang kreatif. [he Billionaire merupakan salah satu hlm yang gemilang di Thailand karena memiliki nilai inspiratif yang memacu jiwa kewirausahaan anak muda negeri ini, yang juga layak untuk kita apresiasi dan tonton sejarah perjuangannya.

Film ini diarahkan oleh sutradara Songyos Sugmakanan,yang berhasil meraih anugerah Crystal Bear pada Berlin International Film Festival 2006 untuk kriteria Besi Feature Film, Crystal Simorgh pada Fajr Film Festival untuk kriteria Best Director bagi film berjudul Dorm (2006), dan sejumlah penghargaan internasional lainnya.

Sementara itu pemeran utamanya, Pachara "Peach" Chirathivat, merupakan aktor muda kelahiran 10 Mei 1993 yang dikenal telah membintangi film SuckSeed (2011). Peran sebagai Aitthipat cukup mewakili kisah nyata gejolak kehidupan pengusaha muda ini, walau masih belum sempurna. Film dengan durasi 120 menit ini, walau diselingi drama percintaan dan komedi komikal. amat menggugah karena pesan yang coba diangkat berhasil diciptakan melalui film ini.

Nah, jika Anda mampir ke gerai 7-Eleven terdekat dan menemukan camilan bermerek Tao Kae Nai yang konon artinya Pengusaha Muda ini, pastinya Anda akan kembali mengingat film ini. lika ada produser film Indonesia yang tertarik mengadaptasi kisah sukses film kewirausahaan produksi Thailand ini, tak ada salahnya meniru, apalagi sudah ada juga pengusaha muda yang sukses memproduksi bisnis camilan seperti keripik Ma Icih yang juga unik dalam metode strategi pemasaran.

Wednesday, November 30, 2011

Wirausaha Ekonomi Kreatif Bakal "Booming"

Dengan sentuhan tangan individual, melalui entrepreneurship, dan bukan konglomerasi, Indonesia akan bangkit. Kreativitas adalah modal utamanya dan anak-anak muda daya dorongnya. Demikian, Christovita Wiloto, pendiri dan chairman Indonesia Young Entrepreneur (IYE) dalam sebuah diskusi seputar entre preneurship di Jakarta, Rabu (30/11).

Diskusi yang menghadirkan pengusaha muda dan sukses dari berbagai bidang, termasuk fashion dan olahraga, juga mendatangkan Dr A Prasetyantoko, ekonom Partner Strategic Indonesia. Prasetyantoko memberikan gambaran sekaligus solusi untuk entrepreneur dalam menghadapi peta ekonomi CHINDONESIA (China, India, dan Indonesia). China, India, dan Indonesia diperkirakan menjadi raksasa ekonomi yang bakal menyelamatkan negara-negara maju dari krisis finansial, kata Prasetyantoko.

Indonesia juga punya potensi yang sama kuatnya. Anda pun dapat menjadi bagian dari kekuatan entrepreneurship, dengan berwirausaha. Apalagi ditegaskan oleh Wiloto, "Entrepreneurship dapat dipelajari siapa saja, dan bukan merupakan keturunan.

Jika Anda punya hasrat besar membangun usaha, namun masih memilah sektor yang paling baik, kata Prasetyantoko, seperti dilansir Kompas.com, ini dapat menjadi sumber inspirasinya. Ia mengatakan, ekonomi kreatif akan booming tahun depan. Lantas ekonomi kreatif seperti apa yang menjanjikan? Prasetyantoko mengekbo-rasi, kembangkan sektor ekonomi kreatif dengan fokus pada permintaan domestik. Pertumbuhan permintaan domestik di Indonesia Iebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi secara makro.

Sektor berbasis permintaan domestik seperti makanan, minuman, dan pakaian merupakan motor perekonomian di Indonesia. Sektor inilah yang menjanjikan, katanya. Untuk mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreatif, ada tiga unsur yang harus digabungkan, kata Prasetyantoko. Wawasan, jaringan, dan teknologi.

Menurutnya, ada 14 subsektor ekonomi kreatif yang menjanjikan dan booming di tahun mendatang. Fashion dan kerajinan adalah subsektor bisnis yang paling dominan. Juga percetakan, event organizer, konsultan, dan lainnya. Prinsipnya, jalankan bisnis untuk memenuhi ragam kebutuhan domestik dengan kelas menengah sebagai sasarannya.

"Kelas menengah di Indonesia mengonsumsi semua kebutuhan, kata Prasetyantoko, yang menyebutkan kelas menengah dengan penghasilan 2-20 dollar per hari di Indonesia. Ini adalah pasar bisnis dari sektor ekonomi kreatif.

Tuesday, November 29, 2011

Bisa digunakan berkali-kali, tas spunbond pun dicari

Gerakan ramah lingkungan ternyata menguntungkan. Lihat saja permintaan tas spunbond. Tas ini bisa digunakan berkali-kali sehingga tidak langsung menjadi limbah. Lebih menyenangkan lagi, permintaan tas yang tinggi tentu membuka peluang bagi usaha kerajinan tas. Lebih menarik lagi, tas ini juga disukai di mancanegara.

Seiring dengan berkembangnya ide tentang kelestarian lingkungan, membuat tas atau kantong yang terbuat dari bahan spunbond mulai ikut ngetren. Produsen tas atau kantong ini pun jelas ikut kecipratan rezeki dari tren itu.

Keunggulan tas spunbond ini bisa digunakan berkali-kali sehingga tidak langsung menjadi limbah buangan yang merusak lingkungan. Asal tahu saja, spunbond adalah bahan yang terbuat dari campuran plastik dan katun. Bahan tas atau kantong ini dianggap ramah lingkungan karena mudah hancur. Berbeda dengan tas yang terbuat dari plastik yang tak mudah rusak.

Tas atau kantong spunbond ini mulai dikenal masyarakat sejak empat tahun lalu. Tas bahan spunbond ini bisa digunakan pula sebagai media promosi, terutama oleh perusahaan-perusahaan yang lagi mengampanyekan kelestarian lingkungan. Bahkan, sekarang ini sudah banyak toko ritel kelas menengah ke atas yang menggunakan tas jenis ini untuk wadah belanjaan pelanggan.

Meningkatnya kebutuhan akan tas ramah lingkungan inilah yang membuat Alfi Chamdan memproduksi tas atau kantong spunbond ini di Surabaya. Ia mulai memproduksi tas tersebut sejak tiga tahun yang lalu, dan usahanya semakin berkembang dengan menggunakan media internet untuk memasarkan produknya.

Alfi mengatakan, tas atau kantong laris manis karena harganya murah. "Harga jual saya mulai Rp 1.000 dan yang paling mahal Rp 10.000," ujar pria asal Surabaya ini.

Setidaknya Alfi membuat 15 model tas dengan bahan spunbond. Namun yang paling laris adalah tas model serut yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Saban bulan, Alfi mampu memproduksi sekitar 20.000 hingga 25.000 pieces untuk berbagai keperluan. Bahkan jika pesanan sedang ramai, produksi Alfi bisa melonjak hingga 40.000 pieces. "Omzet rata-rata saya sekitar Rp 100 juta dalam sebulan," ujar Alfi.

Alfi menjelaskan, pesanan tas spunbond itu datang dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, bahkan hingga ke NTB dan Papua. Tidak hanya itu, ia juga diminta untuk memasok tas spunbond ke Australia. Untuk memenuhi semua pesanan tersebut ia dibantu oleh sembilan karyawan tetap dan juga didukung oleh 50-an pekerja paruh waktu.

Selain Alfi, Rasyid, asal Jakarta, juga memproduksi tas dan kantong spunbond sejak setahun belakangan ini. Sebelumnya, Rasyid adalah produsen tas khusus untuk aneka suvenir sejak tujuh tahun lalu. Rasyid beralih ke tas spundbond karena permintaan tas ini terus meningkat dari hari ke hari. Ia mengungkapkan telah memasok tas spunbond ke seluruh Indonesia hingga Malaysia.

Dalam sebulan Rasyid rata-rata mendapatkan permintaan sekitar 10.000 tas, dengan harga berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 7.500 per piece. Namun tidak jarang ia juga mendapat pesanan tas hingga sebanyak 50.000 pieces.

Kalau sudah mendapat pesanan segitu banyak, mau tak mau Rasyid harus berbagi rezeki dengan para produsen tas spunbond lainnya. Soal omzet di luar pesanan dalam partai besar, rata-rata Rasyid memperoleh duit sebesar Rp 30 juta per bulan. "Tas ini sedang laris karena harga yang murah namun modelnya punya banyak variasi," ujar pria 29 tahun ini.

Menurut Rasyid model yang paling laris ialah model dompet. Tas model dompet ini biasa dipesan untuk suvenir acara, khususnya untuk acara pernikahan. Rasyid memberikan kiat. Menurut dia, walaupun persaingan belum terlalu ketat, namun variasi model menjadi salah satu cara jika ingin produk ini tetap laris. "Saya biasa menyediakan berbagai variasi desain tas supaya tetap menarik minat pembeli," ujar Rasyid.

Raih sukses dengan menjadi broker waralaba

Perkembangan usaha dengan konsep waralaba masih mendatangkan keuntungan bagi yang mampu melihat peluang. Salah satunya, dengan menjadi broker atau agen waralaba. Sebagai informasi, hingga 2010, nilai bisnis waralaba di Indonesia mencapai Rp 114,64 triliun. Inilah yang membuka mata Rachmat Agung Nugroho untuk mendirikan Franchise First, sebuah agen franchise, awal 2010 silam. "Peran broker sangat penting, khususnya pada industri dengan nilai bisnis besar," ujarnya.

Franchise First berfungsi sebagai penghubung antara pencari waralaba dan pemilik waralaba, sekaligus bertindak sebagai konsultan yang akan menganalisis kelayakan sebuah franchise. "Kami akan memberi saran franchise yang potensial dan cocok, walaupun keputusan akhir di tangan klien tersebut," ujar pria berusia 34 tahun tersebut.

Di sisi lain, para pemilik waralaba juga membutuhkan broker untuk memperluas cabang mereka. Selain itu, keberadaan broker waralaba ini juga dibutuhkan oleh pemilik bisnis properti. Mereka bisa bekerja sama untuk mendapatkan investor yang akan menyewa atau membeli ruko sebagai ruang usaha.

Rachmat menawarkan waralaba Franchise First ini untuk menjadi master franchise. Posisi master franchise ini juga bisa disebut sebagai agen lepas. Selain agen lepas, Rachmat juga menawarkan kerja sama sebagai agen biasa untuk kota-kota yang belum memiliki master franchise.

Namun, agen biasa juga bisa berada di bawah master franchise. Biasanya agen biasa ini terdiri dari tenaga-tenaga freelancer. "Para agen lepas berhak atas 30% dari nominal franchise fee, dan 70% untuk agen biasa," terang Rachmat.  Saat ini Franchise First telah memiliki tiga master franchise di Jakarta, Solo, dan Surabaya. Nilai investasi untuk menjadi master franchise Franchise First ini sebesar Rp 150 juta untuk masa kerja sama selama lima tahun. Biaya ini belum termasuk biaya sewa untuk lokasi usaha.

Ira Novita, Manajer Investasi dari master franchise Franchise First di Jakarta, mengakui adanya keuntungan menjadi agen lepas Franchise First. Master franchise Franchise First yang berdiri sejak enam bulan lalu, kini telah memiliki tujuh agen biasa. Mereka menawarkan beragam waralaba, mulai dari bidang kesehatan, makanan dan hiburan, hingga pendidikan.

Menurut Ira, dalam sebulan, master franchise di Jakarta ini bisa mendapatkan 15 calon investor yang ingin berbisnis waralaba. "Bahkan, ada calon investor dari Gorontalo yang ingin membuka waralaba di kotanya," ujar Ira. Namun, lanjut Ira, calon investor mayoritas berasal dari Jabodetabek. Mereka banyak mencari waralaba atau kemitraan dengan nilai investasi berkisar Rp 100 juta hingga Rp 200 juta.

Dari setiap nominal investasi tersebut, maka terwaralaba Franchise First akan mendapatkan komisi berkisar 10%-30% dari biaya franchise fee. Besarnya komisi ini tergantung nilai investasi waralaba. Dari komisi itu, selanjutnya akan dibagi lagi, 70% untuk jasa agen biasa dan 30% untuk pemilik master franchise. Dari pendapatan master franchise ini, Franchise First pusat akan mengutip biaya 10%. "Dalam sebulan, master franchise bisa mendapatkan omzet lebih dari Rp 70 juta," ujar Ira.


Franchise World Indonesia
Jl. Gunung Sahari,
Komplek Marinatama
Blok E No. 5, Jakarta Utara
HP. 0898 9316 006, 0877 350000 18

Monday, November 28, 2011

Bordir Tasik, Produk Lokal Berkelas Dunia

Tasikmalaya adalah wilayah pecahan Kabupaten Tasikmalaya yang secara geografis terletak di jalur utama selatan Pulau Jawa di wilayah Provinsi Jawa Barat. Menurut Wlkipedia Bahasa Indonesia Enslklopedia Bebas, kota ini memiliki perkembangan ekonomi yang lebih baik dibandingkan kota-kota lain di Indonesia.

Tasik -demikian kota Ini dlsebut-- memiliki berbagai potensi yang belum dikembangkan secara maksimal misalnya industri bordir yang sudah mendunia. Selama dua dekade pemerintah kota mulai membuat tempat pameran bordir untuk para pengrajin Tasik, yang berlokasi di Kawalu. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tasikmalaya menyebutkan bahwa usaha kerajinan bordir di Tasik cukup meluas. Dari delapan kecamatan yang ada di wilayah Tasik, empat kecamatan di antaranya bergerak di bidang usaha pembuatan kain bordir, yaitu Clbeureum. Clpedes. Mangkubumi, dan Kawalu.

Pada tahun 2005. terdapat setidaknya 1.092 unit usaha bordir yang melibatkan 10.380 perajin. Kecamatan Kawalu tercatat sebagai wilayah yang memiliki paling banyak pelaku usaha kerajinan bordir, yaitu 87,7 persen dari total perajin bordir di Tasik. DI kecamatan ini. terutama di Desa Tegalsarl terdapat banyak pengusaha kain bordir berskala besar seperti Turatex. Purnama. Ciwulan. Haryatl. dan Bunga Tanjung. Total produksinya mencapai 7.2 Juta potong per tahun. Nilai produksinya telah mencapai angka di atas Rp 500 miliar dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja.

Salah seorang pelaku usaha bordir Tasik yang namanya berkibar adalah Atik Jumaell. Melalui usahanya nyaris dari nol lewat bendera usaha Dewi Bordir.dengan modal Rp 50.000 plus satu unit mesin Jahit pada tahun 1991. kini Atik Jumaell mampu mengembangkan produk andalan usaha bordir seperti (atakan gelas berbodlr dan tutupnya, memimpin pasar di kelasnya. Bahkan kini produk-produk bordirnya kerap tampil dalam berbagai pameran di luar negeri dari Singapura hingga Rusia sekaligus pasar luar negeri.

Mulai dari "nol"

Pada dekade 1990-an ketika Atik Jumaell memulai usahanya, produk bordir Tasik telah Jauh berkembang dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Saat Itu produk bordir Tasik didominasi oleh busana muslim, khususnya baju perempuan termasuk baju gamis, dan kelengkapannya seperti mukena, rukuh. Jilbab. baju koko dan kopiah.

Beberapa dekade sebelumnya, yakni dekade 1960-an Jenis bordir yang banyak dihasilkan ialah kebaya dan pakaian tradisional China karena pemesan produk ini kebanyakan kalangan etnis Tionghoa. Sejak dekade 1970-an , setelah mesin bordirbertenaga listrik muncul di daerah ini. jenis produk bordir yang dihasilkan meluas ke Jenis kain untuk ruangan (home Interior), seperti sprel. taplak meja, dan gorden. Namun pada dekade 1980-an Jenis kain bordir yang diproduksi mulai bergeser ke busana muslim yang berkembang hingga kini.

Ketika mulai merintis usaha Dewi Bordir. Atik belum pernah menjalani satu pun usaha. Sebab sejak sebelum menikah dengan Jumaeli. Atik menjalani pekerjaan sebagai karyawan sebuah kantor konsultan hukum. Namun Atik bukan sosok yang asing terhadap dunia Jahlt-menjahlt. Anak kelima dari 10 bersaudara dari keluarga H Saun dan HJ Siti Huzaemah Ini tumbuh dajam keluarga modiste atau penjahit pakaian (wanita). Ibunya dikenai sebagai penjahit kebaya yang cukup dikenal di Cikalong. Tasik.

Selain itu Atik Juga sosok yang senang bekerja keras, disiplin, ulet, dan kreatif. Satu lagi karakter yang melekat pada diri nya ialah intuisi atau hidung bisnis yang tajam dalam menangkap peluang. "Usaha kerajinan bordir memang menuntut pelakunya gigih, ulet, tekun dan kreatif. Karakter seperti Itulah, yang melekat pada perempuan pengrajin bordir di Tasik dan membuat Tasik dikenal sebagai kota bordir." katanya.

Pada tahun 1996 ketika usaha bordirnya kian stabil. Atik sudah mulai berpikir bahwa Dewi Bordir harus memiliki badan hukum. Pikiran seperti Itu muncul karena Atik pernah bekerja di kantor pengacara dan banyak belajar dari pergaulan. Lahirlah kemudian CV Dewi Nugraha. Alamat CV Ini sama dengan tempat Atik menjalani usahanya, yakni di Jalan Panunggal Nomor 64, Kompleks

Asrama Polisi Tasikmalaya.

Pada tahun yang sama Atik Juga memperoleh suntikan modal dari hasil arisan yang dia Ikuti sebesar Rp 500.000. Dana itu digunakan untuk membeli satu unit mesin Jahit baru merek Zuki secara cicilan seharga Rp 3.500.000. Sisa utangnya dilunasi dengan cara mencicil. Sebagai suatu usaha perjalanan Dewi Bordir tidak berlangsung mulus. Pada tahun 1997 usaha ini pernah Jatuh. Ketika itu. Dewi Bordir menerima pesanan sebanyak 1.000 lusin (atakan dan tutup gelas senllai Rp 67 Juta. Tetapi krisis ekonomi tahun 1997 yang meluluhlantakkan Indonesia mengakibatkan uang hasil pesanan itu tak tertagih. Produksi Dewi Bordir pun sempat terganggu.

Omzet miliaran rupiah

Hal serupa juga terjadi pada 2007 ketika Dewi Bordir menerima pesanan busana berbordir sebanyak 400 pasang dari seseorang untuk dikirim ke Brunei. Pesanan sempat membengkak menjadi 550 pasang namun hanya 400 pasang yang dibayar sehingga Dewi Bordir mengalami tekor Rp 45 Juta dan tantangan-tantangan lainnya. Dengan kesabaran dan ketekunan. Atik mampu menerobos berbagai rintangan Itu. Hasilnya Dewi Bordir berkembang dengan mantap hingga Jumlah karyawan tetap hariannya mencapai 30 orang sementara karyawan musiman bisa menlmgkat dua kali lipat pada saat pesanan meningkat.

Pengalaman menjalani usaha dari bawah membuat intuisi bisnis Atik Jumaell terlatih membaca pasar. Memilih tatakan dan tutup gelas sebagai produk andalan Dewi Bordir adalah wujudnya. Meskipun terlihat remeh temeh produk andalan

Dewi Bordir Ini menjadi raja di kelasnya. Bahkan, produk-produknya membawa Tasik memperoleh kebanggaan. Tatakan dan tutup gelas Dewi Bordir menjadi salah satu produk UKM Tasik yang diekspor hingga mancanegara.

Dengan dukungan keluarga dan karyawan. Atik Juga telah mengantar Dewi Bordir menerima sejumlah penghargaan sekaligus kemudahan. Selain sedang meneriima fasilitas pameran secara gratis. Dewi Bordir Juga menerima fasilitas berupa ruko yang terdapat di Asia Plaza Jalan Hajat Mustofa Nomor 8 Tasikmalaya. Dari usaha kerasnya itu. omset yang dicapai Dewi Bordir mencapai sekitar Rp 100 Juta per bulan atau Rp 1 miliar lebih per tahun. Dari omset tersebut Atik meraih keuntungan bersih sebesar 20 persennya.

Untuk meningkatkan produksinya, Dewi Bordir sedang merintis Jalan untuk masuk ke segmen pasar menengah ke atas. "Alasannya di segmen ini kondisinya lebih stabil." katanya.

Atik mengaku sangat sadar bahwa di segmen ini dia akan menghadapi pemain yang hebat-hebat. Untuk memenangi pasar dia terus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Selain Itu Dewi Bordir gigih menciptakan desain-desaln baru yang sesuai dengan tuntutan pasar. "Untuk tahu pasar kami mencari Informasi dari Internet atau majalah."

Sementara untuk pemasaran dan promosi. Dewi Bordir relatif tidak mendapatkan kesulitan. Selain mempertahankan promosi dari mulut ke mulut yang telah dibangun sejak awal melalui ajang arisan, bazar dan pameran. Atik Juga menempuh cara pemasaran yang sudah lazim ditempuh para pengusaha bordir Tasik pada umumnya, yakni memasarkan sendiri ke Jakarta dan beberapa kota lain. Para pengusaha bordir Tasik lazim memasarkan produk mereka ke sentra-sentra pakaian di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang dan Cipulir. Bahkan, awal 2011 lalu, Atik Juga merintis pembukaan cabang Dewi Bordir di Season City Jakarta Barat sekaligus membawa usaha ini lebih profesional. Untuk Itu Dewi Bordir sudah menyewa konsujtan bidang manajemen, termasuk di dalamnya untuk melakukan. "Saya Ingin maju seperti Dewi Motik (Dewi Motik Pramono-perempuan pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai mantan Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia). Saya ingin membawa Dewi Bordir menjadi perusahaan ekspor yang maju." demikian tutur Siti Atikah Huzaemah Jumaeb mengakhiri kisah perjalanan usahanya.

DEWI BORDIR
Alamat Ji Panunggal No.64, Samping Aspol
Bojong. Tasikmalaya
Telp (0265)340621. Hp 081222886243
Fax (0285)3,40621
Email dew.njgrahacvOy3hoo.com
Contact person Hj Sin Atik Jumaell, SE

Jual Bubur Kacang, Yamin Raup Rp 30 juta/Bulan

bagi Yamin yang hanya lulusan SMA. menggeluti pekerjaan untuk menghidupi diri bukanlah perkara mudah. Apalagi dia tidak mempunyai keahlian apa-apa. Yamin pun menjajal berbagai pekerjaan. Mulai dari menjual kopi keliling di kawasan Kota Tua. Jakarta Barat, ojek motor, sopir angkutan, cuci steam, sampai bekerja di perusahaan ekspedisi sebagai pengirim barang dia lakoni lebih dari setahun.

Saat Itu. dalam benaknya hal terpenting dalam pekerjaannya adalah halal. Meski, akhirnya dia merasa semua pekerjaan yang dilakukannya itu tidak menghasilkan apa-apa, bahkan tidak pernah mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Maka, dia pun merubah pola pikir untuk tidak menjadi seorang karyawan.

Hasilnya, saat ditemui Warta Kota di kediamannya di Papanggo. Tanjung Priuk. Jakarta Utara. Senin (21/11) slang, pria kelahiran 33 tahun silam itu sudah memiliki 10 gerobak untuk menjual bubur kacang hijau, dengan omzet Rp 30juta perbulan.

Yamin mengaku, ketertarikannya untuk berbisnis bubur kacang hijau berawal dari seorang tetangganya yang menjual bubur kacang hijau. Ia melihat bahwa penjualan bubur kacang hijau tersebut cukup menjanjikan. Akhirnya ia nekat untuk meminjam uang kepada bank Rp 12 juta untuk modal awal dengan membuat 4 gerobak lengkap dengan isinya seperti bahan baku untuk membuat bubur kacang hijau, mangkuk, sendok, panel, kompor gas. dan lainnya. Saat Itu. modal untuk membuat per gerobak, totalnya Rp 3 Juta. Tetangganya pun menyetujui untuk bekerja dehgan Yamin, pasalnya la Juga memberikan tempat tinggal kepada tetangga yang telah menjadi karyawannya Itu.

"Setorannya per orang hanya Rp 113.000 per hari, artinya Jika dikalikan dengan 10 gerobak maka saya mendapatkan omzet Rp 113.000 per hari dan sebulan sekitar Rp 30 juta. Tapi mereka yang menjual, bisa mendapatkan penghasilan Rp 200.000-Rp 300.000 per hari," kata Yamin. Menurut Yamin, dirinya per hari untuk bahan bakunya menghabiskan 25 kg kacang hijau. 15 liter ketan hitam 15 liter. 15 kg gula putih, dan 20 kg gula merah untuk 10 gerobak.

Setiap hari bahan tersebut saya bagikan saat malam. Lalu sekitar jam 2 pagi, mereka langsung mengolah bahan tersebut, saat pagi Jam 6 pagi mereka mulai berjualan sampai Jam 2 siang. Setiap harinya bisa habis 100 mangkuk. Mereka saya sarankan untuk libur seminggu sekali, tapi kalau mereka tetap mau jualan seminggu full ya tidak apa-apa, asal kesehatan mereka bisa dijaga," kata pria yang mengatakan karyawannya kebanyakan berasal dari Tasikmalaya Itu.

Yamin menambahkan, untuk bekerjasama dengan para karyawannya itu selalu menerapkan sistem kekeluargaan. Seperti dengan selalu membuka pintu untuk menerima keluh kesah para karyawannya, la pun tidak Jarang sering melakukan tukar pendapat dengan karyawannya untuk membicarakan penjualannya Jika terjadi penurunan omzet. "Udah hukum dagang kalau berjualan itu kadang laku dan kadang tidak laku. Bahkan kalau ada Retorannya yang kurang dan baru bisa dibayarkan esok harinya saya tidak masalah. Kalau saya yang penting karyawan senang, saya Juga senang. Semuanya dengan sistem kekeluargaan. ucap Yamin yang baru- baru Ini meraih Juara II Lomba Wirausaha Muda Astra dengan mendapatkan uang tunai Rp 25 Juta.

Siapkan 5 Gerobak Lagi

Semua perjuangan Yamin tidak sia-sia, meskipun dulu ia harus menggeluti berbagai pekerjaan, namun sekarang sudah menuai kerja kerasnya. "Alhamdulillah. Allah memberikan Jalan, dengan bubur kacang Ijo ini sekarang saya bisa menghidupi Istri. 2 putri." kata Yamin yang Juga dipilih sebagai Ketua RT di tempat tinggalnya sejak 2007 lalu Itu. Yamin mengaku perjalanannya cukup panjang. Memang saat memulai 1997 hanya mempunyai 4 gerobak, namun tidak sampai setahun kemudian la mulai membuat 3 gerobak lainnya lagi. DI tahun 1998 ia kembali membuat 5 gerobak, namun 2 gerobak lainnya sudah memisahkan diri untuk mandiri yang dikelola karyawannya sendiri.

Saat ditemui Warta Kota. Senin (21/11). Yamin mengaku sudah mempunyai usaha lainnya seperti, toko peralatan menjahit. 4 buah kontrakan, dan 1 toko lsi ulang pulsa. Dalam sebulan kini omzetnya sudah mencapai sekitar Rp 40 Juta. Apalagi la baru-baru Ini meraih Juara II Lomba Wirausaha Muda Astra dengan mendapatkan uang tunai Rp 25 Juta. "Rencananya saya akan membuat 5 gerobak lagi dan membuat kos-kosan, kata Yamin.

Sunday, November 27, 2011

Banting Setir dari Kontraktor, Joko Darmono Sukses Usaha Angkringan

Untuk menjadi seorang pengusaha memang dibutuhkan semangat juang tinggi dan kerja keras. Meskipun gagal, namun semangat berjuang tidak boleh padam. Itulah yang terjadi pada Joko Darmono, pria paruh baya asal kota kuliner, Solo ini, tetap berusaha meskipun modal yang ada semakin menipis.

Awalnya, pria yang kini berusia 42 tahun ini, merantau dari kota asalnya ke Jakarta . Di Jakarta, dia mengadu nasib dengan membuka usaha kontraktor gedung dan perumahan. Namun, peta persaingan usaha yang sudah didominasi nama-nama besar, membuat perusahaan yang di gagas Joko tidak bertahan lama.

“Saya dulu sempat membuat usaha kontraktor, namun kolaps karena banyak pemain besar di sana. Lalu saat itu saya hanya mempunyai uang cash Rp400 ribu. Saya berpikir dengan uang sedikit seperti itu mau usaha apa? Alhamdulillah saya dikasih keahlian memasak dan memutuskan untuk membuat usaha angkringan ini,” imbuh Joko.

Joko terbilang memiliki usaha angkringan di Jalan Mochamad Kahfi 2 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. “Saya kan berasal Solo dekat dengan Yogyakarta makanya saya usaha ini karena memang sangat jarang warung makan seperti ini dari Jakarta ,” ungkap Joko ketika berbincang kepada okezone, belum lama ini.

Angkring, warung makan asal Jogjakarta ini memang sangat berbeda, karena penjualnya menjajakan makanan dan minuman hanya dengan gerobak dorong, namun hal itulah yang jarang sekali dijumpai di Jakarta . Angkringan dalam bahasa Jawa, berarti duduk santai.

Selain murah, kualitas rasa pun tak kalah dengan restoran mahal yang ada di pusat-pusat perbelanjaan. Karenanya, gerobak dorong tersebut hanya ditutupi kain terpal dengan suasana remang-remang membuat angkringan ramai dikunjungi remaja maupun orang tua.

Menggunakan ilmu padi, makin berisi makin merunduk, Joko yang sudah merasakan pahit manisnya perjalan usaha, memilih untuk tidak mengekspose dirinya dengan pemberitaan di media. Padahal, dia mengaku beberapa media telah mengajukan untuk meliput angkringannya tersebut, namun ditolaknya, karena tujuannya memang bukan untuk menjadi selebritis warung makan.

“Pernah dulu mau diliput sama lima media tapi saya menolak,” demikian pengakuannya. Lantas, kenapa kini dia mau membeberkan liku-liku kehidupannya.? “Karena Anda merupakan pelanggan saya. Jadi saya tidak mungkin menolak apapun permintaan pelanggan,” akunya sambil tertawa.

Dari hasil angkringan ini, Joko dapat meraup untung sebesar dan berhasil membuat lapangan pekerjaan dengan mempekerjakan tiga karyawan yang berasal dari tempat lahirnya. “Alhamdulillah saya bisa meraih untung kurang lebih Rp30 juta-Rp40 juta dan mempekerjakan tiga karyawan yang merupakan tetangga di kampung saya,” ungkap Joko.

Ke depannya, Joko berniat untuk membuka cabang di setiap daerah Jakarta . Namun, dia tidak menetapkan target pastinya ekspansi bisnisnya ini. Karena, saat ini dia hanya fokus untuk mengembangkan Angkringan yang dibangun susah payah ini. “Target ke depan memang ada niat untuk membuka cabang, namun belum tahu kapan terealisasi karena sampai saat ini saya fokus disini terlebih dahulu,” jelas Joko.

Makanan Khas

Angkringan ini banyak menjual makanan dan minuman, namun yang paling khas adalah Sego Kucing dan Kopi Joss. Sego kucing dengan sambel cabai Jawa yang terasa pedasnya dan tersedia lauk ikan teri, ikan bandeng dan ati ampela yang dijual dengan harga Rp2 ribu per bungkus.

“Kalau kopi joss itu yang paling dicari di sini. Karena selain rasanya yang nikmat, para pengunjung juga penasaran dengan cara membuatnya. Awalnya kopi hitam biasa dikasih gula lalu diceburin arang. Kan bunyi joss tuh jadi dinamakan kopi joss,” jelas pria yang biasa dipanggil Pakde ini.

Namun, bukan itu saja menu andalannya. Angkringan miliknya mempunyai menu yang tak kalah spesialnya seperti roro mendut, ceriwis, semar mesem dan wedang jahe susu. “Kebanyakan saya menamakannya dengan nama-nama yang terasa khas Jawanya, seperti roro mendut. Ini sebenarnya dalam bahasa Indonesianya biasa disebut es buah dengan campuran fanta dan susu. Nah, semar mesem itu biasa disebut es jeruk campur susu. Kalau ceriwis, seperti roro mendut tadi tetapi campurannya Sprite,” kata Joko.

Tak Sekadar Angkringan

Pria yang lahir di Solo ini mengaku, dia kerap diundang ke pernikahan langganannya. Dia didaulat, lantaran Akringanya ini menjadi saksi bisu tempat pelanggan bertemu jodoh untuk pertama kalinya. Para artis ibu kota yang sedang syuting di daerah dekat dengan angkringan juga banyak yang gemar makan di warungnya. “Alhamdulillah banyak yang kasih undangan ke saya, dan ternyata sama-sama pelanggan angkringan ini,” tuturnya seraya tertawa.

Warung makan yang diberi nama Angkringan Sumber Urip ini memiliki arti Sumber Kehidupan yang membawa keberkahan dan kerahmatan bagi para pengunjung warung makan ini. “Semoga kehidupan pengunjung angkringan ini seperti sesuai dengan namanya,” harap Joko.

Thursday, November 24, 2011

Usaha Pembuatan Air Minum Kemasan

Sebagai kebutuhan pokok, air minum akan selalu dibutuhkan. Alhasil, bisnis air minum berkualitas bakal terus menjanjikan. Saat ini, air minum non-mineral dalam kemasan muncul sebagai alternatif air minum. Bahkan, air minum ini diminati warga perumahan elit di Jakarta dan Bandung.

AIR minum merupakan kebutuhan dasar untuk mei\jaga metabolisme tubuh, ((leh karena itu, kebutuhanakan air minum yani; sehat tidak akan pernah surut Peluang bisnis yang menjanjikan inilah yang membuat Mulyono Simowibowo tergiur memproduksi air minum. Dengan mengusung merek Celebrity, Mulyono memulai usaha ini 1 i Bandung pada 2006.

Berbeda dengan air minum kemasan lainnya, vicinity merupakan air minum non mineral. Saat ini. lelebritj sudah merambah pasar Bandung dan Jakarta Kebanyakan klien saya warga perumahan elit yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan air minum." ujar Mulyono.

Selama tni, Mulyono melakukan pemasaran dari pintu ke pintu. Strategi itu cukup jitu um uk meraih hati pelanggan. Mulyono mendapat pasokan daii PT Perusahaan An Minum PAM  sebanyak 15.000 hingga 26.000 liter per hari. Ia membeli air dengan harga Rp 135.000 tiap 5.000 liter. Setelah memperoleh pasokan air, ia mengolah air tersebut dengan proses distilasi atau penyulingan.

Dengan modal Rp 300 juta.

Mulyono membeli berbagai mesin untuk memproduksi air minum ini. Seperti mesin boiler untuk memanaskan air hingga menjadi uap dan mesin kondenser untuk merubah kembali uap menjadi air. "Dengan proses itu, maka air akan steril dari kadar mineral, pungkas Mulyono. Dalam proses lm akan terjadi pengurangan massa air sekitar 20%.

Setelah diolah di pabriknya di Bandung, ia menjual produk Celebrity mulai dari kemasan cup 220 ml, botol il, botol 600 ml, botol 1,5 liter liingga ukuran galon 19 liter. Dalam sehari, eiebrity bisa terjual hingga 20.000 liter dalam berbagai kemasan.

Iv insumen eiebrity paling banyak mengkonsumsi kemasan galon ukuran 19 liter dengan harga Rp 11.000 per galon untuk harga Bandung dan Rp 12.500 untuk harga Jakarta "Dalam sebulan omzet minimal Rp 180 juta," ujar Mulyono.

Pemain lainnya adalah Hendri Darmawan yang menjual produk air kemasan non-mineral dengan merek  elestine. Memulai usaha sejak 2010 di Bekasi, saat ini ia sudah bisa menjual 8.000 liter air non mineral per hari dengan harga Rp 10.600 untuk ukuran galon 19 liter dan Rp 8.500 untuk ukuran 12 liter.

Pelanggannya baru berasal dari sekitar Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Berbeda dengan Mulyono, Hendri lebih fokus pada produk kemasan galon karena margin keuntungan lebih besar. Sayang, Hendri enggan menyebutkan omzetnya.

Mulyono mengaku, tantangan terberatnya adalah saat mengubah pandangan masyarakat tentang air inineral. Biasanya, untuk mensosialisasikan air non mineral itu, ia melakukan demo sederhana bagaimana memproduksi air minum non mineral kepada para calon pelanggannya.

Meski begitu, ia yakin, bisnis ini akan tetap punya masa depan. Alasannya, masih banyak pihak yang belum mengetahui informa-si tentang air non mineral. "Selain itu, pemainnya sangat terbatas," tambah Hendri.

Wednesday, November 23, 2011

Furnitur Menarik di Jalan Kalimalang

Ada satu tempat yang menawarkan berbagai macam furnitur (perabot rumah tangga) menarik dan berkualitas. Selain dibuat oleh para perajin furnitur yang andal, harga yang ditawarkan juga relatif murah. Tempat penjualan furnitur menarik, murah, tetapi berkualitas tersebut terletak di Jl Inspeksi Saluran Tarum Barat, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, atau lebih dikenal dengan nama Jl Kalimalang.

Tempat ini tepatnya berada sebelum pintu masuk Cipinang Indah bila dari arah Jakarta ke Bekasi. Paung (50), pembuat furnitur di Toko Barokah Furnitur yang ditemui SH baru-baru ini, mengatakan, harga produk yang ditawarkan relatif lebih murah. Di samping itu, yang menjadi keunikan toko ini adalah menyerahkan sepenuhnya kepada konsumen bentuk atau gambar dari furnitur yang akan dipesan.

“Pada prinsipnya, kami bisa mengerjakan semua permintaan konsumen. Mulai dari meja, lemari, kasur, perabotan dapur, rak buku, dan lainnya. Semua furnitur yang kami hasilkan, dijamin tahan lama dan kuat karena kami menggunakan kayu palet atau kayu yang khusus digunakan untuk peti kemas untuk ekspor-impor,” ujarnya.

“Untuk harga yang paling murah adalah meja dengan ukuran panjang 90 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 50 cm seharga Rp 150.000. sementara harga termahal yang pernah kami jual adalah lemari yang tingginya 2 meter dan panjang 4 meter dengan harga Rp 4,5 juta. Untuk ukuran kecil, kami bisa selesaikan dalam waktu 2-3 hari. Namun bila ukurannya besar, kami membutuhkan waktu lebih lama lagi,” tuturnya.

Mengenai pendapatan dari hasil usahanya, menurut Paung, “Alhamdulilah, selama ini usaha kami tidak pernah sepi pelanggan, minimal per hari ada satu orang yang memesan perabotan. Bahkan ada yang pernah memesan perabotan lengkap mulai dari yang kecil hingga besar karena orang tersebut baru saja pindahan,” jelasnya.

Terkait kualitas, menurut Pendi, pembuat furnitur lainnya, ia memberikan jaminan alias garansi. “Kalau soal kualitas jangan khawatir. Selama saya membuat perabotan atau furnitur, tidak pernah ada konsumen yang protes atas hasil buatan saya. Kebanyakan mereka puas,” ungkapnya.

“Bagi mereka yang ingin memesan, cukup memberikan contoh desain atau gambar yang mereka inginkan. Dengan adanya contoh, kami bisa membuat sama dengan contoh desain yang diberikan,” jelasnya. “Seperti halnya meja komputer, konsumen cukup memberikan contoh desainnya maka hasilnya pun akan sama dengan contoh, bahkan dengan kualitas yang lebih baik,” katanya.

Tuesday, November 22, 2011

Ingin Maju, Manajemen Perlu Dibenahi

Walau Tonik terus berinovasi dari segi produk, model, dan warna, ternyata hal itu belum cukup membuat Amalia Thessen puas. Setelah enam tahun berjalan, ia merasa masih ada hal yang mengganjal dan bisa mempengaruhi kelangsungan bisnisnya ke depan, terutama mengenai manajemen dan pemasaran produk.

Memang  bisnis fesyen dan aksesori yang dijual di Toko Unik atau Tonik bisa dibilang telah menimba sukses. Lahat saja, kini jaringan Tonik telah mampu menghasilkan duit ratusan juta rupiah per bulan. Namun kesuksesan itu tak lantas membuat si empunya Tonik, Amalia Thessen puas. Amalia merasa harus ada perbaikan dari segi manajemen agar usahanya ini dapat berkembang lebih melesat lagi.

Amelia mengenang, ketika kuliah, seorang karibnya menasehati, untuk mengembangkan usaha maka perlu manajemen yang baik, terutama mengenai manajemen keuangan. "Sobat saya bilang, usaha sudah punya pelanggan. Karena itu dengan manajemen yang baik pasti akan lebih berkembang," ujar Amelia mengenang nasihat sobatnya itu.

Nasehat itu memang tak berlebihan. Amelia mengakui, dia memang terlalu fokus dalam pengembangan fesyen dan aksesori. Baginya, manajemen maupun pengelolaan pemasaran masih dinomorduakan.

Perempuan yang mengaku idealis dalam hal fesyen ini berniat untuk membenahi dan menyusun sistem manajemen usahanya ini. "Bulan depan kami juga akan menggunakan jasa akuntan untuk mengaudit keuangan," beber Amelia.

Soal pemasaran pun bakal digarap lebih serius. Setelah memasang logo Tonik di paper bag dan produk sepertikaos, tas, dan dompet, kini Amelia berniat memasang Igo Tonik di produk aksesori seperti gelang dan kalung. Selain im, logo Tonik juga bakal mejeng di mana-mana. Kini logo itu baru tertempel di kendaraan operasional atau di lokasi bazar atau pameran.

Menurutnya sistem manajemen dan pemasaran ini sangat penting. Maklum, pada 2012 nanti, Amelia berambisi membuka toko grosiran yang lebih besar. "Sebelum mencapai itu semua kami harus punya sistem manajemen yang kuat," ungkapnya

Niat Lia untuk membuka toko grosiran sudah mulai ia rancang. Ia sudah menyiapkan tempat di Mal Ambassador, Jakarta Selatan. Ia menganggap pengunjung mal itu seseuai dengan segmen pasar yang dia garap. "Kami tak asal tunjuk tempat, kami sudah riset sebelumnya bahwa produk kami banyak juga yang dijual di tempat tersebut," tandasnya

Ambisi Amelia lainnya adalah membuka Tonik di mal premium, sekaliber Grand Indonesia Ia yakin, produk fesyen yang ditawarkan di Tonik bisa merepresentasikan produk fesyen lokal yang berkualitas yang tak kalah dengan produk impor.

Keyakinan itu dilandasi dari pengalamannya saat memproduksi dan menjual syal ikat dari bahan kaos, pada 2010 lalu. Tak dinyana, "Awal yang tidak disengaja itu temyata sambutannya luar biasa besar," ujar Amelia.

Dalam sehari syal itu bisa terjual hingga 150 pieces dengan harga Rp 75.000 per buah. Amelia menyatakan, antusiasme pelanggan terhadap produknya itu lantaran syal tersebut hampir memiliki persamaan dengan syal yang dijual di toko retail premium seperti Zara.

Hal itu pun dibenarkan oleh Ebi Febrian, sekondan Amelia dalam mengelola Tonik. Menurut Ebi, produk syal tersebut seharusnya bisa menjadi ikon Tonik. Namun karena buruknya manajemen pemasaran syal tersebut, penjualan syal itu tak berlangsung lama karena kompetitor langsung berbondong-bondong membuat produk serupa. "Bisa dibilang

Tonik pernah menjadi iamlsrtter dalam syal ikat sebelum muncul pemain lain yang ikut memproduksi syal serupa tanpa kami ketahui sebelumnya," ujar Ebi. Manisnya berjualan syal tersebut hanya bisa bertahan selama enam bulan.

Itulah sebabnya, Amelia menegaskan, ketika manajemen Tonik mulai kuat, ia bakal membangkitkan lagi produk yang pernah sukses dibesutnya seperti pil), sepatu lukis, dan syal ikat. "Karena tren pasar saat ini masih ke arah baju dan aksesori," tukas Amelia.

Yanti Riyanto, reseller Tonik di Jakarta menambahkan, kelebihan produk Tonik adalah banyaknya referensi soal model serta kreativitas yang dimiliki oleh Amelia dan team kreatifnya membuat pelanggan tak pernah jenuh dengan produk yang dihasilkan. "Saya juga nyaman kerjasama dengan Tonik dan Amelia," pungkas Yanti.

Pemerintah Targetkan 1.000 Wirausaha

 Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hassan menargetkan pertumbuhan wirausaha baru di Indonesia bisa lebih cepat dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Untuk itu. berbagai upaya demi memungkinkan tumbuhnya pelaku wirausaha baru harus dilakukan.

"Wirausaha sangat penting bagi kemajuan ekonomi suatu negara. Wirausahalah yang menciptakan lapangan kerja. Kita harus bisa ciptakan 1.000 wirausaha baru dalam tiap tiga bulan," kata Syarif Hassan saat menutup acara Pelatihan Kewirausahaan dan Penyerahan Bantuan Permodalan bagi Wirausaha Pemula di SME Tower. Jakarta, Senin (21/11).

Jika mampu menciptakan wirausaha baru sebanyak itu. Syarif Hassan yakin masalah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia bisa lebih ditekan. Saat ini masih ada sekitar 4,46 juta muda-mudi (usia 17-30 tahun) yang tidak memiliki pekerjaan. Karena itu. Kementerian Koperasi dan UKM akan memberikan stimulan berupa perkuatan permodalan bagi pelaku wirausaha baru melalui tujuh koperasi sebagai penyalur pinjaman sebesar Rp 7 miliar. Bantuan permodalanini akan disalurkan pada 284 wirausaha pemula yang telah mengikuti pelatihan kewirausahaan.

"Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong agar generasi muda lebih bangkit memanfaatkan kesempatan dan meraih peluang melalui wirausaha, menciptakan pengembangan kewirausahaan yang terintegrasi." tutur Syarif Hassan. Ia menegaskan, perluasan kesempatan kerja tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan sektor usaha formal, tapi juga potensi usaha di tingkat masyarakat dan perseorangan.

Dengan bantuan dana Rp 7 miliar, diharapkan akan menjadi pemicu bagi para wirausaha pemula agar dapat lebih berdaya saing secara nasional maupun global. Deputi SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Agus Muharam. menga- takan berbagai upaya pelatihan bagi wirausaha pemula saat ini penting dilakukan di berbagai tempat. Pelatihan dimaksudkan untuk memberi motivasi, meningkatkan pengetahuan dan keterampi-. lan berwirausaha, agar lebih mandiri dan kreatif ke depan.

Monday, November 21, 2011

Produk Plastik Ramah Lingkungan Makin Populer

Bisnis ramah lingkungan kini juga merambah ke bisnis kemasan. Banyak pebisnis yakin kalau plastik kemasan ramah lingkungan, yaitu yang terbuat dari tum-buh-tumbuhan atau bio-de-gradable alias cepat terurai semakin merajai pasar. Selain bisa terurai, produk-produk bio-degradable ini juga menjadi jawaban atas naiknya harga bahan baku plastik berbasis minyak bumi seperti polyethyelene (PE) dan pol-ypropylene (PP) yang cenderung makin mahal.

Export Marketing Executive PT Inter Aneka Lestari Kimia Ferdinand Setiawan mengatakan, saat ini, plastik kemasan yang menggunakan bahan baku tumbuhan dan bisa terurai dengan cepat memang belum banyak digunakan. Maklum, saat ini harganya hampir dua kali lipat dari plastik berbahan baku produk turunan minyak bumi. "Tap lima tahun ke depan, harganya akan setara karena harga minyak naik terus," kata Ferdinand di sela-sela pameran Plastic Rubber Indonesia 2011, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku plastik berbasis tanaman seperti singkong dan minyak sawit mentah atau ciu.de palm oil (CPO) relatif tidak terlalu besar. Itulah sebabnya, kedepan, banyak industri yang akan beralih ke plastik kemasan biodegradable.

Salah satu produsen plastik jenis yang bisa terurai cepat tersebut adalah Inter Aneka. Perusahaan yang memproduksi plastik full bio-degradable dengan merek Enviplast ini mempergunakan tepung tapioka atau singkong dan glycerin yang merupakan produk turunan CPO untuk membuat kemasan.

Saat ini, harga tepung tapioka dan glycerin yang dioleh menjadi bijih plastik masih lebih mahal dari PE. Harga turunan PE yaitu HDPE dan LLDPE setiap kilogram sekitar US$ 1,5 (Rp 13.500) hingga USS 1,6 (Rp 14.400). Sedang-kan harga tepung tapioka Rp 7.000/kg dan glycerin US$ 2,7/ kg. Berdasarkan harga tersebut, harga produk plastik kemasan bio-degradable Enviplast mencapai Rp 30.000/kg.

Meski begitu, produk Enviplast yang baru setahun diluncurkan mendapat respon yang positif dari pasar. Sejak Januari hingga November 2011, penjualan Enviplast mencapai 30 ton per bulan dengan harga rata-rata Rp 30.000/kg.

Tahun depan dengan banyaknya permintaan dalam dan luar negeri dari hasil promosi tahun ini, Ferdinand menargetkan penjualan Enviplast akan melonjak jadi 200 ton per bulan.

Enviplast sendiri menjual keunggulannya sebagai produk plastik yang bisa didegra-dasi dalam waktu tiga hingga enam bulan. Sedangkan plastik dari bahan baku berbasis minyak bumi membutuhkan waktu hingga ratusan tahun. Namun kelemahannya, Enviplast akan meleleh jika terkena panas di atas 80 derajatcelcius.

Di industri plastik hilir, kemasan ramah lingkungan memang telah menjadi tren. Tapi tidak semuanya mengunakan bahan baku dari tumbuhan. Beberapa pemain tetap menggunakan bahan baku berbasis minyak bumi tapi diberi campuran adiktif agar bisa dide-gradasi lebih cepat.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (INAPlas) Fajar A.D. Budiyono mengatakan salah satu perusahaan yang memproduksi green packaging dengan bahan baku berbasis minyak bumi adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Produk yang dihasil-kan bernama Asren HDPE degradable. "Produknya bisa terdegradasi lebih cepat disesuaikan dengan permintaan konsumen." kata Fajar. Selisih harga dengan plastik kemasan biasa menurutnya hanya 2% atau 3% lebih mahal.

Pasar produk green packaging sendiri menurutnya terbantu dengan adanya peraturan Pemda DKI Jakarta yang mewajibkan green packaging untuk shopping bag di tempat belajan modem di Jakarta.

Selain Chandra Asri. PT Tirta Marta yang juga memproduksi plastik ramah lingkungan bermerek Oxium dan Ecoplas. Produk itu masih menggunakan bahan baku plastik berbasis minyak bumi tapi diberi campuran bahan adiktif khusus. Hasilnya, plastik bisa terdegradasi lebih cepat yaitu sekitar dua tahun.

Sementara itu harga bahan baku plastik masih fluktuatif. Harga PE saat ini, kata Fajar mencapai US$ 1.550 per ton. Harga tersebut pernahnaik hingga USS 1.700 per ton pada pertengahan tahun ini. Sedangkan harga PP mencapai USS 1.600 per ton dan sempat menyentuh angka USS 1.875 di kurun waktu tersebut

Direktur Pengembangan Bisnis Indonesian Packaging Federation (IPF). Ariana Susanti mengatakan kebutuhan plastik berbahan baku natural dipastikan akan terus meningkat. Maklum, saat ini pasar menuntut industri pengemasan lebih memperhatikan isu lingkungan hidup. "Green packaging merupakan tuntutan dunia saat ini," kata Ariana.

Ariana mengakui produsen green packaging di Indonesia masih sedikit dan belum berkembang. Namun ia optimis permintaan pasar terhadap produk kemasan ramah lingkungan akan terus naik dan mendorong pertumbuhan industrinya

Dana bergulir modali 280 wirausaha pemula

Sedikitnya 280 wirausaha baru skala mikro dan kecil mendapat dukungan pembiayaan Rp7 miliar melalui tujuh koperasi simpan pinjam sebagai pengelola dana bergulir tersebut. Dana tersebut diserahkan Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan kepada pemuda-pemudi yang menjadi pelaku usaha pemula tersebut.

Dukungan pembiayaan ini merupakan bagian dari Gerakan Kewirausahaan Nasional yang dimotori Kemenkop dan UKM untuk mengejar sasaran 2%pelaku wirausaha nasional dari populasi penduduk. "Harapan saat ini tertuju kepada anak muda yang memiliki masa depan cerah dan diharapkan menjadi pencipta lapangan kerja," ujar Sjarifuddin kemarin.

Menkop meminta agar virus kewirausahaan yang telah ditunjukkan sekitar 280 calon wirausaha pemula tersebut disebarkan kepada generasi muda lainnya. "Ini merupakan tanggung jawab kepada seluruh rakyat Indonesia."

Program ini dilaksanakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia yang memberi pelatihan kewirausaha-an dan Deputi Bidang Pembiayaan yang memberi bantuan pembiayaan. Kepada seluruh calon wirausaha muda pemula. Sjarifuddin mengingatkan agar bisa mematuhi kewajiban terhadap koperasi yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah menyalurkan bantuan pembiayaan tersebut.

"Jika para wirausaha muda bisa mematuhi kewajiban, bila perlu, Kementerian Koperasi dan UKM akan meningkatkan jumlah wirausaha pemula menjadi 300 orang, 400 orang, atau bahkan hingga 1.000 orang setiap bulan," kata Menkop.

Adapun, koperasi yang diper-caya menjadi pengelola dana bergulir tersebut sebanyak tujuh unit masing-masing Kospin Jasa Pekalongan, KSP Nasari, Koperasi Serba Usaha Sejahtera Bersama, KSP Kodanua. KSP Serambi Dana. KSP Surya Kencana, dan KSP Multi Niaga. Setiap KSP mengelola Rpl miliar.

Penunjukkan KSP yang memiliki reputasi nasional dalam penyaluran dan pengelolaan pembiayaan kewirausahaan pemula yang bersumber dari dana bergulir, dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pembiayaan.

Ketujuh koperasi diberi tanggung jawab menjadi pengelola, sekaligus penyalur, karena danayang dikembalikan akan digulirkan kembali ke calon wirausaha muda lainnya yang secara kontinu dilatih Kemenkop dan UKM.

Toha, salah satu calon wirausaha pemula pemuda dari Bekasi, mengaku masuk nominasi penerima bantuan modal setelah mengikuti pelatihan dari Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop.

"Saya mengajukan pembiayaan Rp25 juta untuk menekuni usaha jual beli motor di Bekasi. Proposal tidak langsung disetujui. Butuh waktu sekitar 2 pekan untuk dapat kepastian disetujui," ujar Toha seusai menerima serlilik.it pelatihan.

Wednesday, November 16, 2011

Jadi Eksportir dengan Modal Rp 5 Juta

Perjalanan Abdul Haris Noor merintis bisnis ukiran kaligrafi berawal dari kegagalan. Sebelumnya, dia pernah bangkrut ketika berbisnis mesin packaging mebel dan bangkrut pula dalam bisnis mebel. Namun Abdul pantang menyerah dengan memulai merintis usaha ukiran kaligrafi Hanya dengan modal Rp 5 juta.

Tidak mudah bagi AbduJ Haris Noor meraih sukses dalam bisnis ukiran kuligrali dari kayu jati. Pria kelahiran Jepara ilu harus melewati rintangan berat sebelum . akhirnya mampu jadi eksportir ukiran kaligrafi ko mancanegara.

Keberhasilan Abdul menghadapi rintangan tak lepas dari peran keluarganya yang hidup sederhana. Ia dibesarkan dari ayah yang pekerja keras yang berprofesi sebagai tukang Kayu. Berkaca dari orangtua, Abdul pun tumbuh menjadi sosok pekerja keras. Selain itu, pelajaran hidup yang diterima dari sang ayah membuatnya menjadi sosok yang teguh pada pendirian. Karena keteguhan itulah, Abdul enggan kuliah pada jurusan yang tidak ia inginkan. Setelah tamat Abdul mendapat tawaran beasiswa dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia di Curug, Tangerang, Banten,

Namun kesempatan belajar gratis menjadi pilot itu ia lewatkan begitu saja. Abdul hanya belajar dua pekan, setelah dia kembali pulang tanpa pamit pada pengeli tia kampus. "Saya merasa enggak nyaman, maklum orang desa," kenang Abdul.

Sejak hengkang dari kampus STIP, Abdul memutuskan memadi "pilot" angkutan umum di Jepara. Dari hasil menyopir itu. Abdul tetap menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung. "Uang imsaya pakai ongkos masuk kuliah,1 tetang Abdul.

Setelah dua tahun menjadi sopir Abdul memutuskan kuliah di Institut Pertanian Stiper Yogyakarta. di kampus itulah Abdul belajar tentang teknologi hasil hutan, termasuk teknologi yang berkaitan dengan pengolahan kayu

Setelah kuliah. Abdul sempat bekerja iii perusahaan baja, hingga akhirnya di PHK Namun begitu. Abdul tidak melupakan keilmuannya di bidang teknologi pengolahan hasil hutan.

Bermodal ilmunya itu Abdul mengajak sahabatnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi packaging mebel tahun 1999. Dengan membawa bendera CV Mitra Radiant, Abdul memasarkan mesin packaging mebel kepada perusahaan mebel di Jepara.

Hampir tiga tahun bisnis penjualan mesin packaging itu berjalan lancar. Sampai tahun2002, Abdul dan sahabatnya mulai pecah kongsi hingga akhirnya berpisah Saya memilih melanjutkan usaha sendirian," kata Abdul. Selepas itu, Abdul mendirikan perusahaan baru bernama Mandiri Wirastama, yang bergerak di bidang penjualan mebel. "Perusahaan ini berkembang hingga bisa ekspor," terang Abdul.

Tiga tahun lamanya, dua perusahaan itu berkembang beriringan. Memasuki tahun 2005, kedua perusahaan itu mulai goyah karena terlilil krisis finansial. "Banyak mitra bisnis saya tidak membayar tagihan, terang dia. Tagihan macet itu membuat kedua perusahaan im tumbang, Abdul mengaku mengalami kerugian hingga Rp 100 juta akibat kredit macet itu. Saya sempat menagih utang seperti pengemis," kenang Abdul.

Karena tagihan tak kunjung dibayarkan mitra, Abdul menghentikan operasional kedua perusahaan. Ia juga menjual aset perusahaan. Yang tersisa hanya Hp 5 juta," katanya. Walaupun usahanya bangkrut, Abdul tidak patah arang. Dengan modal yang tersisa. Abdul melirik peluang usaha baru yaitu ukiran kaligrafi dari kayu jan "Saya itu saya ganti namaperusahaan menjadi CV Radiant Suryatama," katanya.

Dengan modal seadanya, Abdul mempekerjakan tiga orang karyawan untuk membual ukiran kaligrafi tersebut. "Saya sempat jadi balian olokan karena bikin kaligrafi," kata Abdul. Setelah berhasil memproduksi kaligrafi, Abdul malah kebingungan menjual, karya itu hampir setahun lamanya Abdul tak kunjung mendapatkan pangsa pasar ukiran kaligrafi kayu itu.

Pada 2005, Abdul kemudian memutuskan ikut pameran kerajinan di Kementerian Perindustrian di Jakarta. Pameran inilah yang membawa perubahan bagi bisnis kaligrafinya. Selain mendapat pembeli, pameran Itu mempertemukan Abdul dengan teman lama yang mau memberikan bantuan modal tanpa agunan kepadanya. "Dari sil ulah nuk bidik bisnis saya," terang Abdul.

Monday, November 14, 2011

Untung Berlipat Ketika Tiba Musim Liburan

Orang Indonesia pasti kenal dengan kerupuk. Panganan ini kerap menjadi teman makan atau sekedar camilan di saat santai. Salah satu kerupuk yang tak pernah pudar pamornya adalah kerupuk udang. Pengusaha kerupuk di Sidoarjo pun bisa mendulang omzet hingga puluhan juta dah usaha ini saban bulan. Omzet berlipat ketika libur panjang.

Udang merupakan lambang Kabupaten Sidoarjo. Maklum, kawasan di selatan Surabaya tni memang produsen udang terbesar di Jawa Timur. Berbagai macam olahan dari udang pun diproduksi di daerah ini. salah satunya adalah kerupuk.

Meski merupakan camilan atau makanan ringan, bisnis kerupuk odang di Sidoarjo ini cukup menjanjikan. Tengokisaha Abdul Wachid. Ftaxlusen kerupuk merek Mojopahit im bisa niTidulang omzet hingga Rp -45 juta saban bulan.

Tak hanya memproduksi kWupuk. Abdul juga menjual sendiri produk kerupuknya itu. Dibantu 15 karyawan, ia mampu menghasilkan kerupuk udang sebanyak 3.000 kilogram (kg) hingga 3.500 kg per bulan

Abdul memulai usaha ini sejak sepuluh tahun silam. Saat itu. lanjut Abdul, banyak orang Sidoarjo sendiri justru belum mengenal kerupuk udang Sidoaijo. Bahkan, kerupuk udang miliknya hanya laku sebagai buah tangan para pengunjung dari luar daerah.

Kini, seiring dengan waktu, popularitas kerupuk udang ;ls!i Sidoarjo ini mulai dilirik oleh masyarakat. Bahkan, kini, tak hanya pelaju saja yang bisa menikmati kerupuk udang ini, pesanan kerupuk dari luar Jawa juga berdatangan.

Menurut Abdul, selain enak, kerupuk udang buatannya lantaran harganya yang miring. Ia menjual kerupuk udang dengan harga Rp 10.000 per kg hingga Rp 30.000 per kg, tergantung kualitas I [alga kerupuk ini tergantung kualitas dan kemasan," ujarnya Abdul menyediakan nga jenis kemasan, yakni kemasan berisi 500 gram, kemasan 1 kg. dan kemasan 2 kg," kata Abdul. Makin kecil kemasan,harga kerupuk udang itu makin murah. Begitupun juga dengan kualitas kerupuknya, makin sedikit campuran udangnya maka makin murah harganya

Setali tiga uang dengan Abdul, Abidin juga memproduksi dan menjual kerupuk udang di Sidoarjo. Dengan mengusung merek Alili. Ia membanderol harga kerupuk li|. Jii.OOO per kg.

1 tanya, produksi kerupuk Abidin belum besar. K keterbatasan jumlah karyawan, smi;i|i bulan, Abidin hanya sanggup menghasilkan sekitar 500 kg hingga Ti ki ku kerupuk udang di pabriknya. I lengan produksi yang relatif kecil, omzet Abidin pun hanya Rp 25 juta

Selain itu, Abidin juga masih menemui kendaladalam hal promosi. Sebab, saat ini, dia hanya mampu memasarkan kerupuk udang buatannya hanya di sekitar .luwu Timur, seperti Malang, Madura, Bawean, Gresik, Jember, Tuban, dan Pasuruan. Padahal, Abidin ingin sekali mengembangkan kerupuk udang hingga ke luar Jawa bahkan menembus pasar ekspor.

Panen penjualan kerupuk udang biasanya akan dinik mali oleh Abdul dan Abidin, pada saat liburan panjang. Seperti, liburan sekolah, Lebaran, dan tahun baru. Sebab, pada saat seperti itu. Sidoarjo kebanjiran turis dari berbagai daerah.

Mereka pun bisa menuai mn/et hingga dua kali lipat. Seperti saal buaran lalu, omzet Abidin terdongkrak hingga Rp 50 juta sebulan. Itulah sebabnya, kini, Abidin akan meningkatkan produksi di saat menjelang libur panjang. "Saya juga akan menambah jumlah pekerja," ujar Abidin.ini juga dengan Abdul. Ketika musim Lebaran, biasanya Sidoaijo l;myak dikunjungi tamu dari Jakarta Pada Hari Idul Fitri tahun im. Abdul mampu meraup omzet hingga Rp sn |uta silama sebulan

Selain itu, banyak perantau ;i.sh) Sidoarjo yang pulang kampung. Slain untuk mengobati rasa kangen, biasanya mereka akan memborong kerupuk udang i! im.ill tangan untuk handaitaulan di tanah perantaoan," kata Abdul

Friday, November 11, 2011

Gelegar sound system Harry dari istana sampai masjid

Kebutuhan tata suara berkualitas dalam acara hiburan atau acara resmi merupakan peluang bisnis nan menguntungkan bagi Harry Aprianto Kissowo. Lewat bendera V8sound.com, Harry menyewakan peralatan tata suara atau sound system berkualitas untuk keperluan konser dan juga perayaan 17 Agustus di Istana Negara.

Penggunaan perangkat tata suara atau akrab disebut sound system merupakan elemen penting sukses tidaknya sebuah kegiatan. Baik itu kegiatan atau acara resmi kenegaraan, keagamaan, hingga acara hiburan.

Bisnis penyediaan peralatan sound system itulah yang dilirik Harry Aprianto Kissowo. Dia merintis usaha penyewaan sound system ini sejak 2008 silam. Asyiknya, klien dari usaha jasa ini dari berbagai kalangan, yakni siapa saja yang lagi punya hajatan. Entah itu pengurus masjid, event organizer pertunjukan musik, hingga pihak protokoler Istana Kepresidenan.

Selain menyewakan peralatan sound system, Harry yang mengusung bendera V8sound.com itu juga memproduksi sound system sendiri. Soal kemampuan tak usah ragu, Harry merupakan jebolan dari Teknik Elektro dari Universitas Indonesia.

Sebelum terjun ke dunia tata suara, Harry lama berkecimpung dalam dunia event organizer (EO). Saat menggarap event itulah Harry sering merasa kecewa dengan kualitas sound system milik pihak ketiga itu.

Berkat keahliannya, Harry mampu memproduksi beragam perangkat sound system. Mulai dari sound system untuk konser maupun untuk urusan kenegaraan.

Salah satu pelanggan yang rutin menyewa perangkatnya itu adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Untuk peringatan 17 Agustus lalu, saya pakai sound system favorit Pak SBY yang warna merah putih," tutur ayah dari tiga orang putra itu.

Selain pernah masuk Istana, perangkat tata suara milik Harry sering digunakan untuk konser besar seperti: konser Linkin Park, Scorpion serta konser penyanyi solo Maher Zein.

Tak hanya di acara istana atau panggung hiburan saja, V8sound.com juga terlibat dalam kegiatan olah raga. Seperti penyelenggaraan Pekan Olah-raga Nasional (PON) 2008 serta penyelenggaraan SEA Games XXVI yang yang akan berlangsung di Palembang, November 2011.

Untuk membuat perangkat sound system itu, Harry sengaja mendirikan pabrik sendiri di Surabaya. Pabrik itulah yang mampu memproduksi 100 unit aneka perangkat sound system. Di antaranya adalah satelitte speaker, stage monitor, subwoofer, multi purpose speaker, amplifier, serta speaker package. "Yang pasti produk ini adalah karya anak bangsa," ungkap Harry.

Harry mengklaim, perangkat miliknya itu unggul dalam hal berat yang hanya 6 kg sampai - 9 kg saja. Selain itu kualitas suara lebih keras (mulai 110 desibel), serta praktis dan tahan terhadap guyuran hujan. "Kalau sound system impor beratnya capai 75 kg-125 kg," banding Harry.

Dengan memiliki usaha dari hulu hingga hilir, wajar jika Harry sanggup meraup omzet miliaran rupiah. Selain menyewakan sound system sendiri, Harry juga memproduksi sekaligus menjual peralatan itu.

Pembeli sound system karya Harry kebanyakan datang dari luar negeri, seperti Filipina, Singapura, Rusia, Swiss, Jerman, dan Italia. Kini Harry sedang menjajaki pasar baru yaitu Inggris, Amerika, Serikat dan Jepang. "Kebetulan ada yang tertarik memasarkan produk saya di sana," katanya.

Soal harga, perangkat sound system itu punya harga beragam. Untuk speaker standar konser dijual US$ 2.300 - US$ 2.600 per unit. "Harga ini murah jika dibandingkan merek luar yang harganya US$ 10.000 per unit," terang Harry.

Selain merajai dunia tata suara di Indonesia, Harry pernah menjadi konsultan tata suara di Olimpiade Beijing pada 2008. Selain itu ia sering terlibat dalam pameran sound system dunia seperti Messe Frankfurt Prolight + Sound pada 2010 dan tahun ini.

Walau sibuk, Harry tidak melupakan urusan rohani. Ia sekarang sibuk membuat perangkat sound system untuk masjid dengan merek Al Karim untuk 1.000 masjid di Aceh.

Thursday, November 3, 2011

Ubin klasik naik daun, bisnis tegel motif jadi menarik

Tren kembali ke klasik juga dialami dalam hal pemasangan ubin. Saat ini banyak orang yang ingin mempunyai ruangan klasik dengan memasang tegel retro. Selain di Yogyakarta, tren ini juga tengah merambah kawasan Bali dan Jakarta. Ini bisa membuka peluang usaha baru.

Ubin atau tegel dalam bahasa Jawa memiliki banyak ragam motif dan jenis. Salah satu jenis ubin yang saat ini sedang tren di Yogyakarta adalah ubin motif klasik atau dikenal dengan nama tegel retro. Ubin yang dibuat dari semen dan pasir ini erat dengan sejarah Yogyakarta.

Teknik pembuatan tegel dengan cement floor tile itu diperkenalkan bangsa Belanda pertama kali kepada masyarakat Yogyakarta pada awal abad ke-20. Tegel retro bahkan dipakai untuk lantai Keraton Yogyakarta dan bangunan kuno. Motifnya yang kuno, tegel retro memberikan nuansa klasik pada bangunan.

Tak hanya menghiasi butik dan kafe, tegel retro juga menghiasi beberapa hotel di Jakarta dan Bali. "Ruangan terlihat klasik," ujar Sukiman, pemilik CV Megah Jaya, yang memproduksi tegel retro.

Menjual tegel sejak tahun 1999, Sukiman pada awalnya adalah buruh di pabrik tegel selama lima tahun. Menurutnya, selain menghasilkan nuansa klasik, penggunaan tegel juga lebih menguntungkan. Dibandingkan dengan keramik dan porselen, tegel memiliki pori-pori sehingga tidak pecah jika panas.

Selain polos, tegel retro juga dibuat dengan motif bunga, daun, batik, bentuk-bentuk geometris, hingga bentuk-bentuk dekoratif lain. Harga untuk tegel polos Rp 60.000 per m², sedangkan tegel motif Rp 165.000 per m². Dari berbisnis tegel ini, Sukiman bisa mengantongi omzet Rp 15 juta per bulan.

Tak hanya Sukiman yang menjalani bisnis pembuatan tegel retro. Riwanto, pemilik CV. Tegel Wong Yogya juga sudah berkiprah di bisnis ini sejak 10 tahun yang lalu. Ia mengklaim tegelnya lebih unggul dibandingkan dengan tegel produksi lain karena , memadukan motif Melayu.

Dari bisnis ini, Riwanto bisa memperoleh omzet Rp 9 juta sebulan. Omzet itu didapat dari penjualan tegel polos Rp 60.000 per m², dan motif warna-warni Rp 160.000 per m².

Riwanto menjelaskan, tegel dibuat dalam berbagai tahap produksi. Yaitu, pengayakan pasir dan semen, pencetakan, dan pemberian warna. Tak hanya itu, agar kuat tegel juga harus melalui proses pengeringan awal, perendaman, pengeringan akhir dan pengepakan. "Butuh pengalaman bertahun-tahun untuk bisa menguasai tekniknya," ujar Riwanto.

Perendaman menjadi proses yang sangat penting setelah tegel melalui pengeringan tahap awal. Perendaman selama 24 jam itu berfungsi untuk merapatkan pori-pori tegel dan memperkuat struktur sehingga tak mudah pecah. Setelah direndam, barulah tegel memasuki tahap pengeringan akhir selama empat-lima hari.

Baik Sukiman maupun Riwanto mengaku tren permintaan tegel retro telah menanjak sejak lima tahun ke belakang. Hal ini seiring banyaknya konsumen yang ingin kembali memiliki ubin dengan desain tempo dulu yang lebih artistik.

Laba miniatur kereta kencana dari perak melaju kencang

Perak merupakan logam yang memiliki daya pikat tersendiri. Selain digunakan sebagai berbagai produk perhiasan, perak juga menjadi bahan baku suvenir seperti miniatur kereta kencana. Kerumitan pembuatannya sebanding dengan harga yang tinggi. Perajin bisa mengantongi omzet
Rp 50 juta per bulan.

Kerajinan perak Yogyakarta memang sudah tersohor di seantero negeri ini. Salah satu produk suvenir berbahan perak adalah miniatur kereta kencana. Selain awet, penggunaan bahan baku perak juga memberi nilai keindahan tersendiri.

Nagins Jewellery, produsen perak asal Kota Gudeg, menjual miniatur kereta kencana. Ada dua produk kerajinan kereta kencana yang mereka tawarkan, "Kereta kencana yang dibuat di tempat kami adalah kereta dengan bahan perak murni dan semi perak atau campuran dengan tembaga," kata Misbahul Munir, pemilik Nagins Jewellery.

Misbahul mengatakan, pembuatan kerajinan kereta kencana lima atau tujuh kuda berbahan perak murni dengan panjang 30 sentimeter (cm) sampai 40 cm memerlukan waktu dua sampai tiga pekan. Sedangkan kereta kencana berbahan baku campuran tembaga dan perak membutuhkan waktu dua pekan.

Eddy Prasetyo, pemilik Dede's Silver di Yogyakarta, bisa membuat 10 sampai 20 kereta dengan panjang rata-rata 70 cm saban bulan. "Jumlah itu bisa berlipat jika pesanan melimpah di Desember atau waktu serah terima jabatan," ujar Eddy.

Pembuatan kereta kencana perak diawali dengan mencairkan kristal perak dan membuatnya menjadi lempengan. Lempengan ini lantas diukir untuk membuat karakter. Perak cair dibuat benang perak seukuran kawat. Proses selanjutnya adalah menggabungkan lempengan yang telah diukir dengan bagian yang lain hingga membentuk kuda dan kereta kencana.

Mahalnya harga perak di pasar membuat perajin harus memutar otak untuk tetap memproduksi kerajinan dengan harga terjangkau. Kemunculan miniatur kereta kencana dengan campuran tembaga sebagai solusi.

Selain murah, suvenir kereta kencana berbahan campuran tembaga dan perak ini juga lebih ringan. Harga kereta kencana berbahan campuran ini bisa sepersepuluh dari harga suvenir perak murni. Jika dengan perak murni harganya bisa sampai Rp 15 juta, suvenir campuran tembaga buatan Misbahul harganya Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Adapun Eddy menjualnya dengan harga Rp 1,2 juta-Rp 1,5 juta.

Miniatur kereta kencana dengan campuran tembaga hanya menggunakan sepuhan perak sebagai sentuhan akhir. Jika untuk membuat kereta kencana dengan perak murni memerlukan satu kilogram perak, kereta kencana dengan bahan baku campuran tembaga memerlukan sekitar 15 gram perak.

Menurut Misbahul, kereta berbahan perak murni ini memang lebih sedikit peminatnya ketimbang yang berbahan campuran tembaga. Ia menjual lima sampai delapan item, dengan omzet penjualan Rp 16 juta per bulan. Jika musim liburan tiba penjualannya melonjak menjadi Rp 36 juta.

Eddy bisa mengantongi omzet Rp 10 juta sampai Rp 12 juta per bulan untuk kereta kencana berbahan baku tembaga dan perak ini. Namun, jika digabung dengan kereta yang berbahan perak murni, omzetnya bisa mencapai Rp 50 juta.

Wednesday, November 2, 2011

Wirausaha Label Indie

Artis yang berwirausaha tak sedikit. Tak terkecuali penyanyi jazz Syaharani. Perempuan 40 tahun itu memilih berwirausaha di bidang yang tak terlalu jauh dari dunia yang digelutinya, musik. Dia mendirikan sebuah label rekaman indie.

"Sudah beberapa tahun ini aku lagi sibuk produksi indie untuk Esqief, duo bentukan aku sama temanku, Didit Saad. Karena ini label sendiri, jadi apa pun dikerjakan sendiri. Mulai ngaranglagu sampai proses produksi, semuanya sendiri," jelas Syaharani saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, pekan lalu.

Pemilik nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim tersebut menuturkan, dengan memiliki dan mengurus label sendiri,dirinya bisa melatih jiwa wirausaha dalam mengelola sebuah usaha. Selain itu, lanjut penyanyi asal Batu, Malang, tersebut, lewat label miliknya, dia sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan.

"Kalau begini, kan jadi wiraswasta dan bisa bantu orang lain. Usahanya sih baru kecil-kecilan. Karena itu, semoga ke depan makin berkembang dan bisa meng-Ziire lebih banyak orang lagi," imbuh penyanyi sekaligus pencipta lagu itu.