This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label kemitraan. Show all posts
Showing posts with label kemitraan. Show all posts

Monday, January 9, 2012

Mematut Laba dari Gerai Busana

Sebagai kebutuhan primer, bisnis baju atau pakaian tak ada matinya. Terbukti, permintaan akan sandang tak pernah surut  Ragam pakaian pun makin modis dan trendi. Maklum, fungsi pakaian kini telah berkembang jauh. Selain sebagai penutup aurat, pakaian juga menjadi simbol status dan kedudukan sosial seseorang.

Tren seperti itu tentu membuat bisnis seputar busana kian menjanjikan. Makanya,, banyak pebisnis menangkap peluang besar ini. Bahkan, banyak yang menawarkan kemitraan atau waralaba untuk mengembangkan usaha. Salah satu yang menawarkan waralaba ini adalah 761 Gudarig Busana di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Perusahaan yang memiliki gerai di Tomang, Jakarta Barat ini mulai menawarkan waralaba pada Mei 2011. Saat ini, sudah ada tiga calon mitra yang berminat membeli waralaba 761 Gudang Busana. Tiga calon mitra itu berasal dari Manado, Pekanbaru, dan Jawa Tengah. "Sekarang lagi penjajakan dan survei, 60% mereka sudah pasti membeli waralaba kami," kata Jenny, pemilik 761 Gudang Busana

Selain tiga calon mitra itu, ia menargetkan bisa menggandeng lima mitra lain tahun ini. Targetnya, akhir tahun ini bisa memiliki delapan mitra. Bagi Anda yang tertarik menjadi mitra, Jenny menawarkan tiga paket investasi. Yakni, paket Rp 30 juta, Rp 60 juta, dan Rp 100 juta.

Selain berhak menggunakan merek toko 761 Gudang Busa-. na, mitra yang mengambil paket Rp 30 juta akan mendapatkan 200 potong pakaian. Sementara yang mengambil paket Rp 60 juta mendapat sekitar 400 potong, dan yang mengambil paket Rp 100 jutamembawa pulang sekitar 700 potong pakaian.

Jenis pakaiannya bervariasi karena memang membidik semua kalangan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik perempuan maupun laki-laki. Harganya berkisar mulai dari Rp 15.000-Rp 300.000 per potong. Hitungan Jenny, mitra bisa meraup omzet Rp 15 juta-Rp 60 juta per lm Imm "Tergantung paket investasi yang dipilili mitra," katanya.

Tapi, Jenny menjanjikan semua paket bisa balik modal sekitar setahun, dengan asumsi bisa menjual 200 sampai 400 potong pakaian per minggu. Setiap bulan, Jenny menarik biaya royalty fee sekitar 7,5% dari omzet Kendati begitu, mitra masih bisa membawa pulang laba bersih sekitar 25% dari omzet.

Perlu modal besar

Menurut Jenny, mitra tak perlu khawatir bila pakaiannya tidak habis terjual. Mitra dapat mengembalikan lagi barang yang tidak laku. "Mitra tidak perlu takut barang yang sudah dipesan tidak lancar penjualannya," klaimnya. Jenny juga mempersilakan mitra-nya untuk menjual aksesori lain di toko mereka asalkan bukan baju.

Bye Widjajanto, pengamat waralaba dari Ben WarG Consulting, mengatakan, bisnis ritel fesyen memang cukup menjanjikan, baik waralaba maupun non waralaba. Kendati demikian, bisnis fesyen membutuhkan modal besar agar bisa terus eksis dan bersaing dengan kompetitor. "Agak riskan jika nilai investa-si membuka toko fesyen ritel dengan modal Rp 30 juta dan , Rp 60 juta," tegasnya. Ia menyarankan, toko fesyen yang belum memiliki brand harus memiliki stok barang yang melimpah, sehingga menarik minat pelanggan untuk datang.

761 Gudang Busana, Kelapa Lilin 2 NG 5/1, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Telp 021-45840643

Wednesday, January 4, 2012

Mereguk Segarnya Laba Susu Kedelai

Seperti halnya susu sapi, produk susu kacang kedelai juga banyak penggemarnya Selain memiliki rasa yang enak, jumlah kandungan vitamin dan nutrisi susu kedelai setara susu sapi. Berbekal pengetahuan mengenai kelebihan susu kedelai itulah, Singgih Prayogo pada tahun 2007 lalu mendirikan Warung Susu Dele Tidar di Suarabaya, Jawa Timur. Kini setelah empat tahun berjalan, usahanya mengembang. Ia sudah memiliki lima cabang di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Melihat ada celah pasar, sejak akhir tahun lalu, Singgih menawarkan waralaba agar usahanya semakin mekar. Apalagi, "Sejak tahun 2010, merek Dele Tidar telah memiliki hak paten, ujarnya. Produk utama yang ditawarkan Dele Tidar ialah susu kedelai dengan tujuh variasi rasa. Mulai dari rasa tawar, cokelat, moka, hingga aroma jahe. Singgih juga menawarkan produk turunan susu kedelai seperti makanan ringan. "Misalnya roti atau biskuit yang dibahan-bahannya juga mengandung kacang kedelai," imbuhnya

Singgih mengemas dan menjual susu kedelai dalam kemasan botol 300 mililiter (ml) dan 600 ml. Katanya, hampir seluruh gerai miliknya mampu menjual 60 botol susu kedelai dengan omzet sekitar Rp 1 juta per hari.

Tiga paket investasi

Bagi calon mitra yang tertarik dengan usaha susu berba-han baku kacang kedelai ini, Warung Susu Dele Tidar me nawarkan tiga paket invesasi. Masing-masing sebesar Rp 8 juta-Rp 12 juta, Rp 30 juta, dan yang terbesar Rp 80 juta. "Besaran investasi tersebut termasuk jasa pelatihan dan promosi, tapi di luar biaya sewa gedung," imbuhnya

Singgih bilang, paket investasi senilai Rp 8 juta hingga Rp 12 juta memiliki sasaran pasar pada kelas menengah ke bawah. Fasilitas yang diberikan berupa gerobak, peralatan penyajian, serta bahan baku susu sebanyak 50 liter. Khusus paket investasi Rp 12 juta akan diberikan peralatan tambahan berupa peralatan dapur dan alat memasak.

Paket Rp 30 juta dan Rp 80 juta khusus menyasar investor yang ingin memasarkan untuk target pasar kelas menengah ke atas. "Mereka akan memperoleh meja, dan gerai akan didesain layaknya kafe-kafe," ujarnya.

Dia bilang, untuk paket investasi Rp 80 juta akan diberikan pula bahan baku susu kedelai 200 liter. Pada paket ini, hitungan Singgih, proyeksi omzet yang bisa diperoleh bisa berkisar Rp 2 juta per hari dengan balik modal 1 tahun-1,5 tahun.

Singgih yakin, tiga paket waralaba Warung Susu Dele Tidar tersebut bakal memperoleh banyak mitra. Ia mengaku, sejauh ini mengaku sudah mengantongi enam mitra potensial. "Pangsa pasar kami berbeda dengan pedagang asongan dan minimarket," ungkap dia.

Khoerussalim Ikhsan, konsultan wirausaha menilai, tawaran waralaba dari Warung Dele Tidar cukup menarik. Namun, calon mitra yang ber-minat bergabung harus pintar-pintar memilih lokasi strategis. "Lebih baik di pusat perbelanjaan yang ramai atau ruko pinggir jalan," kata dia menyarankan.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh franchisor ialah bagaimana menjaga kualitassusu kedelai tersebut. "Kualitas pengemasan harus bagus agar susu tetap segar," imbuh Ikhsan. Warung Susu Dele Tidar Jl Tidar No 151 Surabaya 60252 Tip (031) 534-0556

Tuesday, December 20, 2011

Mencetak Laba dari Bisnis Percetakan

Anda berniat memulai usaha percetakan, tawaran kerjasama UD Grafika Cemerlang mungkin bisa menjadi pertimbangan. Mengusung nama BrosurMurah.com, UD Grafika Cemerlang didirikan oleh Dave Nanang Handoyo pada 2001 di Surabaya.

Nanang melayani cetak, baik di media kertas, plastik, ataupun produk suvenir. Berbagai jenis produk seperti paperbag, kalender, agenda, katalog, booklet, company profile, dan produk lain bisa dikerjakan BrosurMurah.

Dengan kualitas cetak nomer satu, Nanang mengatakan, target pasar utamanya adalah kelas menengah atas. Itu juga sebabnya, saat ini Nanang banyak memakai pola pemasaran dan pemesanan melalui internet untuk menggarap pasar yang lebih besar.

Walau menyasar kalangan menengah atas, namun produk cetak buatan Nanang cukup terjangkau. Harga mulai Rp 8.800 untuk satu kotak kartu nama hingga Rp 25.000 untuk satu kalender duduk. "Paling laris brosur berwarna seharga Rp 99 per lembar," ujar pria 33 tahun ini.

Rp 50 juta per bulan

Saat ini, Nanang sudah mempunyai empat gerai BrosurMurah. Masing-masing gerai tersebut mampu meraup omzet antara Rp 30 juta sampai Rp 50 juta per bulan. Omzet itu didapatkan dari pelanggan sebanyak 200 hingga 300 klien per bulan.

Melihat perkembangan itu, Nanang optimistis, bisnis cetaknya masih akan bagus. Apalagi dia memakai konsep cetak satu atap sehingga lebih efisien. Itulah sebabnya, mulai tahun ini dia menawarkan waralaba usahanya kepada masyarakat. "Sudah ada satu yang bergabung, tahun depan ada 3 mitra lagi," katanya.

Jika Anda berminat, Nanang menawarkan pilihan investasi mulai Rp 25 juta, Rp 50 juta, dan Rp 95 juta minus sewa tempat usaha. Nilai investasi yang berbeda bergantung fasilitas yang didapatkan. Untuk investasi senilai Rp 25 juta yang didapat adalah perlengkapan promosi, seperti spanduk, brosur 5.000 lembar, dengan kerjasama 3 tahun.

Untuk investasi Rp 50 juta akan mendapatkan dua set komputer grafis, printer, software asli, meja gambar, dan berbagai sarana promosi. Sedangkan paket Rp 95 juta akan mendapatkan tiga set komputer grafis, printer, dan berbagai sarana pendukung juga sarana promosi. Nanang juga akan melatigh membuat grafis para tenaga kerja untuk mitra tersebut.

Dari setiap mitra, Nanang mentargetkan omzet sebesar Rp 30 juta per bulan. Jika target tercapai maka mitra akanbalik modal dalam kurun enam hingga 8 bulan.

Selain membayar investasi awal yang di dalamnya sudah termasuk franchise fee, mitra juga harus membayar manajemen fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Nantinya mitra akan menangani pemesanan dan desain, sedangkan produksi akan dikerjakan pusat. "Kami akan langsung menangani bidang produksinya," ujar Nanang.

Salah satu mitra BrosurMu-rah adalah Winarto Setyadhar-ma di Mulyosari, Surabaya. Dia mengaku menjadi mitrasejak enam bulan lalu. "Menjelang pergantian tahun permintaan meningkat," katanya Pelanggan Winarto mulai dari perusahaan, sekolah maupun individu. Dari pesanan yang datang, sebanyak 75% order pembuatan brosur, baru disusul cetak banner, kartu nama, dan spanduk. Dari usaha ini, Winarto meraih omzet Rp 20 juta per bulan.

Grafika Cemerlang Jl. Wonorejo Permai Timur IV-16 Surabaya
Jawa Timur Telp 0318782448

Monday, December 12, 2011

Laba Dikail dari Gerai Alat Pancing

 Penggemar kegiatan memancing yang semakin banyak, menjadi peluang menarik membuka toko peralatan memancing. PT Dunia Pancing Indonesia pun melihat peluang ini. Mereka meluncurkan kemitraan gerai peralatan memancing bernama DP Fishing Mart. Dunia Pancing sudah sejak 2003 menggeluti bisnis peralatan memancing. Menurut Zohirin, Marketing DP Fishing Mart, Dua Pancing menyediakan tiga paket kemitraan, yakni paket kemitraan senilai Rp 30 juta, Rp 60 juta, dan Rp 100 juta.

Nilai investasi pada paket tersebut sesuai dengan nilai barang yang akan diperoleh oleh sang mitra Misalnya, mitra yang membeli paket kemitraan senilai Rp 60 juta, maka ia akan mendapatkan barang untuk dijual senilai Rp 60 juta. Selain menyediakan dana untuk pembelian barang ini, menurut Zohirin, mitra juga harus membayar biaya tambahan. Besarnya Rp 12 juta untuk paket Rp 30 juta, biaya tambahan Rp 18,5 juta untukmitra yang menginvestasikan Rp 60 juta, dan biaya tambahan Rp 20,5 juga untuk paket senilai Rp 100 juta.

DP Fishing Mart mengutip biaya tambahan ini sebagai ongkos pembuatan etalase dan uang jaminan. Misal, biaya tambahan Rp 18,5 juta, terdiri dari biaya pembuatanetalase sebesar Rp 3,5 juta dan biaya jaminan usaha sebesar Rp 15 juta. Asyiknya, saat ini, DP Fishing Mart menawarkan diskon minimal 50% untuk biaya tambahan. Besarnya diskon tergantung dengan jenis paket yang diambil. Alhasil, mitra cukup membayar antara Rp 5,5 juta hingga Rp 6,5 juta.

Selain itu, mitra bisa membayar biaya tambahan ini secara bertahap dalam waktu dua bulan. "Pembayaran seperti ini untuk meringankan mitra," imbuh Zohirin. Kemitraan ini berlaku untuk kerjasama selama satu tahun. Setelah membayar, DP Fis-hing Mart akan memberi pelatihan karyawan dan pemilik, seragam, standar operasional serta modul tentang peratalan memancing. "Selain itu, kami juga akan memberi dukungan promosi adanya gerai baru di seluruh outlet kami," terang Zohirin.

Pasar spesifik

DP Fishing Mart menyedia-kakan beragam peralatan memancing, baik untuk kolam, sungai hingga laut. Berbagai peralatan dan perlengkapan pancing ini diimpor dari Korea, China, dan Jepang. Harga jualnya mulai Rp 30.000 hingga Rp 3 juta.

Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis Khoerussalim Ikhlas menuturkan, bisnis ini akan berkembang baik bila ditangani pehobi mancing. Dengan pasar yang spesifik, akan sulit bagi mitra yang bukan pemancing untuk dapatkan kembali investasinya. Ia pun berpesan agar mitra lebih berhati-hari menjalankan usahanya. Mitra pun harus cerdik dalam membidik dan merangkul pasar berupa komunitas pehobi mancing.

Salah satu cara untuk mena-rik minat pasar adalah menghimpun komunitas untuk membangun pasar dan memperkenalkan brand. "Mitra juga bisa mengadakan lomba yang berhubungan erat dengan kegiatan memancing dan menjalin kerjasama dengan produk lainnya," tutur Khoerussalim. DP Fishing Mart Komplek Sentra Latumenten Blok C 23-24 Jl. Prof. Dr Latumeten 50 Jakarta Barat HP. (021)93883851 Telp. (021)56975501 Faks. (021)56975502

Mending Dorong Market Mbok Berek Ayam Goreng Suharti

Belasan waralaba asal Amerika Serikat (AS) siap melebarkan sayap ke Indonesia. Para pengusaha lokal pun ketar-ketir. Pemerintah diminta fokus mengembangkan waralaba lokal. Pemilik waralaba asal Negeri Paman Sam sudah mulai melobi pcrerintah agar mendapat izin masuk ke Tanah Air. Dan 16 waralaba yang akan masuk, satu di antaranya telah mengantongi izin untuk membuka outlet pertamanya di Bali pada April 2012. Waralaba itu adalah Johnny Rockets. Menanggapi ini. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengaku belum me-ngetahui kabar tersebut. Namun dia menegaskan, sebelum beroperasi di Tanah Air. waralaba asing terlebih dahulu harus memiliki izin usaha di Indonesia.

"Saya tidak hapal bagaimana ketentuan dan tahapan perizinannya. Saya belum pelajari lebih detail mengenai hal itu," dalih Bayu di Jakarta, kemarin. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minu-man (Gapmmi) Franky Sibarani menilai, menjamurnya jumlah waralaba di Indonesia merupakan hal yang wajar.

Namun, dia mengusulkan agar pemerintah sebaiknya lebih fokus pada pertumbuhan waralaba dalam negeri demi menjaga keseimbangan antara waralaba lokal dengan asing. "Sebaiknya pemerintah hold (tunda) dulu (izin) waralaba asing. Fokus saja dulu mendorong waralaba lokal yang sudah turun marketnya, seperti Mbok Berek dan Ayam Goreng Suharti." ujar Franky di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, jika pemerintah tetap mengeluarkan izin tersebut,maka dipastikan waralaba lokal akan semakin sulit menghadapi persaingan dengan waralaba asing, yang notabene kuat dari segi permodalan. Selain itu, sekarang ini waralaba lokal juga tengah menghadapi persoalan bunga yang tinggi. Karena itu, Gapmmi meminta pemerintah mempertimbangkan hal tersebut.

"Mindset-nya jangan selalu berorientasi pada peluang lapangan pekerjaan. Tapi juga harus mendorong industri dalam negeri bisa maju," tegas Franky. Di Bali, imbuhnya, konsumen memungkinkan untuk mengakomodir waralaba asing. Franky menyarankan, daerah waralaba bisa dibatasi oleh pemerintah untuk mencegah persaingan dengan waralaba lokal yang sudah eksis di daerah.

"Kalaupun diberi izin, harusnya ada batasannya. Misalnya, boleh dibuka tapi terbatas lokasinya. Kalau jenis roti, mungkin itu bisa. Karena marketnya beda," imbuhnya. Anggota Komisi VI DPR Sukur Nababan menilai, waralaba yang ada di Indonesia merupakan kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM). Sebagai penopang perekonomian Indonesia, pengusaha UMKM belum mendapat dukungan dari pemerintah.

"Mereka (waralaba lokal) berjuang sendiri. Menurut saya, tidak perlu ada lagi waralaba asing masuk ke republik ini. Johnny Rockets bisa masuk karena sudah dapat izin dari Menteri Perdagangan yang lama," tandas politisi PDIP itu. Seperti diketahui, sebanyak 12perusahaan AS akan membawa 16 merek waralaba untuk menggaet investor Indonesia. Ke-12 perusahaan ini tergabung dalam Misi Perdagangan Franchise Times International Franchise Association/ U.S. Commercial Service Trade Mission yang peYtama kalinya datang ke Indonesia.

Untuk mengawali misi perdagangan di Indonesia, restoran hamburger cepat saji Johnny Rockets telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of understanding/MOU) dengan Sahid Group untuk membawa merek restoran AS terkenal tersebut ke Indonesia.

PT Rianti Investama Internasional selaku master waralaba Johnny Rockets di Indonesia, bertekad membuka sedikitnya lima cabang restoran di Bali dan Jakarta. Presdir PT Rianti Investama Internasional Yanti Sukamdani optimistis kurang dan lima tahun investasi dari setiap outlet restoran sudah bisa balik modal.

Selain Johnny Rockets, merek-merek yang terlibat dalam misi dagang ini didominasi oleh waralaba berbasis makanan dan minuman. Merek-merek itu adalah Applebees, Dennys, Carvel Ice Cream, Cinnabon, Schlotzskys, Moes Southwest Grill, Great American Cookies. Ada pula merek Marble Slab Creamery, Pretzelmaker, Polio Tropical, Ritas Italian Ice, Which Wich dan Wing Zone. Sementara merek-merek lain di luar industri makanan terdiri dari Crestcom (waralaba pelatihan kepemimpinan) dan The Vitamin Shoppe.

Wednesday, December 7, 2011

Jaring 205 Mitra dengan Jamur Kriuk

Hanya dengan modal Rp 3 juta, Fatoni berhasil membangun jaringan usaha waralaba penganan Jamur Kriuk dengan investor dari berbagai kota di Indonesia. Lihat saja, hanya butuh waktu 2,5 tahun, ia berhasil menjaring 205 mitra. Selain mendapatkan royalty fee dari mitra Toni juga mendapatkan laba dari penjualan bahan bakunya.

Menjadi wirausaha sukses tentu menjadi idaman banyak orang. Apalagi sukses itu diraih dalam tempo terbilang singkat Itulah nasib baik yang dialami Fatoni, pemilik CV Manggala Karya Abadi. Pria yang akrab dipanggil Toni itu hanya butuh waktu 2,5 tahun untuk membangun bisnis kemitraan Jamur Kriuk (Jakri) yang berpusat di Purwokerto, Jawa Tengah. Toni kini memiliki 205 mitra yang berjualan Jamur Kriuk dengan gerobak di banyak kota di Indonesia.

Toni mulanya tidak menyangka, usaha pembuatan olahan jamur itu bisa berkembang seperti sekarang ini. Padahal, ia menemukan racikan olahan jamur itu secara tidak sengaja. Ketika itu, Toni ingin membuat olahan penganan yang unik. Hingga akhirnya dia memutuskan membuat kudapan berbahan baku jamur. Temyata masakan coba-coba lezat rasanya. "Mulanya saya hanya ingin membuat usaha yang memiliki racikan berbeda," ujar suami dari Lita Desita Permatasari itu.

Akhirnya, dengan modal cuma Rp 3 juta, Toni memutuskan berjualan olahan jamur dengan gerobak. Ia rela menaruh ijazah Magister Manajemennya di lemari demi berjualan jamur. "Semua saya jalani dengan yakin, bahwa usaha ini akan berkembang," kata alumi Universitas Islam Indonesia (UH) Yogyakarta itu.

Walaupun sempat laris, bukan jaminan usaha itu tetap laku. Penjualan jamur kriuk milik Toni sempat turun, bahkan pernah ia hanya menjual empat bungkus dengan omzet Rp 20.000 per hari. "Saat itu saya hanya panas dan kehujanan," kenangnya. Dengan penuh kesabaran, ia berusaha mempertahankan usaha itu hingga omzetnya pelan namun pasti terus menanjak. Begitu omzetnya berkibar, saat itulah banyak investor yang datang dan mereka tertarik menjadi terwaralaba jika Toni mengembangkan usahanya menjadi waralaba.

Toni pun tertarik mengembangkan usahanya ini dalam bentuk waralaba. Dan ketika waralaba ini ditawarkan, gayung bersambung, para investor pun berdatangan. Hanya butuh waktu 2,5 tahun, Toni sudah mampu menjaring 205 terwaralaba, 28 di antara adalah pemegang master franchise. "Mitra terjauh kami saat ini ada di Pekanbaru," kata Toni.

Untuk menjadi pemegang master franchise, Toni mensyaratkan terwaralaba harus setor modal sebesar Rp 30 juta sampai Rp 40 juta Sementara untuk terwaralaba hanya membenamkan investasi sebesar Rp 6,8 juta Sebagai usaha waralaba, tentu juga mengutip royalti/ fee sebesar 2,5% dari omzet per bulan. Selain itu, ia juga mendulang untung dari penjualan bahan baku. "Setiap bulan ada tujuh sampai delapan terwaralaba baru yang bergabung dengan kami," terangnya

Tentu, usaha ini juga tak selalu berjalan mulus. Toni mengaku, kini sekitar 15% terwaralaba sudah tidak aktif lagi berbisnis Jamur Kriuk. Buktinya, inereka tak setor royalty fee. Namun begitu, Toni  "Usaha jamur sukses karena tidak adapesaing," kata Fatoni.mengaku setiap gerai Jamur Kriuk yang aktif memperoleh omzet rata-rata Rp 300.000 -Rp 500.000 per hari atau omzet per bulan rata-rata sebesar Rp 4,5 juta

Agar bisnisnya bisa berkembang, Toni melakukan ekspansi bisnis pada pertengahan Juni 2011 lalu. Ia membuat usaha waralaba baru bernama Pasta Jamur Kriuk (Pasta Jakri). "Gerai ini menjual jamur kriuk memakai bumbu pasta," kata Toni. Namun sampai Desember ini, gerai Pasta Jamur Kriuk itu belum mendapatkan terwaralaba Tapi dari gerai miliknya sendiri, Toni mengaku bisa mendulang omzet hingga Rp 1,5 jnta per hari atau sekitar Rp 45 juta per bulan.

Dari seluruh usahanya, Toni mengklaim hanya mendapatkan omzet Rp 125 juta per bulan. "Saya bikin konsep waralaba bukan mencari laba tapi lebih kepada memberikan manfaat bagi orang lain," ujarnya. Dalam menjalankan usahanya itu, Toni berhasil menyelipkan pesan, jamur bisa diolah menjadi penganan lezat sekaligus menghasilkan laba yang menggiurkan.

Lewat tangan dinginnya, Toni berhasil mengemas jamur dengan aneka rasa seperti rasa keju, barberque, balado, piza, super pedas hingga rasa orisinal. "Usaha jamur ini sukses karena tidak ada pesaing," katanya

Thursday, December 1, 2011

Bisnis jasa binatu semakin laku

Bagi kaum urban yang supersibuk, mencuci pakaian mungkin adalah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan sendiri. Karena itu, sebagian besar dari mereka memilih jasa pembantu atau menyambangi kios jasa binatu alias laundry. Tempat terakhir ini agaknya menjadi pilihan yang paling rasional, mengingat jasa binatu sudah menjamur dan lazim digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa hingga ibu-ibu rumah tangga memakai jasa binatu dengan alasan kepraktisan.

Meningkatnya permintaan binatu pakaian jelas menjadi peluang bagus. Tak heran, pemain baru usaha binatu pun bermunculan. Jelas, hal ini membuat persaingan di bisnis ini juga kian sengit. Tapi, meski persaingan kian ketat, bisnis binatu makin berkembang. Beberapa usaha binatu yang menawarkan kemitraan atau waralaba bahkan terus berhasil menggandeng mitra baru.

Tentu saja, keberhasilan pemilik kemitraan atau waralaba ini berkat beragam inovasi yang mereka lakukan. Seperti menggunakan mesin-mesin cuci teknologi baru, membuat bahan detergen sendiri sehingga lebih ramah lingkungan atau dengan mengubah beberapa skema kemitraan atau waralaba.  Selain itu, beberapa pewaralaba berusaha untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan. Mereka memberikan layanan antar jemput binatu dan menggaransi pelayanan mereka untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

Berikut KONTAN mencoba mengulas tiga kemitraan jasa binatu, yakni Dressed Laundry, Si KinClong, dan Beach Laundry. KONTAN memberikan kilasan gambaran perkembangan mereka dengan membandingkan kondisi beberapa waktu lalu.


Dressed Laundry

Menanamkan investasi dengan bergabung menjadi mitra jasa binatu ternyata masih menjanjikan keuntungan lumayan. Tengok saja perkembangan mitra Dressed Binatu yang didirikan Dedi Setiadi pada 2009 lalu. Kemitraan yang baru ditawarkan pada 2010 ini telah memiliki 16 mitra. Jasa binatu ini membidik pasar kalangan menengah.  Pada saat KONTAN mengulas kemitraan ini tahun lalu, Dedi baru menawarkan dua paket investasi Dressed Laundry, yakni paket Rp 30 juta dan paket Rp 40 juta.

Kini, Dedi telah mengubah strategi bisnisnya. Ia tak lagi menyasar kalangan menengah. Dressed Binatu menawarkan jasa cuci untuk segmen pasar premium.  Alhasil, perubahan bisnis ini ikut merombak bisnis kemitraannya. Dedi menyediakan empat paket investasi Dressed Laundry, mulai dari harga Rp 450 juta hingga Rp 2,4 miliar. "Kami ingin menjaga kualitas pelayanan dengan mengganti mesin cuci di setiap gerai," jelas Dedi.

Perubahan lainnya, Dressed Binatu juga melayani cuci satuan. Langkah ini ditempuh untuk memberikan layanan yang lebih optimal bagi konsumen dari kalangan ekspatriat. "Kami saat ini ingin lebih fokus menjadi penyedia jasa binatu kelas premium," ujar Dedi mantap. Sejak tiga bulan lalu, Dedi pun mengembangkan teknologi robotik dalam proses pemindahan pakaian dari pencucian hingga ke tahap pengemasan. Dengan menggunakan semacam lengan robot tersebut, Dedi bilang, proses binatu menjadi lebih cepat.

Tak hanya itu, mereka juga menggunakan mesin pressing yang menggantikan proses penyetrikaan secara manual. Alhasil, tampilan akhir pun menjadi lebih rapi dan memuaskan. "Layanan kami menjadi lebih cepat dengan teknologi robotik ini," ujar Dedi.


Si KinClong

Usaha binatu ini mulai berdiri sejak 2004 silam dan mulai menawarkan konsep waralaba setahun kemudian. Saat KONTAN mengulas waralaba asal Bandung ini pada Juni 2008, Si KinClong baru mempunyai 10 gerai yang tersebar di Bandung, Indramayu, dan Lampung.

Tiga tahun berselang, kini Si KinClong sudah memiliki 16 outlet yang separuhnya merupakan milik sendiri. Hendra Susanto, Manajer Operasional Si KinClong mengatakan, yang berbeda dari waralaba ini sekarang dibanding tiga tahun lalu, adalah penawaran paket investasi dan fokus membidik pasar di daerah tertentu.

Menurut Hendra, jika tiga tahun lalu pihaknya menawarkan tiga paket waralaba yakni Paket Standar sebesar Rp 90 juta, paket Gold Rp 100 juta, dan paket Premium senilai Rp 135 juta. Kini, Si KinClong hanya menawarkan Paket Standar saja. Dengan paket itu, lanjut Hendra, mitra bisa meraih omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Sedangkan untuk jasa pencucian Si KinClong tak menaikkan tarif yaitu Rp 6.000 per kg, tarif yang sama dengan tiga tahun lalu.

Hendra mengklaim, pengerucutan paket investasi ini bertujuan agar usahanya fokus pada segmen pasar tertentu. Dengan satu paket, Si KinClong juga menghindari adanya perbedaan kualitas. Bukan itu saja, Hendra menambahkan, kini Si KinClong juga fokus bermain di wilayah Bandung. Sebab, menurut Hendra, pasar binatu di Bandung masih cukup luas dan belum benar-benar terjamah secara merata. "Tahun depan kami targetkan menambah dua hingga tiga gerai baru di Bandung ini," tegasnya.

Walau demikian, Hendra menilai potensi bisnis binatu secara keseluruhan masih sangat besar. Hal terlihat dengan konsumen binatu yang terus tumbuh. "Pasarnya menarik, permintaan terus tumbuh, tapi persaingan kian ketat," tandasnya. Untuk memenangkan persaingan, Si KinClong juga berupaya untuk menyasar segmen di luar individu, yakni kalangan perusahaan. Walau dirasa cukup sulit namun Hendra optimistis hal itu bisa dilakukan.

Beach Laundry

Perkembangan jumlah mitra juga dialami oleh Beach Laundry. Usaha binatu ini didirikan oleh Andi Rakhmat Santoso di Yogyakarta pada 2007 lalu. Saat KONTAN menulis usaha ini pada 2010 lalu, Beach binatu telah memiliki 32 mitra, yang sebagian besar berada di Jabodetabek dan Jawa Tengah. Untuk para calon mitranya, mereka menawarkan tiga paket kemitraan, yaitu Rp 100 juta, Rp 120 juta, dan Rp 160 juta. "Paket itu tak berubah," ujar Andi.

Kini, usaha binatu di bawah PT Ghalasa Putera Indonesia ini makin berkembang. Beach Binatu sudah memiliki 60 mitra yang tersebar hingga wilayah Sumatera. Mitra cepat bertambah, karena Beach Binatu mengklaim punya beberapa keunggulan. Mereka telah memproduksi detergen sendiri, sehingga harganya lebih murah. Hendra mengklaim detergen buatannya lebih ramah lingkungan. "Binatu kami telah memiliki kesadaran untuk ramah lingkungan," ujar Andi.

Tak hanya itu, Beach Binatu juga menawarkan jasa pencucian yang lumayan lengkap, yakni layanan binatu kiloan dan juga binatu satuan. Demi menjaga kepuasan pelanggan, mereka juga memberikan fasilitas pengiriman cucian secara gratis. Tak cukup sampai di situ, mereka juga memberi kesempatan pada para pelanggannya untuk mengembalikan pakaian yang terbukti kurang bersih atau tidak rapi. "Kami memberikan jaminan layanan penuh tanpa pungutan biaya tambahan," ujar Andi.

Untuk semakin mengukuhkan posisi dalam layanan jasa bersih-bersih, pemilik Beach Binatu berencana mengembangkan layanan cucian motor, juga dalam paket kemitraan. Dengan pengembangan paket usaha cuci motor tersebut, Andi berharap akan dapat meningkatkan jumlah mitra dan memperluas ekspansi usaha mereka. "Kami mencoba mengikuti kebutuhan masyarakat yang berkembang saat ini," ujar Andi.


sumber = kontan

Tuesday, November 29, 2011

Raih sukses dengan menjadi broker waralaba

Perkembangan usaha dengan konsep waralaba masih mendatangkan keuntungan bagi yang mampu melihat peluang. Salah satunya, dengan menjadi broker atau agen waralaba. Sebagai informasi, hingga 2010, nilai bisnis waralaba di Indonesia mencapai Rp 114,64 triliun. Inilah yang membuka mata Rachmat Agung Nugroho untuk mendirikan Franchise First, sebuah agen franchise, awal 2010 silam. "Peran broker sangat penting, khususnya pada industri dengan nilai bisnis besar," ujarnya.

Franchise First berfungsi sebagai penghubung antara pencari waralaba dan pemilik waralaba, sekaligus bertindak sebagai konsultan yang akan menganalisis kelayakan sebuah franchise. "Kami akan memberi saran franchise yang potensial dan cocok, walaupun keputusan akhir di tangan klien tersebut," ujar pria berusia 34 tahun tersebut.

Di sisi lain, para pemilik waralaba juga membutuhkan broker untuk memperluas cabang mereka. Selain itu, keberadaan broker waralaba ini juga dibutuhkan oleh pemilik bisnis properti. Mereka bisa bekerja sama untuk mendapatkan investor yang akan menyewa atau membeli ruko sebagai ruang usaha.

Rachmat menawarkan waralaba Franchise First ini untuk menjadi master franchise. Posisi master franchise ini juga bisa disebut sebagai agen lepas. Selain agen lepas, Rachmat juga menawarkan kerja sama sebagai agen biasa untuk kota-kota yang belum memiliki master franchise.

Namun, agen biasa juga bisa berada di bawah master franchise. Biasanya agen biasa ini terdiri dari tenaga-tenaga freelancer. "Para agen lepas berhak atas 30% dari nominal franchise fee, dan 70% untuk agen biasa," terang Rachmat.  Saat ini Franchise First telah memiliki tiga master franchise di Jakarta, Solo, dan Surabaya. Nilai investasi untuk menjadi master franchise Franchise First ini sebesar Rp 150 juta untuk masa kerja sama selama lima tahun. Biaya ini belum termasuk biaya sewa untuk lokasi usaha.

Ira Novita, Manajer Investasi dari master franchise Franchise First di Jakarta, mengakui adanya keuntungan menjadi agen lepas Franchise First. Master franchise Franchise First yang berdiri sejak enam bulan lalu, kini telah memiliki tujuh agen biasa. Mereka menawarkan beragam waralaba, mulai dari bidang kesehatan, makanan dan hiburan, hingga pendidikan.

Menurut Ira, dalam sebulan, master franchise di Jakarta ini bisa mendapatkan 15 calon investor yang ingin berbisnis waralaba. "Bahkan, ada calon investor dari Gorontalo yang ingin membuka waralaba di kotanya," ujar Ira. Namun, lanjut Ira, calon investor mayoritas berasal dari Jabodetabek. Mereka banyak mencari waralaba atau kemitraan dengan nilai investasi berkisar Rp 100 juta hingga Rp 200 juta.

Dari setiap nominal investasi tersebut, maka terwaralaba Franchise First akan mendapatkan komisi berkisar 10%-30% dari biaya franchise fee. Besarnya komisi ini tergantung nilai investasi waralaba. Dari komisi itu, selanjutnya akan dibagi lagi, 70% untuk jasa agen biasa dan 30% untuk pemilik master franchise. Dari pendapatan master franchise ini, Franchise First pusat akan mengutip biaya 10%. "Dalam sebulan, master franchise bisa mendapatkan omzet lebih dari Rp 70 juta," ujar Ira.


Franchise World Indonesia
Jl. Gunung Sahari,
Komplek Marinatama
Blok E No. 5, Jakarta Utara
HP. 0898 9316 006, 0877 350000 18

Sunday, November 27, 2011

Waralaba minimarket jadi Pilihan

Ada uang berlebih dan ingin "mengembangbiakkan" uang sekaligus jadi "entrepreneur" yang siap mengambil risiko dan secara sosial ingin membuka lapangan kerja? investasi di bisnis waralaba minimarket adalah pilihan. Balik modal ya harus sabar, butuh waktu 2,5 tahun hingga 3 tahun. Kalau lebih dari itu, evaluasi komprehensif perlu dilakukan!

Lihat saja di pinggiran Kota Tangerang Selatan, Banten, seperti Jalan Pamulang Dua yang panjangnya tidak lebih dari 3 kilometer. Indomaret versus Alfamart, yang dahulu hanya berkompetisi seberang-se-berangan, kini sudah terlihat ada yang bersaing body contact, tepat bersebelahan. Total di sepanjang jalan itu sudah ada delapan minimarket tersebut

Pudjianto, Wakil Presiden Direktur Alfamart, secara gamblang menjelaskan, investasi membuka Alfamart me-. miliki banyak cara. Hitungan lokasi, katakanlah tempatnya adalah sewa standar rumah toko, minimal dua ruko selama lima tahun saja, biayanya mencapai Rp 300 juta. Itu dengan asumsi sewa per tahun Rp 60 juta.

Renovasi dan perizinan mencapai Rp 150 juta hingga Rp 200 juta Ditambah lagi peralatan komputer kasir, meja kasir, rak toko, dan perangkat lainnya mencapai Rp 150 juta. Kemudian, imbalan waralaba (franchise fee) serta biaya pembukaan toko dan pernak-pernik lainnya sekitar Rp 100 juta Paling tidak, investasi awal mencapai Rp 600 juta hingga Rp 750 juta

"Balik modal investasi tergantung lokasi dong. Kalau penjualan bisa mencapai Rp 10 juta per hari, balik modal bisa 2,5 tahun hingga 3 tahun. Itu sudah dihitung biaya operasional. Kalau lebih dari kurun waktu, misalnya 4 tahun, kita mesti evaluasi besar-besaran untuk mendorong pemasaran," kata Pudjianto.

Meski terkesan agak sulit, gerai Alfamart yarig berbentuk waralaba terbukti bisa sekitar 1.700 unit. Sekitar 5.600 unit atau 70 persen dari total toko dikelola Alfamart sendiri. Pengembangan bisnis ini pun dilakukan dalam bentuk operator mandiri. Dalam hitungan kurun waktu tertentu, gerai baru bisa dimiliki si operator. Ini mirip pengemudi di sejumlah perusahaan taksi. Pengemudi itu menjadi karyawan, lalu menyetorkan hasil penjualan, H-n doioin Kurun waktu tertentu, mo-bil taksi menjadi milik si sopir.

Tak kehabisan akal, pengelola Alfamart yang gerah dihadang ribut-ribut perizinan toko ritel pun mengembangkan peluang bisnis dalam format gerai binaan Alfamart (OBA). Model ini memberikan kepastian pasokan dan pemilihan barang sesuai permintaan mayoritas konsumen. Konsumen pun terjamin oleh identitas Alfamart dalam memperoleh produk bermutu.

"Nah, model ini hanya butuh investasi rata-rata Rp 5 juta hingga Rp 10 juta untuk sekadar meng-upgrade (meningkatkan peringkat) toko, tanpa mengubah nama toko aslinya Dalam tiga tahun, kami sudah memiliki 90.000 OBA. Dari jumlah itu, sekitar 70.000 yang aktif," kata Pudjianto yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia.

Tak berbeda jauh. Indomaret pun memiliki keunikan dalam investasi. Terlebih pada pengembangan inovasi belanja satu pintu (.one stop shopping) ritel yang menjadi unggulan. Mulai dari penjualan pulsa dan listrik prabayar, tiket kereta api, tiket konser musik, hingga menjual CD musik eksklusif Indomaret. CD Kla Project, misalnya, dalam 35 hari penjualannya mampu mencapai 50.000 keping.

"Jadi, bukan hanya melayani kebutuhan konsumen sehari-hari. Zaman sekarang kita tidak bisa hanya melihat pesaing di depan atau samping kita karena sikap ini hanya akan membuat kita melihat terus-menerus ke belakang," kata Direktur Marketing PT Indomarco Prismatama Wiwiek Yusuf.

Model investasi terdiri dari, pertama, franchise yqng lokasinya diten-tukan investor. Tentunya, ada survei terlebih dahulu agar minimarket itu dapat sesuai dengan target penjualan ataupun proses balik modal. Kedua, model pembukaan toko dengan metode ambil alih (.take over). Artinya, lokasi dan toko milik Indomaret dapat dikerjasamakan operasionalnya. Dalam waktu tertentu, orang yang menjalankan bisnis (franchisee) ini dapat memiliki toko ita

Hitung-hitungan investasi toko baru, di luar bangunan, meliputi imbalan waralaba {franchise fee) lima tahun, biaya awal dan promosi pembukaan, perizinan, renovasi dan tambahan daya listrik, serta peralatan elektronik dan non-elektronik. Investasi dibedakan dalam bentuk 45 rak jualan yang mencapai Rp 320 juta, sedangkan sebanyak 55 rak mencapai Rp 370 juta.

Berdasarkan pengalaman Indomaret, investasi tersebut baru balik modal sekitar 3 bulan hingga 3,5 tahun. Itu bisa diraih jika penjualan rata-rata Rp 9 juta-Rp 10 juta per hari. Kekuatan ritel juga bertumpu pada sistem distribusi. Tentu, sekali lagi, lokasi sangat menentukan. Dari 5.827 gerai kami, sebanyak 38 persen milik franchisee, sedangkan selebihnya, 62 persen, justru dikelola dengan model toko take over. Dari tingkat kegagalan bisnis, saya melihat dari survei, hanya di bawah 5 persennya kok," ujar Wfwiek.

Semua pemilik bisnis waralaba tetap sama-sama berpendapat, bisnis pasti mengandung risiko. Tidak ada satu pun yang bisa menjamin keberhasilannya tanpa pengembangan inovasi pemasaran yang kreatif. Terlebih, bisnis ini semakin menjadi pilihan dan terus menjamur ke sejumlah daerah.

Thursday, November 24, 2011

Segarnya Bisnis Es Krim Carvellos Ice Cream

Pamor es krim memang tak pernah pudar. Maklum, hampir semua kalangan suka mengudap es krim, baik anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Pasar es krim yang terus membesar, memikat CV Media Wirausaha Indonesia (MWI) terjun pada bisnis ini. Dua tahun terakhir, perusahaan yang bermarkas di Bekasi, Jawa Barat itu meluncurkan Carvellos Ice Cream.

Carvellos Ice Cream adalah gerai yang menjajakan berbagai produk es krim dengan harga terjangkau. Sejak enambulan lalu, MWI menawarkan kemitraan gerai ini. Menurut Ariyanto, Direktur Operasional CV Media Wirausaha Indonesia, es krim punya daya tarik tersendiri. "Es krim bisa diolah dari beragam ba-han, seperti coklat, susu, stroberi, vanilla dan setiap waktunya mengalami pengembangan rasa dan menu," ujarnya.

Sejak berdiri, Carvellos pun terus mempertahankan komitmennya, yakni menyajikan es krim berkualitas tanpa ba-han pengawet dengan harga terjangkau. °Bahan baku kami sesuai dengan standar BPOM dan bersertifikat halal," tandas Ariyanto.

Meski baru setengah tahunmenawarkan kemitraan, Carvellos sudah menjaring 30 mitra yang tersebar di Jabodetabek, Karawang, Purwakarta, Bangka Belitung hingga Palangkaraya. Mitra itu terjaring lewat penawaran empat paket, yaitu paket agen Rp 3,5 juta, paket konter Rp 7 juta, paket sub depo Rp 10 juta, dan paket depo Rp 20 juta.

Paket Resto

Untuk mendongkrak bm nd Carvellos, bulan lalu, MWI menambah paket kemitraan berupa resto atau mini kafe. Dengan paket ini, MWI membidik konsumen Carvellos Ice Cream di mal atau pusat belanja. "Kami optimis bisa mendapat banyak konsumen di mal," ujar Ariyanto.

Untuk paket resto ini, mitra harus menyiapkan biaya investasi sebesar Rp 50 juta. Mitra pun akan memperoleh semua perlengkapan berjualan, mulai dari mesin es krim hingga bahan baku awal.

Mereka menawarkan puluhan menu es krim, dengan banderol harga mulai Rp 3.000 untuk es krim cone, hingga Rp 8.000 untuk nyak es krim. Selain itu, Carvellos Ice Cream juga menawarkan menu es krim goreng, yaitu roti isi es krim, seharga Rp 5.000.

Hitungan Ariyanto, mitra usaha bisa memperoleh omzet Rp 30 juta per bulan. "Dengan perolehan omzet ini, mitra bisa balik modal dalam waktu antara enam bulan hingga satu tahun,1 jelasnya. Selain itu, dengan menambah paket baru ini, Ariyanto ingin menawarkan Carvellos Ice Cream dengan sistem waralaba. "Kini, kami terus mengembangkan jaringan di beberapa kota," ujarnya.

Menurut Khoerussalim Ikhsan, Pengamat Waralaba, pangsa pasar es krim masih cukup bagus ke depan. Pasalnya, es krim mampu mengikal kuat konsumen anak-anak hingga remaja dan dapat pulamenjaring konsumen dewasa dan orang tua. "Es krim bisa dibilang mak.man semua umur, ujai

Khoerussalim .juga menilai, paket resto Carvellos Ice Cre am ini masih wajar dan relevan. Namun, ia tetap menekankan, adanya komitmen untuk terus bei Inovasi Jan konsisten menggarap segmen pasarnya, yaki mene-ngah ke bawah. Saya khuwa-ika mereka menjajal seg-i pasar yang lebih tinggi akan gagal bersaing dengan produk es krim yang sudah 11 na," tegasnya. Carvellos Ice Cream Jl (.1111111 Utara 2 No 4A laka Sampurna, Bekasi Telp. (021)97095999 HP. 082111278999

Wednesday, November 16, 2011

Laba Gerai Bakso Masih Saja Hangat

Dea Chadiza Syafina, Fitri Nur Arifenieiakawta. Kudapan bakso memung populer. Olahan daging sapi berbentuk bulat yang disajikan dengan mie dan kuath panas ini selalu mengundang selera Tak heran, meski persaingan sangat ketat, ada saja pengusaha yang melirik usaha ini. Bahkan, tak sedikit dari mereka menuai keberhasilan.

Salah satu pengusaha itu adalah Luqnian Fanani. Setelah merintis usaha bakso awal 2009 di Mojokerto, ia mencoba menawarkan waralaba Baso Koki Sapi. "Akhir 2009, saya baru menawarkan kemitraan dan sekarang sudah ada 10 gerai," katanya.

Luqnian menawarkan tiga paket kemitraan. Yakni, paket standar, paket premium, dan paket gold atau sink isi dica. Nilai investasi kemitraan ini mulai Rp 12,5 juta hingga Rp 27,5 juta.

Pada dua pakei pertama, mitra akan memperoleh peralatan masak dan perlengkapan makan, seperti mangkok, sendok dan garpu, freezer, kompor dan seragam karyawan. Selain itu, mitra juga mendapat suplai bahan baku awal dan brosur promosi.

Perbedaan mendasar pada tiap paket hanya pada jumlah mangkok dan jenis kompor sertaftvezcr. Untuk paket premium, mitra juga akan mendapat Sb (Mier untuk menghangatkan siomay.

Sedangkan, pada paket iinhl, mitra akan mendapatkan fvrr di Minan kapasitas 700 liter, dan juga suplai produk awal mulai dari Rp 5 juta sampai dengan Rp 7 juta "Terwaralaba gold berhak menjadi master franchise dan mengelola/ntuiWiise Baso Koki Sapi diwilayah tersebut," tandas Luqman.

Meski waralaba Baso Koki

Sapi tak mengutip mitra tvyaltyfee. Narnun begitu, mitra wajib membeli bahan baku utama seperti bakso, siomay, bakso goreng, bakso tahu serta kuah dan bumbu dari manajemen Baso Koki Sapi pusat. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan

Dengan menjual 50hingga 250 porsitiap hari, mitra bisabalik modal dalamdelapan bulan.mempertahankan standar rasa Baso Koki Sapi.

Seporsi Baso Koki Sapi dibanderol dengan harga Rp 4.500 sampai Rp 6.000. Menurut perkiraan Luqman, mitra bisa menjual 50 hingga 250 porsi bakso setiap hari.

Mitra pun bisa mengumpulkan omzet rata-rata Rp II11100 setiap hari untuk paket standar dan Rp 1 juta untuk paket gold. Luqman menghitung, mitra bisa balik modal dalam hitungan enam bulan sampai dengan delapan bulan.

Etmi, salah satu terwaralaba Baso Koki Sapi sudah menggeluti bisnis ini sejak sejak 2009. Bisnisnya berjalan lancar karena ia memiliki lokasi strategis, .yakni jalan lintas Sumatra

Etmi mengambil pakei investasi sebesar Rp 25,6 juta. Ia mengaku, dalam waktu enam bulan sudah balik modal.

Sampai kini, usaha bakso-nva pun iak pernah sepi. Awalnya, ia hanya menjual 60 hingga 70 porsi bakso per dari. Kini, dalam sehari. baksonya laku300 hingga 400 porsi. Satu porsi, dijualnya dengan harga Rp 10.000. "Dalam sehan. omzel minimum sekitar Rp 3 juta," kala Etmi.

Bahkan, saat Lebaran, Kimibisa mendulang omzet Rp 100 juta dalam 10 h;iri. Biasanya, saat Lebaran, penjualan bakso per hari bisa mencapai 1.000 hingga 1.200 mangkok. Berbagi tip supaya bisnis nya tetap awet, dengan menjaga kualilas dan disiplin untuk berjualan Baso Koki Sapi

Jl Raya Tangunan No. 29
RT 04 RW 02
Kec. Puri, Mojokerto
Telp. (0321) (U37810
HP. 08563407110

Tuesday, November 15, 2011

Menjaring Laba dari Kursus Bahasa Inggris

Di era globalisasi, kemampuan berbahasa inggris sudah menjadi kebuluh-.in. Terlebih, dalam dunia kerja daii pendidikan. Tak heran, kursus ini tak pernah sepi peminat sehingga usaha kursus bahasa inggris ini tetap berpotensi.

Jika Anda tertarik membu-,4ca kursus bahasa inggris, tak ada salahnya melirik tawaran - waralaba kursus bahasa inggris asal Denpasar, Bali, yakni BritishSInternasional. Raul Haidin, pemilik Britislialnter-hasional, telah merintis usaha ini sejak 2003. Setelah empat tahun beroperasi, ia baru menawarkan usaha waralaba pada 2007.

Saat ini, British51nternasio-nal sudah membuka 22 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia Meski berpusat di Bali, kursus ini memiliki cabang di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. "Dari semua outlet itu, hanya empat cabang yang milik sendiri," ujar Raul.

Raul menawarkan dua paket investasi. Pertam-, paket investasi dengan gedung seni-lai Rp 300 juta. Kedua adalah paket investasi tanpa gedung senilai Rp 200 juta Pada paket investasi berikut gedung, maksudnya pewaralaba yang akan menyiapkan gedung selama lima tahun.

Dari kedua paket investasi itu, calon terwaralaba mendapatkan fasilitas yang sama, seperti modul kurikulum re kuritmen, training staf dan guru. Selain itu, calon terwaralaba juga mendapatkan marketing promotion dari pusat. "Investor tak perlu re-pot menjalankan sendiri, investor cukup menjadi pengawas." kata Raul.

Paket investasi tersebut juga sudah termasuk (mm lii-sefee senilai Rp 50 juta selama lima tahun. Sedangkan, Raul baru mengutip royalty fee pada bulan ke-7, sebesar 7% dari omzet kotor.

Raul menjanjikan, investor bisa balik modal sekitar 8 hingga 15 bulan. Untuk bulan pertama hingga keempat, omzetnya sekitar Rp 15 juta hingga Rp 25 juta. Namun, setelah memasuki bulan kelima, omzet naik menjadi Rp 20 juta sampai Rp 50 juta per bulan.

Persaingan ketat

Keunggulan Britisholnter-nasional karena menerapkan sistem pembelajaran yang

Nama kursus bahasa inggrissangatberpengaruhterhadap image.menyenangkan. Misalnya, belajar bahasa inggris dengan memutar film-film berbahasa inggris yang sedang tren.

Raul optimistis, BritishSIn-ternasional masih mampu bertalian di tengah persaingan kursus bahasa inggris yang , kompetitif. Target kami adalah siswa SMU," kata Raul.

Levita Supit, Kelua Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) mengatakan, persaingan kursus bahasa inggris sudah ketat. Meski begitu, peluang masiri terbuka lebar jika tempat kursus tersebutmemberikan layanan pendidikan bahasa inggris yang berbeda

Strategi pemasaran berupa penggunaan nama asing Brit-ish5Internasional merupakan taktik jitu untuk menarik peserta kursus. Maklum, orang Indonesia lebih percaya belajar bahasa Inggris di brand waralaba asing. "Nama tentu berpengaruh terhadap Image? kata Levita

Selain harus memiliki keunggulan tertentu, kursus bahasa Inggris lokal juga harus memiliki strategi lain, seperti fasilitas yang memadai hinggabisa bersaing dengan waralaba asal luar negeri.

Cara lain juga dapat dilakukan dengan mendatangkan pengajar dari luar negeri atau native speaker, sebagai penunjang proses belajar mengajar. "Persaingan bisnis kursus bahasa onggris sudah sangat ketat, maka harus mempunyai keunggulan lain yang lebih menjual," tandasnya

Saturday, November 12, 2011

Tawaran kemitraan burger dan hotdog itu datang dari Klender

Burger kian akrab dengan lidah orang Indonesia. Buktinya, penjaja burger marak di mana-mana. Tak hanya ditawarkan di restoran kelas mal, penjual burger kerap ditemui di kedai-kedai kakilima di pinggir jalan.

Jadi, jangan heran bila Anda melihat banyak merek burger lokal di sepanjang jalan. Mereka menawarkan sajian roti bertumpuk dengan keunikan masing-masing.

Salah satunya adalah Klender Burger. Gerai burger milik PT Sera Lestari Global ini mulai menawarkan burger sejak 2008. Menurut S. Indra Kurnia, pemilik Klender Burger, potensi penjualan burger di Indonesia cukup baik. "Sudah banyak orang yang menyukai burger, jadi tak sulit berpromosi," jelas Indra.

Selain itu, bisnis burger cukup sederhana. Alhasil, banyak orang terjun ke bisnis ini. "Namun, banyak juga yang tak bertahan karena tak bisa membuat keunikan dengan produk lain," ujarnya.

Indra bilang, salah satu keunikan sajian burgernya adalah penggunaan bumbu-bumbu untuk menguatkan citarasa lokal. "Kami mengemasnya sesuai dengan lidah orang Indonesia," tuturnya.


Andalkan paket booth

Melihat respons masyarakat yang cukup baik, Indra pun mulai menawarkan waralaba sejak dua tahun lalu. Pada 2011 ini, mereka pun menambah jenis paket investasi. Yakni, paket booth senilai Rp 50 juta dan paket ruko kecil dengan nilai investasi Rp 100 juta. "Dulu kami hanya menawarkan paket mini resto Rp 100 juta," kata Indra.

Paket Rp 50 juta menjadi paket yang paling diandalkan Klender Burger. Pasalnya, mitra bisa membuka booth Klender Burger di lokasi mana pun. Selain itu, dengan paket booth ini, Indra ingin bersaing dengan merek burger lain yang banyak menawarkan paket serupa.

Saat ini, Klender Burger telah memiliki enam menu andalan yang terdiri dari variasi burger dan hotdog. Untuk paket mini resto, Indra melengkapi menu berupa kentang goreng dan steik. "Kami terus mengembangkan menu untuk menghindari kejenuhan pelanggan," tuturnya.

Ia pun berharap, dengan penambahan dua paket baru ini, mitra dan gerai Klender Burger terus bertambah. Saat ini, Indra telah membuka lima gerai Klender Burger milik sendiri dan tiga gerai mitra. "Kami membidik mitra dari luar Jawa, karena potensinya besar," kata Indra.

Dengan harga burger berkisar Rp 6.000 hingga Rp 23.000, Indra memperkirakan mitra paket booth bisa meraup omzet minimal Rp 20 juta per bulan. "Mitra bisa balik modal dalam waktu 1 hingga 1,5 tahun," jelasnya.

Sementara itu, Fery Firmansyah, mitra Klender Burger yang membuka gerai di Kemang, mengatakan, respons pengunjung cukup bagus. "Produk Klender Burger bisa bersaing dengan burger lainnya," kata Fery.

Fery membuka gerai sejak dua tahun lalu dengan mengambil paket Rp 100 juta.

Kurang dari setahun, ia pun berhasil mengembalikan modalnya. Fery bilang, salah satu daya tarik gerainya adalah harga burger yang terjangkau. Ia menjual burger dan hotdog mulai harga Rp 8.000 hingga Rp 20.000.

Kini, dalam sebulan, gerainya mampu meraup omzet Rp 24 juta. Menurut Fery, omzetnya menurun dibandingkan dengan setahun lalu, karena persaingan penjual makanan di Kemang makin ketat.


PT Sera Lestari Global
Jl. Buaran Raya Blok B 19
Jakarta Timur
Telpon (021) 8620886

Friday, November 11, 2011

Mencicip segarnya bisnis es krim lokal

Es krim merupakan salah satu produk minuman yang punya banyak penggemar. Maklum, tak hanya anak-anak, orang dewasa pun suka menyantap es krim di sela-sela waktu senggang.

Tren konsumsi es krim pun terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sayang, di pasaran banyak beredar produk dari merek es krim asing. Khususnya, es krim yang membidik kalangan menengah atas atau yang membuka gerainya di pusat perbelanjaan.

Minimnya merek es krim lokal ini mendorong Roy Tanumulia, pemilik PT Dwi Kuadrat, membuka gerai Mon Cheri Ice Cream di Surabaya. pada 1987. Meski baru membuka gerainya pada 1987, Roy bilang usaha es krim ini merupakan bisnis keluarga sejak 1950. "Pengalaman lama dalam bisnis ini membuat es krim kami memiliki karakteristik yang sulit disamakan dengan merek lain," ujarnya.

Berbeda dengan gerai es krim lainnya, Roy memberi sentuhan klasik pada kedai Mon Cheri. "Penyajiannya akan mengingatkan pengunjung pada es krim yang disantap para bangsawan," ujarnya.

Namun, untuk mengikuti tren bisnis es krim, Roy juga menambahkan waffel atau bahan lain seperti topping pada es krimnya. "Kami memang menyasar pasar kalangan menengah ke atas," kata Roy. Supaya bisa dinikmati berbagai usia, ia pun selalu menjaga kadar kemanisan produk es krim ini.

Untuk mengembangkan gerainya, pada 2009, Roy mulai mengembangkan konsep waralaba gerai es krim Mon Cheri. Kini, ia sudah membuka lima gerai milik sendiri dan dua gerai milik terwaralaba yang ada di Jakarta dan Mataram.


Masih prospektif

Bagi yang berminat, Anda harus merogoh kantong lumayan dalam untuk investasi ini. Roy menawarkan paket resto atau kafe Mon Cheri seharga Rp 400 juta.

Nilai investasi ini sudah termasuk franchise fee selama lima tahun senilai Rp 250 juta. Selain itu, juga peralatan dan perlengkapan serta bahan baku awal senilai Rp 150 juta.

Mon Cheri memiliki 30 menu es krim. Harga satu cup es krim ukuran 70 gram di gerai ini mulai Rp 12.500. Sementara, porsi es krim lainnya, dijual dalam rentang harga Rp 25.000 hingga Rp 30.000, tergantung rasa dan topping yang dipilih konsumen.

Dengan target penjualan 100 porsi es krim per hari, Roy memperkirakan terwaralaba bisa mengantongi omzet Rp 90 juta per bulan. "Mitra pun bisa balik modal sekitar 2 tahun," tandasnya.

Levita Supit, Pengamat waralaba yang sekaligus Ketua Waralaba dan Lisence Indonesia (WALI) menilai, usaha es krim memiliki prospek usaha yang cerah di masa mendatang. Pasalnya, es krim bisa dinikmati oleh semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang dewasa. "Saya pikir usaha ini akan terus berkembang asalkan terus melakukan inovasi terhadap menu dan rasa es krim," ucapnya.

Meskipun Mon Cheri harus siap bersaing dengan merek asing yang sudah mapan, tapi itu bukan hambatan untuk selalu berinovasi untuk menarik lebih banyak pengunjung. "Justru kehadiran kompetitor bisa jadi motivasi untuk menghadirkan produk dan pelayanan terbaik," jelas Levita.

Terkait nilai investasi yang besar, Levita pun memberi saran, agar terwaralaba aktif melakukan kegiatan promosi. Mereka harus mengemas beragam kegiatan yang menarik untuk memancing pelanggan datang. "Cara ini harus dicoba, karena ujung kegiatan promosi ini dapat mendongkrak perolehan omzet," tutur Levita.

Mon Cheri Ice Cream
PT Dwi Kuadrat
Dharmahusada Utara 3/25
Surabaya 60285
HP. 0811334256

Thursday, November 3, 2011

Mengurut rezeki lewat pijat rileksasi

Badan pegal-pegal atau capek? Jangan khawatir, saat ini sudah banyak tawaran layanan rileksasi, seperti spa, lulur, totok, hingga pijat refleksi yang bisa membuat badan kembali bugar.

Menyasar kalangan menengah atas, jasa rileksasi mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan. Masyarakat kota memang kerap dilanda stres akibat tekanan pekerjaan atau kemacetan lalu lintas.

Layanan inilah yang coba ditawarkan Olivia Antoni, pemilik The Family Spa dari Cilegon, Banten. Mengusung konsep spa keluarga, Family Spa hadir dengan dekorasi etnik modern bertema tradisional Jawa. "Lebih unik, mewah, dan eksklusif," kata Olivia.

Walau sudah berdiri sejak 2007, Olivia baru menawarkan waralaba bisnis Family Spa pada Juni 2011. Cukup lancar. Meski baru sebulan, Olivia sudah bisa menjaring dua terwaralaba, yakni di Jambi dan Makassar. Adapun dua calon terwaralaba lagi masih tahap penjajakan.

Jika Anda juga tertarik mencicipi waralaba Family Spa, Olivia menawarkan dua paket waralaba. Paket pertama hanya membayar franchise fee sebesar Rp 35 juta. Kalau mengambil paket ini, terwaralaba akan mendapatkan hak penggunaan nama selama tiga tahun.

Paket kedua merupakan paket lengkap dengan nilai investasi sebesar Rp 190 juta. Calon terwaralaba yang memilih paket ini, selain memperoleh perlengkapan, juga tidak perlu memikirkan uang sewa tempat.

Dengan paket lengkap, pewaralaba akan mencarikan tempat usaha dengan nilai sewa Rp 20 juta per tahun berukuran 4 m x 10 m. Tak hanya itu, akan disediakan juga tenaga terapis dan pendampingan manajemen.

Selain membayar dana investasi, tiap bulan terwaralaba juga harus membayar royalty fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Dengan asumsi ada 10 sampai 15 pelanggan yang datang, Olivia menghitung, setidaknya omzet terwaralaba akan mencapai Rp 1 juta–Rp 2 juta per hari. Alhasil, balik modal diperkirakan hanya butuh waktu enam bulan sampai delapan bulan.

Perkiraan omzet itu bakal tercapai, karena Family Spa memakai metode shiatsu asal Jepang. Mengenai bahan baku spa, seperti krim lulur, didatangkan langsung dari Bali dengan harga berkisar antara Rp 10.000–Rp 30.000 per paket.

Tak hanya itu, untuk menjaga kualitas layanan, Family Spa hanya merekrut terapis berpengalaman minimal lima tahun. Dengan pengalaman tersebut, terapis diharapkan bakal memberikan pelayanan profesional untuk pelbagai jenis paket yang ditawarkan.

Paket jasa rileksasi yang ditawarkan antara lain, pijat, body scrap, mandi susu, totok wajah, dan mandi sauna. Tarif untuk bisa menikmati layanan itu berkisar antara Rp 180.000 hingga Rp 250.000. "Untuk jasa senilai Rp 250.000 khusus untuk wanita," jelas Olivia.

Salah satu terwaralaba Family Spa di Makassar, Umiyati, mengaku tidak kecewa setelah mengambil tawaran investasi ini. Umiyati atau akrap dipanggil Etty tertarik menjadi terwaralaba karena biaya investasinya murah.

Apalagi dengan dukungan peralatan yang lengkap membuat Etty bisa menjalankan bisnis tanpa pusing lagi. "Walaupun murah, kualitas dari berbagai support perlengkapannya tidak mengecewakan," katanya.

The Family Spa
(ALDO Management)
Cilegon Town Square Nomor 17G, Jalan Raya Cilegon, Banten,
Telepon: (0254)378345

Wednesday, November 2, 2011

Hangatnya Laba Kemitraan Bakso

Bakso, bakso, dan bakso lagi. Memang, siapa, sih, yang tidak kenal dengan makanan berbentuk bola terbuat dari daging dan tepung ini? Walaupun pedagang bakso sudah bejibun, namun makanan ber-kuah panas ini tetap banyak peminatnya.

Sebagai makanan yang memiliki banyak penggemar, bakso pun menjadi pilihan bisnis Sri Ratna Dewi. Dengan nama usaha CV Zein Family, Ratna mendirikan usaha bakso di Yogyakarta pada 2004.

Tetap mengusung menu bakso, dia memadukan bakso dengan tahu, bernama Tahu Bakso Zaidan. Tak hanya bakso daging sapi, Tahu Bakso Zaidan juga berbahan baku udang, ikan .laut, dan ayam.

Variasi rasa dan menu

Setelah merasa bisnisnya cukup kuat, pada 2009 lalu. Ratna mulai menawarkan kemitraan Tahu Bakso Zaidan. Agar omzetnya bertambah besar, diajuga menambah variasi menu selain bakso, antara lain mie ayam, siomay, dan batagor.

Sedangkan untuk menu bakso, variasi rasa juga dilakukan dengan menu tahu bakso kuali tahu bakso bumbu kacang, tahu bakso hotplate, tahu bakso lada hitam, dan tahu bakso kremes. "Semua disajikan hangat dengan harga mulai Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per porsi," kata Ratna.

Karena sifatnya kemitraan, Tahu Bakso Zaidan yang saat ini sudah punya enam mitra tidak memungut fra neh ise fee atau royalti fee. Enam mitra tersebut tersebar Yogyakarta, Semarang, Lombok dan Bekasi.

Untuk Anda yang berminat menjadi mitra, Ratna menawarkan dua konsep kemitraan. Pertama dengan.investasi Rp 20 juta. Jika memilih tawaran ini, maka mitra akan mendapatkan menu tahu bakso aneka rasa dan peralatan outdoor atau gerobak. Kedua dengan investasi Rp 50 juta. Tawaran ini akan memberikan menu bakso, mie

Mitra juga akan mendapatkan fasilitas perlengkapan restoran indoor, berupa lima set meja dan kursi, kulkas satu pintu, alat memasak, hatian baku, dan training karyawan. "Mitra langsung bisa memulai usaha," katanya. Untuk menu minuman akan diserahkan ke mitra.

Dengan target penjualan 50 porsi sehari, diperkirakan omzet mitra mencapai Rp 15 juta per bulan. Jika target tersebut tercapai maka balik modal atau BEP sekitar satu tahun. "Yang penting lokasi bagus," katanya Karena paket yang ditawarkan belum termasuk sewa tempat, maka mitra harus mencari sendiri lokasi usaha.

Ratna menegaskan, penggemar bakso sangat besar. Karena itu, pangsa pasar penikmat makanan ini masih menjanjikan. Namun, menurut Khoe-russalim Ikhsan, Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis,tawaran Tahu Bakso Zaidan masih belum cukup menarik.

Sebab menurut Khoerussa-lim, menu yang ditawarkan Ratna biasa-biasa saja "Kalau mau mendapat sambutan hams berani inovasi, meski dengan risiko gagal," ujarnya. Ia mengaku agak ragu jika tawaran ini dibawa ke wilayah Jabodetabek.

Selain inovasi, Khoerussa-liin juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sumberdaya manusia (SDM) bagi mitra. Program pelatihan karyawan harus benar-benar memiliki sistem yang baik dengan standar pelatihan baku. Sebab, dalam bisnis seperti ini faktor SDM sangat penting bagi kemajuan usaha.

Tahu Bakso Zaidan Jln. Nangka V RT 6/15 Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta
Telp. 081228482724

Tuesday, November 1, 2011

Rezeki mengembang dari ayam taliwang

Bisnis makanan daerah kian bergairah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Banyaknya perantau yang datang ke ibu kota menjadi pasar potensial bagi pengusaha makanan daerah. Maraknya liputan kuliner di televisi juga mendorong rasa penasaran sejumlah orang untuk mencicipi beragam makanan khas daerah tertentu.

Salah satu waralaba makanan daerah yang mulai ditawarkan pada Oktober 2011 ini adalah Ayam Taliwang Senggigi Lombok. Mulai membuka kedai ayam taliwang pada 2001, kini Sesil Indra Kurnia, pemilik merek Ayam Taliwang Senggigi Lombok, sudah memiliki tujuh gerai yang tersebar di Jabodetabek.

Mulai tahun ini, ia ingin mengembangkan kedainya yang bernaung di PT Sera Lestari Global, hingga ke seluruh Indonesia. "Saya ingin lebih banyak orang merasakan kelezatan ayam taliwang," ujarnya berpromosi.


Investasi Rp 150 juta

Menurut Indra, kelebihan ayam taliwang di kedainya terletak pada dominasi rasa pedas. "Kami ingin mengusung sensasi pedas khas Lombok," ujarnya. Sekitar 80% dari menu yang ditawarkan di kedai Ayam Taliwang Senggigi Lombok menggunakan bumbu cabai.

Pada waralaba ini, Sera Lestari Global baru menyiapkan satu paket investasi saja. Mereka menawarkan paket resto dengan nilai investasi sebesar Rp 150 juta.

Indra menjelaskan, dengan membeli paket tersebut, terwaralaba tinggal menyiapkan lokasi usaha. Semua perlengkapan berjualan, pelatihan, promosi, dan bahan baku untuk operasional awal sudah disiapkan. "Konsep gerainya fastfood minimalis," ujarnya.

Selain ayam, gerai Ayam Taliwang Senggigi Lombok juga menyediakan menu bebek, ikan, dan udang yang berbalur bumbu taliwang. Dengan harga jual berkisar Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per porsi, terwaralaba akan memperoleh omzet sekitar Rp 3 juta per hari atau Rp 90 juta per bulan.

Selama masa kerja sama lima tahun, Indra mengutip royalty fee 2% dari omzet tiap bulan. Ia pun menghitung, balik modal usaha ini antara 14 bulan hingga 18 bulan.

Dengan konsep waralaba ini, saban bulan. Indra berharap mampu menggandeng dua mitra baru. Ia pun optimistis dengan prospek usaha ini, mengingat menu ayam taliwang, khususnya di kota-kota besar, belum banyak yang disajikan dalam bentuk resto. "Dengan konsep resto, kami memiliki kelebihan pelayanan cepat dan memuaskan, serta suasana yang nyaman untuk semua pelanggan," kata Indra berpromosi.

Pengamat waralaba Khoerussalim Ikhsan melihat bahwa tawaran waralaba Ayam Taliwang Senggigi lombok dalam konsep resto dengan suasana modern ini cukup menarik. Namun, ia sedikit ragu soal harapan untuk bisa merangkul semua kalangan sebagai konsumen ayam taliwang. "Selama ini makanan tradisional dari sebuah daerah sifatnya segmented dan tak meledak di pasaran," ujarnya.

Ia menyarankan kepada pemilik waralaba ini untuk mencari cara yang bisa memikat semua kalangan pada sajian khas ayam taliwang ini. Termasuk dari kaum muda dan anak-anak yang cenderung masih menyukai makanan modern. "Ini tantangan besar yang mesti dilakukan semua waralaba yang mengusung makanan tradisional," pesan Khoerussalim.

PT Sera Lestari Global
Jl. Buaran Raya Blok B 19
Jakarta Timur
HP. 081398994706

Monday, October 31, 2011

Mantan Karyawan Raih Impian

Mereka hengkang dari posisi sebagai karyawan perusahaan untuk mewujudkan keinginan menjadi orang kaya.

Rangga Umara, 32, memutuskan berhenti bekerja di kantornya di perusahaan properti Jakarta saat kebutuhan hidupnya mulai meninggi. "Gaji di perusahaan properti waktu itu tiga koma. Maksudnya, setelah tanggal tiga, kantong sudah koma," ungkap Rangga seraya tertawa.

Menurut dia, karyawan apa pun tidak menjadikan seseorang kaya. Jadi, memiliki usaha sendiri merupakan satu-satunya jalan untuk menjadi kaya.

Ia lalu pindah haluan. Karena terbawa oleh hobinya yang doyan makan. Rangga mendirikan warung pecel lele. "Pecel lele makanan khas Indonesia, mudah dijumpai, namun belum banyak yang berani tampil beda. Selama ini kebanyakan warung lele tampilannya begitu-begitu saja," kata Rangga yang hadir dalam Kick Andy episode KnryauHin No, Itiragan Yes.

Pad,a 2007, Rangga membuka usaha pecel lele pertamanya di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. "Modalnya saya dapat dari hasil menjual jam tangan, handphone, parfum, dan alat penggetar perut yang ada di rumah. Totalnya Rp3 juta," sambungnya. Ia lantas menggandeng temannya yang pintar meracik bumbu.

Gerai pertamanya menempati bangunan berukuran 2x3 meter. Namanya Lele Iela. Kata Lela adalah akronim dari lebih laku atau, lebih laris. Rangga punya konsep untuk mewujudkan nama itu. "Tempat harus nyaman, orang datang tak sekadar makan, tapi juga mau mc-, nikmati suasana," sambungnya.

Usaha warung lele itu tidak serta-merta berkembang. Pada rentang 2007-2008, Rangga mengaku mengalami periode yang berat. Ia terlilit utang kepada rentenir. Keuntungannya habis untuk membayar sewa. Enam cabang pertamanya harus ditutup.

Keuangan keluarganya makin minus sampai-sampai Rangga bersama istrinya. Sih Umairah, serta anak mereka diusir keluar dari kontrakan karena tidak mampu membayar lagi.

Meski begitu. Rangga tetap konsisten. Olahan lele dikembangkannya, disertai standar operasi pelayanan yang dibuat unik. Misalnya, setiap pengunjung Lele Lela disambut dengan ucapan selamat pagi dalam intonasi yang bersemangat. Setiap pengunjung yang meninggalkan gerai pun mendapat ucapan terima kasih, selamat datang kembali!.

Sekarang, pria kelahiran 1979 itu mempunyai 42 cabang Lele Lela se-Indonesia dengan omzet Rp4,8 miliar per bulan. Mereka menyediakan makanan gratis bagi yang sedang berulang tahun dan bagi pengunjung yang bernama Lela.

Kesuksesan Rangga rupanya bermula ketika ia menuliskan obsesi, ambisi, dan impian yang ingin diraihnya dalam sebuah buku yang ia sebut dream book. Tidak hanya menuliskan keinginan, Rangga juga menuliskan usaha untuk mencapainya serta target keuntungan. Lewat dream book itu, Rangga mengumpulkan semangat dan menarik energi positif agar im-piannya tercapai.

Kini, ayah dua anak tersebut sedang berupaya mewujudkan impian lain, yakni membuka cabang Lele Lela di Mekah.

Buka distro

Selain Rangga, ada Mohamad Rosihan, 38, yang banting setir menjadi penjual busana muslim dengan brand Saqina setelah keluar dari pekerjaannya sebagai konsultan internet bergaji Rp7,5 juta sebulan.

Pria lulusan Jurusan Geodesi Institut Teknologi Bandung ini kemudian mendirikan perusahaan teknologi informasi sendiri.

Penghasilan perusahaan hampir mencapai angka Rpl miliar per tahun, dengan sebuah konsekuensi. Usaha tersebut diakuinya sangat melelahkan karena proyek-proyeknya ditangani langsung oleh Rosihan sendiri. Saat berada di puncak karier perusahaannyasendiri. Rosihan jus- tru memutuskan menutup perusahaan itu.

Tahun 2006 saya merintis bisnis ritel, dagang. Alasannya, saya ingin mencari bisnis yang lebih simpel, yang bisa saya delegasikan kepada karyawan, untungnya besar dan cepat, pasarnya jelas," tutur Rosihan.

Ia lalu melirik distro. Dalam setahun, ia membuka lima distro-dinamai Saqina-yang menjual busana muslim wanita, gamis, kerudung, aksesori busana muslim, baju koko, sarung, mukena, dan perlengkapan haji.

"Segmennya menengah tengah, bukan menengah ke bawah atau menengah ke atas. Harganya berkisar Rp75 ribu sampai Rp300 ribu," tambahnya.

Rosihan mempromosikan produk ililw Saqina menggunakan media online. Order pun membanjirnya. Pelanggannya datang dari seluruh Nusantara, juga dari mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Brunei, Dubai, Prancis, Amerika, dan Australia. Rosihan bahkan memiliki reseller di Malaysia. Alhasil, omzetnya pun melonjak 50 I

Jadi wirausaha, menurut Rosihan, merupakan pilihan, bukan sampingan. Konsisten dan fokus buat dia adalah harga mati. "Hidup dan mati seorang wirausaha ya di situ. Jika sudah begitu, dia akan struggle dari kondisi apa pun, bahkan paling buruk sekalipun. Selain itu, harus membuat target baru sehingga bisa terus berkembang. Jangan pernah merasa puas," tegasnya berbagi kiat.

Setelah 11 tahun

Kisah Dewanto Purnomo, 40, lain lagi. Setelah beberapa kali pindah perusahaan, pada 18 September 2000, Dewanto diterima di sebuah badan usaha milik negara (BUMN) bidang jasa keuangan nonbank.

Saat anak pertamanya lahir, Dewanto terdesak untuk menghasilkan uang lebih banyak. "Lima hari sejak kelahiran, anak saya didiagnosis mengalami bocor jantung. Dia juga didiagnosis (menderita) attention deficit hyperactivity disorder, mirip autisme. Jadi butuh banyak biaya," akunya

Karena itu. Dewanto memutuskan untuk membuka usaha sampingan. Pada 2005 ia bersama beberapa rekannya membuka usaha kuliner bakmi raos. Pendapatan Dewanto dari usaha tersebut mencapai 5-6 kali lipat gajinya sebagai pegawai. Lalu, ia bersama rekan-rekannya membentuk Master Franchise Bakmi Raos Grup.

Ia pun menambah usahanya dengan membuka depo susu segar dan menjalin kemitraan dengan Jimbo

Laundry House untuk membuka usaha laundry kiloan.

Di awal 2011, Dewanto menjual seluruh bisnis depo susu segar -dan laundry kiloannva, sedangkan usaha bakmi diserahkan kepada adikm.i yang memiliki usaha katering rumahan.

Saat itu. Dewanto melihat peluang baru, yaitu penjualan boneka. Tahun 2007 saya menemukan pabrik boneka di Bekasi. Di pabrik itu ada tulisan yang kurang lebih berkata, selama wanita bisa melahirkan, peluang bisnis boneka selalu ada," ucap Dewanto sambil tersenyum.

Ia juga berjualan lewat toko daring. Order membanjirnya. "Omzetnya mencapai puluhan juta," katanya singkat. Permintaan datang dari berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, Jawa, Jakarta, Bali, dan Sulawesi.

Boneka yang dia juol lewat beberapa laman seperti umno.boneka-lucu.com, www.bonekobesbr.com, www. bom-kabear.com, umno.bonekaonline. com, dan www.bonelcBangtybird.coni bisa dibeli satuan. Untuk memasok kebutuhan konsumennya. Dewanto bekerja sama dengan 12 pemasok dan 125 industri rumahan yang memproduksi boneka.

Pada 2011, setelah 11 tahun bekerja sebagai karyawan, Dewanto akhirnya memutuskan untuk meninggalkan jabatannya di BUMN. "Penyebabnya adalah karena absensi saya banyak yang bolong. Terutama absensi pagi, siksaan pertama kalau berangkat pagi ke kantor. Begitu telat pasti merasa bersalah," ucapnya.

Wednesday, September 21, 2011

Kemitraan Rental Mainan Anak

Bermain identik dengan dunia anak-anak. Mainan dan si kecil seperti sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Jenis mainan pun kian beragam. Tapi, tentu saja, tak semua jenis mainan harus dimiliki anak. Selain keterbatasan kantong, pertimbangan dalam membeli mainan adalah tak adanya tempat untuk menyimpan banyak mainan, apalagi mainan berukuran besar.

Tapi, tak perlu pusing bila buah hati ingin mencoba mainan baru. Anda juga tak perlu membeli mainan baru, karena Nurul Aliefa, pemilik Tat ita, menawarkan penyewaan mainan anak, seperti perosotan, ayunan, mobil-mobilan dan jungkat-jungkit. "Kami berharap bisa mer\jadi partner orang tua untuk berbagi keceriaan sang buah hati," ujarnya

Pengusaha rental mainan asal Bandung ini mengawali usahanya tiga tahun lalu, setelah melihat potensi pasar yang sangat besar dari bisnis ini. Selain melayani keluarga, Tatita juga sering melayani keperluan pesta "Kami menyasar segala kalangan," ungkap Nurul.

Karena persaingan masih longgar, Nurul pun terdorong menawarkan kemitraan Tatita sejak Juli 2011. Kini, ia sudah mendapat tiga calon mitra dari Timika, Medan, dan Ujung Pandang.

Dibandingkan dengan jenis usaha lain, bisnis rental mainan ini tak memerlukan lokasi khusus. "Bisnis ini bisa dijalankan di rumah," kata Nurul.

Tatita menawarkan tiga paket kemitraan dengan investasi Rp 19,5 juta. Rp £3,9 juta dan Rp 53.3 juta Dari investasi itu, mitra akan mendapatkan suplai mainan dan hak pemakaian nama Tatita selama lima tahun.

Beberapa unit mainan yang diberikan cukup bervariasi, seperti Little Castle/ Kids Playzone, Easy Store Large Slide, Swing Along Castle, Hide And Slide Clim-ber, Crab See Saw, Rocking Horse, Patrol Car/Tune Cou-pe Car, Push Around Buggy, Sunshine Playhouse, Won-derful Ride, Picnic Table, Whirly Bouncer, Van For Two/Fire Engine For Two, Jungle Climber, dan Inflanta-ble Bouncer. Nilai mainan yang diberikan mulai dari Rp 10,5 juta hingga Rp 36,8 juta tergantung investasi yang dipilih oleh mitra.

Meski tak tak mengutip shaiing pivJU serta royalty fee. Nurul bilang, perusahaannya akan membantu mitra promosi. Untuk menyewa mainan di Tatita ini pun sangat mudah. Konsumen cukup mengirim pesan singkat atau Apapun yang berkaitan dengan dunia anak pasti berprospek baik.

SMS untuk pemesanan. Kemudian dilanjutkan dengan pembayaran serta deposit Rp 100.000. Deposit itu sebagai jaminan dan akan dikembalikan setelah masa sewa berakhir dan barang diterima seperti kondisi semula oleh Tatita

Nah, jika mainan yang disewa itu rusak saat diterima, pihak Tatita berhak mengambil deposit sebagai biaya pengganti kerusakan.

Selain menerima penyewaan secara mingguan, Tatita juga menawarkan peminjaman secara harian. Tarifnya pun cukup terjangkau. Yakni, mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah untuk setiap mainannya

Nurul mencontohkan, penyewaan Angel Fish Rocker atau jungkat jungkit biaya sewanya Rp 45.000 per hari. Bila ingin disewa sebulan penuh, banderol sewanya hanya Rp 155.000.

Dengan omzet perkiraan sebanyak Rp 5,03 juta, Nurul menghitung mitra bisa balik modal sekitar 13 bulan. Pasalnya, dengan perolehan omzet sebesar itu, mitra bisa mendapat margin hingga 80%. Perhitungan ini berlaku untuk mitra yang membeli paket senilai Rp 53,3 juta.

Menurut Amir Karamoy, Pengamat Waralaba, rental mainan anak bukan bisnis baru. Namun, tawaran kemitraan Tatita ini inovatif. "Rental mainan ini cukup responsif, karena apapun yang berkaitan dengan dunia anak memiliki prospek yang baik," ujarnya

Namun, ia berpesan, calon mitra sebaiknya benar-benar memahami pasar bisnis ini. Pasalnya, ada kecenderungan bisnis ini bersifat musiman. Artinya, hanya ramai diwakru-waktu tertentu saja, semisal pesta perayaan ulang tahun anak.

Untuk itu, calon mitra juga harus siap jika permintaan sewa menurun. "Apalagi, anak-anak kini semakin dekat dengan mainan berteknologi. Oleh karena itu, perlu promosi yang intensif," pungkasnya Rental Mainan Tatita JI. Banyak Endah 17 Kota Baru Parahyangan Bandung 40553 Telp. (022)86813754 HP. 0818 617 909

Tuesday, September 20, 2011

Menilik tawaran kemitraan Benresik Laundry asal Yogyakarta

Aktivitas masyarakat di kota besar yang makin padat, menuntut segala efektivitas dalam pekerjaan rumah. Salah satunya, dalam mengelola pakaian kotor.

Seringkali, mereka mengabaikan urusan mencuci pakaian kotor serta menyetrika-nya hingga rapi kembali. Inilah yang menjadi peluang bisnis laundry. Tak heran, usaha ini kian menjamur di berbagai penjuru kota.

Agung Prasetya, pemilik Benresik Laundry, menangkap peluang ini. Usaha laundry kiloan asal Yogyakarta ini mulai berdiri sejak 2002.

Pada 2009, Benresik Laundry pun mulai menawarkan kemitraan. Kini, mereka sudah punya 17 mitra yang sebagian besar tersebar di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Menurut Agung, salah satu keunggulan usaha laundry miliknya terletak pada kualitas cucian dan beragam inovasi baru. Salah satunya, ia memberikan voucher diskon biaya cuci pakaian hingga 50% bagi pelanggan. "Ini sangat menarik konsumen," ujarnya

Benresik Laundry mena1-warkan paket kemitraan untuk tiga tahun senilai Rp 15 juta. Mitra akan memperoleh satu unit mesin cuci berkapasitas 7 kilogram (kg), satu unit mesin pengering berkapasitas 6 kg serta sebuah setrika.

Hanya, khusus calon mitra di Jabodetabek, mereka akan dikenakan biaya tambahan untuk pengiriman mesin dan akomodasi senilai Rp 6 juta.

Selain peralatan, Benresik juga memberikan media promosi berupa leaflet. Mereka juga memberikan pendampingan selama masa kemitraan serta menyediakan tenaga kerja cadangan.

Agung sendiri juga turun mengawasi usaha mitranya. Untuk wilayah luar kota, ia mengagendakan kunjungan sebulan sekali, selama tiga bulan dalam setahun.

Setiap hari, Agung bilang, mitra minimal bisa melayani hingga 50 kg cucian tiap hari. Ia membedakan harga laundry di Yogyakarta serta Jabo-detabek. Banderol harga di Yogyakarta Rp 3.000 per kg, sedangkan di Jabodetabek Rp 7.000 tiap kg.

Dengan omzet awal sekitar Rp 10,5 juta per bulan, mitra bisa balik modal dalam waktu lima bulan. Namun, Agung meyakinkan, omzet akan bertambah seiring waktu yang berjalan, la pun mencontohkan, omzet gerainya yang kini telah mencapai Rp 25 juta tiap bulan. Padahal ketika awal-awal buka, jauh dari angka omzet tersebut.


Dukungan pusatharus dilakukansupaya mitrasanggup mencapai target.

Menurut pengamat waralaba Erwin Halim, meski persaingan usaha laundry kiloan sudah sangat ketat, khususnya di Yogyakarta, Benresik masih bisa dapat celah. Dengan harga cuci yang relatif terjangkau, Benresik ingin membidik pasar kalangan menengah ke bawah.

Namun, untuk calon mitra dari luar Yogyakarta sebaiknya melakukan riset harga. Pasalnya, tak semua lokasi di Jabodetabek bisa dikenakan harga yang sama. Perlu ada penyesuaian harga di tiap daerah," katanya.

Selain itu. Erwin juga memandang penting adanya inovasi. Misalnya, tawaran one day laundry setvicr atau jasa cuci kilat yang selesai sehari. Adanya jasa antarjemput juga bisa mengembangkan bisnis ini. Berbagai fasilitas ini juga menjadi strategi untuk menghadapi persaingan.

Pemilihan lokasi yang strategis, seperti perumahan tetap menjadi pertimbangan penting. "Dukungan pusat juga harus dilakukan supaya mitra sanggup mencapai target atau justru lebih tinggi dari target yang ditetapkan," ujarnya. Benresik Laundry Jl Kaliurang KM 7,8

Yogyakarta

Telp. (0274) 485438

0817266621