This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label kisah sukses. Show all posts
Showing posts with label kisah sukses. Show all posts

Monday, January 9, 2012

Menyalakan Laba dari Pembuatan Teplok Suvenir

Produsen suvenir pernikahan, ulang tahun hingga pesta kelahiran bayi dituntut terus menelurkan karya baru agar tak ditinggalkan pelanggan. Salah satu yang tengah nge-tren adalah suvenir berbentuk lampu teplok berukuran mungil. Belakangan, permintaan suvenir dengan bentuk tem-plok terus meningkat.

Salah satu pengusaha lampu teplok adalah Rohid Silamin. Pemilik perusahaan berbendera Viescollection asal Gresik, Jawa Timur ini mengatakan, banyak konsumen menambah variasi agar suvenir dalam teploknya tampil berbeda. "Ada konsumen yang meminta hiasan bunga, pita," ujarnya Semakin banyak perhiasan atau modifikasi yang diminta konsumen akan membuat harga suvenir teplok menjadi lebih mahal.

Menurut Rohid, tak hanya untuk suvenir kala pernikahan, suvenir berbentuk teplok juga banyak dipesan untuk pesta ulang tahun atau kelahiran bayi. Dalam sebulan, Rohid mampu menjual lampu teplok sebanyak 1.000 sampai 6.000 unit. Harga lampu teplok mulai dari Rp 5.000 hingga 9.500per unit, tergantung bentuk dan bahan baku yang digunakan untuk membuat lampu teplok.

Dari bisnis ini, Rohid mengaku bisa memperoleh omzet hingga Rp 50 juta per bulan. Dari angka itu, Rohid mengaku hanya bisa memperoleh laba bersih 10% yakni Rp 5 juta per bulan. Sisanya, untuk biaya produksi, belanja bahan baku hingga biaya pegawai.

Lewat internet, Rohid mendapat pelanggan dari berbagai daerah, mulai dari Surabaya, Semarang, Jakarta, Samarinda, hingga Sabang. "Adapun pelanggan di sekitar Gresik, kebanyakan tahu dari- mulut ke mulut," ujarnya.

Pemain lain adalah Ririn Teguh Setyowati. Pemilik usaha Edgarcollection asal Sidoarjo mengaku menjual lampu teplok rata-rata sebanyak 3.500 unit sampai 5.000 unit per bulan. "Saya membuat lampu teplok tergantung pesanan dari konsumen," ungkapnya

Dalam proses pembuatan, Ririn membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua bulan pasca ada pesanan. Saat ini ada tujuh orang karyawan yang dipekerjakannya untuk membuat lampu tersebut.

Selama ini, pesanan datang dari konsumen yang mau mengadakan pesta pernikahan. Alhasil, dia kerap mendapat pesanan desain lampu teplok sesuai dengan tema pernikahan. "Ada pelanggan yang ingin agar lampu teplok itu dihias dengan warna merah semuanya," jelasnya

Ririn mengungkapkan pesanan biasanya datang dariluar kota seperti Palembang, Semarang, Jakarta, dan Pekan Baru. Banyaknya pesanan dari luar kota lantaran di sana belum terlalu banyak pembuat lampu teplok.

Guna mengantisipasi terjadi pembatalan pemesan dari luar kota, Ririn meminta agar pemesan membayar uang muka hingga 50% dari total harga yang dipatoknya. Oh iya, Ri-rin menjual harga lampu teplok buatannya mulai Rp 5.200 - Rp 9.000per unit. Harga per unit lagi-lagi tergantung keinginan konsumen akan balian yang digunakan. Dengan harga tersebut ia mendapat omzet Rp 40 jutaan per bulan dengan laba bersih hanya 8% saja per bulan.

Sunday, January 8, 2012

Sutradara Pesta Kembang Api

Pertunjukan kembang api menjadi ruang kreativitas sekaligus tempat mencari penghidupan bagi para penyedia jasa pertunjukan kembang api. Sebagai penyedia jasa, mereka dituntut memiliki keahlian untuk menampilkan pertunjukan kembang api yang memukau.

Pertunjukan kembang api spektakuler tidak hanya meledakkan kembang api di udara saja. Butuh perencanaan yang matang agar bisa menghasilkan atraksi kembang api yang memukau. Layaknya pertunjukan drama, pesta kembang api memerlukan seorang sutradara untuk mengatur pertunjukan agar tidak berjalan monoton.

Sang sutradara tak lain adalah penyedia jasa pertunjukan kembang api (fireworks show) itu sendiri. Salah seorang di antaranya adalah Rony. Ia malang melintang di bisnis ini sejak tahun 2.000 di Jakarta. Melalui Cinema Show Effect, ia menyediakan fireworks shoiv, sekaligus mengatur pemupukan pesta kembang api.

Baginya, setiap pesta kembang api adalah kreasi seni yang memerlukan persiapan desain serta ketepatan durasi. Semula, Cinema Show Effect hanya betindak sebatas event organizer (EO) khusus untuk pertunjukan kembang api. Tapi setelah tiga tahun berjalan, usahanya kian berkembang dan mulai merambah industri kreatif lain yang masih berkaitandengan kembang api. "Selain fireworks, kamijuga menjadi" tim kreatif dalam konser musik, misalnya efek api," kata pria kelahiran Jakarta pada 37 tahun silam.

Selain itu, ia juga menawarkan pyro technic (teknik petasan) dan cortfetty (tembakan kertas) yang dapat dimainkan di dalam ruangan {indoor) dan dapat dimainkan siapa saja. Tarif yang dikenakannya bervariasi. Pertunjukan kembang api di luar ruangan, misalnya, memungut bayaran Rp 30 juta hingga Rp 70 juta

Kebanyakan kliennya adalah perusahaan. Ia juga kerap diminta menjadi penyelenggara pesta ulang tahun daerah di Indonesia. Misalnya di Toraja dan Makasar. Biasanya, tarif pesta kembang api acara-acara besar semacam berkisar Rp 200 juta hingga Rp 300 juta

Dari pertunjukan kembang api, omzet yang didapat berkisar Rp 500 juta sebulan. "Tapi itu tergantung event, pernah juga tidak ada pemasukan," ujarnya. Mengenai persediaan bahan kembang api, Rony biasa mengimpor dari China Dari lokal, dia bisa mendapatkannya dari PT Pindad.

Thursday, January 5, 2012

Modal Ratusan Ribu, Kini Tembus Pasar Dunia

Kiprah Iwa Sumanto, 30, dalam merintis bisnis patut diapresiasi. Pemuda kelahiran 21 Januari 1981 ini adalah finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri yang sukses mengembangkan usaha produksi stick drum yang kini telah menembus pasar dunia.

Keberhasilan Iwa Sumanto diraih melalui proses panjang. Sebelum menggeluti usaha yang kini diberi nama Solobeat Drumstick Production, sejak kecil ia memang telah bersinggungan dengan kerajinan kayu. Selain desa tempatnya tinggal dikenal sebagai sentra usaha kerajinan kayu, orang tuanya juga menggeluti bidangitu sebagai mata pencaharian. "Kerajinan kayu yang dibuat orang tua saya antara lain sofa dan kabinet alumunium," kata Iwa kepada SINDO belum lama ini.

Namun usaha orang tuanya terguncang saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997. Oleh sebab itu, ketika lulus SMA, Iwa tidak bisa langsung kuliah karena keterbatasan biaya. Keterpurukan yang sempat dialami orang tua ternyata memicu kreativitasnya. Pada 2005, anak keempat dari luna bersaudara ini mulai merintis usaha stick drum. Usaha yang berkaitan dengan perlengkapan alat musik jenis pukul itu terinspirasi kare-nadirinyasempatberkecimpung di event organizer. Hanya bermodal Rp200 ribu, usahasridt drum itu pun dimulai. "Pada awalnya hanya menggunakan alat manual. Itu pun saya juga masih belajar bagaimana membuat stick drum," bebernya.

Kayu yang digunakan pada mulanya sisa kerajinan orang tuanya yang tidak terpakai dan sebagian lagi membeli. Selama beberapa bulan, sekitar 200 pasang stick drum berhasil dijual ke Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Stick buatannya ditawarkan ke studio musik dan toko-toko alat musik. "Studio musik menjadi salah satu pasar. Lantaran perlengkapan musikmereka biasanya disewakan, tentu stick drumnya akan cepat mengalami kerusakan," kenangnya. Harga yang dipatok adalah RplO ribu untuk sepasang stick drum.

Temyata semakin lama permintaan semakin banyak hingga membuat usahanya semakin berkembang. Pesanan pun semakin luas dari sejumlah kota besar di Indonesia. Iwa lantas merekrut dua pemuda dari kampungnya untuk menjadi karyawan. Kualitas produk yang dihasilkan ternyata sampai ketelingasejumlahdrummer papan atas di Indonesia. Beberapa grup band ternama tertarik mencoba. Lantaran cocok,mereka kini rata-rata setiap bulan memesan 30 pasang stick drum buatan Solobeat Drumstick Production. "Mereka sering manggung, tetapi tidak mau sembarangan memakai stick drum. Jadi mereka membawa sendiri,"katanya.Tak mau kehilangan pelanggan spesial yang telah memiliki nama besar, pesanan tersebut tentu dibuat agak khusus dengan harga Rp20 ribu untuk sepasang stick drum.

Selain pasar dalam negeri, Iwa membidik pasar internasional Promosi melalui internet membuahkan hasil. Tahun 2011 lalu,sejumlahgrup band asal Amerika Serikat, Venezuela, Puerto Rica, dan Kanada mulai memesan stick drum buatannya. Bahkan di Venezuela.Iwasudahmemiliki jaringan yang siap memasarkan produk usahanya. Harga yang dibanderol adalah USD13 untuk sepasangsricfc drum, termasuk ongkos kirim. "Mereka biasanya pesan satu lusin dan dibayar di muka," ungkapnya.

Pesanan khusus ini membuat pasar usahanya semakin luas. Berkat ketekunannya, Iwa kini sedikit banyak mulai menikmati hasil usahanya. Setiap bulan, omzet rata-rata saat ini telah mencapai Rp20 juta. Karyawannya juga bertambah menjadi lima orang. Kualitas produksi tetap dikontrol langsung agar tidak mengecewakan konsumen.

Berkat usahanya,pada 2008 Iwa bisa melanjutkan studinya ke Universitas Islam Indonesia (Un)Yogyakarta. Jurusan yang diambil adalah bahasa Inggris dengan alasan untuk me-nopang pengembangan usaha. Dia berharap bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya demi pengembangan bisnis ke depan.

Kemampuan bisnis Iwa semakin terasah setelah dirinya menjadi finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri 2010 dan bersaing dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Beberapa finalis merupakan sosok wirausaha muda yang selama ini menjadi teladan baginya. "Saya merasa belum apa-apa dibanding dengan mereka. Masih kalah jauh," tandasnya.

Pengalam an yangdiperolehdari ajang itu adalah mendapatkan pelatihan bisnis. Ilmu yang diperoleh akan segera diterapkan agar usahanya ke depan lebih tertata dan maju. Di samping itu, produk usahanya juga diikutkan dalam pameran di beberapa daerah sehingga semakin dikenal luas masyarakat dan order menjadi bertambah banyak. "Sebelumnya saya melihat wirausaha muda sulit mendapatkan kesempatan untuk maju. Namun Bank Mandiri ternyata memberikan ruang bagi kami untuk mengembangkan diri. Pada tanggal 19-22

Januari 2012 nanti pun saya bersama ratusan binaan Bank Mandiri lainnya diikutsertakan dalam Expo Wirausaha Muda Mandiri yang akan digelar di Assembly Hall Jakarta Convention Center," katanya.

Dia berharap agar para pemuda memiliki optimisme yang tinggi dalam mengembangkan kewirausahaan. Tak kalah penting adalah semangat tidak pernah menyerah dan terus berusaha sekuat tenaga. "Jangan putus asa meski ada yang meremehkan," ujarnya.

Wednesday, January 4, 2012

Manis Bisnis Crepesnya, Laris Juga Wajannya

Makanan ringan berupa kue dadar renyah berisi buah-buahan atawa crepes, membawa peruntungan bagi pungusaha wajan crepes. Permintaan wajan crepes cukup besar, dari ibu rumah tangga hingga restoran besar. Ada yang mengimpor wajan dari Perancis dan Malaysia lalu dijual di sini. Tapi ada pula yang memproduksi wajan crepes sendiri lantaran permintaannya terus meningkat.

Siapa tak tahu crepes? Cemilan yang berasal dari Eropa ini, sekarang juga populer di Indonesia. Makanya, banyak penjual crepes betebaran, mulai dari kelas pinggiran jalan hingga di pusat perbelanjaan. Seiring bisnis crepes yang semakin manis, para penjual wajan crepes pun ikutan kecipratan lezatnya bisnis tersebut. Penjualan wajan crepes terdongkrak.

Ada yang memproduksi sendiri wajan crepes, ada pula yang memilih mengimpor wajan crepes untuk dijual lagi di sini. Salah satu importir wajan crepes adalah Wisnu Primu-lyono. Ia bilang, pasar penjualan loyang crepes terbuka lebar seiring dengan terus meningkatnya penjual makanan ringan itu. Pelanggannya rata-rata pengusaha waralaba bisnis crepes,restoran, maupun ibu rumah tangga Dia mengaku hanya menjual loyang crepes impor buatan Perancis dan Malaysia "Dalam sebulan saya bisa menjual wajan crepes 25 urn. kata dia

Wisnu telah memasarkan sejak tahun 2007. Ada dua macam wajan yang dijual, pertama adalah wajan crepes elektrik asal Perancis yang menggunakan aliran listrik, dan wajan aluminium dari Malaysia

Harga wajan ini antara Rp 3,25 juta sampai dengan Rp 4,75 juta. Bedanya adalah wajan crepes dari Perancis lebih irit dalam hal penggunaan energi listrik. Namun restoran kebanyakan membeli wajan crepes asal Malaysia "Pembeli wajan itu biasanya datang dari luar pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera dan juga Sulawesi.-Saya bisa mengan-tongi omzet Rp 81 juta per bulan," kata Wisnu.

Beda dengan Wisnu, Andi Subiyakto, pemilik Usaha Daerah Cahaya Seganten di Cirebon, memproduksi sendiri wajan crepes. Ia membuat loyang khusus crepes sejak tahun 2009. Bahan baku wajan hasil karyanya menggunakan bahan lokal. Andi menyediakan berbagai tipe ukuran wajan crepes, mulai dari diametei 261 entimeter (cm), 28 cm, 30 cm, 32 cm, dengan ketebalan 1,3 cm. "Yang biasaharganya Rp 320.00 perunit," kata pria 32 tahun itu.

Pembeli produknya berasal dari pengusaha waralaba bisnis crepes dan ibu rumah tangga Dalam sebulan dia bisa membuat pesanan hingga 50 unit. "Omzet saya Rp 16 juta per bulan." katanya.

Dia bilang, tidak mudah membuat wajan jenis ini. Untuk menghasilkan wajan berbentuk bulat sempurna serta pipih tanpa cacat gelombang, memerlukan proses bubut yang lama Perlu ketekunan dan kecermatan dalam proses pembuatan wajan. "Wajan crepes yang baik adalah jika didempetkan tidak ada celah tersisa Supaya bisa menghasilkan crepes yang sempurna," tandasnya

Jadi wajar kalau harga wajan crepes memang cukup mahal. Anda berminat?

Wednesday, December 21, 2011

Para Perempuan yang Bergelut di Bidang Ekonomi Kerakyatan

Puluhan barang kerajinan tangan berbahan eceng gondok menyesalti rumah berukuran sekitar 6 x 7 meter. Di setiap sudut ruangan, barang berbahan baku tanaman sungai itu berderet dengan rapi. Ada rak sepatu, topi, tas, kerangka hiasan lampu, keranjang, partisi ruangan, dan sebagainya.

Wiwit Manfaati baru mengontrak tempat showroom usaha handicraft tersebut sekitar dua bulan lalu. Lokasi itu tak jauh dah rumah kediamannya dj kawasan Kebraon Indah Permai. Dari usahanya yang dia tekuni bersama sang suami dalam lima tahun terakhir tersebut, akhirnya Wivvit Collection meraih predikat terbaik 1 untuk kategori Handicraft. Sedangkan penghargaan untuk kategori Fresh Food diraih UMKM Rosela dari Simokerto dan kategori Grocery Food dipegang UMKM Mandiri Sejahtera dari Genteng.

Wiwit menceritakan, UMKM yang dikembangkannya bukanlah UMKM dadakan. Meskipun berawal dari sebuah keisengan mengisi waktu luang. Ibu tiga anak itu menjelaskan, pada 2007 pemkot mengadakan pelatihan kerajinan tangan di kantor kecamatan dan Wiwit menjadiserta menyulam.

Itu pun dilakukannya hanya karena senang dan hasilnya untuk dipakai sendiri. Meski pada akhirnya dijual juga, namun dalam skala kecil dan dilakukan tidak secara profesional. "Sebenarnya, eceng gondok ini termasuk baru bagi saya. Waktu pertama mencoba, saya kesulitan. Membuat tas, anyamannya banyak yang menceng," ujarnya.

Meski demikian, Wiwit tetap mencobanya terus. Ternyata. angka kesulitan menganyam eceng gondok tidak malah membuatnya menyerah. Bahannya yang tergolong ulet dan keras diakuinya memang berbeda jauh bila dibandingkan dengan merajut anyaman dengan bahan benang atau pita. Sebaliknya, dia malah tertantang. Apalagi, di belakang rumahnya ada waduk dan tempat itu dijadikan area pengepul bahan dasar eceng gondok kering. Jadi, dia tidak kesulitan untuk mencari atau membeli bahan bila inginberkreasi atau bereksperimen.

Lama-kelamaan Wiwit bisa membuat anyaman yang bagus. Awalnya dia tidak berpikir mau menjualnya. Yang ada di pikirannya membuat barang yang berkualitas sebanyak-banyaknya. "Sewaktu ada orang pemkot sedang road show acara green and clean, dia tertarik pada kerajinan yang sedang saya buat. Lalu barang-barang saya dibawa ke bappeko untuk dipamerkan," jelasnya

Sekarang omzet penjualan kerajinan karya ibu tiga anak itu bisa mencapai Rp 15 juta perbulan. "Keuntungan bersihnya bisa setengahnya," ungkap dia. Wiwit juga sudah bisa mempekerjakan ibu rumah tangga dari kampung sebelah.

Sejak pertengahan 2010, suami yang awalnya masih berprofesi sebagai wirausaha berbagai bidang, seperti jual kembang dan sepatu, bahkan sopir rental mobil, memutuskan untuk lebih fokus sepenuhnya di UMKM Wiwit Collection.

Tuesday, December 20, 2011

Batik Aromaterapi Waris Jadi Primadona Pejabat

Kain batik kini disukai hampir semua orang. Tapi kain batik Madura karya Warisatul Hasanah mahasiswa semester delapan Jurusan Manajemen Pemasaran STIE Perbanas Surabaya sedikit berbeda. Batik tulis Madura itu memiliki aromaterapi yang banyak diminati masyarakat, terutama para pejabat. Batik tulis Madura karyanya kini banyak dipakai oleh para pejabat di Kabupaten Bangkalan. Motif batik tulis yang dipakai adalah motif ‘Tanjung Bumi’. ”Sekira 80 persen pejabat di Bangkalan, terutama di DPRD, pakai batik tulis saya ini,” terang Waris.

Bisnis batik tulis aromaterapi yang dijalankan Waris ini sudah dilakukan sejak 2009 lalu. Berawal dari tugas membuat Studi Kelayakan Bisnis (SKB) dari kampus, dia lantas tertarik mengaplikasikannya di dunia batik. Waris sengaja membuat SKB membuat batik tulis beraromaterapi. Ide tersebut muncul setelah dia sempat melihat ada souvenir yang dipajang di dinding di sebuah homestay di Australia.

Saat itu dia mengikuti kegiatan Auditing Students Programe (ASP) di Australia. Nah, di homestay tersebut dia melihat ada souvenir berupa kayu yang berbau aromaterapi. Keberadaan souvenir itu ternyata membuat suasana ruangan menjadi lebih nyaman. ”Dari situ akhirnya saya terpikir untuk membuat batik tulis beraroma terapi,” tutur mahasiswi kelahiran Bangkalan, 10 Maret 1988 ini.

Karena memiliki keistimewaan, maka batik tulis aromaterapi ini memiliki harga lebih mahal dibandingkan dengan batik biasa. Sebagai contoh, untuk batik tulis biasa ada yang harganya Rp250 ribu per potong, maka untuk yang beraromaterapi harga bisa mencapai Rp300 ribu per potong. Harga paling mahal untuk karyanya bisa mencapai Rp4 juta per potong.

Bahkan, saat mendekati lebaran, batik tulis aromaterapi tersebut sangat diminati. Omzetnya pun naik mencapai Rp10 juta lebih. Padahal saat mengawali bisnis tersebut dia tidak punya modal sama sekali.
”Keunggulannya kalau yang beraroma terapi ini akan membuat rileks bagi yang memakai atau pun orang yang di sekitarnya,” terang anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Moh Ismail dan Maryam ini.

Hal tersebut akhirnya membuat para pejabat banyak yang suka. Belum lagi sifat dari aroma terapi ini juga bisa menyerap keringat. Artinya jika ada orang yang punya keringat banyak, aroma terapi bisa meredam bau keringat. Waris menawarkan beberapa pilihan aromaterapi yakni dari melati keraton, cempaka, eksotik, mawar, coklat dan strawberry. Coklat dan strawberry ini sangat cocok dipakai untuk anak-anak. ”Aromaterapi itu kan bisa bikin rileks, percaya diri dan mencerdaskan otak,” tuturnya.

Tak hanya aromaterapi saja yang membuat banyak pejabat terpikat. Namun salah satu keistimewaan karya Waris adalah dia juga mau membuat batik tulis yang eksklusif. Artinya hanya satu jenis saja yang dibuat, sehingga tidak ada yang punya batik tulis tersebut dengan motif sama. Hanya saja saat ini dia masih menggunakan aromaterapi biasa untuk karyanya tersebut.

Ke depan, Waris sedang mempersiapkan untuk aromaterapi yang akan diambil dari sari bunga sebagai bahan baku. Dia pun sedang menjalin kerja sama dengan ahli teknik kimia untuk mencari formula yang tepat. Untuk membuat aromaterapi ini, cukup mudah. Setelah dicuci, batik direbus. Rebusan air sebelumnya diberi aromaterapi, dan batik direbus dengan posisi terbalik. Waktunya sekira lima menit saja.

”Kalau ingin mendapatkan aroma lebih tahan lama, kami juga kasih tips-nya dan juga aroma terapinya,” kata Waris. Dia menggunakan label Al Warits. Sedangkan untuk penjualan dia melakukan proses mulai door to door, facebook, mengajukan proposal, hingga menawarkan dari satu kampus ke kampus lainnya. ”Alhamdulillah ternyata sekarang sudah mulai banyak yang pesan,” kata Waris yang bercita-cita punya gerai butik di berbagai mal di Surabaya ini.

Monday, December 19, 2011

UKM ”Didgeridoo” Meraup Untung dari Alat Musik Tradisional

Berawal dari kecintaannya terhadap kesenian, terutama dunia musik, kini Sholeh Supriatna menjadi seorang pengusaha yang terbilang sukses di kampungnya. Hampir semua jenis alat musik dari berbagai negara mampu dia buat. Namun, di antara beragam alat musik, dia hanya menyukai satu jenis alat musik yang berasal dari Australia yang bernama didgeridoo.

Tak pelak, nama alat musik yang berasal dari suku Aborigin itu dijadikan nama usaha kecil menengah (UKM) yang dia dirikan sejak 1999. Didgeridoo sendiri adalah alat musik tiup berasal dari kayu, berukuran panjang lebih dari 1 meter dengan bentuk melengkung berdiameter 10 sentimeter.

Sholeh mengaku, kecintaannya terhadap suku Aborigin berawal dari keunikan suku ini dalam menciptakan sebuah alat musik. Menurutnya, hanya sebagian kecil manusia di dunia ini yang benar-benar bisa memainkan alat musik tersebut. “Biasanya orang kalau membeli ini hanya sebagai pajangan,” katanya, saat acara pameran Indocraft di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam memproduksi alat musik tersebut, Sholeh mengatakan tidak banyak kesulitan dalam hal pembuatannya. Selain sudah sering membuat, alat musik ini tidak memiliki bentuk yang sukar untuk dibuat. Selain dari bahan utama kayu jati, didgeridoo bisa juga dibuat dari kayu pinus, bambu, dan kayu suren.

Dengan pembuatan yang cukup sederhana dan tidak memakan biaya banyak, harga didgeridoo hanya berkisar Rp 150.000. Namun, Sholeh mengaku dalam penjualannya menemui kendala lantaran hanya mengandalkan pesanan dari para pembeli.

Sementara itu, untuk pasar di Australia sendiri, alat musik ini tidak bisa diperdagangkan secara bebas, lantaran Didgeridoo adalah alat musik sakral suku Aborigin. Sementara itu, untuk jenis alat musik lainnya serta berbagai kerajinan tangan buatannya harganya berkisar Rp 20.000 sampai jutaan rupiah.

“Kami tidak bisa menjual sembarangan ke Australia, tapi kami masih bisa masuk ke sana. Masuknya disatukan dengan produk furnitur yang diekspor ke Australia melalui agen-agen khusus yang sudah berlangganan dengan kami,” ujarnya.

Selain didgeridoo, Sholeh juga menjual alat musik Jimbe dari Afrika dan beragam patung-patung kebudayaan asli di Afrika. Meskipun begitu, Sholeh tetap mencintai kebudayaan dalam negerinya sendiri dengan memproduksi alat musik tradisional seperti angklung, gong, gamelan, suling, dan dendang, serta beragam cenderamata asli budaya lokal.

“Alat musik tradisional mancanegara jika dipadukan dengan alat musik lokal menghasilkan suara yang merdu. Jadi saya juga ciptakan alat musik Indonesia,” katanya. Sholeh menjelaskan, biaya produksi per bulannya bisa mencapai Rp 20 juta, bahkan lebih. Namun, dari hasil penjualan Sholeh mampu meraup laba kotor sebesar Rp 50 juta. “Itu juga kalau lagi banyak pesanan,” ujarnya.

Hanya saja, usaha Sholeh di Dusun Sadang RT03/09 Desa Cibeusi Kabupaten Sumedang sampai saat ini masih dihantui persoalan modal. Ketika sedang kebanjiran order, Sholeh malah kesulitan modal untuk biaya produksi.

“Kalau ada order kami jarang dikasih uang muka penuh, paling besar 50 persen, rata-rata 25 persen dari total harga yang disepakati. Sementara, kami sulit mencari pinjaman, sehingga dengan keterbatasan biaya kami tetap jalani produksi. Biasanya saya berkorban menjual barang berharga untuk menutupi kekurangan biaya produksi,” tuturnya.

Tidak mau menyerah dengan keadaan tersebut, Sholeh tetap berjuang melawan keadaan sembari mencari informasi untuk mencari tambahan modal. Beruntung teman-teman seprofesi di kampungnya menganjurkan Sholeh menjadi binaan PT Telkom.

Sholeh mengatakan, semenjak menjadi binaan Telkom usahanya mengalami perkembangan. Dari segi modal Telkom siap memberikan Rp 30 juta tambahan modal. Tak hanya itu, dari segi manajemen Telkom memberingan bimbingan manajemen sebuah usaha yang baik dan terarah, sehingga usahanya mampu terorganisasi dengan baik.

“Telkom juga sering mengajak saya ikut serta dalam pameran-pameran. Berkat itu semua usaha saya jadi lebih maju dan terkenal,” ucapnya. Namun, Sholeh menyesalkan ketidakseriusan pemerintah pusat maupun daerah untuk memberdayakan UKM yang ada di daerahnya. Dia bercerita puluhan UKM di daerahnya rata-rata bekerja sendiri-sendiri tanpa ada upaya pemerintah memberdayakan mereka. “Kami malah diperhatikan pihak swasta,” tuturnya.

Sunday, December 18, 2011

Merintis Bisnis dengan Kecap

Kecap banyak digunakan sebagai bahan dasar masakan Indonesia. Tidak heran jika bisnis ini cukup menggiurkan sejumlah orang, dan tak semua orang sukses berbisnis kecap. Apalagi lidah orang terkadang susah menerima rasa kecap produk UKM.

Hal itu diakui oleh Arih Undriarto ketika memulai usaha kecapnya. Ia butuh contoh untuk meyakinkan calon pembelinya karena kebanyakan orang sudah cocok dengan kecap ter-tentu sehingga sulit untuk beralih. Apalagi, sasaran Arih adalah pelaku usaha di bidang kuliner karena kebanyakan pelaku usaha kuliner ini sudah mema-lonkan rasa yang la inginkan dengan bahan-bahan yang ia tentukan.

Mengganti kecap yang biasa digunakan pelaku usaha kuliner bukan hal yang mudah. Namun, kerja keras Arih temya-ta membawanya mendapatkan banyak pelanggan.

"Bahkan ada orang yang selama ini memang mencari-cari rasa kecap yang saya buat ini. Begitu mereka merasakan kecap saya, mereka langsung memesan dan mengganti semua kecap yang selama Ini mereka pakai. kata Arih Undriarto, pengusaha kecap Mentari Terbit ketika ditemui Warta Kota belum lama Ini.

Langkah Arih untuk memasarkan kecap Mentari Terbit terus berkembang, la pun mendapatkan banyak pelanggan pelaku usaha kuliner, baik skala kecil maupun besar. Karena pelanggannya adalah pelaku usaha, Arih menjual kecapnya dengan menggunakan Jeriken sehingga dari sisi biaya kemasan lebih murah karena bisa lsi ulang.

Selain Jeriken. Arih menggunakan botol Juga yang selama ini fungsi kecap botolan untuk promosi dan tester. Ia Juga menggunakan kecap botolan Jika ada pameran sehingga pembeli yang ingin mencoba bisa membeli dalam ukuran kecil.

Kecap produksi Arih memiliki rasa enak karena menggunakan bahan-bahan terbaik. Ia menggunakan gula merah dari beberapa pemasok di daerah. Setidaknya, ada tiga pemasok gula merah yang dimiliki Arih. Bukan karena pasokan yang kurang tetapi untuk membuat pemasoknya bersaing memberikan gula merah terbaiknya. Kualitas kecap buatan Arih mengandalkan kualitas gulanya. Semakin bagus kualitas gula merah, semakin bagus kualitas kecapnya. Sementara kacang kedelai dibeli dari pasar dan belum langsung dari petani.

"Sejauh ini. kacang kedelai masih kami cari di pasar, tidak langsung dari petani. Karena kualitasnya masih cukup bagus. Tetapi sudah ada yang menawarkan membeli langsung ke petaninya namun masih kami tinjau dahulu," kata Arih.

Sayangnya, harga kedelai dan gula merah memang sering berubah sehingga beban produksi seringkali menjadi berat karena Arih tidak mungkin menaikkan harga kecapnya. Untungnya. Arih membangun hubungan, yang kuat dengan pemasoknya sehingga ketika harga melonjak, mereka masih bisa mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal.

Kini, bisnis Arih sudah meraih omzet Rp 135-140 Juta per bulan. Modal Rp 25 Juta yang dimiliki Arih dan H Suglmln untuk membuat kecap mampu dikembalikan Arih selama 6-7 bulan. Omzet sebesar Itu. masih belum besar dinilai Arih karena masih banyak pengeluaran yang seharusnya bisa ditekan. Salah satunya adalah biaya distribusi yang dianggap masih cukup besar. "Saya masih akan terus belajar dan mencoba mencari cara untuk mendapatkan metode yang tepat untuk mengurangi biaya distribusi." tutur Arih.

Salah satu cara yang la coba lakukan adalah belajar dari rekan-rekan pelaku usaha menengah kecil dalam sebuah komunitas. Di dalam komunitas Tangan Di Atas tempat Arih bergabung, banyak memberikannya bantuan untuk memperbaiki kesalahannya dalam berbisnis, memperluas Jaringannya, dan mendapat-kan tip-Up untuk mengurangi biaya yang Udak perlu dikeluarkan.

Dari masjid

Bisnis kecap diawali Arih Llndrtarto dari masjid. Perkenalannya dengan pria bernama H Suglmln yang beberapa kail bertemu dengannya di masjid, membuahkan Ide untuk membangun bisnis kecap. Di bawah bendera Kecap Mentari Terbit, Arih memulai bisnis barunya setelah beberapa bisnis sebelumnya gagal bahkan ia seringkali ditipu rekan kerjanya

"Saya memulai bisnis kecap ini setelah bangkrut dari bisnis kontraktor. Saya dlUpu orang. Setelah bertemu beberapa kali dengan pak haji (H Suglmln). saya akhirnya menawarkan beliau untuk kerja sama membangun bisnis kecap," kata Arih. Arih meminta Suglmln untuk membuat kecap seperti yang biasa ia lakukan ketika masih bekerja di sebuah pabrik kecap terkemuka. Semua bahan dan proses produksinya sama dengan kecap yang selama di pabrik kecap tersebut ia buat

Arih memberikan kepercayaanya kepada Sugimln untuk membuat kecap dan la hanya belajar. Arih sendiri sampai saat ini Udak terlibat langsung dalam pembuatan kecap dan memilih untuk mengurus marketing dan distribusinya.

Tip Sukses Menjadi Pelaku UKM

Memiliki  usaha menjadi Impian banyak orang. Sayangnya tidak banyak orang yang sukses membangun usaha. Apalagi di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat saat Ini. Belum lagi risiko yang harus dihadapi pelaku usaha dan mental untuk menghadapi berbagai kegagalan.

Tetapi, banyak cara dan tip yang bisa dipelajari untuk membantu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) menjalankan usahanya. DI bawah Ini beberapa langkah yang perlu diperhatikan agar usaha bisa berjalan.

1.Fokus Mengembangkan Skill

Modal utama dalam menjalankan usaha adalah skill Pelajari apa yang menjadi kelebihan Anda dan tingkatkan kemampuan tersebut sebagai kekuatan utama untuk menjalankan usaha sebaik-baiknya. Fokuslah pada bidang yang disukai dan delegaslkan bidang Iain yang sekiranya kurang dipahami pada rekan kerja yang lebih ahli. Ini akan lebih efektif.

2.Prioritaskan Bisnis Anda

Bisnis yang sedang berkembang membutuhkan banyak waktu, tenaga dan perhatian. Prioritaskan urusan bisnis diurutan pertama, agar tertangani dengan optimal dan bisa berjalan dengan lancar. Jangan Jalankan bisnis setengah hati.

3. Rencanakan Kesuksesan

Sebagai pelaku UKM. tetap dituntut untuk memiliki visi yang besar dan sudah pasti didukung oleh perencanaan yang matang. Tulis tujuan dan rencanakan langkah-langkah pasti untuk mencapainya.

4. Selalu Optimis

Pelaku UKM harus memiliki pandangan Jauh ke depan dan selalu optimistis dengan target-target yang telah mereka tentukan. Hal Ini penting agar selalu yakin dengan keberhasilan dan termotivasi untuk bisa mencapai keber-hasilan-keberhastlan tersebut. Optimistis membantu mengalahkan hambatan yang muncul di tengah Jalan.

5.Buatlah Pembukuan Sederhana

Pelaku UKM Juga wajib membuat pembukuan sederhana untuk mencatat semua transaksi yang telah terjadi. Langkah Ini penting agar setiap pemasukan serta pengeluaran usaha bisa tercatat dengan balk serta bisa melihat untung rugi perusahaan. Tidak perlu membuat laporan keuangan yang rumit, yang sederhana cukup membantu asal benar dan rapi.

Memulai Usaha Cuci dan Salon Kendaraan

Melihat mobil maupun motor terawat, memang memiliki kenikmatan tersendiri bagi sebagian orang. Baik body luar maupun dalam mobil maupun motor, pasti memberikan kenyamanan tersendiri bagi penggunanya dan orang yang melihatnya. Interior mobil maupun motor sangat mendukung kenyamanan dalam berkendaran. Kemewahan bodi luar dinikmati oleh orang-orang yang melihat, sedangkan interior dinikmati oleh pemilik dalam berkendara.

Bagi Anda yang gemar dengan automotif dengan kantong modal yang cukup memadai dan memiliki jiwa wirausaha yang kuat, jangan ragu untk memulai usaha sendiri. Jangan khawatir tentang konsumen Anda nantinya, karena jumlah konsumen di Indonesia akan terus mengalami peningkatan yang besar dalam urusan mobil maupun motor seiring perkembangan jaman serta teknologi.

Karena itu perlu terobosan usaha yang lebih dari sekadar salon mobil, reparasi atau aksesoris mobil maupun motor saja. Sebuah usaha yang benar-benar didedikasikan untk memperhatikan gaya dan dandanan mobil maupun motor Anda secara menyeluruh (car detailer). Usaha seperti ini sering disebut salon mobil.

Dari perkembangan kepemilikan mobil maupun motor, memang bersalon mobil masih berpeluang bagi Anda yang sangat menjanjikan selain menawarkan jasa mencuci kendaraan. Tentu salon mobil ini butuh keseriusan dan tak bisa asal dikelola saja. Kendalikan usaha salon mobil ini dengan professional. Maka, langkah utama untk memulai salon mobil adalah mencari lahan usaha yang lokasinya ramai dan banyak dilalui kendaraan bermobil maupun motor, membentuk badan usaha, dan mencari pemasok produk polesan.

Selanjutnya buatlah salon mobil ini, berbeda dengan salon-salon mobil yang sudah ada. Baik dari segi kualitas dan pelayanan terhadap customer. Miliki tenaga ahli yang berpengalaman dan dapat mengayomi konsumen. Dukung dengan peralatan serta teknologi mutakhir yang dapat memudahkan segalanya baik dari segi teknis dan non teknis

Jasa yang ditawarkan oleh salon mobil adalah perawatan ekterior dan interior mobil maupun motor yang mencakup snow car wash, salon mobil specialist, paint protection; anti karat. Dari kesemua perawatan tersebut hasilnya dapat membuat mobil maupun motor mengkilap, sehat terawat dan awet.

Andapun dapat menawarkanjasa salon mobil panggilan, untk lebih memanjakan customer anda yang karena kesibukannya, sehingga tidak sempat untk pergi menyalonkan mobil maupun motornya. Yang patut Anda perhatikan adalah mulai dari sabun yang dipakai dalam perawatan, bahan yang dipakai sebaiknya 100 persen wax mumi, dengan PH 7 dan beraroma sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan, tidak asam dan basa yang bisa menyebabkan karat dan korosi, pilihlah lap khusus, teknis pengerjaan yang teruji, terlatih dan bersertifikat akan sangat mendukung usaha Anda semakin sukses. Para pengelola salon mobil juga telah banyak mengembangkan jenis pelayanannya dengan melihat berdasarkan kebutuhan cuslomernya. Jenis pelayanannya ada yang bisa didapatkan dengan pilihan secara per paket ataupun pelayanan berdasarkan satu per satu jenis pengerjaa.-

Contoh paket yang dibuat salon mobil itu mencakup paket pencucian plus pemolesan body secara menyeluruh, paket perawatan full untuk eksterior, interior ataupun paket kebersihan mesin. Untuk jenis pelayanan per bagian salon mobil mengklasifikasi mulai dari perawatan interior, eksterior dan kebersihan mesin.

Pelayanan dengan paketdimaksudkan agar customer bisa mendapatkan lebih dari satu atau semua jasa perawatan mobil dari salon mobil tersebut mulai dari eksterior, interior hingga kebersihan mesin mobil. Tentunya pelayanan paket memiliki biaya yang lebih ekonomis jjka dihitung satu per satu berdasarkan harga dari setiap jenis pelayanan yang ada di salon mobil tersebut.

Di Auto Bridal, paket pelayanan yang diberikan juga sangat banyak, diantaranya adalah adanya paket yang bernama full paket medical treatment. Dengan paket ini customer mendapatkan pelayanan perawatan interior, eksterior, seluruh kaca dan kebersihan mesin yang mencakup pengerjaan menghilangkan jamur pada kaca, bercak air hujan pada body, vacum cleaner untuk menghilangkan bau interior, dan pembersihan kotoran yang sulit dihilangkan yang terdapat pada mesin pun menjadi tantangan tersendiri.

Hampir setiap salon mobil juga telah menerapkan sistem membership untuk customernya. Dengan bergabung sebagai membership di salah satu salon mobil, biasanya customer akan mendapatkan potongan harga dari setiap pelayanan yang diberikan bahkan hingga bonus atau hadiah. Di Auto Bridal, customer yang menjadi membership akan mendapatkan potongan harga sebesar 20% untuk setiap jenis pelayanan perawatan mobil yang diinginkannya dan untuk bergabung sebagai member seorang customer dikenakan biaya 250 ribu rupiah untuk satu tahun menjadi member.

Dari perawatan eksterior, interior hingga kebersihan mesin, masing-masing salon mobil memiliki proses pengerjaan dengan cara, peralatan, treatment dan obat yang berbeda yang secara langsung mempengaruhi kualitas hasil dalam perawatan mobil. Pengerjaan oleh salon mobil ditangani oleh tenaga terlatih, sangat disarankan buat anda yang sibukuntuk memanfaatkan layanan ini.

Bisnis salon mobil membutuhkan kecermatan dan sedikit nuansa seni. Hitungannya bukan bersih atau tidak, rapih atau tidak, nanmun apakah hasil olahan dari tenaga terampil yang Anda miliki mampu memberi kepuasan bagi pemilik kendaraan. Karena bukan mustahil, untuk urusan mempercantik kendaraan, si pemilik dapat merogoh kocek dalam-dalam untuk terpuaskannya atas kendaraan yang disayangi.

Monday, December 12, 2011

Fauzan Hangriawan, Wirausaha Muda Mandiri 2010

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Begitulah ungkapan yang berlaku bagi sosok muda, Fauzan Hangriawan. Peruntungannya tiba setelah 12 kali gagal dalam merintis usaha. Ada baiknya melihat bagaimana Fauzan merintis usahanya hingga sukses sebagai peternak lele seperti sekarang ini.

Niat Fauzan untuk membuka usaha sendiri telah dimulai sejak di bangku sekolah pertama (SMP). Saat itu, sceara mengejutkan dia memilih membantu orang menjual baru bata. "Waktu itu saya masih tinggal di Lampung," ujar Fauzan memulai kisahnya kepada Jumal Nasional, akhir pekan lalu di Jakarta. "Orang tua saya banyak mengenal beberapa pengusaha bahon bangunan, maka saya mencoba menjual baru bata pada mereka."

Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, passion Fauzan berwirausaha makin memuncak. Dengaivberbekal tabungan yang ia sisihkan dari uang jcgan setiap harinya, Fauzan memulai usaha berjualan keripik. Bermodalkan Rp200 ribu, Fauzan remaja mengajak beberapa ibu-ibu yang gemar memasak untuk membuat keripik. Dia kemudian yang menjualnya.

Waktu terus berjalan. Jiwa wirausaha dalam diri Fauzan makin membara. Ketika kuliah, langkah berwirausahanya dalam lingkup yang lebih besar. Tidak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Depok, Fauzan menyewa sebuah tempat usaha. Menggandeng dua orang teman, ia membuka warung siomay. Sayangnya, lantaran ditinggal rekan kerjanya, usahanya ini kandas hanya dalam hitungan dua pekan saja.

Masa penyewaan tempat yang masih cukup lama, membuat pria penyuka olahraga ini memutar otak untuk tetap bisa menghasilkan sesuatu. Ia pun menggandeng seseorang yang memang pandai memasak masakan China. Usaha ini bertahan cukup lama.

Setidaknya kurang lebih satu setengah tahun lamanya. Lagi, lantaran masih dalam proses belajar, Fauzan masih kurang baik dalam hal manajemen, hingga akhirnya ia kehilangan rekan kerjanya tersebut. "Ia buka usaha sendiri akhirnya," ujarnya berkisah.

Pada 2008, dia mencoba usaha percetakan kecil-kecilan,penyewaan proyektor. Usahanya masih bertahan hingga kini. Berbagai usaha yang dijalaninya itu, membuat Fauzan sudah tidak pernah meminta uang pada orang tuanya sejak duduk di semester ketiga bangku kuliah.

Cita-citanya untuk menjadi seorang entrepreneur meyakinkannya untuk bisa mencari jenis usaha yang memang benar-benar cocok. "Saya belajar dan membaca dari media bahwa lele itu punya prospek. Saya pun mencoba," ujar Fauzan.

Fauzan lantas memulai membudidayakan lele dumbo pada September 2009. Proses pembelajarannya dilakukan secara autodidak melalui buku dan internet. Dia menemukan banyak kendala di lapangan. "Usaha lele tidak semudah yang kita bayangkan," ujar pria kelahiran Pontianak, 24 Juh

1986 ini. Dia pernah gagal panen, penjualan yang tidak sepadan dengan biaya produksi, serta tingginya tingkat kematian lele. Hingga pada akhirnya Fauzan membaca sebuah artikel di koran nasional yang membahas sosok Nasrudin, pembudi daya lele sangkuriang.

Dari situlah dia kemudian meneguhkan niat untuk berguru kepada Nasrudin. Setelah mengikuti pelatihan, Fauzan langsung mempraktikkan ilmunya. "Pada November 2009 itu saya diperkenalkan oleh teman saya itu melalui surat kabar waktu itu, sosok Pak Nasrudin. Seminggu kemudian saya niatkan untuk bersilaturahmi dan belajar dengan beliau serta ikut pelatihan," ujar pemilik usaha bernama Sylvafarm itu.

Dia lantas membuka satu kolam. Fauzan tetap belajardan berbagi dengan Nasrudin. Akhirnya dia memberanikan diri membuka delapan kolam. Lalu, naik lagi menjadi 25 kolam hingga akhirnya menjadi 75 kolam. Dari kolam tersebut Fauzan dapat menghasilkan 15 ribu ekor bibit lele sangkuriang setiap bulannya.

Setelah memahami teknologi serta pemahaman yang mendalam, dia mencoba mengajak warga dan petani lele yang ada untuk bekerja sama membudidayakan lele sangkuriang. Kini, Fauzan tidak saja menjual benih, tetapi juga hasil pembesaran lele. Dalam sebulan, Fauzan bisa menjual sekitar 120 ribu benih dan 100 kilogram lele. Lele sangkuriang ini dijual ke pasar tradisional, rumah makan Padang dan w.irung pecel lele kaki lima di wilayah Jakarta dan sekitarnya, dengan harga sekitar Rp 15 ribu per kilogram.

Memberi Manfaat

Namanya kian dikenal dengan sebutan wirausahawan muda, setelah meraih juara pertama Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2010 untuk kategori Mahasiswa Bidang Industri dan Jasa. "Penghargaan itu merupakan amanah," kata pria yang sempat bercita-cita sebagai polisi hutan ini.

Bagian terpenting dari kemenangan ini adalah Fauzan berhasil membuktikan bahwa generasi muda juga mampu menciptakan lapangan kerja, bukan hanya sebagai pencari kerja. Selain itu, ia juga berusaha agar apa yang dilakukannya ini dapat bemanfaat bagi masyarakat sekitarnya. "Pak Nasrudin memang menekankan pentingnya mengembangkan usaha ang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Fauzan pun mengembangkan pola kemitraan dengan warga sekitar tempat usahanya. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya , ini terus berupaya membuat jaringan khusus petani pembenih, dengan cara mendidik petani-petani yang memiliki kemampuan lebih telaten dan detail. Ia juga mempekerjakan lima karyawan yang bertugas menjaga dan memberi pakan bibit lele tersebut.

Jaringan usaha itu efektif karena bisa mengatasi kendali produksi yang dihadapi. Pasalnya, panen lele sangkuriang baru dapat dilakukan dalam waktu 50 hari sampai 60 hari. "Saya juga mengatur kerja kelompok agar 20 petani yang bermitra dengan saya bisa memasok lele setiap hari. Pedagang pecel lele kala lima maunya kami memasok setiap hari," ujar Fauzan.

Wednesday, December 7, 2011

Laba bisnis rompi pelindung dada semakin kencang

Pengguna sepeda motor yang makin banyak membuat permintaan aksesori para biker semakin besar pula. Inilah yang menjadikan peluang produksi aksesori biker terus melaju, seperti para produsen rompi pelindung dada untuk menahan terpaan angin langsung.

Makin banyaknya jumlah pengendara sepeda motor menjadi peluang bagi pengusaha aksesori bagi pengguna sepeda motor. Salah satu aksesori yang kerap dicari adalah rompi pelindung dada untuk menangkal terpaan angin saat berkendara.

Salah satu pengusaha yang memproduksi rompi ini adalah Ryan Lim di Jakarta. Mulai berbisnis sejak empat tahun lalu, Ryan tak hanya memenuhi permintaan dari Jakarta saja. "Permintaan terbanyak dari Yogyakarta dan Surabaya," ujar pria usia 28 tahun ini.

Pelanggan Ryan banyak dari daerah karena dia lebih banyak menggunakan strategi pemasaran melalui ikiku.com. Tak hanya menyasar konsumen akhir, rompi buatan Ryan juga banyak diminati pedagang aksesori sepeda motor. Harga yang ditawarkan untuk satu rompi berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 100.000. Harga tersebut ditentukan model, tingkat kesulitan jahit, dan mutu bahan baku.

Selain menjual produk jadi, Ryan juga siap melayani pesanan model, tentu saja dengan harga khusus. Ia mengatakan, untuk pesanan khusus tersebut, konsumen biasanya menunjukkan desain model sendiri. Nah, bila pesanan membeludak, Ryan sudah punya sekondan perajin konfeksi di Bandung.

Pesanan khusus biasanya datang dari anggota klub motor, kepolisian, ataupun komunitas airsoft gun. Ryan mengaku tiap bulan mampu menjual 100 rompi sampai 200 rompi. Dari jumlah itu, ia mampu mengantongi omzet hingga Rp 70 juta per bulan.

Untuk meningkatkan omzet, saat ini Ryan berusaha menjalin mitra pedagang di luar Pulau Jawa, seperti Bali dan Sumatra Utara. Menurutnya, dua wilayah itu cukup potensial karena jumlah pengendara sepeda motor sangat banyak. "Pasar Jakarta sudah ramai," ujarnya.

Walau persaingan di Jakarta sangat ketat, Ryan masih optimistis produknya tetap akan laku terjual. Sebab, pertumbuhan pengendara sepeda motor di Jakarta juga tinggi. Untuk menyiasati persaingan harga, dia memakai taktik memadukan bahan baku yang lebih murah namun dengan model yang tetap up to date. "Tetap terjangkau untuk kelas bawah," katanya.

Wahyu Susilo, pemilik Toko Motor Stationary di Cawang, Jakarta Timur, juga memproduksi dan menjual rompi pelindung dada ini sejak 2005 silam. "Pemakaian rompi untuk terhindar angin yang bisa menyebabkan penyakit paru-paru basah," ujarnya.

Menurut Wahyu, penjualan rompi pelindung dada mengalami lonjakan dalam tiga tahun terakhir. Dengan mematok harga mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 110.000, dalam sebulan, rata-rata Wahyu bisa menjual hingga 400 rompi. Dari penjualan, Wahyu bisa meraih omzet sekitar Rp 40 juta per bulan dengan konsumen berasal dari Jakarta dan Tangerang.

Sunday, December 4, 2011

Sukses dengan Berbisnis Spa Bayi

Anda mengenal Spa bayi? inilah kisah dimulainya bisnis yang kini banyak mendulang keuntungan dipelbagai negara. Alkisah dari pengalaman seorang ibu rumah tangga, yang bangkit menjadi seorang entrepreneur.

Menjadi entrepreneur, bukanlah bagian dari cita-cita bagi Dini, wanita kelahiran Jakarta, 23 Juni 1978 ini.yang pernah bekerja sebagai GE Consumer Finance di sebuah perusahaan ternama, pengalamannya sebagai marketing manager credit card di bank swasta, membuat ibu dua putri ini tertantang untuk mencari kesibukan di sela-sela rutinitasnya mengurusi sang buah hati.

Motivasi Dini untuk menjadi seorang pengusaha, mulai muncul setelah Ia mengambil cuti melahirkan. Naluri seorang ibu yang tidak tega meninggalkan buah hatinya selama berjam-jam, membuat Dini akhirnya mengambil keputusan untuk resign (mengundurkan diri) dari pekerjaannya saat itu.

Hari-hari Dini yang diisi dengan segala urusan rumah tangga membuat rindu dengan rutinitas kantor dan segala deadline yang harus dipenuhinya. Dari sinilah dini mulai berpikir untuk mencari peluang bisnis yang memiliki waktu kerja cukup fleksibel dan bisa membawa putri-putrinya ke tempat kerja tanpa harus mengabaikan segala kebutuhan mereka.

Ketika sedang bingung memilih peluang bisnis yang akan dijalankannya, Dini teringat dengan layanan baby swim dan baby Spa yang dikunjunginya bersama keluarga ketika berada di Singapura. Kebiasaan Dini membawa putri kecilnya yang belum genap berusia 12 bulan ke baby swim ternyata memberikan perkembangan motorik yang sangat bagus bagi sang anak. Sehingga putri kecil Dini sudah dapat berenang sebelum genap berusia satu tahun, ide bisnis ini lalu diceritakan Dini kepada sahabatnya semasa kuliah yaitu Mitzy Christina, yang akhirnya sepakat untuk membangun bisnis Spa bayi bersama.

Berpartner dengan sahabat dekatnya Mitzy, membuat Dini semakin optimis dan termotivasi untuk segera mewujudkan bisnis Spa bayi impiannya. Setelah enam bulan mempersiapkan konsep dan merinci segala perlengkapan serta peralatan yang dibutuhkan untuk membuka bisnis Spa bayi, Dini dan Mitzy pun siap membuka gerai pertama dengan nama, The Spa Baby pada tahun 2009.

Perjuangan mereka untuk mengenalkan konsep baru dalam merawat kebersihan dan perkembangan bayi ternyata tidaklah mudah. Awalnya dua ibu muda ini setiap hari rela menghabiskan waktu mereka dari mulai gerai dibuka sampai tutup pada malam hari untuk melayani konsumen secara langsung. Hal ini sengaja mereka lakukan untuk mengenalkan pentingnya Spa bayi kepada para orang tua, sehingga mereka mempercayakan kebersihan dan perkembangan motorik putra-putrinya ke gerai The . Spa Baby.

Setelah bisnisnya mulai dikenal konsumen, Dini dan Mitzy tidak lantas berpuas diri setelah jadi pengusaha sukses dengan berbisnis Spa bayi. Melihat target pasar Spa bayi yang masih terbatas, dua wanita cantik ini melebarkan sayapnya dengan membidik pasar anak dibawah 12 tahun sebagai target baru mereka. Pelayanan yang diberikan pun semakin beragam, mulai dari baby Spa, baby swim, massage, potong rambut, krimbat, facial, dan manicure-pedicure untuk mempercantik dan membersihkan kuku serta tangan anak.

Kreatifitas dan inovasi baru yang juga diikuti kerja keras dua sahabat ini ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Dari waktu ke waktu perkembangan The Spa Baby semakin menunjukan hasil yang positif, bahkan kini Dini bersama rekannya telah memiliki belasan karyawan untuk melayani para konsumen yang jumlahnya setiap hari kian meningkat.

Thursday, December 1, 2011

Lampu Aromaterapi Kian Digemari Penderita Insomia

Produk lampu hias yang mengeluarkan aroma tertentu sebagai terapi tidur makin diminati konsumen, khususnya para penderita insomia. Sebab, lampu yang terbuat dari kayu manis atau daun dan bunga kering ini dipercaya bisa menggugah rasa kantuk. Perajin lampu ini mampu menangguk omzet puluhan juta rupiah karena pesanan datang dari seluruh Indonesia.

Stress akibat kesibukan kerja nan padat yang diderita mayoritas penghuni kota-kota besar tentu meningkatkan kebutuhan produk pereda stres. Kini, untuk menghilangkan stress tak perlu berlama-lama di tempat hiburan, tetapi cukup duduk di bawah lampu hias beraro-materapi. Lampu ini kabarnya bisa memberi efek kenyamanan dan ketenangan. Salah satu pembuat lampu hias ini adalah Damayanti asal Bogor, Jawa Baral Wanita berusia 35 tahun ini menggunakan balian dasar kulit kayu manis sebagai bahan lampu hias aromatera-pinya.

Damayanti bilang, lampu hias buatannya diminati banyak orang karena mampu mengeluarkan bau harum khas aromaterapi, tanpa mengurangi fungsi lampu hias. "Kebanyakan konsumen saya mengaku menderita insomia atau sulit tidur," ujarnya.

Nah, dengan menghirup aroma yang kulit kayu manis, urat-urat syaraf otak pun meregang dan menimbulkan rasa kantuk. Damayanti pun mengklaim, produk dengan merek Therapy Lamp, dalam sebulan bisa laku sebanyak 75 unit. Dengan rentang harga antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000, Damayanti pun bisa menangguk omzet Rp 25 juta per bulan.

Ia telah memasarkan lampu ini hingga ke beberapa kota besar di Indonesia, mulai Medan hingga Surabaya. "Namun, konsumen terbanyak berasal dari Sumatra, seperti Medan dan Palembang," kata Damayanti. Ia juga menjual lampu ini dengan motif batik seharga Rp ljuta.

Menurut Damayanti, cara pembuatan lampu hias dari kulit kayu manis tak terlalu sulit Kulit kayu manis tinggal dipotong dan dilekatkan dengan rangkaian kawat dan karton mika yang telah dibentuk sebelumnya. Semakin lama lampu dihidupkan, aroma kayu manis kian menyengat. Lampu ini pun mampu bertahan hingga bertahun-tahun.

Damayanti memperoleh pasokan kulit kayu manis dari pedagang di sekitar Bogor. "Setiap bulan saya mendapat pasokan 10 kg lembar kulit kayu manis," ujarnya. Damayanti mengakui, aromaterapi yang muncul dari kayu manis mungkin tak disukai oleh semua orang. "Ada saja yang tidak suka dengan aromanya, namun, ya, itu tergantung selera juga," ujarnya

Produsen lampu aromaterapi lainnya ada di Surabaya. Menurut Mohamad Faisol, si pemilik usaha pembuatan lampu aromaterapi merek Hetric Lamp itu, menyatakan, permintaan lampu luas aromaterapi yang diproduksinya kian ramai. "Banyak konsumen mulai mencari lampu ini seiring informasi yang tenis meluas, ujarnya

Faisol sendiri mengaku, penjualannya kian meningkat Setelah im-nggunakan metode penjualan via internet. "Dalam dua tahun belakangan, permintaan naik 25%," ujar pria yang sudah empat tahun bergelut di bisnis ini. Berbeda dengan Damayanti yang memanfaatkan kayu manis, Faisol menggunakan daun dan bunga kering sebagai bahan baku lampu hias aromaterapinya Bahan-bahan ini digunakan sebagai pelapis di sekitar bolham lampu hias. Panas dari listrik membuat aroma bisa menyebar luas.

Faisol sendiri aiembande-rol lampu ini mulai Rp 250.000 hingga Rp 500.000 sesuai ukuran lampu. Produknya ini sudah dipasarkan hampir di seluruh pulau Jawa dengan omzet mencapai Rp 20 juta sebulan Menurut Faisol, bisnis lampu hias aromaterapi memiliki prospek bagus di masa mendatang. Selain kebutuhan lampu ini masih tinggi, perajinnya juga belum banyak. "Asalkan, perajin tak berhenti berinovasi untuk immlierikan beragam aroma," ujar Faisol.

Kisah Sukses Pengusaha Muda Thailand

Jika di indonesia ada Reza Nurhilman yang berhasil menjual sensasi camilan keripik pedas bermerek Ma Icih yang amat populer, maka di Thailand ada pula pengusaha muda bernama Aitthipat Kulapongvanich yang sukses menjual camilan keripik rumput laut bermerek Tao Kae Noi, yang sanggup meraup omzet yang amat fantastis.

Film produksi Negari Gajah Putih, The Billionaire, menceritakan kisah nyala lika-liku jatuh bangunnya seorang pengusaha (entrepreneur) muda bernama Aitthipat KulapongvanJch (Pachara "Peach" Chirathivat) atau lebih dikenal dengan nama Top" Aitthipat.

Sebenarnya, Aitthipat merupakan seorang anak orang kaya. Namun pada usia 16 tahun, ia begitu terobsesi dengan permainan game online yang mengakibatkan nilai-nilai mata pelajaran sekolahnya merosot. Karena ia sudah tak lagi memiliki hasrat untuk meneruskan sekolahnya, pada usia 17 tahun, Aitthipat dropout dan memutuskan diri untuk menjadi penjaja kacang. Walau dengan modal pengalaman yang amat minimhingga seriug ditipu dan kerja sangat keras, usaha menjual kacang ini tak membuahkan hasil dan justru membuatnya kian terpuruk.

Saat usia Aitthipat genap 18 tahun, keluarganya bangkrut dan meninggalkan utang sebesar 40 juta baht. Kondisi ini menggiring keluarganya untuk eksodus ke luar negeri untuk mencari peruntungan dan membangun kembali bisnisnya. Namun Aitthipat memutuskan untuk tidak mau ikut serta dengan keluarganya hijrah ke luar negeri.

Hingga Dada usia 19 tahun, dia tergerak untuk menciptakan camilan rumput laut yang ia beri nama Tao Kae Noi. Dengan sigapnya, ia lalu mencoba menjual camilan rumput lautnya hingga ia sukses merambah di gerai-gerai sekitar 3.000 cabang 7-Eleven di Thailand.

Karena camilan ini amat disukai oleh banyak orang di sana, kini, pada usia yang ke-26, Aitthipat menjadi produsen camilan rumput laut terlaris di Ihailand dengan omzet hingga 800 juta baht per tahun, dan saat ini ia telah mempekerjakan 2.000 pekerja. Kerajaan bisnisnya ini justru telah bisa membayar utang keluarganya yang bernilai 40 juta bath.

Inspirasi kisah nyata hidup Aitthipat yang luar biasa ini kini difilmkan untuk bisa menggugah semangat entrcpreneurship di negeri Thailand.

Film yang Menginspirasi

Studio Gmm Tai Hub (GTH) memang merupakan salah satu studio film Thailand yang dikenal sering membuat Film-film bernuansa generasi muda yang kreatif. [he Billionaire merupakan salah satu hlm yang gemilang di Thailand karena memiliki nilai inspiratif yang memacu jiwa kewirausahaan anak muda negeri ini, yang juga layak untuk kita apresiasi dan tonton sejarah perjuangannya.

Film ini diarahkan oleh sutradara Songyos Sugmakanan,yang berhasil meraih anugerah Crystal Bear pada Berlin International Film Festival 2006 untuk kriteria Besi Feature Film, Crystal Simorgh pada Fajr Film Festival untuk kriteria Best Director bagi film berjudul Dorm (2006), dan sejumlah penghargaan internasional lainnya.

Sementara itu pemeran utamanya, Pachara "Peach" Chirathivat, merupakan aktor muda kelahiran 10 Mei 1993 yang dikenal telah membintangi film SuckSeed (2011). Peran sebagai Aitthipat cukup mewakili kisah nyata gejolak kehidupan pengusaha muda ini, walau masih belum sempurna. Film dengan durasi 120 menit ini, walau diselingi drama percintaan dan komedi komikal. amat menggugah karena pesan yang coba diangkat berhasil diciptakan melalui film ini.

Nah, jika Anda mampir ke gerai 7-Eleven terdekat dan menemukan camilan bermerek Tao Kae Nai yang konon artinya Pengusaha Muda ini, pastinya Anda akan kembali mengingat film ini. lika ada produser film Indonesia yang tertarik mengadaptasi kisah sukses film kewirausahaan produksi Thailand ini, tak ada salahnya meniru, apalagi sudah ada juga pengusaha muda yang sukses memproduksi bisnis camilan seperti keripik Ma Icih yang juga unik dalam metode strategi pemasaran.

Tuesday, November 29, 2011

Bisa digunakan berkali-kali, tas spunbond pun dicari

Gerakan ramah lingkungan ternyata menguntungkan. Lihat saja permintaan tas spunbond. Tas ini bisa digunakan berkali-kali sehingga tidak langsung menjadi limbah. Lebih menyenangkan lagi, permintaan tas yang tinggi tentu membuka peluang bagi usaha kerajinan tas. Lebih menarik lagi, tas ini juga disukai di mancanegara.

Seiring dengan berkembangnya ide tentang kelestarian lingkungan, membuat tas atau kantong yang terbuat dari bahan spunbond mulai ikut ngetren. Produsen tas atau kantong ini pun jelas ikut kecipratan rezeki dari tren itu.

Keunggulan tas spunbond ini bisa digunakan berkali-kali sehingga tidak langsung menjadi limbah buangan yang merusak lingkungan. Asal tahu saja, spunbond adalah bahan yang terbuat dari campuran plastik dan katun. Bahan tas atau kantong ini dianggap ramah lingkungan karena mudah hancur. Berbeda dengan tas yang terbuat dari plastik yang tak mudah rusak.

Tas atau kantong spunbond ini mulai dikenal masyarakat sejak empat tahun lalu. Tas bahan spunbond ini bisa digunakan pula sebagai media promosi, terutama oleh perusahaan-perusahaan yang lagi mengampanyekan kelestarian lingkungan. Bahkan, sekarang ini sudah banyak toko ritel kelas menengah ke atas yang menggunakan tas jenis ini untuk wadah belanjaan pelanggan.

Meningkatnya kebutuhan akan tas ramah lingkungan inilah yang membuat Alfi Chamdan memproduksi tas atau kantong spunbond ini di Surabaya. Ia mulai memproduksi tas tersebut sejak tiga tahun yang lalu, dan usahanya semakin berkembang dengan menggunakan media internet untuk memasarkan produknya.

Alfi mengatakan, tas atau kantong laris manis karena harganya murah. "Harga jual saya mulai Rp 1.000 dan yang paling mahal Rp 10.000," ujar pria asal Surabaya ini.

Setidaknya Alfi membuat 15 model tas dengan bahan spunbond. Namun yang paling laris adalah tas model serut yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Saban bulan, Alfi mampu memproduksi sekitar 20.000 hingga 25.000 pieces untuk berbagai keperluan. Bahkan jika pesanan sedang ramai, produksi Alfi bisa melonjak hingga 40.000 pieces. "Omzet rata-rata saya sekitar Rp 100 juta dalam sebulan," ujar Alfi.

Alfi menjelaskan, pesanan tas spunbond itu datang dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, bahkan hingga ke NTB dan Papua. Tidak hanya itu, ia juga diminta untuk memasok tas spunbond ke Australia. Untuk memenuhi semua pesanan tersebut ia dibantu oleh sembilan karyawan tetap dan juga didukung oleh 50-an pekerja paruh waktu.

Selain Alfi, Rasyid, asal Jakarta, juga memproduksi tas dan kantong spunbond sejak setahun belakangan ini. Sebelumnya, Rasyid adalah produsen tas khusus untuk aneka suvenir sejak tujuh tahun lalu. Rasyid beralih ke tas spundbond karena permintaan tas ini terus meningkat dari hari ke hari. Ia mengungkapkan telah memasok tas spunbond ke seluruh Indonesia hingga Malaysia.

Dalam sebulan Rasyid rata-rata mendapatkan permintaan sekitar 10.000 tas, dengan harga berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 7.500 per piece. Namun tidak jarang ia juga mendapat pesanan tas hingga sebanyak 50.000 pieces.

Kalau sudah mendapat pesanan segitu banyak, mau tak mau Rasyid harus berbagi rezeki dengan para produsen tas spunbond lainnya. Soal omzet di luar pesanan dalam partai besar, rata-rata Rasyid memperoleh duit sebesar Rp 30 juta per bulan. "Tas ini sedang laris karena harga yang murah namun modelnya punya banyak variasi," ujar pria 29 tahun ini.

Menurut Rasyid model yang paling laris ialah model dompet. Tas model dompet ini biasa dipesan untuk suvenir acara, khususnya untuk acara pernikahan. Rasyid memberikan kiat. Menurut dia, walaupun persaingan belum terlalu ketat, namun variasi model menjadi salah satu cara jika ingin produk ini tetap laris. "Saya biasa menyediakan berbagai variasi desain tas supaya tetap menarik minat pembeli," ujar Rasyid.

Monday, November 28, 2011

Jual Bubur Kacang, Yamin Raup Rp 30 juta/Bulan

bagi Yamin yang hanya lulusan SMA. menggeluti pekerjaan untuk menghidupi diri bukanlah perkara mudah. Apalagi dia tidak mempunyai keahlian apa-apa. Yamin pun menjajal berbagai pekerjaan. Mulai dari menjual kopi keliling di kawasan Kota Tua. Jakarta Barat, ojek motor, sopir angkutan, cuci steam, sampai bekerja di perusahaan ekspedisi sebagai pengirim barang dia lakoni lebih dari setahun.

Saat Itu. dalam benaknya hal terpenting dalam pekerjaannya adalah halal. Meski, akhirnya dia merasa semua pekerjaan yang dilakukannya itu tidak menghasilkan apa-apa, bahkan tidak pernah mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Maka, dia pun merubah pola pikir untuk tidak menjadi seorang karyawan.

Hasilnya, saat ditemui Warta Kota di kediamannya di Papanggo. Tanjung Priuk. Jakarta Utara. Senin (21/11) slang, pria kelahiran 33 tahun silam itu sudah memiliki 10 gerobak untuk menjual bubur kacang hijau, dengan omzet Rp 30juta perbulan.

Yamin mengaku, ketertarikannya untuk berbisnis bubur kacang hijau berawal dari seorang tetangganya yang menjual bubur kacang hijau. Ia melihat bahwa penjualan bubur kacang hijau tersebut cukup menjanjikan. Akhirnya ia nekat untuk meminjam uang kepada bank Rp 12 juta untuk modal awal dengan membuat 4 gerobak lengkap dengan isinya seperti bahan baku untuk membuat bubur kacang hijau, mangkuk, sendok, panel, kompor gas. dan lainnya. Saat Itu. modal untuk membuat per gerobak, totalnya Rp 3 Juta. Tetangganya pun menyetujui untuk bekerja dehgan Yamin, pasalnya la Juga memberikan tempat tinggal kepada tetangga yang telah menjadi karyawannya Itu.

"Setorannya per orang hanya Rp 113.000 per hari, artinya Jika dikalikan dengan 10 gerobak maka saya mendapatkan omzet Rp 113.000 per hari dan sebulan sekitar Rp 30 juta. Tapi mereka yang menjual, bisa mendapatkan penghasilan Rp 200.000-Rp 300.000 per hari," kata Yamin. Menurut Yamin, dirinya per hari untuk bahan bakunya menghabiskan 25 kg kacang hijau. 15 liter ketan hitam 15 liter. 15 kg gula putih, dan 20 kg gula merah untuk 10 gerobak.

Setiap hari bahan tersebut saya bagikan saat malam. Lalu sekitar jam 2 pagi, mereka langsung mengolah bahan tersebut, saat pagi Jam 6 pagi mereka mulai berjualan sampai Jam 2 siang. Setiap harinya bisa habis 100 mangkuk. Mereka saya sarankan untuk libur seminggu sekali, tapi kalau mereka tetap mau jualan seminggu full ya tidak apa-apa, asal kesehatan mereka bisa dijaga," kata pria yang mengatakan karyawannya kebanyakan berasal dari Tasikmalaya Itu.

Yamin menambahkan, untuk bekerjasama dengan para karyawannya itu selalu menerapkan sistem kekeluargaan. Seperti dengan selalu membuka pintu untuk menerima keluh kesah para karyawannya, la pun tidak Jarang sering melakukan tukar pendapat dengan karyawannya untuk membicarakan penjualannya Jika terjadi penurunan omzet. "Udah hukum dagang kalau berjualan itu kadang laku dan kadang tidak laku. Bahkan kalau ada Retorannya yang kurang dan baru bisa dibayarkan esok harinya saya tidak masalah. Kalau saya yang penting karyawan senang, saya Juga senang. Semuanya dengan sistem kekeluargaan. ucap Yamin yang baru- baru Ini meraih Juara II Lomba Wirausaha Muda Astra dengan mendapatkan uang tunai Rp 25 Juta.

Siapkan 5 Gerobak Lagi

Semua perjuangan Yamin tidak sia-sia, meskipun dulu ia harus menggeluti berbagai pekerjaan, namun sekarang sudah menuai kerja kerasnya. "Alhamdulillah. Allah memberikan Jalan, dengan bubur kacang Ijo ini sekarang saya bisa menghidupi Istri. 2 putri." kata Yamin yang Juga dipilih sebagai Ketua RT di tempat tinggalnya sejak 2007 lalu Itu. Yamin mengaku perjalanannya cukup panjang. Memang saat memulai 1997 hanya mempunyai 4 gerobak, namun tidak sampai setahun kemudian la mulai membuat 3 gerobak lainnya lagi. DI tahun 1998 ia kembali membuat 5 gerobak, namun 2 gerobak lainnya sudah memisahkan diri untuk mandiri yang dikelola karyawannya sendiri.

Saat ditemui Warta Kota. Senin (21/11). Yamin mengaku sudah mempunyai usaha lainnya seperti, toko peralatan menjahit. 4 buah kontrakan, dan 1 toko lsi ulang pulsa. Dalam sebulan kini omzetnya sudah mencapai sekitar Rp 40 Juta. Apalagi la baru-baru Ini meraih Juara II Lomba Wirausaha Muda Astra dengan mendapatkan uang tunai Rp 25 Juta. "Rencananya saya akan membuat 5 gerobak lagi dan membuat kos-kosan, kata Yamin.

Sunday, November 27, 2011

Banting Setir dari Kontraktor, Joko Darmono Sukses Usaha Angkringan

Untuk menjadi seorang pengusaha memang dibutuhkan semangat juang tinggi dan kerja keras. Meskipun gagal, namun semangat berjuang tidak boleh padam. Itulah yang terjadi pada Joko Darmono, pria paruh baya asal kota kuliner, Solo ini, tetap berusaha meskipun modal yang ada semakin menipis.

Awalnya, pria yang kini berusia 42 tahun ini, merantau dari kota asalnya ke Jakarta . Di Jakarta, dia mengadu nasib dengan membuka usaha kontraktor gedung dan perumahan. Namun, peta persaingan usaha yang sudah didominasi nama-nama besar, membuat perusahaan yang di gagas Joko tidak bertahan lama.

“Saya dulu sempat membuat usaha kontraktor, namun kolaps karena banyak pemain besar di sana. Lalu saat itu saya hanya mempunyai uang cash Rp400 ribu. Saya berpikir dengan uang sedikit seperti itu mau usaha apa? Alhamdulillah saya dikasih keahlian memasak dan memutuskan untuk membuat usaha angkringan ini,” imbuh Joko.

Joko terbilang memiliki usaha angkringan di Jalan Mochamad Kahfi 2 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. “Saya kan berasal Solo dekat dengan Yogyakarta makanya saya usaha ini karena memang sangat jarang warung makan seperti ini dari Jakarta ,” ungkap Joko ketika berbincang kepada okezone, belum lama ini.

Angkring, warung makan asal Jogjakarta ini memang sangat berbeda, karena penjualnya menjajakan makanan dan minuman hanya dengan gerobak dorong, namun hal itulah yang jarang sekali dijumpai di Jakarta . Angkringan dalam bahasa Jawa, berarti duduk santai.

Selain murah, kualitas rasa pun tak kalah dengan restoran mahal yang ada di pusat-pusat perbelanjaan. Karenanya, gerobak dorong tersebut hanya ditutupi kain terpal dengan suasana remang-remang membuat angkringan ramai dikunjungi remaja maupun orang tua.

Menggunakan ilmu padi, makin berisi makin merunduk, Joko yang sudah merasakan pahit manisnya perjalan usaha, memilih untuk tidak mengekspose dirinya dengan pemberitaan di media. Padahal, dia mengaku beberapa media telah mengajukan untuk meliput angkringannya tersebut, namun ditolaknya, karena tujuannya memang bukan untuk menjadi selebritis warung makan.

“Pernah dulu mau diliput sama lima media tapi saya menolak,” demikian pengakuannya. Lantas, kenapa kini dia mau membeberkan liku-liku kehidupannya.? “Karena Anda merupakan pelanggan saya. Jadi saya tidak mungkin menolak apapun permintaan pelanggan,” akunya sambil tertawa.

Dari hasil angkringan ini, Joko dapat meraup untung sebesar dan berhasil membuat lapangan pekerjaan dengan mempekerjakan tiga karyawan yang berasal dari tempat lahirnya. “Alhamdulillah saya bisa meraih untung kurang lebih Rp30 juta-Rp40 juta dan mempekerjakan tiga karyawan yang merupakan tetangga di kampung saya,” ungkap Joko.

Ke depannya, Joko berniat untuk membuka cabang di setiap daerah Jakarta . Namun, dia tidak menetapkan target pastinya ekspansi bisnisnya ini. Karena, saat ini dia hanya fokus untuk mengembangkan Angkringan yang dibangun susah payah ini. “Target ke depan memang ada niat untuk membuka cabang, namun belum tahu kapan terealisasi karena sampai saat ini saya fokus disini terlebih dahulu,” jelas Joko.

Makanan Khas

Angkringan ini banyak menjual makanan dan minuman, namun yang paling khas adalah Sego Kucing dan Kopi Joss. Sego kucing dengan sambel cabai Jawa yang terasa pedasnya dan tersedia lauk ikan teri, ikan bandeng dan ati ampela yang dijual dengan harga Rp2 ribu per bungkus.

“Kalau kopi joss itu yang paling dicari di sini. Karena selain rasanya yang nikmat, para pengunjung juga penasaran dengan cara membuatnya. Awalnya kopi hitam biasa dikasih gula lalu diceburin arang. Kan bunyi joss tuh jadi dinamakan kopi joss,” jelas pria yang biasa dipanggil Pakde ini.

Namun, bukan itu saja menu andalannya. Angkringan miliknya mempunyai menu yang tak kalah spesialnya seperti roro mendut, ceriwis, semar mesem dan wedang jahe susu. “Kebanyakan saya menamakannya dengan nama-nama yang terasa khas Jawanya, seperti roro mendut. Ini sebenarnya dalam bahasa Indonesianya biasa disebut es buah dengan campuran fanta dan susu. Nah, semar mesem itu biasa disebut es jeruk campur susu. Kalau ceriwis, seperti roro mendut tadi tetapi campurannya Sprite,” kata Joko.

Tak Sekadar Angkringan

Pria yang lahir di Solo ini mengaku, dia kerap diundang ke pernikahan langganannya. Dia didaulat, lantaran Akringanya ini menjadi saksi bisu tempat pelanggan bertemu jodoh untuk pertama kalinya. Para artis ibu kota yang sedang syuting di daerah dekat dengan angkringan juga banyak yang gemar makan di warungnya. “Alhamdulillah banyak yang kasih undangan ke saya, dan ternyata sama-sama pelanggan angkringan ini,” tuturnya seraya tertawa.

Warung makan yang diberi nama Angkringan Sumber Urip ini memiliki arti Sumber Kehidupan yang membawa keberkahan dan kerahmatan bagi para pengunjung warung makan ini. “Semoga kehidupan pengunjung angkringan ini seperti sesuai dengan namanya,” harap Joko.

Muliamin: Dari Tangerang, ritsleting sampai ke negeri seberang

Lahir dari keluarga pedagang tidak membuat Muliamin puas. Dia berpikir, pengusaha bukan hanya berdagang tapi harus menciptakan barang. Pikiran tersebut membawa dia menjadi produsen sekaligus eksportir ritsleting terkemuka di Indonesia. Menggebrak pola pikir dari bisnis dagang menjadi produsen ternyata cukup sulit bagi Muliamin. Maklum, lahir dari keluarga pedagang yang mempunyai kios cukup mapan membuat orang tuanya sangsi dengan bisnis baru anaknya.

Tapi, kesangsian itu sudah terjawab. Saat ini, dengan membawa merek AmcoZip, ritsleting buatan Muliamin mampu menapaki pasar luar negeri. Produk itu sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Turki, Bangladesh, Mesir, Argentina, Peru, India, dan Pakistan. PT Fajarindo Faliman Zipper yang membawahi bisnis ini kini memiliki kapasitas produksi sampai 70 ton per bulan.

Omzet Fajarindo juga terus bertumbuh 20%–30% tiap tahun. Pendapatan dari hasil ekspor di tahun 2008 sudah mencapai US$ 2,45 juta. Padahal, kontribusi ekspor hanya 40% dari total omzet Fajarindo. “Paling besar penjualan memang masih berasal dari dalam negeri,” cerita Muliamin. Di dalam negeri, Fajarindo melabeli produknya dengan nama IndoZip.

Saat ini Fajarindo memiliki sekitar 800 karyawan. Jumlah tersebut mulai menipis lantaran semua produksi sudah banyak menggunakan mesin. “Sebelumnya, karyawan bisa mencapai 1.500-an orang,” kenang Muliamin. Kebutuhan karyawan yang begitu tinggi lebih disebabkan Fajarindo telah menghasilkan ritsleting mulai dari hulu sampai hilir.

Pria kelahiran tahun 1946 ini mengaku sebelum memulai bisnis ini hidupnya tidak mulus. Orang tua Muliamin yang berprofesi sebagai pedagang melarang untuk merintis bisnis baru. “Orang tua saya bilang, ngapain kamu susah-susah harus memproduksi segala?” ujar dia.

Tapi, menurut Muliamin, berdagang adalah bisnis tidak ada nilai seninya. Bahkan, pria ini enggan jika harus membantu orang tuanya menjaga warung. “Saya justru bekerja di perusahaan elektronik yang memproduksi radio,” ujar dia. Pria asal Medan ini mengaku memang menyukai pekerjaan merakit atau memproduksi barang.

Tapi tidak dipungkiri, inspirasi memproduksi ritsleting ini memang dari dagangan orang tuanya saat di Medan. “Orang tua saya jualan kebutuhan jahit menjahit seperti benang, ritsleting, kancing, dan lain sebagainya,” tutur Muliamin.

Meski tidak mendapat restu dari orang tua, Muliamin yang saat itu sudah menikah, pada tahun 1979 mulai merantau ke Jakarta untuk memulai bisnis merakit ritsleting. Dia lantas menyewa rumah toko (ruko) di daerah Pinangsia, Jakarta Barat. Saat itu, ia memulai dari merakit ritsleting dari bahan setengah jadi (long chain).

Muliamin cukup diuntungkan dengan kondisi pasar. “Saat itu, permintaan (demand) jauh lebih besar dari pasokan,” aku dia. Tak ayal, produk ritsleting hasil rakitannya banyak diminati orang. Padahal, modal awal untuk membuka bisnis ini tidak besar, bahkan bisa dibilang nol. Soalnya, ia mengambil long chain dari Taiwan. Ada kawannya semasa kuliah yang bekerja di sana dan bersedia memasok barang untuk kemudian diolah kembali menjadi ritsleting jadi.

Muliamin juga diuntungkan karena biasanya orang yang pesan membayar di depan terlebih dahulu sebelum barang jadi. Karena itu, ia tak butuh modal cukup besar saat itu. Apalagi, istrinya sangat membantu dalam memulai bisnis ini. “Istri saya bahkan menjadi pekerja juga saat awal usaha,” ujar dia.

Meski sudah sukses, Muliamin tidak mau berhenti menjadi produsen ritsleting dari bahan setengah jadi. Ia lantas mencoba memproduksi dari awal. Tentunya, memproduksi ritsleting bukan perkara mudah. Di awal usahanya, hasil karyanya banyak dicemooh orang. Maklum, sebagai pemula di bisnis ini, produksinya jauh di bawah standar ritsleting pada umumnya. Tapi, dia tidak putus asa. Muliamin terus mencoba untuk membuat ritsleting dengan kualitas cukup bagus.


Belajar sampai Taiwan

Untuk meningkatkan kualitas produksi, Muliamin belajar ke Taiwan soal produksi ritsleting. Tapi, untuk masuk ke pabrik pembuatan ritsleting di sana tidaklah mudah. “Saya harus menjalin hubungan baik dengan pemilik pabrik untuk dapat belajar di situ,” kata dia. Butuh waktu lima tahun sampai dia bisa menemukan teknik membuat ritsleting dengan kualitas cukup bagus.

Mulai dari sana, kapasitas produksi Muliamin mulai bertambah tiap tahun. Ia lantas memindahkan tempat produksinya ke Jalan Faliaman Raya, Tangerang. Saat ini, di pabrik seluas 10 hektare tersebut, bisnisnya berkembang pesat.  Selain itu, dari semula hanya merambah pasar di Jakarta, Bandung, dan Medan, Muliamin mulai menjual produknya ke luar negeri. Ia mampu menembus pasar luar negeri lantaran punya jaringan dan kemampuan berbahasa Inggris.

Thursday, November 24, 2011

Daur Ulang Mebel Bekas Berkualiatas

Ragil Nugroho (Bandung) Untuk menyediakan mebel daur ulang yang antik, pedagang mebel di Tamansari, Bandung mencari mebel bekas dari gedung tua, museum hingga ke luar negeri. Tapi tak seluruh mebel tua didaur ulang, pedagang hanya mencari mebel tua dari kayu yang berkualitas.

Terkenal sebagai pusat pejualan mebel murah tidak membuat pedagang mebel di Sentra Tamansari, Bandung menyepelekan kualitas. Mereka menjual mebel daur ulang dari mebel bekas pakai yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi.

Darmayadi, pemilik toko Lancar Jaya bUang, tak semua mebel bekas atau mebel tua itu yang terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi. Untuk mencari mebel bekas berkualitas tinggi itu, pedagang mesti mengetahui jenis kayu yang digunakan, termasuk bentuk serat kayu pada mebel itu. Darmayadi memberi contoh, mebel daur ulang yang banyak diminati adalah mebel yang terbuat dari kayu jati belanda, meranti atau kayu kamper.

Untuk mendapatkan mebel bekas berkualitas itu tidaklah mudah. Darmayadi harusmemiliki banyak jaringan untuk mendapatkannya. Biasanya, ia mendapat pasokan mebel bekas dari pemilik bangunan tua, rumah pejabat diplomatik atau dari museum. "Jaringan luas dibutuhkan untuk mengetahui sumber mebel bekas itu," terang Darmayadi.

Baru-baru ini, Darmayadi baru saja membeli sebuah kursi bekas dari gedung Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Kursi bekas pakai itu dibeli seharga Rp 2 juta per unit. Ia mengaku berani beli tinggi karena kursi itu terbuat dari kayu eboni yang bernilai tinggi. "Setelah didaur ulang kursi saya jual seharga Rp 7 juta," kata Darmayadi.

Menurut dia, pembeli mebel daur ulang kebanyakan penggemar barang antik.. Semakin tua dan semakin berkualitas kayu mebel bekas tersebut, maka semakin banyak kolektor yang akan memburunya

Sementara itu, Indrawan Hikmawan, pemilik toko mebel Hikmah menempuh cara berbeda untuk mendapatkan pasokan mebel bekas. Karena sudah 20 tahun bekecimpung di dunia mebel, Indrawan bisa mendapatkan mebel bekas dari mancanegara, seperti Italia, Belanda dan Perancis. "Jika kayu mebel bekas impor itu bagus, saya berani beli hingga Rp 5 juta per unit," tegasnya.

Namun begitu, pasokan mebel bekas mancanegara itu tidaklah rutin. Indrawan harus bersabar menunggu mebel bekas itu datang ke Indonesia. "Pasokan datang sebulan sekali itu sudah bagus," ujar Indrawan.

Ia berani membeli tinggi mebel bekas dari luar negeri itu karena pasarnya yang menarik. Mebel daur ulang dari mebel bekas impor itu juga banyak dicari oleh kolektor benda antik. Tapi memang jumlah pembelinya terbatas," terang Indra.

Karena pasokan mebelbekas dari luar negeri terbatas, Indrawan pun terbatas menjualnya. Dari seluruh penjualan Indrawan, mebel daur ulang dari mebel bekas impor itu hanya menyumbang 30%.

Penjualan Indrawan terbanyak datang dari penjualan mebel daur ulang yang terbuat dari mebel bekas lokal. Selain itu penjualan Indrawan datang dari penjualan mebel yang terbuat dari kayu bekas industri. Tak hanya itu Indrawan juga mengantongi penjualan dari mebel yang terbuat dari kayu baru.

Untuk menjual mebel kayu baru, Indrawan lebih banyak ikut tren pasar mebel. Sedangkan bahan kayu yang digunakan berasal dari kayu jati dari Jawa Tengah. "Mebel baru lebih banyak berdesain minimalis yang tidak memerlukan banyak ruang," terang Indrawan.