This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, September 13, 2011

Bank Permata Beri Kredit kepada Pengusaha Fotokopi

 Bank Permata memberikan fasilitas pembiayaan bagi pelanggan As-tragraphia untuk memenuhi kebutuhan pembelian unit mesin Fuji Xerox. Dalam setahun, Bank Permata menyiapkan dana 200 miliar - 300 miliar rupiah.

Fasilitas pembiayaan akan diberikan kepada pengusaha perorangan/badan usaha, baik CV maupun PT, dengan range 80 juta - 1 miliar rupiah dengan jangka waktu satu hingga lima tahun.

"Kalau program ini sukses, kita akan menyiapkan dana lebih besar lagi. Makanya, kita akan terus monitor program iniuntuk setahun ke depan," kata Direktur Retail Banking Bank Permata Lauren Sulistiawati seusai penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Astra-graphia di Jakarta, Selasa (13/9).

Selain menyasar pelanggan loyal Astragraphia, fasilitas ini diberikan kepada calon pelanggan potensial, baik yang telah memiliki pengalaman usaha print/copvshop maupun yang berminat terjun di bisnis tersebut. Fasilitas pembiayaan dikucurkan setelah mendapat rekomendasi dari Astragraphia.

"Pengusaha yang mendapatkan fasilitas ini adalah pengusaha UKM, dan untuk memberikan rasa aman bagi ahli warispelanggan perorangan, pelanggan yang mendapatkan fasilitas Permata Business Loan mendapat perlindungan asuransi jiwa oleh perusahaan asuransi jiwa yang ditunjuk oleh bank," kata Lauren.

Kelola Bisnis

Dengan fasilitas itu, para nasabah diharapkan mengelola keuangannya secara lebih fleksibel sehingga bisnisnya berkembang dengan baik. Mereka diminta mengelola bisnis dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.

"Kami berharap agar fasilitas pembiayaan ini dapat memberikan solusi sekaligus nilaitambah bagi pelanggan Astragraphia," imbuhnya.

Di sisi lain, pembiayaan itu turut memperkuat segmen komersial bank, termasuk sektor usaha kecil menengah (UKM). Permata Business Loan, paparnya, merupakan jawaban terhadap kebutuhan nasabah yang menginginkan pembiayaan yang cepat dengan plafon dan jangka waktu yang sesuai dengan kebutuhan.

"Melalui pendekatan value chain dengan menargetkan bisnis perusahaan dari hulu hingga hilir, kami berharap dapat meningkatkan penetrasi pasar," katanya.

Presiden Direktur Astragra-phia Lukito Dewandaya mengatakan fasilitas pembiayaan itu memudahkan pelanggan memiliki mesin Fuji Xerox mulai dari printer multifunction hingga production printer, balk color maupun monochrome.

"Bank Permata membantu pelanggan Astragraphia yang sudah puas dengan produk dan layanan Astragraphia untuk memunyai pilihan pembiayaan yang fleksibel. Bahkan untuk calon pelanggan potensial, Astragraphia yang tersebar di 77 titik layanan di seluruh Indonesia dapat juga menikmati fasilitas pembiayaan dari Bank Permata yang juga sesama Grup Astra," kata Lukito.

Gara-gara ACFTA, Pabrik Mainan Lokal "Bangkrut"

Sejak diberlakukannya Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) pada awal 2010 lalu, industri mainan anak dan furniture Indonesia ditenggelamkan produk asal China.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku, banyak pabrik mainan anak yang berlokasi di pulau jawa, rapi mem produksi barang yang berlabel buatan Chin;i. Hal ilu merupakan sinyal buruk yang harus segera disikapi oleh pemerin-tah.

"Ada suatu fenomena, di mana ada pabrik mainan di Indonesia. Mereknya global dan produknya dijual di Indonesia. Tapi la-belny.i made In China. Ini suatu sinyal. Saya mau cek. Ini harus disikapi," kata Hidayat, di Jakarta, Selasa (13/9).

Hidayat menegaskan, akan berkoordinasi dengan kementerian yang terkait dengan industri dan perdagangan, dan Menko Perekonomian,untuk melindungi pasar dalam negeri melalui tindakan pengamanan. "Sedangkan Kementerian Perindustrian akan membuat konsep proses efisiensi penyelundupan, penarikan barang, clan lainsebagainya," tandas Hidayat.

Di tempat yang sama Dirjen Kerjasama Industri Internasional, Kementrian Perindustrian, Agus Tjahajana Wirakusumah menyatakan, khusus dengan China, Indonesia memang kewalahan itu pertamapro-duk mainan anak-anak, yang kedua produk furniture.

Menurut Agus, produk lokal lainnya yang kalah bersaing dengan serbuan produk China adalah tekstil, garmen, dan produk elektronik. "Bahkan produsen mainan anak dan furniture sampai terpaksa memberhentikan tenaga kerjanya, bukan lagi penurunan penjualan," terangnya.

Kekalahan Indonesia dalam persaingan produk impor dari China, sambungnya, sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Ditambah dengan adanya CAFTA yang semakin memperburuk keadaan di dalam negeri.

"Khusus untuk tekstil, kita kuatnya di segmenmenengah ku atas, tetapi menengah ke bawah kita sangat kewalahan, yang tergempur itu industri kec il dan menengah," kata Agus Sasaran produk China, papar Agus, adalah segmen menengah ke bawah yang sangat menggandrungi produk dengan harga murah. "Meskipun kualitasnya tidak bagus, segmen menengah ke bawah suka yang penting murah, kalaumenengah ke atas mereka pilih yang ada keunikan, dan mereka tahu akan kualitas," urai Agus.

Agus memaparkan, perusahaan-perusahaan dari China berani bersaing dengan perusaah lokal meskipun pemerintah Indonesia telah memberlakukan tarif impor bagi produk-produk tertentu. "China itu, produknya dikenai bea masuk berapa saja mereka sanggup, apalagi sekarang ada CAFTA, kan tarifnya bisa sampai nol persen," tukas dia.

Sejak tahun 2010 lalu, produk-produk impor dari China yang telah dikenai tarif bea masuk nol persen telah mencapai 80% dari total impor produk China "Makanya sekarang kita sedang upayakan mendorong IKM agar lebih kuat," tandas Agus.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Penggiat Nbman Edukatif dan Tradisional Indonesia (Ap-menti), Dhanang Sasongko memaparkan hal yang serupa. "Bea masuk sebesar 0 %,yang membuat kita tidak siap. Sementara, negara negara lain sudah mempersiapakan diri sejak 10 tahun sebelumnya. Sejak ACFTA, semua produk semakin bebas masuk, jadi tidak ada penyaringnya" jelasnya.

Bahkan saat ini, lanjut Dia, China juga mempun yai banyak distributor ba rang yang tersebar di seluruh Indonesia. "Biar China semakin lancar memasukkan barang impornya ke kita," ujar Dhanang

Dia mengaku, hingga saat ini, produk yang dihasilkan oleh semua anggota Apmenti masih kalah saing dengan China, terutama dalam hal balian baku dan teknologi. "Kalian baku produk China itu plastik yang membutuhkan teknologi tinggi. Sehingga, proses produksi mereka lebih cepat. Sementara kita, kebanyakan adalah produk hand made yang terbuat dari kayu," terang Dhanang.

Akibatnya, produk mainan anak buatan dalam negeri sulit untuk menembus pasar ekspor, terutama Eropa. "Kalaupun ada, paling ekspornya hanya ke Singapura. Itu juga masih kecil. Masih sekitar 5.000-8.000 mainan. Dengan harga sekitar US $ 5-10 per buah. Kita masih sulit melakukan ekspor, terutamaopa, karena mereka mempunyai standar yang terlalu tinggi. Mereka detil sekali memperhatikan kualitas mulai dari packaging sampai mainan," pungkas Dhanang.

Sukses lewat inovasi furnitur batik

Kemiskinan rupanya mendorong Dafyono langsung mencari penghasilan ke Jakarta selepas dari bangku SMA di Bantul. dari keluarga paling miskin di kampung. Orangtua adalah petani yang garap sawah orang lain." kata Dalyono mengenang asalnya.

Sesampai di Jakarta, Dalyono langsung disambut kerasnya kehidupan Ibu Kota hingga bergabung dengan para gelandangan di Teluk Gong, Jakarta Utara. Lebih dari 7 bulan dia menggelandang tak tentu arah hingga akhirnya jatuh sakit dan dibawa pulang ke Bantul.

Dalyono lantas dimasukkan ke Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Yogyakarta, sebuahtempat penyantunan dan pelayanan sosial terhadap remaja telantar.

Sebagai murid di panti, dia pun mengerjakan mebel dan akhirnya bekerja di perusahaan. "Saat bergaul dengan kayu itulah, saya yakin inilah jalan hidup saya," tuturnya.

Selain bekerja di perusahaan, rupanya Dalyono juga buka usaha mebel kecil-kecilan di rumahnya dengan nama Mataram Furniture yang melibatkan 25 pekerja dari keluarga miskin. Usahanya berkembang bahkan dalam perjalanannya, seluruh pekerjanya kini juga sudah punya usaha furnitur mandiri.

Atas upayanya ikut memberdayakan para pemuda di daerahnya, Dalyono pun masuk lima besar pemuda pelopor tingkat provinsi dan dibiayai pemda ikut kursus manajemen Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan lembaga pendidikan Ciputra.

Saat gempa bumi melanda Yogyakarta pada Mei 2006. rumah Dalyono ikut roboh hingga karier usahanya juganyaris kandas menrusul bengkel mebelnya ikut bangkrut.

"Lantas dari mana saya bisa makan? Tak mungkin berhenti karena ini adalah peluang saya, walau orang-orang menganggapnya musibah."

Dia pun melihat kebutuhan masyarakat terhadap kusen dan pintu sangat besar. Di sisi lain pemasok dan tukang kayu berkurang hingga harga kusen melambung tinggi.

"Akhirnya saya beli di Kulonprogo dan Purworejo dengan murah karena di sana tidak kena gempa untuk dijual di Yogya dengan lebih mahal."

Wirausaha sebagai pemasok mebel kembali jalan lewat proyek rekonstruksi rumah dari pemda setempat. Sebuah rumah yang roboh tolal bantuannya Rp) 5 juta sedangkan rumah yang roboh setengah Rp4 juta. "Yang saya tangani hampir sekitar empat kelurahan. Satu kampung sekitar 50 rumah. Satu kelurahan berapa kampung. Saya lupa totalnya."

Proyek itu rampung dikerjakan hingga dia kembali dapat proyek dari Java Reconstruction Fund untuk jadi pemasokmebel bagi 280 rumah.

Setelah Yogyakarta kembali pulih tak ada lagi pekerjaan rekonstruksi buat Dalyono. "Saya pikir setelah rumah mereka berdiri, pasti utuh interior seperti meja, kursi, lemari, dan tempat tidur. Akhirnya, saya balik ke furnitur."

Modifikasi batik

Perusahaan tempat kerjanya dulu mengontak Dalyono untuk kembali bekerja, tetapi sebagai tenaga lepas sebagai pengecek barang. Dia juga diminta jadi pemasok furnitur.

Awal 2009 Dalyono benar-benar terjun berwirausaha jadi produsen furnitur. Pada saal yang sama dia melihat kondisi pembatik yang diupah murah. "Generasi muda tak mau membatik dengan upah murah." "Bagaimana bisa ikut andil? Karena saya furnitur, maka saya modifikasi dengan batik."

Sejak itu mulailah Dalyono menoreh motif batik ke atas furnitur. Langkah itu diawali bertandang ke Institut Seni indonesia Yogyakarta, berdiskusi dengan dosen dan ahli batik.

Dia juga belajar membatikdi atas kain. Dari situlah Dalyono mulaJ aplikasi kin teknik membatik ke produk furnitur. Banyak kesulitan ditemui mulai dari kemiringan canting pada furnitur, menghilangkan malam, hingga membuat motif batik tetap lekat di furnitur. "Saya pikir ini akan jadi peluang karena awal saya kerjakan ini sulit. Orang meniru pun pasti sulit."

Sekitar 3 bulan beruji coba membalik furnitur, hasilnya tak sia-sia. Dalyono akhirnya mampu menerapkan teknik membatik di berbagai furnitur seperti kursi, meja, dan lemari. "Saya pun tak khawatir dicon-tek orang. Sebelum ditiru, saya sudah siapkan beberapa inovasi baru setelah harga yang sekarang turun."

Saat ini Mataram Furniture memiliki 80 perajin, 30 di antaranya pemasok furnitur yang diletakkan di gudang di Jepara, Sragen, dan Klaten. Adapun proses membatik dilakukan di Bantul. Dalyono sendiri sulit memerinci berapa produksinya setiap bulan.

Yang jelas furnitur batik mampu meningkatkan permin-taan hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan furnitur biasa. Pemasaran juga melalui website dan jejaring sosial.

Untuk ekspor, lanjut pria 31 tahun ini, permintaan masih berupa furnitur biasa karena tidak mau dihiasi batik dari bahan kimia. "Makanya, saya lagi uji coba furnitur batik pakai pewarna alam."

Setiap perajin yang membatik diupah Rp75.000 per furnitur. Dengan upah tinggi ini anak-anak muda mau pegang canting dan membatik lagi. Atas usahanya membantu pemuda pengangguran, Dalyono akhirnya dapat penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga dengan predikat wirausaha berprestasi nasional 2009.

Kun selain sibuk berbisnis, dia pun sibuk mengajari usaha kecil dan menengah di 17 kecamatan di Bantul. Perajin di Solo, Sragen, Makassar, dan Pontianak ikut dibimbingnya. Dalyono pun sudah duduk di bangku kuliah. "Saya ini keqa untuk kuliah. Bukan kuliah untuk bekerja," tuturnya.

Monday, September 12, 2011

Mainan dan Furniture Terbenam Produk China

Pemerintah mengaku produk mainan dan furniture adalah produk yang paling terpuruk menghadapi serbuan barang impor dari China jika dibandingkan dengan produk dalam negeri lainnya.

"Khusus dengan China, kita paling kewalahan itu pertama produk mainan anak-anak, kedua furniture," kata Dirjen Kerjasama Industri Internasional, Kementrian Perindustrian, Agus Tjahajana Wirakusumah, saat berbincang dengan VIVAnews.com, di kantornya, Jakarta, Senin.

Selain itu, lanjut Agus, produk lokal lainnya yang kalah bersaing dengan serbuan produk China adalah tekstil, garmen, dan produk elektronik. "Bahkan kalahnya itu kalau mainan anak dan furniture sampai memberhentikan tenaga kerjanya, bukan lagi penurunan penjualan," ungkapnya.

Agus menjelaskan, kekalahan Indonesia dalam persaingan produk impor dari China sudah terjadi sejak 2010 silam, kemudian ditambah dengan adanya China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) yang semakin menambah serbuan produk China di dalam negeri.

"Khusus untuk tekstil, kita kuatnya di segmen menengah ke atas, tetapi menengah ke bawah kita sangat kewalahan, yang tergempur itu industri kecil dan menengah," kata Agus.

Sasaran produk China, tutur Agus, adalah segmen menengah ke bawah yang sangat menggandrungi produk dengan harga murah. "Meskipun kualitasnya tidak bagus, segmen menengah ke bawah suka yang penting murah, kalau menengah ke atas mereka pilih yang ada keunikan, tahu kualitas," tutur Agus.

Perusahaan-perusahaan dari China, kata Agus, berani bersaing dengan perusaah lokal meskipun pemerintah Indonesia telah memberlakukan tarif impor bagi produk-produk tertentu.

"China itu, produknya dikenai bea masuk berapa saja mereka sanggup, apalagi sekarang ada CAFTA, kan tarifnya bisa sampai nol persen," kata dia.

Sejak 2010 lalu, produk-produk impor dari China yang telah dikenai tarif bea masuk nol persen telah mencapai 80 persen dari total impor produk China. "Makannya sekarang kita sedang upayakan mendorong IKM agar lebih kuat," kata Agus. (umi)

Tanah Abang Tampung UKM Fashion

Pengelola Pusat Grosir Tanah Abang Blok A dan B siap menyediakan tempat seluas 500 m2 secara cuma-cuma kepada 33 UKM produk fashion dari 33 provinsi. Produk fashion khas daerah tersebut terdiri atas busana, sepatu, tas, dan aksesori.


CEO Priamanaya Group Priamanaya Djan mengatakan, pengelola Blok A dan B Tanah Abang mengatakan, kios gratis se.iilai Rp 400 |uta per unit tersebut diberikan selama satu tahun untuk ikut memajukan produk dalam negeri. "Penyediaan lokasi di Tanah Abang akan memudahkan promosi dan penjualan barang tersebut ke seluruh Indonesia dan mancanegara," kata Pria di Jakarta, Senin (12/9).


Menurut dia, selama ini. ratusan ribu pengunjung datang ke Tanah Abang setiap hari dan satu toko bisa menghasilkan transaksi Rp 100 juta per hari. Dengan asumsi ada 10 ribu pedagang di Tanah Abang, transaksi di pasar tersebut mencapai sekitar Rp 1 triliun dalam satu hari.


Untuk tahap awal. Pria mengundang 33 UKM dan 33 provinsi di Indonesia. Rencananya, ia akan bekerja sama dengan pengurus Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di daerah dalam proses pemilihan UKM dan Inkubator Bisnis Universitas Indonesia. "UKM yang bergabung di sini harus punya kerja sama dengan perajin, barang fashion yang dihasilkan khas daerah, dan kualitasnya bagus." jelasnya.


Ketua VIII BPP Hipmi Bidang UKM, Koperasi, Pembinaan Pengusaha Pemula dan Riset Tri Harsono menambahkan, ada tiga permasalahan pada UKM yang perlu diatasi, yakni akses pasar, permodalan, dan capacity building. "Kerja sama pemberdayaan UKM dengan Pusat Grosir Tanah Abang ini sudah menyelesaikan satu permasalahan UKM," kata dia.


Soal kesiapan UKM, Pria telah menyerahkan pembinaannya kepada Inkubator Bisnis Ul. "Sedangkan kami siap melakukan pembinaan bagi SOM UKM tersebut," imbuh Aris, dari Inkubator Bisnis Ul


Bila program itu berjalan baik, lanjut Pria, perusahaannya akan membangun pusat grosir di beberapa daerah, seperti Makassar, Surabaya (bekas Pasar Turi), dan Sumatera. "Kami akan membangunnya agar pembeli dari daerah tak usah jauh-jauh lagi datang ke Jakarta dan juga untuk memajukan perekonomian di daerah," imbuh Pria


Proyek tersebut akan dimulai tahun depan. Sayangnya, ia enggan mengungkapkan berapa investasi yang dikeluarkan. "Belum tahu," kata dia.


Pengamat ekonomi Aviliani sangat mendukung gagasan penyediaan tempat bagi UKM di pusat perbelanjaan, seperti Pusat Grosir Tanah Abang. "Jawa dan Jakarta adalah daerah dengan market dan pengeluaran terbesar. Karena itu, sangat cocok mendatangkan UKM dengan produk lokal khas daerah ke Jakarta," kata Aviliani.

Sunday, September 11, 2011

Kilap laba kerajinan berbahan kaca

Kaca bisa menjadi produk kerajinan yang bernilai seni tinggi. Selain unik dan menarik, kerajinan kaca juga terkesan mewah. Oleh karena itulah, kerajinan ini banyak diburu oleh kolektor benda seni termasuk hotel-hotel berbintang. Selain domestik, pasar ekspor juga terbuka.

Produk berbahan baku kaca sangat beraneka ragam. Selain untuk kebutuhan bangunan, kaca juga bisa dijadikan produk kerajinan seperti cenderamata dan suvenir yang menarik dan terkesan mewah.

Salah satu perajin kaca adalah Medi Rahma Lukri, pemilik Inti Art Glass di Semarang, Jawa Tengah. Memulai usaha sejak 2007, Medi menggunakan pecahan kaca bekas untuk membuat berbagai kerajinan unik.

Pecahan kaca bekas yang dikumpulkan dilebur dengan proses pembakaran selama 10 jam bertemperatur 1.200 derajat celsius. "Awalnya saya hanya ingin memanfaatkan kaca-kaca yang tidak terpakai," ujar Medi. Dengan menggunakan produk daur ulang, biaya pembelian bahan baku semakin murah.

Kaca yang meleleh kemudian dicetak sesuai dengan bentuk yang diinginkan, seperti vas atau tempat lilin. Setelah terbentuk, proses penyempurnaan dilakukan dengan memberikan motif ukiran menggunakan gerinda.

Dibantu 12 pegawai, Inti Art Glass bisa memproduksi sekitar 500 kerajinan kaca ukir berbagai ukuran. Produk-produk tersebut kemudian dijual dengan harga mulai Rp 10.000 hingga Rp 1 juta per produk. "Yang paling mahal berbentuk patung atau tokoh," katanya.

Tak hanya vas bunga, tempat lilin atau patung, Medi juga membuat ukiran dari berbagai barang dari kaca seperti botol anggur dan stoples kaca. Hanya saya, media kaca untuk ukirannya tidak sembarangan karena harus memiliki unsur unik dan antik.

Dari seluruh hasil produksinya, Medi mengaku bisa mengumpulkan omzet penjualan mencapai Rp 25 juta perbulan. Dari hasil itu, keuntungan bersih yang didapat sebesar 20% omzet atau sekitar Rp 5 juta.

Pesanan produk kerajinan kaca itu sebagian besar dipesan oleh hotel-hotel di Bali, Jakarta dan Surabaya. Selain pasar domestik, ia juga sering mendapat pesanan dari Swiss, Australia dan Jepang.

Menurut Medi, nilai penjualan produknya selalu meningkat pada Juni hingga September mencapai 30%. Kenaikan itu disebabkan banyaknya hari libur sehingga produknya manis laris. Dengan peningkatan tersebut, Medi yakin prospek kerajinan kaca masih akan cerah ke depan. Apalagi para pemain di bidang ini belum begitu banyak. Untuk menggenjot peningkatan penjualan, inovasi produk harus tetap dilakukan.

Ia menambahkan, kerajinan berbahan baku kaca memiliki karakteristik tersendiri dibanding kerajinan dari material lain seperti batu atau kayu. Kaca selain lebih unik juga memiliki sifat elegan dan mewah. "Itulah kenapa kolektor benda seni atau hotel sangat berminat," katanya.

Senada diungkapkan oleh Gus Nanda, perajin kaca sekaligus pemilik PT Aulia Bali Craft di Badung, Bali. Ia mengatakan, kerajinan dari kaca laris diburu oleh kolektor benda seni tak hanya lokal namun mancanegara. Selain sebagai koleksi pribadi, kerajinan kaca juga bisa menjadi suvenir.

Memulai usaha sejak 2006, Nanda yang saat ini berumur 37 tahun mengaku memperoleh keterampilan membuat kerajinan kaca setelah bekerja di galeri seni milik orang asing di Bali. Selain memproduksi kerajinan kaca, Nanda juga membuat kerajinan dari batu.

Berbagai bentuk wadah unik dan menarik seperti gelas dan botol dibuat. Selain itu, dia juga membuat lampu hias kaca. "Selain memproduksi massal, kami juga memproduksi sesuai permintaan," ujarnya.

Agar terlihat unik dan menarik, Nanda dalam proses pembuatan selalu mengedepankan unsur kerajinan tangan atau handmade. Mesin hanya digunakan untuk mempercepat dan mempermudah proses produksi. Ia menyebutkan, 60% proses adalah handmade dan 40% mesin. Mesin biasanya digunakan saat proses finishing dan pemotongan kaca.

Penggunaan mesin dalam proses produksi membuat Aulia Bali Craft mampu memproduksi hingga 100 produk gelas dan botol dengan aneka bentuk, warna, dan motif per hari. Jika konsumen ingin produk yang berbeda atau sesuai keinginan, dibutuhkan waktu sekitar 3 hari hingga seminggu penyelesaian.

Bahkan, untuk pemesanan lebih dari 1.000 dengan desain sesuai dengan permintaan diperlukan waktu lebih lama. "Untuk 1.000 pieces produk custom, kami mengerjakan sekitar 10 hari hingga 2 minggu," jelasnya.

Harga jual tiap produk buatan Nanda berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 50.000 untuk gelas dan botol. Adapun untuk produk hiasan lampu Rp 100.000 per unit. Tiap bulan rata-rata 1.500 sampai 2.000 produk dengan omzet Rp 40 juta didapatkan.

Selain untuk memenuhi permintaan berbagai hotel di Bali, Nanda juga melakukan ekspor ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Namun, memasuki tahun 2011, ia mengatakan, pasar ekspor cenderung sepi dan pasar domestik tak stabil. "Karena kerajinan bukan produk prioritas, sehingga jika ada guncangan ekonomi akan terasa imbasnya," paparnya.

Akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, Nanda mengaku mengalami kemerosotan omzet mencapai 20% sampai 30%. Untuk itu, ia berharap kondisi ekonomi dunia kembali membaik guna meningkatkan omzet usaha seperti sebelumnya.

Menurutnya, produk kerajinan adalah perpaduan antara ide, konsep, ketelitian, dan kreativitas. Namun begitu, keberadaan pasar yang mampu menyerap juga sangat penting. "Di awal, kami bingung harus mendistribusikan ke mana. Akan sisa-sia jika produksi tidak ada peminat," katanya.

Lancar laba bisnis bengkel panggilan

Berlama-lama menunggu antrean di bengkel tentu tak menyenangkan. Namun, sekarang itu sudah ada jalan keluarnya. Kalau Anda malas mengantre telepon saja CATS dan O-Beng. CATS dan O-Beng adalah bengkel panggilan yang siap melayani Anda yang tinggal di Jakarta.

Jumlah sepeda motor maupun mobil yang kian meningkat, membuat usaha bengkel panggilan kian berkembang. Mereka ini siap dipanggil sewaktu-waktu dan di mana saja ada kerusakan kendaraan. Itulah prinsip dalam menggeluti bisnis ini.

Salah satu perusahaan yang melirik bisnis ini adalah PT Rema Tip Top Indonesia. Melalui bengkel berjalan bernama CATS, Rema mengusung konsep one stop service, CATS mengerjakan berbagai keluhan konsumen mengenai kendaraan mereka. "Semua kita kerjakan layaknya bengkel station," ujar Stevanus Pasanto Kurniawan, Marketing Promotion PT Rema Tip Top Indonesia.

Selain mengutak-atik mesin, CATS juga siap menambal ban, cuci dan salon mobil. Menurut Stevanus, 60% pelanggannya, selain perbaikan kendaraan, selalu minta layanan cuci dan salon. Untuk cuci komplet, pelanggan cukup membayar Rp 40.000. Sedangkan biaya salon Rp 250.000-Rp 500.000, dan tambal ban Rp 50.000 - Rp 200.000. Menurut Stevanus, biaya tambal cukup mahal karena Rema mengadopsi teknologi Jerman.

Adapun servis mesin, biaya tergantung kapasitas mesin mobil. "Kalau hanya tune up saja, biayanya antara Rp 100.000 sampai Rp 200.000, di luar pembelian spare part," katanya. Selain biaya itu, pelanggan juga harus membayar biaya transportasi mekanik sebesar Rp 25.000.

Stevanus mengklaim, tarif segitu masih jauh di bawah harga standar bengkel Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). "Perbandingannya bisa lebih 50%," katanya.

Dengan tarif bersaing, dalam sebulan rata-rata CATS bisa melayani sekitar 10 sampai 20 mobil. Jumlah itu cukup banyak, sebab CATS hanya melayani pelanggan sekitar Jabodetabek.

Bengkel O-Beng asal Tangerang di bawah usaha PT Ulise Sentosa Abadi juga menggeluti bisnis bengkel panggilan ini. Hanya, O-Beng fokus pada pelayanan perbaikan dan perawatan mobil-mobil Jepang. "Kita ada untuk lebih memudahkan konsumen," jelas Imanuel Kristianto, staf administrasi Bengkel O-Beng.

Usaha ini tercetus melihat antrean panjang bengkel yang menyita waktu berjam-jam.Dengan O-Beng, pelanggan tinggal telepon dan semua sudah bisa diatasi.

Didukung tiga tim dengan 10 mekanik, setiap tim dilengkapi peralatan pendukung layaknya bengkel tetap. "Kita ada armada khusus," kata Kris.

Kris juga mengklaim pelayanannya lebih murah dibanding bengkel resmi atau umum. Untuk jasa pelayanan perbaikan mulai Rp 250.000 sampai Rp 450.000 di luar pembelian suku cadang. O-Beng saat ini juga hanya melayani pelanggan di sekitar Jabodetabek saja.

Menurut Kris, permintaan layanan bengkel panggilannya meningkat 50% saat Ramadan. Jika pada hari-hari normal jumlah pelanggan yang memanfaatkan jasa layanan Bengkel O-Beng berkisar 10 unit mobil, ketika mendekati Lebaran jumlahnya naik menjadi 15 unit mobil per hari.

Permintaan layanan tidak terbatas kendaraan pribadi, namun juga perusahaan dan rental mobil. "Namun sebanyak 75% untuk mobil keluarga," jelas Kris.

Seiring dengan makin prospektifnya bisnis home service ini, baik Bengkel CATS ataupun O-Beng dalam waktu dekat berencana untuk mewaralabakan bisnis ini ke masyarakat.