This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, January 5, 2012

Modal Ratusan Ribu, Kini Tembus Pasar Dunia

Kiprah Iwa Sumanto, 30, dalam merintis bisnis patut diapresiasi. Pemuda kelahiran 21 Januari 1981 ini adalah finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri yang sukses mengembangkan usaha produksi stick drum yang kini telah menembus pasar dunia.

Keberhasilan Iwa Sumanto diraih melalui proses panjang. Sebelum menggeluti usaha yang kini diberi nama Solobeat Drumstick Production, sejak kecil ia memang telah bersinggungan dengan kerajinan kayu. Selain desa tempatnya tinggal dikenal sebagai sentra usaha kerajinan kayu, orang tuanya juga menggeluti bidangitu sebagai mata pencaharian. "Kerajinan kayu yang dibuat orang tua saya antara lain sofa dan kabinet alumunium," kata Iwa kepada SINDO belum lama ini.

Namun usaha orang tuanya terguncang saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997. Oleh sebab itu, ketika lulus SMA, Iwa tidak bisa langsung kuliah karena keterbatasan biaya. Keterpurukan yang sempat dialami orang tua ternyata memicu kreativitasnya. Pada 2005, anak keempat dari luna bersaudara ini mulai merintis usaha stick drum. Usaha yang berkaitan dengan perlengkapan alat musik jenis pukul itu terinspirasi kare-nadirinyasempatberkecimpung di event organizer. Hanya bermodal Rp200 ribu, usahasridt drum itu pun dimulai. "Pada awalnya hanya menggunakan alat manual. Itu pun saya juga masih belajar bagaimana membuat stick drum," bebernya.

Kayu yang digunakan pada mulanya sisa kerajinan orang tuanya yang tidak terpakai dan sebagian lagi membeli. Selama beberapa bulan, sekitar 200 pasang stick drum berhasil dijual ke Semarang, Yogyakarta, dan Solo. Stick buatannya ditawarkan ke studio musik dan toko-toko alat musik. "Studio musik menjadi salah satu pasar. Lantaran perlengkapan musikmereka biasanya disewakan, tentu stick drumnya akan cepat mengalami kerusakan," kenangnya. Harga yang dipatok adalah RplO ribu untuk sepasang stick drum.

Temyata semakin lama permintaan semakin banyak hingga membuat usahanya semakin berkembang. Pesanan pun semakin luas dari sejumlah kota besar di Indonesia. Iwa lantas merekrut dua pemuda dari kampungnya untuk menjadi karyawan. Kualitas produk yang dihasilkan ternyata sampai ketelingasejumlahdrummer papan atas di Indonesia. Beberapa grup band ternama tertarik mencoba. Lantaran cocok,mereka kini rata-rata setiap bulan memesan 30 pasang stick drum buatan Solobeat Drumstick Production. "Mereka sering manggung, tetapi tidak mau sembarangan memakai stick drum. Jadi mereka membawa sendiri,"katanya.Tak mau kehilangan pelanggan spesial yang telah memiliki nama besar, pesanan tersebut tentu dibuat agak khusus dengan harga Rp20 ribu untuk sepasang stick drum.

Selain pasar dalam negeri, Iwa membidik pasar internasional Promosi melalui internet membuahkan hasil. Tahun 2011 lalu,sejumlahgrup band asal Amerika Serikat, Venezuela, Puerto Rica, dan Kanada mulai memesan stick drum buatannya. Bahkan di Venezuela.Iwasudahmemiliki jaringan yang siap memasarkan produk usahanya. Harga yang dibanderol adalah USD13 untuk sepasangsricfc drum, termasuk ongkos kirim. "Mereka biasanya pesan satu lusin dan dibayar di muka," ungkapnya.

Pesanan khusus ini membuat pasar usahanya semakin luas. Berkat ketekunannya, Iwa kini sedikit banyak mulai menikmati hasil usahanya. Setiap bulan, omzet rata-rata saat ini telah mencapai Rp20 juta. Karyawannya juga bertambah menjadi lima orang. Kualitas produksi tetap dikontrol langsung agar tidak mengecewakan konsumen.

Berkat usahanya,pada 2008 Iwa bisa melanjutkan studinya ke Universitas Islam Indonesia (Un)Yogyakarta. Jurusan yang diambil adalah bahasa Inggris dengan alasan untuk me-nopang pengembangan usaha. Dia berharap bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya demi pengembangan bisnis ke depan.

Kemampuan bisnis Iwa semakin terasah setelah dirinya menjadi finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri 2010 dan bersaing dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Beberapa finalis merupakan sosok wirausaha muda yang selama ini menjadi teladan baginya. "Saya merasa belum apa-apa dibanding dengan mereka. Masih kalah jauh," tandasnya.

Pengalam an yangdiperolehdari ajang itu adalah mendapatkan pelatihan bisnis. Ilmu yang diperoleh akan segera diterapkan agar usahanya ke depan lebih tertata dan maju. Di samping itu, produk usahanya juga diikutkan dalam pameran di beberapa daerah sehingga semakin dikenal luas masyarakat dan order menjadi bertambah banyak. "Sebelumnya saya melihat wirausaha muda sulit mendapatkan kesempatan untuk maju. Namun Bank Mandiri ternyata memberikan ruang bagi kami untuk mengembangkan diri. Pada tanggal 19-22

Januari 2012 nanti pun saya bersama ratusan binaan Bank Mandiri lainnya diikutsertakan dalam Expo Wirausaha Muda Mandiri yang akan digelar di Assembly Hall Jakarta Convention Center," katanya.

Dia berharap agar para pemuda memiliki optimisme yang tinggi dalam mengembangkan kewirausahaan. Tak kalah penting adalah semangat tidak pernah menyerah dan terus berusaha sekuat tenaga. "Jangan putus asa meski ada yang meremehkan," ujarnya.

Mengunci Laba dari Bisnis Kancing Kerang

Cangkang kerang tidak lagi dianggap sebagai limbah. Para perajin kini banyak yang memanfaatkan cangkang kerang untuk dibuat kancing baju dan tas. Karena dianggap lebih ramah lingkungan banyak pembeli dari luar negeri, terutama Eropa tertarik produk kancing dari cangkang kerang itu. Permintaannya pun terus bertambah.

Umumnya kancing baju terbuat dari balian baku plastik. Namun, sekarang mulai banyak produk kancing baju dengan balian baku non plastik yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya, kancing baju dari-cangkang kerang. Di tangan-tangan nan terampil, cangkang kerang yang biasanya dibuang percumadan menjadi limbah, bisa disulap menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi.

Bahkan produk kancing dari cangkang kerang kini sudah melanglangbuana sebagai produk ekspor ke berbagai negara. Karena dianggap ramah lingkungan, produk kancing cangkang kerang tersebut ternyata cukup diminati pasar. Salah satu pembuatnya adalah I Putu Darniaya Ia berbisnis kancing berbahan cangkang kerang dengan bendera PT Caspia Bali. Sejak 2001, ia menekuni bisnis ini.

Menurut Dannaya, ada lima jenis cangkang kerang yang bisa diolah menjadi produk kancing. Yakni, cangkang kerang mutiara, Iola, wadung, mabe, dan trukus. Dari berbagai jenis cangkan kerang tersebut, kancing dengan kualitas terbaik biasanya terbuat dari bahan baku kerang mutiara

Balian baku cangkang kerang, ia beli dari para penangkar kerang. Dannaya biasanya membeli cangkang kerang itu dari penangkar kerang di daerah Bali dan Lombok dengan harga Rp 15.000 per kilogram (kg) untuk mutu cangkang paling rendah. "Setelah kami olah menjadi kancing, harganya dari Rp 100 satu in.ii sampai Rp 1.000 per biji," ujar Darmaya

Saban hari, Dannaya bisa memproduksi 300 kg hingga 400 kg kancing. Permintaan banyak datang dari pabrik garmen dan industri aksesoris skala rumahan di Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang. Selain itu, Darmaya jugasudah mengeskpor produk kancing miliknya ke berbagai negara, seperti China, Italia, Jerman dan negara Eropa lain. "Omzet saya Rp 50 juta perbulan," imbuhnya

Pembeli dari Eropa paling banyak lantaran mereka sangat peduli dengan produk-produk yang ramah lingkungan. Mereka juga menilai kancing dari kulit kerang menjadi sangat artistik bila dipadukan dengan busana Maka itu, Darmaya bilang, permintaan kancing dari cangkang kerang ini dari para pembeli di Eropa terus meningkat.

Berkah memanfaatkan limbah cangkang kerang juga di-nikamti Ahmadun, perajin skala industri rumahan di Si tubondo, Jawa Timur. Sama seperti Dannaya, ia juga menyulap limbah cangkang kerang menjadi produk kancing baju dan tas, sejak tahun 2001 silam.

Bedanya, produk kancing baju Ahmadun belum sampai ke negeri orang. Ia hanya me-nyasar industri garmen dan aksesoris skala rumahan sebagai target pasarnya. Bahan baku cangkang kerang ia peroleh dari sekitar tempat tinggalnya. Dengan memakai peralatan yang sederhana, Ahmadun bisa menghasilkan 200 biji sampao 300 biji kancing baju dari cangkang kerang, dalam sehari.

Omzet yang ia raup memang belum sebesar Darmaya "Omzet saya hanya sekitar Rp 10 juta perbulan," imbuhnya. Toh, ia memiliki kepuasan tersendiri berbisnis kancing cangkang kerang ini. Bukan cuma mendapat penghasilan, tetapi setidaknya ia juga bisa membantu mengurangi limbah lingkungan.

Agar pendapatan semakin mengkilap, Ahmadun maupun Darmaya kini tak hanya menjual produk kancing baju dan tas saja. Tetapi juga berbagai macam pernak-pernik dan hiasan dinding. Tentu saja bahan bakunya tetap cangkang kerang.

Wednesday, January 4, 2012

Mereguk Segarnya Laba Susu Kedelai

Seperti halnya susu sapi, produk susu kacang kedelai juga banyak penggemarnya Selain memiliki rasa yang enak, jumlah kandungan vitamin dan nutrisi susu kedelai setara susu sapi. Berbekal pengetahuan mengenai kelebihan susu kedelai itulah, Singgih Prayogo pada tahun 2007 lalu mendirikan Warung Susu Dele Tidar di Suarabaya, Jawa Timur. Kini setelah empat tahun berjalan, usahanya mengembang. Ia sudah memiliki lima cabang di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Melihat ada celah pasar, sejak akhir tahun lalu, Singgih menawarkan waralaba agar usahanya semakin mekar. Apalagi, "Sejak tahun 2010, merek Dele Tidar telah memiliki hak paten, ujarnya. Produk utama yang ditawarkan Dele Tidar ialah susu kedelai dengan tujuh variasi rasa. Mulai dari rasa tawar, cokelat, moka, hingga aroma jahe. Singgih juga menawarkan produk turunan susu kedelai seperti makanan ringan. "Misalnya roti atau biskuit yang dibahan-bahannya juga mengandung kacang kedelai," imbuhnya

Singgih mengemas dan menjual susu kedelai dalam kemasan botol 300 mililiter (ml) dan 600 ml. Katanya, hampir seluruh gerai miliknya mampu menjual 60 botol susu kedelai dengan omzet sekitar Rp 1 juta per hari.

Tiga paket investasi

Bagi calon mitra yang tertarik dengan usaha susu berba-han baku kacang kedelai ini, Warung Susu Dele Tidar me nawarkan tiga paket invesasi. Masing-masing sebesar Rp 8 juta-Rp 12 juta, Rp 30 juta, dan yang terbesar Rp 80 juta. "Besaran investasi tersebut termasuk jasa pelatihan dan promosi, tapi di luar biaya sewa gedung," imbuhnya

Singgih bilang, paket investasi senilai Rp 8 juta hingga Rp 12 juta memiliki sasaran pasar pada kelas menengah ke bawah. Fasilitas yang diberikan berupa gerobak, peralatan penyajian, serta bahan baku susu sebanyak 50 liter. Khusus paket investasi Rp 12 juta akan diberikan peralatan tambahan berupa peralatan dapur dan alat memasak.

Paket Rp 30 juta dan Rp 80 juta khusus menyasar investor yang ingin memasarkan untuk target pasar kelas menengah ke atas. "Mereka akan memperoleh meja, dan gerai akan didesain layaknya kafe-kafe," ujarnya.

Dia bilang, untuk paket investasi Rp 80 juta akan diberikan pula bahan baku susu kedelai 200 liter. Pada paket ini, hitungan Singgih, proyeksi omzet yang bisa diperoleh bisa berkisar Rp 2 juta per hari dengan balik modal 1 tahun-1,5 tahun.

Singgih yakin, tiga paket waralaba Warung Susu Dele Tidar tersebut bakal memperoleh banyak mitra. Ia mengaku, sejauh ini mengaku sudah mengantongi enam mitra potensial. "Pangsa pasar kami berbeda dengan pedagang asongan dan minimarket," ungkap dia.

Khoerussalim Ikhsan, konsultan wirausaha menilai, tawaran waralaba dari Warung Dele Tidar cukup menarik. Namun, calon mitra yang ber-minat bergabung harus pintar-pintar memilih lokasi strategis. "Lebih baik di pusat perbelanjaan yang ramai atau ruko pinggir jalan," kata dia menyarankan.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh franchisor ialah bagaimana menjaga kualitassusu kedelai tersebut. "Kualitas pengemasan harus bagus agar susu tetap segar," imbuh Ikhsan. Warung Susu Dele Tidar Jl Tidar No 151 Surabaya 60252 Tip (031) 534-0556

Manis Bisnis Crepesnya, Laris Juga Wajannya

Makanan ringan berupa kue dadar renyah berisi buah-buahan atawa crepes, membawa peruntungan bagi pungusaha wajan crepes. Permintaan wajan crepes cukup besar, dari ibu rumah tangga hingga restoran besar. Ada yang mengimpor wajan dari Perancis dan Malaysia lalu dijual di sini. Tapi ada pula yang memproduksi wajan crepes sendiri lantaran permintaannya terus meningkat.

Siapa tak tahu crepes? Cemilan yang berasal dari Eropa ini, sekarang juga populer di Indonesia. Makanya, banyak penjual crepes betebaran, mulai dari kelas pinggiran jalan hingga di pusat perbelanjaan. Seiring bisnis crepes yang semakin manis, para penjual wajan crepes pun ikutan kecipratan lezatnya bisnis tersebut. Penjualan wajan crepes terdongkrak.

Ada yang memproduksi sendiri wajan crepes, ada pula yang memilih mengimpor wajan crepes untuk dijual lagi di sini. Salah satu importir wajan crepes adalah Wisnu Primu-lyono. Ia bilang, pasar penjualan loyang crepes terbuka lebar seiring dengan terus meningkatnya penjual makanan ringan itu. Pelanggannya rata-rata pengusaha waralaba bisnis crepes,restoran, maupun ibu rumah tangga Dia mengaku hanya menjual loyang crepes impor buatan Perancis dan Malaysia "Dalam sebulan saya bisa menjual wajan crepes 25 urn. kata dia

Wisnu telah memasarkan sejak tahun 2007. Ada dua macam wajan yang dijual, pertama adalah wajan crepes elektrik asal Perancis yang menggunakan aliran listrik, dan wajan aluminium dari Malaysia

Harga wajan ini antara Rp 3,25 juta sampai dengan Rp 4,75 juta. Bedanya adalah wajan crepes dari Perancis lebih irit dalam hal penggunaan energi listrik. Namun restoran kebanyakan membeli wajan crepes asal Malaysia "Pembeli wajan itu biasanya datang dari luar pulau Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera dan juga Sulawesi.-Saya bisa mengan-tongi omzet Rp 81 juta per bulan," kata Wisnu.

Beda dengan Wisnu, Andi Subiyakto, pemilik Usaha Daerah Cahaya Seganten di Cirebon, memproduksi sendiri wajan crepes. Ia membuat loyang khusus crepes sejak tahun 2009. Bahan baku wajan hasil karyanya menggunakan bahan lokal. Andi menyediakan berbagai tipe ukuran wajan crepes, mulai dari diametei 261 entimeter (cm), 28 cm, 30 cm, 32 cm, dengan ketebalan 1,3 cm. "Yang biasaharganya Rp 320.00 perunit," kata pria 32 tahun itu.

Pembeli produknya berasal dari pengusaha waralaba bisnis crepes dan ibu rumah tangga Dalam sebulan dia bisa membuat pesanan hingga 50 unit. "Omzet saya Rp 16 juta per bulan." katanya.

Dia bilang, tidak mudah membuat wajan jenis ini. Untuk menghasilkan wajan berbentuk bulat sempurna serta pipih tanpa cacat gelombang, memerlukan proses bubut yang lama Perlu ketekunan dan kecermatan dalam proses pembuatan wajan. "Wajan crepes yang baik adalah jika didempetkan tidak ada celah tersisa Supaya bisa menghasilkan crepes yang sempurna," tandasnya

Jadi wajar kalau harga wajan crepes memang cukup mahal. Anda berminat?

Monday, January 2, 2012

Pesona Batik Gentongan Madura

Batik gentongan asal Kota Madura boleh dibilang kalah pamor dengan batik Pekalongan, apalagi batik Yogyakarta. Namun, siapa sangka batik ini sudah lama tersohor hingga mancanegara karena keunikannya. Perajin batik gentongan pun tidak sembarang bisa ditemukan. Pembuatan batik ini hanya ada di Pulau Madura Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Bangkalan, yang langsung terhubung dengan Surabaya oleh Jembatan Suramadu.

Siti Maimonah merupakan salah satu perajin batik gentongan. Ditemui SH beberapa waktu lalu di Jakarta pada acara pameran UKM Indrocaft, dia banyak bercerita mengenai pembuatan batiknya yang memakan waktu sampai setahun untuk membuat satu batik gentongan yang indah.
Ciri khas batik pesisir dengan warna-warna berani dan corak bebas begitu kentara. Hingga sekarang produksi batik yang masih menganut cara-cara tradisional itu masih berlanjut. Kebiasaan masyarakat di Tanjung Bumi dalam membatik ternyata cukup unik.

Proses pembuatan batik meliputi beberapa tahap. Pertama kain mori putih yang hendak digunakan akan direndam dalam air bercampur minyak dempel dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku. Proses perendaman ini dilakukan selama satu hingga dua minggu. Setelah direndam kain kemudian dicuci, ini untuk menghilangkan zat yang melekat pada kain bawaan dari pabrik. Setelah kering, kain tersebut akan dikanji. Bahan yang digunakan untuk pengkanjian ini sagu dari ubi kayu.

Setelah selesai tahap ini, kain mulai digambar. Berturut-turut tahap berikutnya adalah di-isen, di-kurik, dan ditembok. Fase ini merupakan pemasangan malam pada kain sebelum kemudian diwarnai. Proses selanjutnya adalah pewarnaan, yang bisa berlangsung hingga dua kali.

Setelah pewarnaan, kain batik tersebut di-lorot. Proses ini merupakan usaha untuk menghilangkan malam yang melekat pada kain, yaitu dengan memasukan kain ke dalam air mendidih. Terakhir, adalah menjemur di tengah terik sinar matahari. Tak heran melihat proses yang begitu memakan waktu, batik gentongan asli buatan tangan Maimunah ini dihargai Rp 1–6 juta per potongnya. “Batik ini kering, tetapi kelihatan basah kalau yang benar, ini disikat siram lagi masuk air sampai enam bulan. Batik ini paling laris,” katanya.

Dalam mengelola usaha kecil menengah yang dia beri nama Pesona Batik Madura, Maimonah mengaku dibantu sekitar 245 perajin dan 24 pegawai. Tak ayal, produksi batiknya kini sudah merambah seluruh Tanah Air, bahkan sudah masuk pasar Jepang. Di Jakarta sendiri batik gentongan bisa ditemui di Jalan Pondok Pinang Jakarta Selatan dan Seibu Department Store Grand Indonesia.

Selain itu, batik ini juga menjadi primadona kalangan pejabat. Tak tanggung-tanggung, kata dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sering memakai batik buatannya dalam berbagai kegiatan. “Bapak Presiden sudah lama berlangganan. Pak Presiden mengenakan batik tersebut saat meresmikan Jembatan Suramadu dua tahun lalu. Pejabat-pejabat lainnya juga ikut memakainya. Bagi saya yang terpenting melestarikan batik Madura,” ujarnya dengan bangga.
Maimonah mengatakan, perajin batik gentongan di kota asalnya saat ini sudah mulai berkurang jumlahnya. Untuk itu, dia membuat sekolah batik gentongan bagi anak-anak dari usia sekolah dasar sampai sekolah menengah. “Saya juga mengajar kursus batik. Alhamdulillah sekarang sudah ada 30 murid,” tuturnya.

Maimonah ingin melestarikan batik gentongan karena batik ini lain dari yang lain. Batik gentongan menurutnya mempunyai nilai lebih dalam tradisi batik Madura. Disebut gentongan karena pada proses pewarnaannya direndam dalam wadah gentong selama dua bulan.

Kabarnya setelah direndam, lembaran batik tersebut kemudian disikat. Selain untuk membersihkan malam yang tersisa, juga agar warna lebih awet melekat pada kain. Tak heran bila batik ini bisa berumur hingga puluhan tahun lebih, dengan warna yang awet.

“Sek Malaya kain bermotif kuno berusia 200 tahun ini merupakan salah satu koleksi kami. Sek Malaya yang berarti Laut Bergelora dalam bahasa Madura adalah imajinasi perempuan perajin batik, yang sedang menanti kepulangan suaminya dari melaut. Kain berusia 200 tahun ini memiliki karakter khas warna merah dan biru,” katanya.

Anyaman Bambu, Masih Bertahan, Walau Mulai Tersisih

Kendati zaman berubah, produk kerajinan anyaman bambu masih menjadi primadona masyarakat. Salah satu sentranya yang sampai sekarang masih bertahan ada di Majalengka, Jawa Barat. Walau tak sejaya dulu, kerajinan bambu masih menjadi tambatan hidup warga di daerah itu.

Sebelum berbagai produk rumah tangga dari bahan alumunium atau plastik masuk ke pasaran, dulu, ibu-ibu rumah tangga membekali perabot rumah tangganya dengan berbagai produk anyaman bambu. Biasanya kerajinan bambu itu biasanya untuk mengisi perlengkapan dapur dan peralatan rumah tangga lainnya

Namun seiring usia zaman, kerajinan anyaman dari bambu perlahan tersisihkan. Kemajuan teknologi membuat produk dari anyaman bambu kalah dengan produk-produk pengganti yang lebih tahan lama. Toh, usaha kerajinan yang terbilang rumit itu tetap hidup. Salah satu sentranya ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat Usaha tersebut menjadi sumber penghasilan sampingan masyarakat di beberapa kecamatan di Majalengka seperti di Sukahaji, Rajaga-luh, Palasah, Leuwimunding, dan Sindangwangi.

Salah satu desa yang sebagian besar warganya menggantungkan rezeki darikerajinan anyaman bambu ada di Salagedang, Kecamatan Sukahaji. Usaha anyaman bambu sampai saat ini masih menjadi lumbung pendapatan penduduk setempat

Desa tersebut bisa ditempuh selama 30 menit melalui jalan darat dari pusat kota Majalengka menuju arah Cirebon. Tidak terlalu sulit untuk menemukan sentra kerajinan tersebut, karena kita bisa melihat beberapa kios yang menjajakan kerajinan bambu beraneka bentuk. Kios tersebut sebagai penanda bahwa masyarakat disekitar merupakan perajin anyaman bambu. "Deretan kios di pinggiran jalan itu merupakan tempat berjualan penduduk sekitar," kata Jamil, salah satu perajin anyaman bambu.

Masuk ke dalam desa lagi, kita bisa menemukan aktivitas sesungguhnya para perajin anyaman bambu tersebut. Tumpukan produk anyaman yang belum selesai banyak teronggok di sam-ping-samping rumah penduduk. Ada juga onggokan bilah-bilah bambu yang baru saja disiapkan untukmembuat anyaman. Bambu yang baru disayat itu diletakkan di tempat yang terlindung dari panas dan hujan supaya tidak cepat rusak ketika ingin dibuat produk anyaman.

Jamil, perajin di desa Salagedang mengungkapkan, hampir seluruh warga di desanya berprofesi sebagai perajin anyaman bambu. Dia sendiri telah menekuni usaha ini sejak 10 tahun lalu mengikuti jejak sang orang-tua yang juga perajin anyaman bambu.

Kebanyakan profesi ini ditekuni kaum pria. Tapi para ibu rumahtangga juga ikut turun tangan membuat berbagai anyaman, mulai dari kipas tangan, bakul nasi, kukusan, hingga topi tani. Menurut Jamil, usaha ini bagi para ibu rumah tangga hanya sampingan saja pengisi waktu luang saja selain bertani dan mengurus anak. "Biasanya suami akan menularkan kemampuannya kepada istri untuk meng-anyam," ujar Jamil yang berusia 42 tahun itu.

Penduduk menjual produk anyaman itu dengan harga bervariasi. Misalnya kipastangan Rp 2.000 untuk ukuran kecil, bakul Rp 10.000 untuk ukuran besar. Namun menurut Jamil, produk yang paling banyak dibuat penduduk sekitar adalah boboko atau bakul kecil yang seharga Rp 7.000 per buahnya

Sebulan ia bisa menjual dua kodi produk anyamannya itu dengan harga Rp 150.000 per kodi. "Saya lebih suka membuat bakul yang lebih kecil karena lebih banyak peminatnya," ujar Jamil. Semua perajin di desa tersebut akan menjual produknya kepada seorang pengepul yang mempunyai kios di jalan utama kabupaten. Pengepul ini akan membeli produk anyaman dengan sistem grosir dan menjualnya kembali langsung di kios tersebut

Nuroh, pemilik kios kerajinan bambu bilang, kerajinan bambu itu dijual kepada pelancong atau ke pedagang lain yang berasal dari Majalengka dan luar kota Selain sekitar Majalengka, pembeli kerajinan mereka juga berasal dari Jakarta "Omzet saya dalam sebulan bisa mencapai Rp 30 juta," ujarnya senang.

Pemerintah Akan Sulap Waserba Miliki Koperasi Menjadi UKM Mart

Tak usah heran bila tahun ini banyak warung serba ada milik koperasi yang berubah wajah menjadi modern. Pemerintah berencana mengubah tampilan 600 waserba bak toko ritel modern. Tak lagi jadi waserba, namanya pun berubah menjadi UKM Mart.

Agar bisa bersaing dengan jaringan toko ritel modem, pemerintah akan menyulap warung serba ada (waserba) milik koperasi di berbagai daerah jadi toko ritel modern berbendera UKM Mart. Dalam tahap awal, pemerintah baru menetapkan 24 waserba milik koperasi yangakan berubah wajah menjadi UKM Mart. Khusus untuk menyulap 24 waserba itu, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp 1,56 miliar. Alhasil, masing-masing koperasi yang memiliki waserba akan mendapatkan dana bantuan sebanyak Rp 65 juta.

Tahun ini, pemerintah sejatinya menargetkan sekitar 600 waserba milik koperasi yang berganti baju menjadi UKM Mart. Hitung-hitungan kasarnya, anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 39 miliar.

Namun, sumber pendanaan untuk membuat 600 UKM Mart itu masih harus menunggu APBN Perubahan 2012 nanti. "Kalau bantuan untuk 24 UKM Mart, April sn.lali selesai disalurkan," kata Neddy Rafinaldy Halim, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM.

Dia bilang, revitalisasi waserba menjadi UKM Mart lantaran pengelolaan waserba oleh koperasi di Indonesia masih mengguna-kan sistem konvensional. "Konsep waserba omzetnya kecil, sebab hanya mengandalkan anggota untuk belanja," katanya

Neddy menjelaskan, koperasi yang memperoleh bantuan hanya unit yang memenuhi beberapa persyaratan. Antara lain memiliki waserba konvensional dan lokasinya strategis untuk berjualan.

Setelah dua syarat itu terpenuhi, ada tini dari Kemkop dan UKM yang akan memberikan arahan untuk melakukan branding dengan dilengkapi dinding kaca, sistem pelayanan komputerisasi, dan penamaan UKM Mart yangbersanding bersama nama unit koperasi masing-masing.

Selain branding, pengelola UKM Mart akan mendapatkan pelatihan berupa manajemen serta tata cara sirkulasi barang, mulai dari pemberian diskon khusus, jaminan stok produk di dalam toko, hingga penataan ruang dan pelayanan kepada konsumen.

Meskipun jumlah koperasi penerima UKM Mart sangat kecil dibandingkan jumlah koperasi di Indonesia yang mencapai 186.907 unit, namun Neddy yakin, perubahan ini akan membuat koperasi menjadi lebih profesional dan beromzet besar. Menurutnya, sejauh ini telah terdapat 1.000 unit koperasi yang mampu mendirikan waserba secara swadaya. Di mana, setiap tahunnya jumlah tersebut selalu meningkat.

Rektor Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) Burhanuddin Abdullah mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah untuk meningkatkan kualitas koperasi melalui program UKM Mart. "Hal itu terlepas dari besaran dana yang diberikan pemerintah kepada pelaku koperasi," kata mantan Gubernur Bank Indonesia ini.

Menurut dia, modal bukan kendala utama koperasi saat ini melainkan pada aspek minimnya keyakinan pelakuusaha bahwa koperasi merupakan solusi kesejahteraan bersama Selain itu, kemampuan manajerial dalam mengelola koperasi juga dinilai masih lemah.

Agar revitalisasi dan pemberdayaan koperasi melalui UKM Mart dapat berjalan maksimal, Burhanuddin berharap, pihak swasta dalam hal ini industri besar harus dilibatkan. Keterlibatan perusahaan tersebut dapat berupa pelatihan manajemen dan pengelolaan usaha. "Dapat juga berupa kerjasama dalam proses produksi," jelasnya

Ketua Umum Forum Kemitraan Pangan UKM Indonesia Deden Arfianto menilai, program UKM Mart belum mampu menjawab persoalan perkoperasian di Indonesia Problem yang dihadapi koperasi, sebel i il nya lebih pada minimnya dana bantuan. Selain itu juga segmen pasar koperasi yang masih terbatas lantaran minat masyarakat terhadap koperasi yang masih rendah.