This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, August 10, 2011

Mencetak Untung Usaha Cetak Digital


Bisnis cetak digital atau digital printing dekat dengan dunia anak muda. Berbagai produk seperti cetak gambar kaos, mug, pin, kartu identitas atau ID card, dan kartu nama tak hanya menjanjikan keuntungan finansial tapi juga kepuasan dari sisi kreativitas.

Real Imagink Digital Printing

Berdiri tahun 2007, Real Imagink Digital Printing langsung menawarkan kemitraan setahun kemudian. Beralamat di Jalan Jati No 10, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Telp. 05114778170, Muhammad Hadi, pemilik Real Imagink yakin kalau bisnis yang ditawarkan masih menjanjikan.

Walau begitu, seringkali mitra bisnis terbentur pada kreativitas dalam mendesain produk. Padahal, kreativitas dan pengetahuan sangat penting dalam bisnis ini. Makanya, Hadi menekankan adalah penguasaan ilmu. "Soal konsep usaha biar mitra usaha yang jalan sendiri," kata Hadi.

Makanya, setelah mitra mengerti tentang usaha dan tahu bagaimana cara mengembangkannya. Hadi akan memberikan kesempatan bagi untuk mengeksplorasi kemampuannya. Bahkan, bagi limra yang sudah mencapai tahap itu. Hadi tidak akan memaksa mitra menggunakan nama Real Imagink lagi.

Anda yang tertarik dengan bisnis ini. Hadi menawarkan paket investasi fleksibel. Untuk paket lengkap dengan investasi Rp 15 juta. Nilai investasi itu bisa berubah, tergantung kebutuhan calon mitra. Jika calon mitra telah memiliki peralatan seperti printer dan komputer, nilai investasi bisa ditekan.

Adapun paket satuan, investasinya Rp 3 juta hingga Rp 7 juta. Alat seperti sablon, digital printing, kursus digital, digital mug, dan digital pin akan disediakan Hadi. "Paket satuan paling banyak diminati," katanya

Buktinya, saat ini Hadi sudah melayani 100 paket satuan dan 2 paket lengkap di Balikpapan dan Pekanbaru. Dari 100 mitra tersebut, 50% diantaranya mengambil kursus digital, baik pelatihan langsung ataupun tutorial. Hal ini, menjadi tanda banyak orang ingin belajar dan menjajal usaha cetak digital.

Karena paket digital printing paling laku, untuk sementara. Hadi menghentikan penjualan paket satuan lain. Selain itu, diajuga mulai menawarkan paket lengkap dengan sistem proteksi 1 kota, 1 mitra. Hadi mentargetkan mitra akan memperoleh omzet hingga Rp 15 juta tiap bulan, sehingga balik modal bisa tercapai paling lama 6 bulan.

Narsis Digital Printing

Seperti juga Real Imagink, Narsis Digital Printing yang berdiri sejak 2009 dan menawarkan kemitraan setahun kemudian. Dimiliki Alween Ong, Narsis beralamat di Jalan Merak Jingga No. 52, Medan, Sumatera Utara, telp. 0614510356.

"Kemitraan menganut prinsip fleksibilitas," katanya. Dengan paket investasi dari Rp 17 juta hingga Rp 38 juta, saat ini Narsis Digital Printing memiliki 28 cabang, di Aceh dan Sumatera Utara.

Narsis juga menawarkan paket satuan yang terdiri dari paket facemug Rp 17 juta, Master Pin Rp 22 juta. Raja Distro Rp 26 juta dan paket komplit Rp 38 juta. "Nilainya bukan harga mati, sesuai kebutuhan dan peralatan yang dimiliki mitra," jelasnya.

Alween mentargetkan balik modal selama 3 bulan hingga 11 bulan dengan target omzet Rp 800.000 per hari. Sebab nilai utama kemitraan lebih kepada sisi pelatihan menjalankan usaha secara profesional dan menguntungkan.

Batik Jago Kandang


 Kegundahan. Begitulah perasaan yang acap kali diidap para perajin batik di tengah ingar-bingar pasar batik. Begitu juga saat berlangsung pameran, festival, bazar, atau pasar rakyat, di mana perajin batik ikut terlibat guna mempromosikan produk batiknya.

Di balik setiap pameran batik, terutama yang berlangsung di Jakarta, perajin batik biasanya diajak untuk memasarkan produknya. Pameran bisa berlangsung lima sampai 10 kali dalam setahun. Tiap tahun, nilai transaksi dari pameran dilaporkan melonjak. Kadang nilainya "direkayasa" wajib melonjak. Maklum, ini untuk menunjukkan kesuksesan penyelenggara.

Padahal, kenaikan nilai transaksi yang tak sesuai realitas itu justru mencekik perajin batik. Biaya sewa setiap pameran dibuat mahal. Bisa mencapai Rp 11 juta hingga Rp 15 juta untuk sekadar sewa tempat selama empat hari. Bahkan, biaya sewanya lebih mahal lagi, tergantung dari strategisnya lokasi.

Andaikan dikabarkan pamerannya gratis karena difasilitasi anggaran pemerintah daerah, itu pun sesungguhnya hanya menjadi "permainan" belaka. Semuanya hanya untuk menghabiskan anggaran tanpa ada manfaat langsung kepada perajin batik karena berlangsung di dalam negeri. Padahal, dana tadi sebenarnya bisa digunakan untuk membuat pameran yang lebih bergengsi bagi produk batik, semisal dilakukan di luar negeri.
"Ironis sekali. Bertahun-tahun, kita ini hanya dijadikan orang-orang jago kandang," kata Dudung, perajin batik pekalongan, Jawa Tengah, di sela-sela pameran batik di Kementerian Perindustrian, Kamis (4/8/2011).
Penghargaan batik Indonesia sebagai warisan dunia bukan benda, sebagaimana disematkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada Oktober 2009, seharusnya diikuti dengan upaya besar memperkenalkan batik ke seluruh dunia. Dengan demikian, batik sungguh diakui sebuah warisan budaya milik Indonesia.

Dan ini merupakan sebuah kerinduan besar perajin batik seperti menempatkan produk batik di Harrods Department Store, pusat perbelanjaan terkemuka di London, Inggris. Kalau pemerintah ingin tidak menjadikan perajin jago kandang, sudah saatnya seluruh anggaran pameran di dalam negeri diakumulasikan untuk pameran besar semisal di Eropa.

Ajaklah 500 perajin batik. Fasilitasi mereka yang mengerti batik. Bukan sekadar pedagang batik, apalagi "perajin" yang dekat dengan pejabat pemerintah. Begitulah kerinduan perajin batik. Bukan terus-menerus dijadikan "jago kandang".

Menteri Perindustrian MS Hidayat tetap mengingatkan, pasar domestik tentu juga harus dijaga. Jangan kecolongan produk batik asing. Tetapi go international juga harus, paling tidak, dalam dua tahun ke depan ini.        

Biarpun kertas bekas, untungnya tetap berkelas


Isu pemanasan global dan semakin sadarnya masyarakat akan produk ramah lingkungan membuat kerajinan daur ulang kertas banyak diminati. Tak hanya pernak-pernik seperti gantungan kunci, kartu nama, magnet kulkas, ataupun pigura, bubur kertas bekas juga bisa dijadikan panel hiasan dinding dengan harga jual tinggi.

Limbah kertas tak hanya bisa digunakan sebagai bungkus makanan. Koran bekas, majalah bekas, ataupun limbah kertas yang lain bisa dibuat berbagai kerajinan dan hiasan dinding bernilai ekonomi tinggi.

Salah seorang perajin kertas bekas adalah Yunita Adistira di Bekasi, Jawa Barat. Menggeluti usaha kerajinan kertas bekas sejak tahun 2007, Yunita mengaku usahanya berawal dari kegiatan iseng mengisi waktu luang. Apalagi saat itu, dia banyak sekali menemukan kertas-kertas terbuang yang akhirnya dibakar sia-sia.

Ia pun akhirnya membuat berbagai pernak-pernik kerajinan dari bubur kertas, seperti gantungan kunci, tempat kartu nama, gantungan handphone, dan magnet kulkas.

Dengan harga jual Rp 5.000 - Rp 25.000 per produk, Yunita saat ini mengaku mampu mengantongi omzet Rp 11 juta hingga Rp 15 juta per bulan. "Saat ini saya juga membuat patung, wayang, dan boneka salju dari bubur kertas," katanya.

Pemilik CV Bintang Emas ini membuat patung dan boneka beragam ukuran tergantung pesanan. Dengan harga bervariasi mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 200.000, mahal murahnya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Menurut Yunita, patung atau boneka dengan tinggi 10 cm - 20 cm paling banyak dipesan. "Margin labanya sekitar 40%," ujarnya.

Tak hanya menyasar individu, produk daur ulang kertas milik Yunita juga banyak diminati wedding organizer dan perusahaan yang peduli dengan alam. Kepedulian mereka biasanya ditunjukkan dengan membeli produk dari bahan yang ramah lingkungan. Konsumen produk daur ulang kertas bekas tidak hanya di Pulau Jawa, tapi sudah merambah Kalimantan dan Sumatera. Khusus untuk Sumatera, 40% permintaan datang dari Pekanbaru.

"Di Pekanbaru tren produk daur ulang sedang meningkat," katanya. Menurut Yunita, masyarakat tertarik untuk membeli kerajinan daur ulang kertas karena unik dan menarik.

Tak hanya produk Yunita saja yang diminati masyarakat. Sebab, produk hiasan dari bubur kertas bekas milik Sumarsono juga sedang naik daun. Lelaki asal Cilebut, Jawa Barat ini memanfaatkan bahan bubur kertas untuk dijadikan panel atau hiasan dinding.

"Kerajinan kertas bekas prospeknya bagus karena didukung isu pemanasan global," katanya. Ia mengaku telah membuat berbagai kerajinan berbahan baku kertas bekas sebelum ada isu pemanasan global.

Dengan semakin meningkatnya kepedulian lingkungan, maka nilai penjualan produk daur ulang meningkat. Saat ini, untuk setiap hiasan dinding berukuran 45 cm x 45 cm dijual dengan harga Rp 150.000. Dengan harga tersebut, Sumarsono mengaku mampu mengantongi omzet per bulan mencapai Rp 60 juta.

Omzet yang didapat oleh Sumarsono termasuk besar, sebab harga kertas bekas yang dibutuhkan untuk membuat satu produk tidak lebih dari Rp 20.000. "Keuntungan saya mencapai 50% dari omzet," kata pemilik usaha Laxsvin Art ini.

Omzet itu selain didapatkan dari penjualan hiasan dinding berukuran sedang 45 cm x 45 cm, juga didapatkan dari penjualan hiasan ukuran 85 cm x 120 cm dengan harga Rp 1,6 juta. Hiasan dinding ukuran 45 cm x 45 cm lebih diminati karena lebih simple dan mudah dibawa kemana-mana. "Sebanyak 90% pembeli saya datang dari konsumen rumah tangga," katanya.

Walau saat ini baru melayani pasar wilayah Jabodetabek, ke depan Sumarsono berharap mampu menjual hasil kerajinannya ke pasar luar negeri. Tak hanya itu, ia juga bertekad untuk menularkan keterampilannya kepada orang lain. Oleh sebab itu selain sibuk dengan usahanya, Sumarsono juga aktif memberikan bimbingan bagi masyarakat yang mau belajar membuat panel kertas bubur.

Lain dengan Yunita dan Sumarsono, Adang Ganda Permana, pemilik Paper Explorer di Jakarta mengolah kertas bekas menjadi paper bag, kartu nama, dan pigura. Memulai usaha sejak tahun 1999, Adang membutuhkan banyak bubur kertas untuk kemudian dijadikan produk kerajinan jadi.

Dalam sebulan kapasitas produksi bubur kertas Adang mencapai 10 ton. "Dari bubur kertas akan dicetak sesuai pesanan," ujarnya. Jumlah bubur kertas itu mampu memenuhi pesanan paper bag mencapai 3.000 unit, dengan harga satuan sekitar Rp 5.000.

Adang mengaku, hanya dari penjualan paper bag, ia mampu memperoleh omzet per bulan mencapai Rp 15 juta. Nilai omzetnya berlipat jika ditambah dengan penjualan kartu nama dan pigura dari bahan baku bubur kertas bekas.

Menurutnya, pembuatan produk kerajinan dari bubur kertas bekas tidaklah sulit. Untuk yang sudah sering membuat, bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu sehari. Yang terpenting, menurut Adang, adalah proses perendaman kertas. Proses perendaman penting untuk mendapatkan bubur kertas yang memiliki elastisitas baik sehingga mudah dibentuk.

Proses pembuatan yang cukup mudah juga dikemukakan oleh Yunita. Ia mengaku mendapat ilmu kerajinan bubur kertas bekas secara otodidak. "Ternyata tidak begitu sulit mengolahnya," katanya.

Bahan baku utama yang dibutuhkan adalah kertas bekas, air dan lem putih atau lem kayu. Selain itu juga dibutuhkan cat poster dan vernis, blender, kain untuk menyaring, dan cetakan.

Pertama, kertas bekas disobek-sobek dan direndam dalam air selama satu hari sampai tiga hari. Kedua, setelah proses perendaman selesai, kertas diblender sampai halus. Ketiga, kertas blender disaring dengan kain. Penyaringan dilakukan untuk membuang air, sehingga diperlukan pemerasan sampai agak kering. Keempat, ampas atau bubur kertas tadi kemudian dicampur, diaduk rata dengan lem putih. Kelima, adonan siap dicetak sesuai dengan keinginan.
"Setelah dicetak lalu dijemur dan diberi cat poster dan vernis agar lebih kuat," katanya. Untuk menghadirkan tekstur menarik, bisa dicampurkan pewarna dan serat dari pelepah pisang atau jahe.    

Menyulap kertas koran menjadi suvenir berkelas

Koran bekas sering kali dibiarkan menumpuk begitu saja di sudut rumah atau bahkan menjadi sampah. Paling-paling juga koran bekas berakhir di tukang loak dan hasilnya sebagai penambah uang belanja dapur. Namun, di tangan orang kreatif, kertas koran bekas dapat disulap menjadi berbagai kerajinan menarik dengan harga jual yang tinggi. Tak percaya?

Anda punya banyak koran bekas di rumah? Barangkali Anda bisa mengelola koran bekas itu seperti Yunnash. Pria asal Yogyakarta ini berhasil mengelola sampah dari kertas koran menjadi produk yang bermanfaat.

Di tahun 2009, Yunnash gemas melihat tumpukan koran bekas yang terus bertambah di rumahnya. Menjual ke tukang loak memang bisa menjadi pilihan yang gampang. Namun, Yunnash tak melakukan itu lantaran terbersit ide untuk memanfaatkan limbah koran. "Ide yang terlintas adalah membuat tas," ujarnya.

Banyaknya pujian atas tas bikinannya membuncahkan niat Yunnash untuk mengomersialkan tas dari limbah koran. Tentu saja, karena akan dijual, Yunnash harus meningkatkan kualitas tas hasil karyanya itu. Ia pun lantas memutar otak agar bisa menghasilkan tas berbahan koran bekas yang kuat dan tahan air.

Lewat berbagai eksperimen, Yunnash akhirnya dapat membuat tas koran yang kuat sekaligus tahan air. Tidak hanya aneka model tas, Yunnash juga mampu menghasilkan sandal, kotak tisu hingga tempat pensil yang bahan bakunya 100% dari kertas koran.

Tata cara membikin tas koran yang kuat, tahan air dan awet sejatinya tak ribet. Pertama,memilih kertas koran bekas dengan kualitas baik. Ini bisa dilihat tinta yang tak mudah luntur di tangan. Yunnash memakai kertas koran berwarna untuk menghasilkan tas.

Setelah mendapatkan kertas koran yang ideal, tahap kedua adalah memotong-motong koran bekas itu. Idealnya, selembar kertas koran dipotong maksimal menjadi enam. Langkah ketiga adalah menggulung kertas-kertas koran yang telah dipotong itu. Ada baiknya, saat menggulung kertas jangan tebal-tebal agar hasil gulungan kertas koran tersebut mudah dianyam.

Setelah selesai digulung menjadi lintingan, proses selanjutnya dipipihkan lalu dicat sesuai dengan keinginan. Yunnash menggunakan cat nontoxic yang transparan agar warna kertas koran yang berwarna itu menonjol. "Setelah itu, baru dijahit atau dianyam mengikuti pola," papar Yunnash.

Kerajinan lain yang bisa tercipta dari koran bekas sangat banyak. Burhan Gatot misalnya. Pemilik Dipik Cratt ini mampu memproduksi 30 jenis suvenir dari limbah koran. Antara lain asbak, tempat tisu, hingga wayang. Dari berbagai hasil kreasinya itu, produk andalan Burhan adalah wayang.

Ada dua jenis wayang yang dibuat Burhan. Paket pertama adalah tokoh wayang seperti Bima, Arjuna, Gatot Kaca, dan Srikandi. Paket kedua adalah tokoh wayang yang tengah bercerita, misalnya cerita seri tentang wayang Petruk Dadi Ratu.

Proses pembuatan wayang lebih rumit ketimbang kertas karena membutuhkan keahlian khusus. "Komposisi harus pas antara tangan, kaki dan badan," katanya. Untuk mendapatkan badan, kaki dan tangan kertas koran terlebih dahulu harus dilinting, kemudian baru dilem, lantas wayang diwarnai dengan cat.

Lantaran berbahan baku koran, kedua pengrajin koran ini harus berbelanja koran bekas saban hari. Yunnash tak bisa mengandalkan pemberian limbah koran dari rumah sendiri lantaran tak cukup karena ia membutuhkan 50 kg per bulan.

Burhan memilih donasi limbah koran dari tetangga dan kawan-kawanya. Saat kekurangan, ia membeli koran bekas dari tukang loak seharga Rp 2.000 per kilo. Untuk membikin wayang, Burhan cukup irit bahan, yakni hanya memerlukan dua kertas koran saja.

Saat ini, kerajinan dari kertas koran memang banyak diminati. Bahkan Yunnas harus menambah kapasitas produksinya untuk memenuhi pesanan. Setiap bulan, ia mampu menjual ratusan jenis kerajinan kertas koran.

Ia misalnya, sanggup menjual 100 unit tas sebulan seharga antara Rp 45.000 sampai Rp 75.000 per unit. Dia juga menjual sekitar 300 pasang sandal seharga Rp 20.000 per pasang, sementara kotak tisu seharga Rp 25.000 laku sebanyak 30 buah. "Tren go green membuat barang daur ulang banyak permintaan," ujar Yunnash yang produknya terjual sampai Padang, Medan, Balikpapan dan Makasar.

Dari wayang koran yang dijual mulai Rp 15.000 untuk ukuran 10X10 dengan tinggi 20 cm dan Rp 200.000 untuk ukuran lebih besar yakni 25X15 cm dan tinggi 30 cm, Burhan bisa menjual 500 hingga 1.000 wayang. Omzet bulannya berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta saban bulan.

Meski berasal dari koran bekas, baik Yunnash maupun Burhan bilang kalau hasil kerajinan mereka terbilang awet asalkan disimpan di tempat kering.

Tuesday, August 9, 2011

Hasil Kerajinan Rotan Nusantara di Ekspor Lewat Bali

Hasil kerajinan rotan produksi perajin nusantara yang banyak dipajang di toko-toko seni seputar pusat kerajinan Sukawati dan Sanur serta diperdagangkan ke pasaran ekspor lewat Bali.

Kerajinan rotan yang dipajang di toko-toko sepanjang jalan raya Sukawati, 15 Km timur laut Denpasar hampir semuanya didatangkan dari luar daerah, kata Ni Made Sutiari, pengusaha aneka kerajinan Bali di Sukawti, Rabu.

Ia menjelaskan, sarana tarnsportasi berbentuk vespa jenis antik, sepeda motor Harley Davidson dan mobil VW kodok yang dibuat dari anyaman rotan ternyata banyak diminati turis asing yang berlibur ke Bali.

Barang bernilai seni dan antik itu buatan perajin asal Jawa Timur itu ikut meramaikan perdagangan aneka kerajinan ke luar negeri dan pangsa pasarnya adalah wisatawan asal Italia, Spanyol dan Amerika Serikat.

Aneka jenis anyaman berbahan baku rotan dari luar daerah banyak diekspor lewat Bali dan pesanan yang diterima sekarang relatif stabil terutama dalam memenuhi persiapan untuk perayaan Natal dan pergantian tahun baru.

Para pengusaha yang menampung aneka barang kerajinan berbahan baku rotan cukup stabil dalam permintaan dari konsumen mancanegara sehingga realisasi ekspor matadagangan ini juga sangat stabil tahun 2011.

Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada SE membenarkan jika realisasi perdagangan luar negeri khusus kerajinan rotan ada kenaikan hanya berkisar tiga persen.

Ia menyebutkan bahwa realisasi ekspor kerajinan berbahan baku rotan dari Bali selama Januari-Mei 2011 tercatat hanya 690 ribu pcs bernilai 2,3 juta dolar AS naik sedikit dari periode sama 2010 seharga 2,1 juta dolar.

Aneka kerajinan rotan yang dipasarkan para perajin Nusantara lewat Bali, seperti yang didatangkan dari Malang Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi baik desain maupun mutu matadagangannya tidak kalah bersaing di pasaran ekspor, katanya.

Perabotan rumah tangga yang dibuat dari anyaman rotan yang dipadukan dengan bambu dan kayu seperti kotak tisu yang dibuat dengan rancang bangun (desain) yang unik dan etnik banyak dipesan mitra bisnis asal Spanyol dan Italia.

"Pengusaha Bali biasa menerima pesanan kotak tisu dari rotan dengan desain yang dekoratif perpaduan antara kayu dan rotan, banyak diminta menjelang Natal dan di akhir tahun," kata Sutiari.

Devisa Kerajinan bambu 4.4 Juta Dollar

Nilai perolehan devisa dari perdagangan ekspor aneka kerajinan berbahan baku bambu buatan masyarakat Bali bernilai 4,4 juta dolar AS selama Januari - Mei 2011.

Kreativitas perajin bambu Bali masih mendapat tempat di hati konsumern luar negeri, kata Kepala Seksi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar Rabu.

Hal itu terbukti, krisis ekonomi global yang masih dirasakan masyarakat dunia, tidak berpengaruh besar terhadap perdagangan ekspor barang kerajinan berbahan baku bambu, bahkan masih ada saja yang diekspor.

Ia menjelaskan, perolehan devisa tersebut atas pengapalan sebanyak 2,9 pcs, selama januari-Mei 2011 turun tipis yakni 7,4 persen, jika dibandingkan dengan periode sama 2010 yang mencapai 4,7 juta dolar.

Stabil jumlah kerajinan itu ke luar negeri tentu berkat masyarakat kreatif dalam menciptakan rancang bangun (desain) yang diinginkan pasar seperti kursi dan meja tamu yang dipadukan dengan rotan.

Pengusaha luar negeri ada yang meminta aneka kerajinan bambu yang bentuknya sesuai gambar atau rancangan yang dibawa dari negaranya, tentu dengan harga yang disepakati sebelumnya, kata Bagiada.

Tempat tidur malas yang biasa dibuat menggunakan bahan kayu jati dan sejenisnya, kini bisa dibuat dengan bahan baku bambu, ternyata hasil karya perajin di Bali disenangi serta dibeli oleh konsumen luar negeri.

Semakin laris aneka kerajinan berbahan baku bambu menyebabkan perajin Bali kesulitan bahan baku sehingga mendatangkan dari Jawa maupun Lombok, sebab bambu yang ada di daerah ini semakin terbatas.

Bambu tidak saja dijadikan barang furniture, juga bisa dianyam dibuat gedeg lembaran, supaya tahan terhadap rayap, pengrajin memolesi lembaran gedek dengan disinfektan, setelah dijemur, gedek siap diekspor.

Masyarakat Bali yang dinilai kreatif dalam menciptakan barang kerajinan mampu memikat konsumennya dan laku terjual ke pasaran ekspor maka tidak mengherankan kalau devisa dari kerajinan bambu masih stabil.

Monday, August 8, 2011

Industri Garam Makin Suram


Pemerintah kesulitan mengendalikan harga garam karena hingga sekarang masih berada di bawah harga pokok yang berdampak buruk kepada petani garam.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku harga jual garam milik petani masih di bawah harga patokan pembelian (HPP) sebesar 750 rupiah per kilogram. Untuk itu, KKP berharap PN Garam (BUMN) bersedia memaksimalkan penyerapan garam milik petani.

"Kami cek harga garam terakhir 450 - 550 rupiah per kilogram di tingkat petani. Ini kan tidak benar (di bawah HPP), petani terpaksa menjual dengan harga itu karena buruh uang dan pedagang beli saja. Kita ingin rakyat panen garam dan minimum harganya 700 rupiah per kilogram (garam kualitas satu)," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Padel Muhammad di fakarta, Senin (8/8).

Dengan kondisi tersebut, Fadel berharap kepada PN Garam yang memiliki dana 64 miliar rupiah dari dana Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) untuk menyerap garam panen milik petani.

Di tempatyangsama Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Sudirman Saad mengakui sampai saat ini belum ada penugasan dari pemerintah kepada PN Ga-ram untuk menyerap garam milik petani.

"Tetapi kita sudah melakukan pendekatan kepada mereka dan akhirnya PN Garam mendapatkan dukungan dana PKBL dari Pertamina sebesar 64 miliar rupiah untuk menyerap garam petani di Madura. Tetapi mereka tidak berani membeli sesuai harga HPP karena harga garam anjlok," ujarnya.

Berdasarkan data KP3K, harga garam pada bulan Juli lalu berkisar 700 - 800 rupiah per kilogram, tetapi harga turun menjadi 500 - 550 rupiah per kilogram pada bulan ini. Akibat anjloknya harga itu, PN Garam tidak berani membeli lagi garam petani sesuai HPP.

Akibat kondisi itu, kata Sudirman, Menteri Kelautan sudah mengeluarkan surat kepada PN Garam untuk menjadi buffer stock garam sekaligus meminta Menteri Perdagangan mengefektifkan larangan impor garam mulai luh hingga Desember mendatang.

Terkait dengan itu, Fadel mengakui dana 64 miliar yang dimiliki PN Garam dari PKBL itu tidak cukup untuk memaksimalkan penyerapan garam milik petani. "Anggaran darilKBl itu tidak cukup, paling tidak butuh 300 miliar rupiah untuk memaksimalkan penyerapan. Tetapi dana yang ada bisa menjadi stimulan karena kalau menunggu anggaran Kementerian Keuangan (APBN) akan sangat lama karena prosesnya panjang," tegasnya.

Produksi Tak Optimal

Anggota Presidium Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (A2PGRI) Faisal Badawi mengakui panen garam sudah mulai terjadi di Madura, tetapi dalam jumlah kecil. "Kapasitas produksi baru 28.000 ton, padahal kapasitas produksi garam di Madura sebanyak 400.000 ton. lika dibandingkan dengan . 2009, maka produksi garam tahun ini akan lebih jelek," ujarnya.

Data A2PGR1 menunjukkan produksi garam di Kabupaten Sampang sekitar 16.000 ton, di Pamekasan sebanyak 5.000 ton, di Sumenep sebanyak 7.000 ton. Dan hingga kemarin, total stok garam di Madura tercatat 28.000 ton. Faisal mengatakan tahun ini secara nasional produksi garam di level 960 ribu ton atau di bawah produksi tahun 2009 yang mencapai 1,2 juta ton.

Angka produksi itu jauh di bawah konsumsi nasional yang mencapai 3,2 juta ton dengan perincian untuk konsumsi rumah tangga dan industri pangan sebesar 1,5 juta ton dan garam untuk industri nonpangan sebesar 1,7 juta ton, sedangkan kontribusi produksi garam sebesar 70 persen berasal dari Madura, sisannya berasal dari lawa, NTT, NTB, dan Maluku Utara.