This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, December 28, 2011

UKM Belum Bisa Menikmati Bunga Kredit Murah

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menilai suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) masih sangat konservatif. Akibatnya tidak dapat dinikmati sektor UKM. Dengan keadaan tersebut dunia usaha, terutama usaha kecil dan menengah masih tetap belum dapat menikmati perbaikan kondisi eksternal pasar keuangan yang baik hingga saat ini,* ujar Ketua Umum Kadin Bambang Suryo Sulisto dalam acara Catatan Akhir Tahun Menyongsong 2012 di Jakarta, Rabu (28/12).

Jika mengutip data Bank Indonesia, Kadin melihat BI rate berada di angka 6 persen lebih tinggi jika dibandingkan US Prime Rates sekitar 3 persen per Oktober 2011. BI rate juga lebih tinggi bila dibandingkan Japan Prime Rates di level 1,5 persen pada waktu yang sama.

Suryo melanjutkan, justru ketika dana melimpah, suku bunga tetap di posisi tinggi sehingga dunia usaha tidak dapat memaksimalkan momentum yang baik tersebut. "Oleh sebab itu, saya meminta pemerintah dapat menurunkan tingkat bunga sehingga memberikan insentif bagi swasta untuk investasi," kata Bambang.

Idealnya, kata Suryo, suku bunga kredit perbankan bisa berada di bawah 8 persen. Saya berpikir kalau di angka 8 persen masih pada kenyataan untuk bisa kita capai nantinya. Dan ini harus dilakukan pemerintah dengan kerja keras," ujarnya.

Dia menuturkan, agak aneh jika BI rate sudah turun tetapi suku bunga perbankan masih tinggi. Sejauh ini, Kadin melihat upaya yang dikerjakan oleh BI tidak diikuti dengan penurunan tingkat bunga bank-bank yang komersil. "Kontribusi bank-bank komersil juga pada investasi perusahaan dan kapital kerja masih rendah, sekitar masing-masing 25 persen dan 21 persen sehingga kurang mendorong perkembangan sektor riil," tegasnya.

Suryo menambahkan, usaha yang lebih tinggi diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut. Ini penting demi meningkatkan daya saing usaha-usaha nasional terhadap negara-negara tetangga yang ada.

Wednesday, December 21, 2011

Usaha Pembuatan Tepung Mocaf

Tepung mocaf (modified cassava flour) merupakan bahan alternatif pengganti terigu. Permintaan tepung ini pun besar seiring berkembangnya usaha makanan. Para produsen tepung mocaf pun bisa menangguk omzet besar, dari puluhan hingga ratusan juta setiap bulan.

Menjamurnya berbagai usaha pengolahan makanan, meningkatkan kebutuhan tepung terigu. Sayangnya, kenaikan permintaan ini tak diimbangi oleh ketersediaan tepung terigu. Sekedar informasi, tepung terigu yang kita konsumsi dibuat dari balian baku gandum. Nah, produsen terigu masih mengimpor gandum dari luar negeri karena tanaman padi-padian ini belum bisa dilnididayakan secara besar-besaran di Tanah Air. Maklum, gandum adalah tanaman subtropis.

Karena bahan baku terigu masih impor, harga terigu pun sering fluktuatif mengikuti harga gandum internasional. Salah satu solusi untuk menekan ongkos pembelian terigu, banyak pengusaha makanan atau roti yang kini beralih ke tepung mocaf.

Itulah sebabnya kebutuhan mocaf pun dari tahun ke tahun terus menanjak. Melihat ceruk bisnis ini, pengusaha asal Bogor, Darmanto, menjajal bisnis pembuatan tepung mocaf tersebut. "Saya membeli lisensi teknologi produksi tepung mocaf pada tahun 2009," ujarnya.

Tahun lalu, dengan mengusung merek Good Health, Darmanto pun melakukan uji coba. Namun baru 2011 ini, ia memasarkan mocaf secara komersil. Mcnurut Darmanto, peluang pasar tepung mocafsangat besar. Apalagi, pemerintah berniat untuk mengurangi impor gandum sehingga tepung mocaf. memiliki potensi besar sebagai pengganti tepung terigu. Selain itu, pemain di bisnis tepung mocaf ini tidak terlalu banyak.

Darmanto menjual tepung mocaf butannya dengan harga Rp 7.500 untuk kemasan 1 kg dan Rp 187.500 untuk kemasan 26 kg. Sebagai bahan baku Pasokan singkong yangtergantungmusim menjadikendala padausaha ini.ic pinig mocaf, Darmanto membeli singkong segar dari petani di wilayah Bogor seharga Rp 1.200 per kg.

Saban hari, Darmanto mampu memproduksi tepung mocaf sebanyak 600 kg. Dalam sebulan, jumlah tepung mocaf yang berhasil diproduksi mencapai 14.400 kg. Ini berarti, tiap bulannya Darmanto berhasil mendulang omzet hingga Rp 108 juta. "Kami banyak menjual tepung mocaf untuk industri dan produsen kue," kata Darmanto.

Selain Darmanto, Cahyo Handriadi juga memproduksi tepung mocaf. Berbeda dengan Darmanto, Cahyoadalah petani singkong di Trenggalek, Jawa Timur. Namun, selain menanam singkong, Cahyo juga mengolah singkong menjadi mocaf. "Sebab nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan singkong mentah. Selain itu prospek bisnis tepung mocaf juga cerah," katanya

Dalam sebulan. Cahyo mampu memproduksi 10 ton mocaf. Untuk memproduksi tepung sebanyak itu,membutuhkan bahan baku singkong sebanyak 400 ton. Dengan harga jual tepung mocaf sebesar Rp 6.500 per kg. Cohyo mampu meraup omzet hingga Rp 65 juta per bulan. "Kami mensuplai industri makanan ringan dan mie instan di kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, kata Cahyo.

Kendala bisnis ini sederhana, yakni pasokan singkong yang sering terlambat lantaran singkong sangat tergantung musim. Jika musim cukup bagus, yakni di musim kemarau, maka pasokan tepung mocaf tak akan tersendat.

Cahyo menceritakan, hanya singkong kering yang bisa diolah menjadi tepung mocaf berkualitas. Tahun lalu, karena banyak hujan, tak banyak singkong yang bisa dijadikan bahan baku mocaf. "Tahun lalu, kami tidak memproduksi dalam jumlah besar karena susah mendapatkan pasokan singkong yang sudah kering," kata Cahyo.

Para Perempuan yang Bergelut di Bidang Ekonomi Kerakyatan

Puluhan barang kerajinan tangan berbahan eceng gondok menyesalti rumah berukuran sekitar 6 x 7 meter. Di setiap sudut ruangan, barang berbahan baku tanaman sungai itu berderet dengan rapi. Ada rak sepatu, topi, tas, kerangka hiasan lampu, keranjang, partisi ruangan, dan sebagainya.

Wiwit Manfaati baru mengontrak tempat showroom usaha handicraft tersebut sekitar dua bulan lalu. Lokasi itu tak jauh dah rumah kediamannya dj kawasan Kebraon Indah Permai. Dari usahanya yang dia tekuni bersama sang suami dalam lima tahun terakhir tersebut, akhirnya Wivvit Collection meraih predikat terbaik 1 untuk kategori Handicraft. Sedangkan penghargaan untuk kategori Fresh Food diraih UMKM Rosela dari Simokerto dan kategori Grocery Food dipegang UMKM Mandiri Sejahtera dari Genteng.

Wiwit menceritakan, UMKM yang dikembangkannya bukanlah UMKM dadakan. Meskipun berawal dari sebuah keisengan mengisi waktu luang. Ibu tiga anak itu menjelaskan, pada 2007 pemkot mengadakan pelatihan kerajinan tangan di kantor kecamatan dan Wiwit menjadiserta menyulam.

Itu pun dilakukannya hanya karena senang dan hasilnya untuk dipakai sendiri. Meski pada akhirnya dijual juga, namun dalam skala kecil dan dilakukan tidak secara profesional. "Sebenarnya, eceng gondok ini termasuk baru bagi saya. Waktu pertama mencoba, saya kesulitan. Membuat tas, anyamannya banyak yang menceng," ujarnya.

Meski demikian, Wiwit tetap mencobanya terus. Ternyata. angka kesulitan menganyam eceng gondok tidak malah membuatnya menyerah. Bahannya yang tergolong ulet dan keras diakuinya memang berbeda jauh bila dibandingkan dengan merajut anyaman dengan bahan benang atau pita. Sebaliknya, dia malah tertantang. Apalagi, di belakang rumahnya ada waduk dan tempat itu dijadikan area pengepul bahan dasar eceng gondok kering. Jadi, dia tidak kesulitan untuk mencari atau membeli bahan bila inginberkreasi atau bereksperimen.

Lama-kelamaan Wiwit bisa membuat anyaman yang bagus. Awalnya dia tidak berpikir mau menjualnya. Yang ada di pikirannya membuat barang yang berkualitas sebanyak-banyaknya. "Sewaktu ada orang pemkot sedang road show acara green and clean, dia tertarik pada kerajinan yang sedang saya buat. Lalu barang-barang saya dibawa ke bappeko untuk dipamerkan," jelasnya

Sekarang omzet penjualan kerajinan karya ibu tiga anak itu bisa mencapai Rp 15 juta perbulan. "Keuntungan bersihnya bisa setengahnya," ungkap dia. Wiwit juga sudah bisa mempekerjakan ibu rumah tangga dari kampung sebelah.

Sejak pertengahan 2010, suami yang awalnya masih berprofesi sebagai wirausaha berbagai bidang, seperti jual kembang dan sepatu, bahkan sopir rental mobil, memutuskan untuk lebih fokus sepenuhnya di UMKM Wiwit Collection.

Tuesday, December 20, 2011

Usaha Iseng Berbuah Omset Rp 250 juta

Berawal dari menerima pesanan pin, kini penjualan Kretakupa selalu meningkat 200 sampai 400 persen per tahun.emulai bisnis tak selalu rumit atau harus bermodal besar. Simak saja apa yang dilakukan Andi Arham Bunyamin, Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri 2010 Kategori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Usaha Industri dan Jasa. Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin Makassar ini memulai usahanya hanya karena iseng semata. Modalnya pun amat minim, tak lebih dari Rp SO ribu. Itu pun, uang milik temannya. .-

Semua berawal pada 2007, saat ia menunjukkan kemampuannya mendesain pin kepada rekan-rekan sekelasnya di SMA. Bak gayung bersambut, seorang teman memberinya "proyek" pencetakan 50-100 buah pin dengan uang muka Rp 30 ribu. Padahal, waktu itu Arham hanya piawai mendesain gambar pin saja. "Saya saat itu belum tahu sama sekali mau mencetak desain pin di mana," kenang Arham.

Beruntung, setelah seminggu mencari-cari, secara tak sengaja ia menemukan gerai kecil yang menampilkan beberapa model pin, dan bisa mencetak pesanan pin. Maka, pin pesanan rekan-rekan sekelas Arhan pun bisa beres. Dengan modal Rp 3.700 per pin, dan Arham menjual ke temannya dengan harga satuan Rp 4.700.

Sejak itu, pria yang hobi main kom-puter ini kerap menerima lebih banyak order dari teman-teman SMA-nya di Makassar. "Dalam sebulan saya bisa dapat order 200-300 buah pin," cerita Arham.

Kini, bisnis pencetakan pin yang begitu sederhana tadi ternyata berkembang sangat pesat. Lihat saja. Pada 2009, usaha Arham yang dinamakan Kretakupa itu sudah menerima pesanan dari Wajo, Sopeng, dan bahkan dari Kalimantan. Penjualannya pun meningkat sekitar 200 persen hinga, mencapai Rp 100 juta sepanjang 2010.

Tentu saja, sukses Kretakupa tadi ada resepnya. Arham selalu memutar otak untuk bisa memperluas pasar dan meraup laba lebih besar. Coba lihat. Ketika margin keuntungannya masih Rp 1.000 per pin, ia pun berkeras untuk bisa memiliki mesin pencetak pin sendiri. Dengan mesin sendiri, ia hanyabutuh modal bahan seharga Rp 1.000 per pin. Artinya, ia bisa memperoleh margin keuntungan Rp 3.000 per pin. Berkat keteguhanriya, tak sampai setahun kemudian Arham sudah punya mesin pin seharga Rp 2,7 juta.

Lalu, pasar ia perluas dengan cara jitu. Saat kuliah, ia mulai menggalang kerja sama dengan percetakan-perc-etakan yang tidak punya mesin pin. Perlahan tapi pasti, Arham pun mulai kebanjiran order baru di luar dari lingkungan teman SMA dan kampusnya. Pemuda usia 22 tahun ini juga menyewa tempat usaha di lokasi yang strategis di Makassar. Dengan begitu ia mampu "mencegat" pemesan baru yang lalu lalang di sana.

Tak hanya itu. Pemuda yang awalnya bercita-cita menjadi ahli komputer ini juga memperluas usahanya dengan mulai menjual bahan baku pin. Ba-han pin ia beli dari Bandung dengan harga hanya Rp 300 per pin. Padahal, di Makassar harganya Rp 1.000 per pin. Margin keuntungan produksi Arham menjadi lebih besar, plus ia bisa menjual bahan pin ke percetakan lain. Sejak menjual bahan, penjualan saya naik 400 persen.tuturnya.

Selanjutnya, bisnis Arham pun tambah melejit usai memenangkan penghargaan Wirausaha Mandiri 2010. Ini lantaran, sebagai salah satu pemenang ia mendapat fasilitas beberapa pelatihan bisnis dan road show pameran yang digelar Bank Mandiri. Dari hasil pameran ia bisa memperluas pasar sampai ke Kendari, Gorontalo, Maluku, bahkan ke Mataram. Produk yang diproduksi pu tak hanya pin, tetapi juga aneka merchandise, penerbitan buku, pembuatan undangan, id card, dan kebutuhan-kebutuhan publikasi.

Omsetnya pun makin melesat. Hingga bulan Oktober lalu, omset Kretakupa sudah lebih Rpl00 juta, melebihi omset 2010. "Hingga akhir tahun 2011, target omset saya sekitar Rp 250 juta," papar Arham.

Carrefour Komit Berdayakan UKM

PT Carrefour Indonesia (Carrefour) menyatakan komitmennya dalam pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Hal itu diwujudkan melalui beberapa kegiatan corporale social responsibility (CSR), di antaranya dengan memberikan pinjaman serta pendampingan usaha kepada para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Head of External Communication and CSR PT Carrefour Indonesia Hendrik Adrianto mengatakan, Carrefour akan lebih meningkatkan lagi kegiatan maupun anggaran dana untuk kegiatan pemberdayaan UKM di tahun 2012. Menurutnya, perseroan menargetkan pemberdayaan pelaku UKM pada tahun depan akan melibatkan beberapa universitas di Tanah Air.

"Untuk memperdayakan pelaku UKM, kita melibatkan tujuh universitas di tiap daerah. Program itu berjalan dengan budget sekitar Rp 2 hingga 3 miliar," ujarnya di Jakarta, kemarin. Hendrik menjelaskan, sepanjang 2011, dana CSR Carrefour yang telah terserap sekitar Rp 5 hingga 10 miliar. Dana itu digunakan untuk berbagai event sosial bagi masyarakat. Saat ini program-program CSR Carrefour menjadi lebih terfokus di bidang microfinance yang membidik masyarakat agar produktif berwirausaha.

"Carrefour memiliki banyak program CSR. mulai dari bidang pendidikan, bantuan untuk bencana alam dan anak jalanan, sampai mikro ekonomi," jelasnya. Hendrik menambahkan, Carrefour telah memasarkan 90 persen produk lokal dari total produk yang dijual di seluruh gerai perseroan. Impor hanya dilakukan jika jenis produk itu belum diproduksi di dalam negeri. "Kamijuga bermitra dengan lebih dari 4 ribu pemasok dari seluruh Indonesia, dimana 70 persen dari jumlah tersebut termasuk dalam kategori UKM." ungkapnya.

Sebagai informasi, hingga saat ini Carrefour Indonesia sudah memiliki 84 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Meliputi 12 provinsi serta 28 kabupaten/kota di Indonesia.

Mencetak Laba dari Bisnis Percetakan

Anda berniat memulai usaha percetakan, tawaran kerjasama UD Grafika Cemerlang mungkin bisa menjadi pertimbangan. Mengusung nama BrosurMurah.com, UD Grafika Cemerlang didirikan oleh Dave Nanang Handoyo pada 2001 di Surabaya.

Nanang melayani cetak, baik di media kertas, plastik, ataupun produk suvenir. Berbagai jenis produk seperti paperbag, kalender, agenda, katalog, booklet, company profile, dan produk lain bisa dikerjakan BrosurMurah.

Dengan kualitas cetak nomer satu, Nanang mengatakan, target pasar utamanya adalah kelas menengah atas. Itu juga sebabnya, saat ini Nanang banyak memakai pola pemasaran dan pemesanan melalui internet untuk menggarap pasar yang lebih besar.

Walau menyasar kalangan menengah atas, namun produk cetak buatan Nanang cukup terjangkau. Harga mulai Rp 8.800 untuk satu kotak kartu nama hingga Rp 25.000 untuk satu kalender duduk. "Paling laris brosur berwarna seharga Rp 99 per lembar," ujar pria 33 tahun ini.

Rp 50 juta per bulan

Saat ini, Nanang sudah mempunyai empat gerai BrosurMurah. Masing-masing gerai tersebut mampu meraup omzet antara Rp 30 juta sampai Rp 50 juta per bulan. Omzet itu didapatkan dari pelanggan sebanyak 200 hingga 300 klien per bulan.

Melihat perkembangan itu, Nanang optimistis, bisnis cetaknya masih akan bagus. Apalagi dia memakai konsep cetak satu atap sehingga lebih efisien. Itulah sebabnya, mulai tahun ini dia menawarkan waralaba usahanya kepada masyarakat. "Sudah ada satu yang bergabung, tahun depan ada 3 mitra lagi," katanya.

Jika Anda berminat, Nanang menawarkan pilihan investasi mulai Rp 25 juta, Rp 50 juta, dan Rp 95 juta minus sewa tempat usaha. Nilai investasi yang berbeda bergantung fasilitas yang didapatkan. Untuk investasi senilai Rp 25 juta yang didapat adalah perlengkapan promosi, seperti spanduk, brosur 5.000 lembar, dengan kerjasama 3 tahun.

Untuk investasi Rp 50 juta akan mendapatkan dua set komputer grafis, printer, software asli, meja gambar, dan berbagai sarana promosi. Sedangkan paket Rp 95 juta akan mendapatkan tiga set komputer grafis, printer, dan berbagai sarana pendukung juga sarana promosi. Nanang juga akan melatigh membuat grafis para tenaga kerja untuk mitra tersebut.

Dari setiap mitra, Nanang mentargetkan omzet sebesar Rp 30 juta per bulan. Jika target tercapai maka mitra akanbalik modal dalam kurun enam hingga 8 bulan.

Selain membayar investasi awal yang di dalamnya sudah termasuk franchise fee, mitra juga harus membayar manajemen fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Nantinya mitra akan menangani pemesanan dan desain, sedangkan produksi akan dikerjakan pusat. "Kami akan langsung menangani bidang produksinya," ujar Nanang.

Salah satu mitra BrosurMu-rah adalah Winarto Setyadhar-ma di Mulyosari, Surabaya. Dia mengaku menjadi mitrasejak enam bulan lalu. "Menjelang pergantian tahun permintaan meningkat," katanya Pelanggan Winarto mulai dari perusahaan, sekolah maupun individu. Dari pesanan yang datang, sebanyak 75% order pembuatan brosur, baru disusul cetak banner, kartu nama, dan spanduk. Dari usaha ini, Winarto meraih omzet Rp 20 juta per bulan.

Grafika Cemerlang Jl. Wonorejo Permai Timur IV-16 Surabaya
Jawa Timur Telp 0318782448

Batik Aromaterapi Waris Jadi Primadona Pejabat

Kain batik kini disukai hampir semua orang. Tapi kain batik Madura karya Warisatul Hasanah mahasiswa semester delapan Jurusan Manajemen Pemasaran STIE Perbanas Surabaya sedikit berbeda. Batik tulis Madura itu memiliki aromaterapi yang banyak diminati masyarakat, terutama para pejabat. Batik tulis Madura karyanya kini banyak dipakai oleh para pejabat di Kabupaten Bangkalan. Motif batik tulis yang dipakai adalah motif ‘Tanjung Bumi’. ”Sekira 80 persen pejabat di Bangkalan, terutama di DPRD, pakai batik tulis saya ini,” terang Waris.

Bisnis batik tulis aromaterapi yang dijalankan Waris ini sudah dilakukan sejak 2009 lalu. Berawal dari tugas membuat Studi Kelayakan Bisnis (SKB) dari kampus, dia lantas tertarik mengaplikasikannya di dunia batik. Waris sengaja membuat SKB membuat batik tulis beraromaterapi. Ide tersebut muncul setelah dia sempat melihat ada souvenir yang dipajang di dinding di sebuah homestay di Australia.

Saat itu dia mengikuti kegiatan Auditing Students Programe (ASP) di Australia. Nah, di homestay tersebut dia melihat ada souvenir berupa kayu yang berbau aromaterapi. Keberadaan souvenir itu ternyata membuat suasana ruangan menjadi lebih nyaman. ”Dari situ akhirnya saya terpikir untuk membuat batik tulis beraroma terapi,” tutur mahasiswi kelahiran Bangkalan, 10 Maret 1988 ini.

Karena memiliki keistimewaan, maka batik tulis aromaterapi ini memiliki harga lebih mahal dibandingkan dengan batik biasa. Sebagai contoh, untuk batik tulis biasa ada yang harganya Rp250 ribu per potong, maka untuk yang beraromaterapi harga bisa mencapai Rp300 ribu per potong. Harga paling mahal untuk karyanya bisa mencapai Rp4 juta per potong.

Bahkan, saat mendekati lebaran, batik tulis aromaterapi tersebut sangat diminati. Omzetnya pun naik mencapai Rp10 juta lebih. Padahal saat mengawali bisnis tersebut dia tidak punya modal sama sekali.
”Keunggulannya kalau yang beraroma terapi ini akan membuat rileks bagi yang memakai atau pun orang yang di sekitarnya,” terang anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Moh Ismail dan Maryam ini.

Hal tersebut akhirnya membuat para pejabat banyak yang suka. Belum lagi sifat dari aroma terapi ini juga bisa menyerap keringat. Artinya jika ada orang yang punya keringat banyak, aroma terapi bisa meredam bau keringat. Waris menawarkan beberapa pilihan aromaterapi yakni dari melati keraton, cempaka, eksotik, mawar, coklat dan strawberry. Coklat dan strawberry ini sangat cocok dipakai untuk anak-anak. ”Aromaterapi itu kan bisa bikin rileks, percaya diri dan mencerdaskan otak,” tuturnya.

Tak hanya aromaterapi saja yang membuat banyak pejabat terpikat. Namun salah satu keistimewaan karya Waris adalah dia juga mau membuat batik tulis yang eksklusif. Artinya hanya satu jenis saja yang dibuat, sehingga tidak ada yang punya batik tulis tersebut dengan motif sama. Hanya saja saat ini dia masih menggunakan aromaterapi biasa untuk karyanya tersebut.

Ke depan, Waris sedang mempersiapkan untuk aromaterapi yang akan diambil dari sari bunga sebagai bahan baku. Dia pun sedang menjalin kerja sama dengan ahli teknik kimia untuk mencari formula yang tepat. Untuk membuat aromaterapi ini, cukup mudah. Setelah dicuci, batik direbus. Rebusan air sebelumnya diberi aromaterapi, dan batik direbus dengan posisi terbalik. Waktunya sekira lima menit saja.

”Kalau ingin mendapatkan aroma lebih tahan lama, kami juga kasih tips-nya dan juga aroma terapinya,” kata Waris. Dia menggunakan label Al Warits. Sedangkan untuk penjualan dia melakukan proses mulai door to door, facebook, mengajukan proposal, hingga menawarkan dari satu kampus ke kampus lainnya. ”Alhamdulillah ternyata sekarang sudah mulai banyak yang pesan,” kata Waris yang bercita-cita punya gerai butik di berbagai mal di Surabaya ini.