This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, November 2, 2011

Wirausaha Label Indie

Artis yang berwirausaha tak sedikit. Tak terkecuali penyanyi jazz Syaharani. Perempuan 40 tahun itu memilih berwirausaha di bidang yang tak terlalu jauh dari dunia yang digelutinya, musik. Dia mendirikan sebuah label rekaman indie.

"Sudah beberapa tahun ini aku lagi sibuk produksi indie untuk Esqief, duo bentukan aku sama temanku, Didit Saad. Karena ini label sendiri, jadi apa pun dikerjakan sendiri. Mulai ngaranglagu sampai proses produksi, semuanya sendiri," jelas Syaharani saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, pekan lalu.

Pemilik nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim tersebut menuturkan, dengan memiliki dan mengurus label sendiri,dirinya bisa melatih jiwa wirausaha dalam mengelola sebuah usaha. Selain itu, lanjut penyanyi asal Batu, Malang, tersebut, lewat label miliknya, dia sekaligus bisa membuka lapangan pekerjaan.

"Kalau begini, kan jadi wiraswasta dan bisa bantu orang lain. Usahanya sih baru kecil-kecilan. Karena itu, semoga ke depan makin berkembang dan bisa meng-Ziire lebih banyak orang lagi," imbuh penyanyi sekaligus pencipta lagu itu.

UMKM Paling Rajin Bayar KUR

Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbukti bisa meningkatkan jumlah lapangan kerja di DKI Jakarta, karena banyak pengusaha yang bisa mengembangkan bisnisnya serta mempekerjakan banyak orang. Yang menarik, debitur skala kecil, seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) paling lancar mengembalikan pinjaman kredit.

Proses pengembalian dana KUR sendiri di Jakarta tergolong lancar. Menurut Gubernur DKI Jakarta. Fauzi Bowo, tingkat pengembalian dana KUR Ini pun sangat balk. Dari total debitur yang mendapat penyaluran KUR. hanya 2.5 persen debitur yang belum bisa mengembalikan pinjaman dana.

"Artinya, pengusaha mengetahui benar kewajibannya untuk mengembalikan dana tersebut. Kalau penghutang besar malah banyak yang ngawur," ujarnya dalam acara Sosialisasi KUR kepada para Industri kecil dan menengah di Balaikota DKI. Jakarta. Rabu (3/11).

Fauzi Bowo mengatakan, penyaluran KUR kepada pengusaha kecil dan menengah turut membantu upaya pemerintah dalam mendorong tumbuhdan berkembangnya usaha. Usaha itu di antaranya untuk industri kecil menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Dia mengungkapkan, para pengusaha UMKM yang menerima kucuran dana KUR memperlihatkan peningkatan volume usaha, peningkatan kesejahteraan pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan baru semakin luas.

Salah satu pengusaha konveksi di Pasar Tanahabang. Jakarta Pusat. Mulyanl, mengaku mengajukan KUR sebesar Rp 500 Juta dan sudah diberikan sebesar Rp 200 Juta. "Saya bisa menambah tenaga kerja, dan menambah modal, prosesnya cuma sebulan." ujarnya. Sedangkan Budiono, pedagang buah yang memasok untuk ka-tering dan rumah sakit mengaku bisa mempekerjakan lima orang dengan tambahan modal dari KUR

Sementara Itu. Bank DKI yang milik pemerintah daerah DKI Jakarta telah mengucurkan KUR ke Koperasi Karyawan Hero sebesar Rp 2 miliar. Koperasi karyawan yang memiliki anggota sebanyak 8.000 orang di Jakarta ini menyalurkan Rp 5-20 juta per anggota untuk usaha seperti lemak lele, dan berdagang pakaian.

Hingga September 2011. bank itu menyalurkan KUR sebesar Rp 123 milyar kepada 1.298 pengusaha. Dana ttu meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2010. yang hanya Rp 12.26 miliar untuk 171 debitur yang merupakan pemilik usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Dirut PT Bank DKI. Eko Budiwiyono, menambahkan, strategi pemasaran Bank DKI yang lebih berfokus pada peningkatan kerja sama pembiayaan dengan multifinance, yaitu Bank Perkreditan Rakyat (BPR), koperasi dan lembaga keuangan mikro.

Di Jakarta, total ada 10 bank penyalur KUR yang sampai September 2011 telah menyalurkan dana KUR sebanyak Rp 2,5 triilun kepada 116.000 pengusaha di Jakarta. Artinya, setiap pengusaha rata-rata mendapatkan dana KUR sebesar Rp 22 Juta per debitur, (ub)

Tuesday, November 1, 2011

Menjinjing laba dari produksi tas wanita ala Korea

Maraknya fesyen ala Korea di kalangan wanita remaja bisa menjadi peluang usaha yang menguntungkan. Salah satunya dengan membuat tas wanita remaja dengan desain ala Korea. Dengan membuat tas ini omzet bisa puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.

Setelah era Harajuku Style, dunia mode di Tanah Air terus mencari kiblat baru. Nah, kiblat baru itu masih bertetangga dengan Harajuku yang berasal dari Jepang, yakni gaya model yang dikenal sebagai Korean Style. Mode asal Korea itu tak hanya soal busana, namun juga tas.

Nah, pembuatan tas fesyen ala Korea inilah yang ditekuni oleh Vidia Chairun Nisa dan Syamsul Hadi, serta banyak perajin tas lainnya. Maklum, tas model anak muda Korea ini memang lagi jadi tren dan laris manis di pasaran.

Vidia sengaja membidik segmen remaja wanita yang gemar fesyen dan cenderung suka belanja. Kepada wanita muda penggemar fesyen ini, Vidia menawarkan aneka tas ala Korea. Tentu tas ala Korea bikinan Vidia ini bisa lebih murah dari tas asli asal Korea. Lihat saja, tas asal Korea, di pasar tas ibu kota bisa mencapai Rp 3 juta per buah. Adapun tas ala Korea buatan Vidia hanya seharga Rp 139.000 - Rp 219.000 per buah.

Soal model dan desain, pembeli tak usah khawatir karena Vidia mengadopsi desain, bentuk dan pola tas ala Korea. "Bahkan tas itu saya tambah lagi dengan aneka modifikasi," terang Vidia yang menyematkan merek Gembool pada tas yang untuk kaum wanita itu.

Vidia yang sudah berjualan tas sejak 2008 itu melakukan beragam modifikasi warna, menambah aksesori, hingga membuat tas dengan ukuran beragam. "Soal kualitas tas kami tidak kalah dengan tas bermerek lain," klaim Vidia yang punya bengkel produksi sendiri di Jakarta.

Untuk memproduksi tas itu, Vidia mempekerjakan 20 karyawan yang setiap bulan mampu menciptakan empat varian tas baru. Di antara varian tas yang terlaris adalah tas bermotif macan tutul dan motif berbentuk potongan koran atau majalah.

Berkat tas ala Korea ini, perempuan usia 25 tahun ini mampu meraup omzet hingga Rp 200 juta per bulan, dengan laba mencapai 40%. Vidia memperoleh omzet sebanyak itu dari berjualan tas melalui toko online bernama shop.gembool.com, juga dengan membuka jaringan pemasaran ke butik-butik dan pedagang tas di Bandung dan Jakarta.

Tak mau ketinggalan, Syamsul Huda, perajin tas di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, kini juga sibuk membuat tas ala Korea. Syamsul tertarik membuat tas ala Korea karena ada pesanan dari para pedagang tas. "Saya akhirnya ikut bikin tas gaya Korea itu," terang Syamsul.

Tentu Syamsul tak kesulitan membuat tas ala Korea itu. Maklum, sebelum kepincut dengan tas ala Korea, Syamsul sudah sejak 1991 terlatih membuat tas apa saja. "Bedanya ada pada warna, tas ala Korea memiliki warna yang mencolok," terang Syamsul.

Selain itu, ciri tas ala Korea memiliki banyak kantong ketimbang tas wanita biasa. Selain itu, tas ala Korea ini lebih banyak menggunakan aksesori seperti rantai.

Karena banyak permintaan, Syamsul juga rajin membuat desain baru. Dia mencari pola desain itu dari berbagai sumber, mulai dari majalah mode hingga dari dunia maya. "Sekarang jumlah produksi saya sudah ratusan pieces," jelas Syamsul yang mengaku memiliki omzet Rp 110 juta per bulan itu.

Berbeda dengan Vidia, Syamsul memasarkan produknya langsung ke distributor tas yang ada di seluruh Indonesia. Syamsul mengaku tidak terlalu tertarik untuk berjualan melalui online seperti halnya Vidia. "Jualan lewat internet terlalu rumit," katanya.

Sulaiman Ichsan mendongkrak omzet UKM dengan galeri

Don't wait until tomorrow if you can do it today. Itulah prinsip yang diterapkan oleh Sulaiman Ichsan. Pria asal Belitung itu sukses merangkul pengusaha UKM di Belitung. Ia mencoba memanfaatkan peluang dari berkah pariwisata. Dalam waktu tiga tahun, Sulaiman pun berhasil mengangkat omzet banyak pengusaha UKM Belitung.

Belitung yang awalnya terkenal sebagai daerah penghasil timah kini menjelma sebagai tempat pariwisata yang apik. Ramainya kunjungan wisata di Belitung menginspirasi Sulaiman Ichsan untuk mendirikan workshop Galeri Kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) Belitong pada 2007.

Sebelum memimpin Galeri KUMKM Belitong, bapak tiga anak ini aktif terlibat dalam keanggotaan koperasi. Dari kegiatan itulah, Sulaiman sering mengikuti pelatihan yang berkait dengan usaha kecil.

Dalam kesehariannya, Sulaiman memang berwirausaha secara mandiri dengan menjadi pelukis kaligrafi dan menjualnya di kaki lima, atau berjualan ikan di pasar ikan. Aneka pengalaman sebagai pengusaha cilik itulah sedikit banyak memberikan bekal bagi Sulaiman memimpin Galeri KUMKM Belitong.

Workshop Galeri KUMKM Belitong ini memamerkan beraneka macam produk khas Belitung, seperti makanan, kerajinan gantungan kunci dari kulit kerang, bros dari kulit kerang atau tempat tisu yang berhiaskan kulit kerang. Selain itu, ada juga kain tenun khas Belitung dan kaus yang bertuliskan "Negara Laskar Pelangi".

Di antara produknya yang dipajang, Sulaiman menawarkan harga yang kompetitif agar barang cepat laku. Seperti gantungan kunci dan bros, Sulaiman membanderol harga Rp 15.000 per empat buah. Untuk tempat tisu, ia pasang harga sebesar Rp 40.000 per buah. Untuk kaus, harganya bervariasi mulai dari Rp 80.000 hingga Rp 125.000 per item-nya.

Selain mendirikan workshop, pria berusia 40 tahun ini juga membina beberapa pelaku UKM supaya lebih maju. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas produksi dengan kemasan yang menarik.

Itulah sebabnya, Sulaiman pun mengusulkan supaya KUMKM yang menjadi mitranya, melengkapi produk dengan registrasi produk industri rumah tangga (PIRT).

Nah, untuk memudahkan pengurusan PIRT, Sulaiman menjalin kerja sama dengan Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi, dan Pemerintah Kabupaten Belitung, untuk mendapatkan registrasi gratis untuk mereka. "PIRT ini penting untuk meyakinkan konsumen akan produk UMKM, baik dari kebersihan dan kelayakan konsumsi," tuturnya.

Sulaiman teguh menjalankan prinsip disiplin dalam usaha. "Karena kita berkecimpung di dunia usaha, sehingga waktu itu penting untuk berkarya," katanya.

Prinsip itu pun mendatangkan berkah. Jika tiga tahun lalu, ia hanya membina 12 UKM yang ada di desa Lesung Batang, kini, jumlah UKM binaannya mencapai 94 UKM yang tersebar di seluruh Kabupaten Belitung.

Bertambahnya UKM ini lantaran Sulaiman tak pernah bosan melakukan pendekatan dan mengajak mereka bergabung di galeri. Sulaiman juga aktif bekerja sama dengan operator biro perjalanan, sehingga setiap wisatawan yang berkunjung selalu mampir ke galerinya. Sulaiman mengaku Belitun mendapat berkah dari film "Laskar Pelangi.

Dengan datangnya konsumen, tentu tak hanya Sulaiman yang menikmati hasilnya, para UKM binaannya juga ikut kebanjiran order. Produksi mereka terus meningkat tiap tahun.

Alhasil, jika pada 2008 omzet galerinya sekitar Rp 90 juta per tahun, tahun ini ia memperkirakan omzet bisa menyentuh angka Rp 2 miliar. "Sampai September, omzet galeri sudah Rp 1,5 miliar. Sampai akhir tahun bisa lebih besar lagi karena ada Sail Wakatobi Belitung," tutur Sulaiman.

Sulaiman pun semakin mensyukuri karena kian banyaknya pelaku UKM yang menjadi binaannya. Maklum, pada awalnya, hanya sedikit dari mereka yang mau mengikuti ide Sulaiman untuk menciptakan produk lebih kreatif.

Ia juga berhasil mematahkan kendala terberat dari banyaknya penduduk yang masih mengandalkan hasil penambangan timah dan menjadi nelayan. Perlahan, Sulaiman menularkan cara berpikir, bahwa Belitung kaya potensi wisata.

Kini, Sulaiman pun tertantang untuk mengembangkan pemasaran. Ia sedang mencari cara untuk mengikuti pameran di luar negeri, supaya produk UKM Belitung bisa menembus pasar ekspor.

Mengantongi laba dari usaha pembuatan tea bag

Laris manisnya penjualan teh, jamu, dan kopi dalam kantong celup mendorong permintaan kantong celup atau tea bag. Meski masih melayani permintaan dari pelaku usaha di tingkat menengah dan UKM, produsen kantong celup ini bisa meraup omzet puluhan hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, pemain di usaha ini masih sedikit.

Ternyata memproduksi kantong celup atau tea bag bisa menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah saban bulan. Maklum, tea bag yang sebelumnya hanya digunakan untuk kantong teh celup ini mulai digunakan juga oleh produsen kopi dan bahkan produsen jamu untuk mempermudah penyajian.
Lebih menarik lagi, meski kebutuhan kantong celup ini makin besar, ternyata pemain di bisnis ini tidak begitu banyak. Itulah sebabnya, Suhartono, pemilik Indo Multi Creative di Surabaya, Jawa Timur, begitu tekun menggeluti usaha pembuatan kantong celup ini. "Saya sudah memproduksi kantong celup ini sejak tahun 1998," ujar Suhartono.

Meski masih sedikit pengusaha yang memproduksi kantong celup ini, Suhartono mengakui persaingan bisnis ini kian ketat. "Hal itu terlihat dengan harga yang makin kompetitif," lanjutnya.

Suhartono hanya memasok produk kantong celup ini ke produsen teh skala menengah dan UKM. "Produsen teh celup raksasa yang menjadi pasar utama di bisnis ini biasanya memiliki unit pembuatan tea bag sendiri," ujarnya.

Indo Multi menjual tea bag dengan harga Rp 135 per piece. Ia mengaku, dalam sebulan dapat menjual hingga 100.000 kilogram tea bag. Asal tahu saja, berat setiap kantong celup rata-rata dua gram. Dengan produksi sebanyak itu, berarti Suhartono mampu memproduksi sebanyak 50 juta kantong celup per bulan.

Selain menjual kantong celup jadi, Suhartono juga menjual filter paper yakni bahan baku pembuatan kantong celup. Dalam sebulan, ia mampu menjual hingga 10 rol dengan harga per rol berkisar Rp 750.000 hingga Rp 1 juta. Satu rol filter paper bisa dipakai untuk pembuatan 50.000 kantong celup.

Meski enggan menyebut perolehan omzet, namun dengan volume penjualan sebesar itu, diperkirakan Suhartono bisa merengkuh omzet hingga Rp 6 miliar lebih per bulannya.

Pemain lain di bisnis ini adalah Edi Setyo Budi. Pemilik UD Raya Kudus yang memproduksi kantong celup selalu menuai kenaikan permintaan setiap bulan. Bahkan, saking banyaknya pesanan, Edi mengaku kewalahan memenuhi lantaran kapasitas produksinya masih terbatas. Padahal, dia memulai bisnis ini secara tak sengaja.

Bisnis asli Edi sebenarnya adalah teh herbal yang dikemas dalam kantong celup. Karena dia sering kesulitan mencari kantong celup, akhirnya Edi memutuskan untuk memproduksi sendiri kantong celup itu. "Dengan membuat kantong sendiri, saya bisa menekan produksi teh herbal," ujarnya.

Dengan dibantu lima karyawan, "Dalam sehari, kami baru mampu memproduksi 15.000 tea bag atau sebanyak 450.000 kantong per bulan," ujar Edi. Nah, sebanyak 350.000 tea bag digunakan Edi untuk produk teh herbalnya sedangkan sisanya, sebanyak 100.000 kantong, dia lempar ke pasar.

Edi banyak melayani pesanan dari produsen jamu tradisional dan produsen kopi. "Tapi saya baru menerima pesanan dari pengusaha kelas UKM," ujarnya merendah.

Pria 31 tahun ini menjual kantong celup dengan harga Rp 150 per buah. Ia mengklaim kantong celupnya tergolong produk premium karena memakai jenis kertas yang lebih tebal.

Tak hanya menjual kantong celup, seperti juga Suhartono, Edi juga menyediakan filter paper atau kertas sebagai bahan baku tea bag. Edi membanderol harga bahan baku kantong celup yang masih diimpor dari Taiwan, China, dan Jerman tersebut seharga Rp 500.000 per rol. Dalam sebulan, Edi bisa menjual hingga lima rol filter paper. "Tiap rol bisa dibuat hingga 30.000 kantong celup," jelas Edi.

Dari usaha pembuatan kantong celup dan penjualan filter paper ini, sarjana teknik elektro dari sebuah universitas di Yogyakarta ini mengaku mampu meraup omzet hingga Rp 20 juta per bulan dengan keuntungan 30%.

Rezeki mengembang dari ayam taliwang

Bisnis makanan daerah kian bergairah di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Banyaknya perantau yang datang ke ibu kota menjadi pasar potensial bagi pengusaha makanan daerah. Maraknya liputan kuliner di televisi juga mendorong rasa penasaran sejumlah orang untuk mencicipi beragam makanan khas daerah tertentu.

Salah satu waralaba makanan daerah yang mulai ditawarkan pada Oktober 2011 ini adalah Ayam Taliwang Senggigi Lombok. Mulai membuka kedai ayam taliwang pada 2001, kini Sesil Indra Kurnia, pemilik merek Ayam Taliwang Senggigi Lombok, sudah memiliki tujuh gerai yang tersebar di Jabodetabek.

Mulai tahun ini, ia ingin mengembangkan kedainya yang bernaung di PT Sera Lestari Global, hingga ke seluruh Indonesia. "Saya ingin lebih banyak orang merasakan kelezatan ayam taliwang," ujarnya berpromosi.


Investasi Rp 150 juta

Menurut Indra, kelebihan ayam taliwang di kedainya terletak pada dominasi rasa pedas. "Kami ingin mengusung sensasi pedas khas Lombok," ujarnya. Sekitar 80% dari menu yang ditawarkan di kedai Ayam Taliwang Senggigi Lombok menggunakan bumbu cabai.

Pada waralaba ini, Sera Lestari Global baru menyiapkan satu paket investasi saja. Mereka menawarkan paket resto dengan nilai investasi sebesar Rp 150 juta.

Indra menjelaskan, dengan membeli paket tersebut, terwaralaba tinggal menyiapkan lokasi usaha. Semua perlengkapan berjualan, pelatihan, promosi, dan bahan baku untuk operasional awal sudah disiapkan. "Konsep gerainya fastfood minimalis," ujarnya.

Selain ayam, gerai Ayam Taliwang Senggigi Lombok juga menyediakan menu bebek, ikan, dan udang yang berbalur bumbu taliwang. Dengan harga jual berkisar Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per porsi, terwaralaba akan memperoleh omzet sekitar Rp 3 juta per hari atau Rp 90 juta per bulan.

Selama masa kerja sama lima tahun, Indra mengutip royalty fee 2% dari omzet tiap bulan. Ia pun menghitung, balik modal usaha ini antara 14 bulan hingga 18 bulan.

Dengan konsep waralaba ini, saban bulan. Indra berharap mampu menggandeng dua mitra baru. Ia pun optimistis dengan prospek usaha ini, mengingat menu ayam taliwang, khususnya di kota-kota besar, belum banyak yang disajikan dalam bentuk resto. "Dengan konsep resto, kami memiliki kelebihan pelayanan cepat dan memuaskan, serta suasana yang nyaman untuk semua pelanggan," kata Indra berpromosi.

Pengamat waralaba Khoerussalim Ikhsan melihat bahwa tawaran waralaba Ayam Taliwang Senggigi lombok dalam konsep resto dengan suasana modern ini cukup menarik. Namun, ia sedikit ragu soal harapan untuk bisa merangkul semua kalangan sebagai konsumen ayam taliwang. "Selama ini makanan tradisional dari sebuah daerah sifatnya segmented dan tak meledak di pasaran," ujarnya.

Ia menyarankan kepada pemilik waralaba ini untuk mencari cara yang bisa memikat semua kalangan pada sajian khas ayam taliwang ini. Termasuk dari kaum muda dan anak-anak yang cenderung masih menyukai makanan modern. "Ini tantangan besar yang mesti dilakukan semua waralaba yang mengusung makanan tradisional," pesan Khoerussalim.

PT Sera Lestari Global
Jl. Buaran Raya Blok B 19
Jakarta Timur
HP. 081398994706

Kotak Tisu Mendong Laku di Mancanegara

Mendong adalah salah satu tumbuhan yang hidup di rawa. Seperti eceng gondok, mendong juga bisa menjadi bahan kerajinan. Meski dari bahan alami, namun sudah terbukti produk berbahan baku mendong seperti kotak tisu mampu menembus pasar ekspor.

Selain  terlihat cantik setelah dianyam menjadi tikar, mendong juga bisa menjadi kerajinan lain, seperti kotak tisu. Adalah Nyoman Martini Sudarto, salah satu produsen kotak tisu berbahan mendong di Bali. Awalnya, Martini memasarkan kotak tisu buatannya ke hotel-hotel, kemudian merembet ke rumah makan, dan restoran di Bali.

Martini menggeluti pembuatan kotak tisu mendong ini sejak 2001 lalu. Ketika itu, perusahaan travel tempat Martini bekerja bangkrut. Ia pun memutuskan berbisnis kotak tisu daritanaman mendong.

Pertama merintis usaha mendong ini, Martini hanya dibantu oleh 15 karyawan yang kebanyakan pemuda dari sekitar rumahnya. Seiring melonjaknya permintaan, ia pun menambah karyawan. Kini, Martini telah mampu memperkerjakan 35 pekerja untuk mengembangkan usahanya

Saban bulan, Martini mampu menjual hingga 1.000 kotak tisu. Dengan harga berkisar sebesar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per buah, Martini pun mampu meraih omzet hingga Rp 120 juta per bulan.

Namun, tak selamanya usaha Martini ini berjalan mulus. Bisnisnya pernah runtuh, saat bom meledak di Bali pada 2004. Ketika itu, omzet Martini langsung melorot tinggal Rp 70 juta per bulan.

Martini memang lebih banyak bermain di pasar ekspor. Kebetulan ketika ia bekerja di perusahaan travel, ada wisatawan dari Belanda yang menyewa jasanya. Kemudian ia bertemu lagi dengan turis Belanda itu pada 2003. "Wisatawan itu yang mengenalkan kotak tisu mendong ke negara-negara di Eropa," kenang Martini. Kini, Martini patut berbangga. Kotak tisu buatannya sudah mejeng di beberapa hotel dan rumah makan di Eropa.

Hanya saja, kini Martini kesulitan mendapatkan bahan baku mendong dari sekitar Bali. Guna memenuhi kebutuhan, Martini harus berburu mendong hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, kesulitan bahan baku itu membuat Martini pernah menolak pesanan.

Selain Nyoman, salah satu pengusaha yang memanfaatkan un jinaii mendong untuk kotak tisu adalah Liem Hauw. Namun Liem telah memulai bisnis ini sejak 1999. Setali tiga uang dengan Martini, kotak tisu mendong buatan Liem juga sudah berhasil menembus pasar Australia dan Amerika Serikat.

Menurut Liem, ia memilih balian baku kayumendong karena kayu tersebut cukup berlimpah di negara ini. Selain pasokannya yang banyak, bahan kayu mendong jugamemiliki teksturnya yangbagus dan juga fleksibel.

Liem mendatangkan pasokan mendong dari wilayah Pekalongan dan Yogyakarta. "Saya bisa membutuhkan lembaran mendong hingga mencapai 1.000 meter setiap bulannya," tambah Liem. Ia menjual berbagai produk dari mendong mulaidari Rp 30.000 hingga Rp 125.000. Untuk pasar Eropa, biasanya Liem hanya mengirim produk kualitas terbaik, hingga harganya lebih mahal.

Dalam sebulan Liem mampu menjual hingga 200 kotak tisu, dengan omzet rata-rata berkisar Rp 25 juta setiap bulannya. "Produk kami biasa digunakan hotel mewah di luar negeri," ujar Liem. Dalam memproduksi kotak tisu mendong ini, Liem melibatkan puluhan perajin. Para perajin ini tersebar di Pekalongan, Yogyakarta, dan Bali.

Liem juga menjelaskan tantangan yang harus dihadapinya adalah pembinaan para perajin. Ia ingin, para perajin ini bisa menghasilkan produk kerajinan tangan dengan ketelitian di setiap kotaknya. "Karena saya membidik pasar ekspor, sehingga saya sangat memperhatikan kualitas. Tingkat kerapian, presisi produk dan selalu memperbaharui desain," jelas Liem.