This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, September 29, 2011

Fulus Empuk dari Pembuatan Busa Helm

Jumlah pengendara motor yang terus meningkat, turut mendongkrak usaha busa helm. Pembuatan busa yang biasanya dipakai sebagai pelapis bagian dalam helm ini bisa mendatangkan uang hingga ratusan juta. Tak hanya memasok pabrik helm di dalam pegeri, busa helm buatan lokal ini telah dipakai oleh pabrik-pabrik helm yang ada di negara-negara TimurTengah.

Sebagai salah satu pengaman, helni wajib dikenakan oleh pengendara motor. Alhasil, penjualan helm terus mengekor jumlah sepeda motor yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak hanya meramaikan gerai penjualan helm, kenaikan permintaan helm juga menguntungkan produsen busa pelapis helm.

Tengok saja usaha Andi Primadi. Pemilik PT Sukses Gemilang ini bisa menuai 180.000 pesanan busa pelapis helm per bulan. Dengan pesanan sebanyak itu. Andrimengaku bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 200 juta sebulan. "Kalau lagi sepi, omzet berkisar Rp 80 juta lungga Rp 120juta," ujarnya.

Dari omzet itu, Andri mendapatkan keuntungan sebanyak 20%. Ia menjual busa pelapis helm dengan harga Rp 2.000 per set untuk helm standar SNI dan Rp 5.200 per set untuk helm premium.

Awalnya, Andri tak menyangka bisa meraih kesuksesan dari bisnis ini. Tak sengaja, pengusaha garmen ini mendapat tawaran untuk menjahit busa dari kliennya Nyatanya, permintaan ini selalu rutin diterima dan mendatangkan banyak fulus. Ia pun mengubah halauan menjadi produsen pelapis helm sejak 2009.

Kini, Andri telah memiliki 150 karyawan. Ia memasok tujuh pabrik helm di Tangerang, Bekasi dan Surabaya. Selain memenuhi pesanan pabrik helm lokal, Andri juga mengirimkan rakitan pelapis helm ini ke luar negeri, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah. "Untuk ekspor saya dapat order dari pihak kedua," tandasnya.

Tak buruh waktu lama untuk membuat dalaman helm. Dalam sehari, Andri bisa menghasilkan 3.000 set dalaman helm. Jika pesanan membanjir, ia meningkatkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat produksi tersebut dapat ditingkatkan menjadi dua kalilipatnya dengan memberlakukan dua kali pergantian jam kerja atau shift.

Selain Andri, pembuatan busa helm juga digeluti oleh Muhammad Ardiansyah. Pria yang membuka usahanya di Mojokerto, Jawa Timur terjun ke usaha ini sejak tahun 2000. Ardi, panggilan akrab Muhammad Ardiansyah ini merupakan generasi kedua perajin busa helm. Orang tuanya telah merintis usaha ini pada 1990-an.

Ardi bilang, usaha pembuatan busa helm ini masih sedikit pemainnya. "Padahal, kebutuhan lapisan dalam pelindung kepala ini terus meningkat," ujarnya

Hanya, berbeda dengan produsen busa helm lainnya, Ardi tak mengirim busa helm ke produsen helm. Ia justru membuat busa tersebut untuk kebutuhan reparasi helm yang rusak. "Karena tingkat kerusakan helm, kebanyakan pada lapisan dalam, yakni busa yang terlepas dari kainnya," tutur pria 27 tahun ini.

Meski hanya memenuhi permintaan reparasi, Ardimemproduksi busa helm untuk semuajenis dan merek helm. Ia pun bisa menjual busa pelapis ini dengan harga tinggi, yakni Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per set, tergantung jenis helm serta ketebalan busa yang diinginkan. "Biasanya ketebalan busa antara 5-8 cm," ujar Ardi yang dibantu tiga pekerja.

Permintaan reparasi busa helm ini pun cukup besar. Dalam sebulan, ia menerima 500 perbaikan helm. Bahkan, mendekati momen tertentu, seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, permintaan bisa berlipat. Terkadang bisa mencapai 1000 permintaan dalam sebulan," tandasnya.

Tak heran, dalam sebulan, Ardi bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta-Rp 25 juta per bulannya Ia pun bisa memperoleh margin keuntungan cukup tinggi, hingga 40%.

Maklum, helm yang dikirimkan untuk perbaikan, biasanya helm-helin mahal, yang kebanyakan datang dari Jakarta dan Jawa Timur. Ardi banyak memperoleh pelanggan yang setia mengganti busa helm padanya, karena ia aktif menawarkan jasanya ini melalui berbagai gerai-gerai online di internet.

Berkah laba diolah di instalasi pengolahan limbah

Produk ramah lingkungan terbukti bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Seperti usaha pembuatan instalasi pengolahan limbah (IPAL) yang menggunakan bakteri pengurai. Dua tahun terakhir omzet produsen IPAL ini naik signifikan karena semakin ketatnya aturan pemerintah soal pengelolaan limbah baik industri atau perumahan.


Pemahaman untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat ternyata bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Selain bermanfaat menjaga kelestarian alam, bisnis yang ramah lingkungan itu bisa memberikan fulus yang menggiurkan.


Salah satu produk yang bermanfaat bagi lingkungan itu adalah instalasi pengolahan limbah (IPAL) cair yang bisa digunakan untuk perumahan, perkantoran, rumah sakit atau di pabrik. Instalasi pengolahan limbah cair itu sering dikenal dengan nama wastewater treatment.


Pengusaha yang membuat IPAL itu adalah Joko Nugroho, pemilik CV Taqindo Karya, di Surabaya. Berkat bisnis IPAL, alumni Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu mampu mendulang omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.


Sejak memulai usaha pada 2009 silam, Joko sudah bisa melayani pembuatan IPAL untuk berbagai kebutuhan, termasuk IPAL berteknologi daur ulang.


Ide membuat IPAL muncul saat ia menjadi relawan bencana tsunami di Aceh pada 2005 lalu. Saat itu Joko melihat IPAL bikinan relawan Korea Selatan dan Kanada. 


Berkat jadi relawan itu pula Joko mengetahui sistem serta teknologi pengolahan limbah itu. Setelah kenyang menjadi relawan, pada 2006 Joko kembali ke Surabaya dan bekerja di sebuah perusahaan yang juga memproduksi IPAL. 


Joko sengaja bekerja di perusahaan yang memproduksi IPAL, sebab ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang lingkungan. Joko merupakan alumnus Fakultas Teknik Lingkungan ITS tahun 2004. "Saya waktu itu ambil spesialisasi kajian pengelolaan limbah," jelas Joko. 


Tiga tahun lamanya Joko bekerja untuk orang lain, hingga akhirnya ia memutuskan buka usaha sendiri tahun 2009. Ia nekat membuka usaha pembuatan IPAL walau dengan modal pas-pasan. 


Saat mendapatkan pesanan membuat IPAL, Joko mengandalkan uang muka dari si pemesan IPAL. Karena kurang, Joko nekat mencari pinjaman dari temannya. "Saya harus utang Rp 15 juta untuk menyelesaikan proyek perdana itu," terang Joko.


Berkat duit pinjaman itu, Joko akhirnya bisa menyelesaikan pesanan senilai Rp 90 juta tersebut. Tentu, begitu dia dibayar lunas, Joko pun langsung menutup utangnya itu. "Hanya butuh dua minggu bagi saya untuk melunasinya," terang Joko.


Setelah dua tahun menjalani usaha pembuatan IPAL, Joko setidaknya telah memiliki 40 mitra yang terdiri dari industri, rumah sakit, dan juga perumahan. Dari setiap proyek itu Joko mengutip laba yang beragam, tergantung dari nilai proyeknya. "Rata-rata labanya sekitar 25% dari nilai proyek," ungkap Joko.


Joko sendiri memiliki beragam produk IPAL untuk berbagai kegunaan. Seperti IPAL untuk limbah domestik manusia di perumahan, rumah sakit, dan perkantoran. Dalam produk ini, Joko menerapkan bio teknologi pengurai bakteri.


Selain itu, Joko juga memproduksi IPAL yang memiliki teknologi pengolahan daur ulang. Artinya, IPAL ini bisa mengolah air limbah menjadi air yang bisa digunakan kembali. "Permintaan pengolahan air limbah untuk daur ulang tergantung dari pesanan," terang Joko.


Namun Joko mengakui tidak banyak yang tertarik memesan IPAL yang bisa mendaur ulang. Bukan karena mereka jijik, namun teknologi IPAL ini harganya masih terbilang mahal. Apalagi banyak klien Joko yang memesan IPAL demi memenuhi ketentuan pemerintah. 


Itulah sebabnya, agar bisnis pembuatan IPAL berjalan lancar, Joko mesti mengikuti perkembangan aturan yang ditetapkan pemerintah pusat dan ada juga pemerintah daerah.


Dengan mengikuti perkembangan situasi, bisnis IPAL Joko pun semakin berkibar. Apalagi, belakangan ini banyak proyek pembangunan mulai menyasar ke ke wilayah Indonesia Timur. "Ada percepatan pembangunan di Indonesia Timur yang membuka peluang bagi usaha saya," ungkap Joko.


Karena berlokasi di Surabaya, setidaknya Joko bisa lebih hemat dalam hal transportasi. Sehingga dia bisa berkompetisi dalam tender pembuatan IPAL. "IPAL bisa kami kerjakan dari Jakarta sampai Papua," klaim Joko yang berencana akan melakukan ekspansi usahanya ke Indonesia Barat.


Selain Joko, produsen IPAL lainnya adalah PT Bioseptic Abadi di Kelapa Gading, Jakarta. Kusuma Himawan, Sales Manager PT Bioseptic Abadi bilang, perusahaan itu berdiri sejak 1996 lalu dan melayani pemasangan IPAL untuk industri, perumahan, rumah sakit, dan juga sekolah.


Selama berbisnis IPAL, Himawan mengaku baru dua tahun belakangan bisnis IPAL laris manis. Hal itu terjadi karena ketatnya aturan yang dibikin pemerintah DKI Jakarta soal pengolahan limbah. "Dua tahun ini omzet saya naik dua kali lipat," kata Himawan. Namun dia enggan menyebut nilai omzet itu.


Sekadar gambaran, Himawan memiliki produk IPAL untuk limbah domestik mulai dari harga Rp 3 juta hingga Rp 3 miliar per unit. "Sebulan kami bisa jual 10 unit," katanya.


Sama dengan Joko, Himawan juga memiliki produk IPAL untuk daur ulang yang biasanya digunakan untuk industri ataupun untuk perkantoran. Namun pesanan untuk IPAL ini sepi peminat. "Kami punya IPAL yang bisa menghasilkan air yang kualitas setara dengan air ledeng," terang Himawan.


Menurutnya, IPAL yang laris adalah IPAL untuk limbah manusia berupa tabung yang memiliki bakteri pengurai yang disebut dengan bioseptictank. "IPAL ini memiliki bakteri khusus yang bisa dengan cepat mengurai limbah dan tidak mencemari tanah," terang Himawan.


Himawan pun menyatakan, bisnis pengolahan limbah adalah bisnis masa depan. Terutama pengolahan limbah untuk daur ulang. "Air di perkotaan makin langka sehingga nanti akan ada upaya mendaur ulang air untuk digunakan sendiri," ujarnya. 

Rahasia Dibalik Orang Sukses

Sukses memiliki sejuta definisi, tak ada satu pun kita yang bisa menjelaskan secara sempurna. Namun sukses memiliki ciri fisik yang semua orang setuju untuk mengakuinya. Apa misalnya ? Orang sukses itu memiliki pribadi yang bahagia,  memiliki banyak prestasi, bisnis yang sukses atau kepemilikan aset dalam jumlah sangat besar.

Apakah itu sukses ? Mungkin ya mungkin juga tidak. Seperti di awal, bahwa definisi sukses bisa jadi berbeda antara satu dengan yang lain. Tapi apapun itu, sukses bagi semua orang adalah terpenuhinya semua keinginan, dan keinginan setiap orang adalah berbeda.

Bicara sukses dari kacamata ActionCOACH adalah bisnis yang bisa berjalan TANPA ANDA yang tetap menghasilkan, berkembang serta bisa diwariskan secara turun temurun. Itu kesuksesan yang ActionCOACH gambarkan untuk semua pemilik bisnis.

Sukses adalah mencapai sesuatu impian. Sebagai pemilik bisnis, tentu impian antara satu pengusaha dengan pengusaha lainnya relatif sama. Jika anda sudah punya bisnis, tentu Anda ingin bisnis Anda itu sukses mencetak profit.

Setelah profit mulai mengalir, timbul keinginan lain, bagaimana jika bisnis bisa berjalan tanpa Anda. Dan setelah itu tercapai lagi, kesuksesan Anda lainnya adalah bagaimana bisa berkembang dari waktu ke waktu. Saya yakin, semua pemilik bisnis punya impian seperti itu.

Jika kesuksesan adalah memiliki bisnis sendiri yang selalu menghasilkan profit berlimpah, bisa berjalan secara otomatis dan terus berkembang melalui replikasi sistem yang bagus, maka tak salah jika ActionCOACH memiliki definisi sukses tentang bisnis yang sama dengan pemilik bisnis mana pun, bahkan di dunia ini.

Jika kita perhatikan, betapa banyak pemilik bisnis yang merasa terjebak bahkan terkunci dalam bisnis. Mereka pada awalnya merasa sukses membangun bisnis, lalu setelah bisnis berdiri, muncul masalah baru, bagaimana membangun bisnis yang memiliki sistem bagus, tim yang solid serta produk atau servis yang selalu dibutuhkan banyak orang. Di titik ini, kesuksesan bagi pemilik bisnis amat sulit diraih.

Mengapa banyak pemilik bisnis yang merasa sangat sulit lepas dari tarikan gravitasi di bisnisnya ? Ibarat pesawat ulang alik yang berusaha ingin lepas dari gravitasi bumi, tahap awal adalah persoalan hidup dan mati. Dan pada titik tertentu, pesawat bisa melewati ambang perbatasan antara medan gravitasi dengan luar angkasa. Dan di atas medan energi itu posisi pesawat sudah melayang.

Bisnis identik dengan ilustrasi kapal ulang alik. Berapa banyak bisnis yang terbakar sebelum mencapai perbatasan antara luar angkasa dengan dalam angkasa. Dan faktor utamanya adalah daya dorong roket yang kurang cukup besar.

Bisnis bukan saja dituntut perlu stamina tangguh, juga tak cukup memiliki jumlah armada besar, tapi yang terpenting dalam bisnis adalah strategi dan action plan yang akurat, tentang bagaimana cara menaklukkan medan gravitasi tersebut dan tetap bertahan hingga di atas garis luar angkasa.

ActionCOACH melihat, bisnis itu sederhana tapi tidak mudah. Sederhana karena Brad Sugars sudah memiliki pola jelas tentang bagaimana membangun bisnis. Ia juga sudah sangat fasih bagaimana men-setting sistem bisnis, men-set up team ( karyawan ) dan segala infrastruktur yang diperlukan untuk menciptakan bisnis yang auto pilot. Tapi Brad Sugars mengatakan, ini tidak mudah.

Diperlukan banyak sekali pemikiran, pengetahuan dan juga praktik yang terus menerus untuk bisa sampai menembus luar angkasa, menaklukkan daya gravitasi.

 Formula Sukses Membangun  Bisnis
Brad Sugars, kembali merangkum konsep bisnis sukses, bahwa bisnis adalah sederhana tapi tak mudah. Konsep kesuksesan ActionCOACH adalah BE X DO = HAVE.

Pada beberapa edisi lalu, kami sudah membahas konsep ini, namun untuk lebih menyempurnakan persepsi dari para pembaca, kembali kami kupas kembali. Sebetulnya seperti apa konsep BE X DO = HAVE ini ?

Bahasa sederhananya konsep ini lebih ke arah pemikiran, perbuatan dan hasil. Jika Anda ingin sukses, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah berpikirlah sebagaimana orang sukses. Dan dengan pola pikir seperti itu, Anda akan lebih mudah berperilaku seperti orang sukses yang pada akhirnya Anda akan mengambil suatu keputusan seperti orang sukses, dan itu akan membawakan hasil sukses.

BE X DO = HAVE, perhatikan pola energi yang terjadi. Jika kita ingin sukses, maka keinginan ada di level HAVE. Sebagian besar orang, mulai melakukan hal-hal yang bersifat DO, artinya, setelah impian itu datang, mereka langsung secara emosional meraih impian itu. Namun pada akhirnya, mereka kembali ke habitat lama, yaitu menjadi orang yang tidak sukses.

Kebiasaan lamanya akan kembali diulang dan akan menguasai seluruh kekuatan diri kita. Tak heran, berapa banyak pemilik bisnis yang setelah memiliki visi dan misi, akhirnya akan cepat melupakan mereka punya cita-cita.

Pola yang dianjurkan ActionCOACH adalah dimulai dari BE atau pola pikir dulu, bukan tindakan dulu, lalu dari pola pikir, kita mulai menjiwai apa yang kita impikan itu, dan dengan mindset yang kuat itu akhirnya akan melahirkan berbagai keputusan-keputusan tepat yang akan membawa Anda ke level keberhasilan yang lebih permanen.

Jika Anda ingin memiliki Buku Instant Cashflow Indonesia, dan sudah memiliki bisnis sendiri, silakan hubungi Portal antaranews.com untuk informasi lebih lanjut. Jika Anda ingin tahu tentang ActionCOACH, silakan hubungi : 021-290 366 30 untuk informasi lebih lanjut.

Buku ini akan menjelaskan kepada Anda bagaimana seharusnya berpikir entrepreneur dan menerapkan berbagai strategi yang sudah teruji di banyak negara.  Jika pemikiran sukses Anda sudah Anda stel, pasti ada tindkkan yang real untuk berlangganan dan bertindak ke arah yang Anda inginkan. Selamat menerapkan formula sukses Brad Sugars ini. Salam fantastik ! 

Anda Bekerja Keras Karena Bisnis Anda Tidak Bekerja

Bisnis sama seperti mobil. Pertanyaannya bukan siapa yang mengendarai mobil tapi sebaik apa kualitas mobil tersebut. Begitu banyak pertanyaan yang datang ke ActionCOACH tentang bisnis RUNS WITHOUT YOU, dan mereka berkeyakinan kuat bahwa konsep itu salah besar.

Sebagaimana layaknya mobil, bisnis juga memerlukan seperangkat ilmu dan juga ketrampilan yang BENAR. Bisa kita bayangkan jika kita merakit mesin mobil dengan ilmu kita sendiri, tanpa bertanya pada ahlinya, apa yang terjadi dengan mobil itu ?

Mungkinkah mobil yang kita rakit sendiri itu bisa berjalan?

Menempuh jarak 1 meter saja sudah bagus, umumnya mobil yang dikerjakan oleh bukan ahlinya, tak berhasil berjalan. Apalagi bermimpi dengan mobil itu kita bisa sampai tujuan. Bagai pungguk merindukan bulan.

Bisnis sama seperti mobil. Jika ActionCOACH memiliki keahlian merakit bisnis yang bisa berjalan tanpa keterlibatan pemilik bisnis di dalamnya, ini adalah persoalan WHAT bukan WHO. ActionCOACH bisa diibaratkan ahli merakit mesin mobil. Ketika mesin mobil bisnis Anda sudah layak JALAN, kini pertanyaannya bukan APA tapi SIAPA yang mengendarai mobil bisnis Anda ?

Skenario ini bisa kita balik. Anda sebagai pemilik bisnis sangat frustasi dengan kondisi bisnis Anda, dan Anda langsung makin kesal jika melihat ada beberapa pengusaha yang bisnisnya bisa berjalan tanpa keterlibatan mereka. Padahal, inti permasalahannya adalah sistem bisnis seperti apa yang ada dalam bisnis Anda dan bukan siapa yang mengendalikan bisnis itu.

Tujuan semua pengusaha di dunia ini adalah sama, yaitu memiliki bisnis yang bisa berkembang, menguntungkan dan bisa ditinggal dalam waktu lama. Dan konsep itulah yang ActionCOACH proklamirkan kepada semua pengusaha di seluruh dunia.

Kini Anda tahu permasalahan utama dalam bisnis, yaitu bagaimana cara merakit sistem bisnis yang BENAR, dan ketika sistem itu sudah tercipta, maka pilihan ada di tangan Anda, apakah Anda sendiri yang akan membawa bisnis ini atau sewa seorang general manager. Dan bisnis tetap bisa berjalan hingga sampai tujuan.

Anda Bekerja Keras Karena Bisnis Anda Tidak Bekerja

Seorang klien kami bertanya pada seorang coach, “Saya sudah berbisnis selama 10 tahun, tapi mengapa seperti jalan di tempat?”

Apa jawaban seorang coach ? “Anda tidak pernah berbisnis selama 10 tahun, Anda hanya berbisnis 1 tahun yang diulang sebanyak 10 kali“

Pada umumnya, bisnis yang kita jalankan tanpa konsep dan sistem yang benar. Tak heran, selama 10 tahun bisnisnya tak ada kemajuan. Mobilnya mogok atau jalan di tempat selama 10 tahun, dan mereka merasa sudah berpuluh kilometer, padahal masih di tempat yang sama.

Jika kita sebagai pemilik bisnis, sudah bertahun-tahun menekuni bisnis tapi tak ada kemajuan, coba lihat lagi, apakah mesin di bisnis Anda sudah benar Anda rakit ? Jangan-jangan Anda seperti menaiki mobil mogok, mesin tetap hidup tapi tak bisa berjalan.

Anda merasa keras bekerja di bisnis, karena bisnis Anda tidak bekerja. Ini adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Berapa banyak pengusaha terjebak dalam bisnis karena tak tahu cara bagaimana membangun bisnis.

ActionCOACH sangat tegas menekankan pentingnya MEMBANGUN BISNIS bukan MENJALANKAN BISNIS.

Jika menjalankan bisnis, Anda seperti orang berjalan-jalan, tak tahu arah dan tujuannya hanya kesenangan. Tak heran setiap hari hanya melakukan AKTIFITAS bukan PRODUKTIVITAS. Beda dengan membangun  bisnis.

Membangun bisnis sama seperti membangun RUMAH. Ada rencana yang sangat jelas tentang bangunan rumah ini akan seperti apa (big picture). Membangun rumah juga memiliki action plan yang jelas setelah ada konsep dan tekad kuat. Dan pada akhirnya, membangun rumah memiliki DEADLINE kapan rumah selesai dibangun .

Bisa kita bayangkan, berapa puluh tahun bisnis dijalankan tapi masih belum bisa ditinggal? Mengapa ini terjadi? Jawabnya, karena pemilik bisnis masih punya mindset MENJALANKAN BISNIS bukan MEMBANGUN BISNIS. Tak heran, jika bisnis tak punya deadline kapan selesai dibangun, tak ada pondasi yang kokoh dan tak ada sistem bisnis yang BENAR.

Jadi, jangan salahkan siapa-siapa jika usia bisnis sudah 10 tahun tapi masih jalan di tempat, coba cek lagi sistem bisnis Anda, apakah sudah layak jalan ? Jika pembaca ingin lebih tahu lagi bagaimana ActionCOACH bisa membantu bisnis Anda, segera kirim email ke jakarta@actioncoach.com atau hubungi kami di (021) 290 366 28

Wednesday, September 28, 2011

Untung tercetak dari usaha sablon logo di gelas

Semakin berkembangnya tawaran waralaba atau kemitraan, jasa penjualan dan pencetakan logo pada gelas plastik ikut terdongkrak. Pebisnis jasa ini bisa melayani pesanan hingga sebanyak 100.000 gelas per bulan dengan omzet sebesar Rp 35 juta per bulan.  Perkembangan bisnis waralaba atau kemitraan yang sangat pesat di Tanah Air, terutama untuk tawaran waralaba atau kemitraan di bidang usaha kuliner melecutkan bisnis lainnya.

Adalah jasa pembuatan cetak logo di gelas atau piring yang ikut merasakan dampak manis dari perkembangan bisnis waralaba ini. Lihat saja bisnis yang digeluti Muliadiharjo, pemilik Multi Sarana Berkat di Surabaya. Dia mengakui, maraknya bisnis model waralaba dan kemitraan, usaha penjualan gelas plastik sekaligus cetak logonya mengalami kenaikan lumayan tinggi.

Sepanjang tahun 2010, dibandingkan tahun sebelumnya, kenaikan pesanan mencapai 50%. "Sejak ramai-ramainya bisnis franchise, penjualan kita mengalami peningkatan," ujar Muliadi, yang memulai membangun usaha percetakan logo gelas plastik sejak 2009 ini.

Selain menerima pesanan dari pelaku usaha waralaba dan kemitraan, konsumen Muliadi juga datang dari kalangan pengusaha cafe dan restoran. "30% dari total order datang dari pengusaha cafe atau restoran," tegas Muliadi.

Untuk pemesanan, Multi Sarana Berkat juga menerapkan jumlah minimal pembuatan yakni sebanyak 2.000 gelas. Sejak memulai usaha hingga kini, Muliadi sudah menerima pesanan lebih dari 100 logo dagang.

Para pemesan logo itu datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar.  Muliadi menambahkan, perkembangan bisnis logo ini semakin baik di tahun ini. Dia bilang, saban bulan, rata-rata menerima pesanan cetak sekitar 50 logo.

Muliadi sendiri memasang harga tak terlalu mahal untuk setiap gelas berlogo itu. Untuk gelas dari bahan Polypropylene (PP) dia memasok harga Rp 350 per gelas, dan Rp 800 untuk gelas dari bahan Polethylene Terephthalate (PET). Hanya saja, "Soal omzet saya tidak bisa sampaikan," elak Muliadi. Dengan order sebanyak itu, diperkirakan omzet Muliadi minimal Rp 35 juta setiap bulannya.

Di Kediri, Jawa Timur, usaha sablon gelas plastik juga digeluti Rudy sejak tiga tahun lalu. Saat ini Rudy mengaku sudah mempunyai sepuluh pelanggan tetap yang membutuhkan pasokan gelas plastik lengkap dengan logo perusahaannya.

Dari semua konsumen yang datang kepadanya, rata-rata merupakan pengusaha makanan dan minuman dari Jawa Timur. "Tapi saya tidak tahu apakah usaha mereka itu waralaba atau bukan," ungkap Rudy.  Dengan modal Rp 200 untuk setiap gelas plastik, Rudi menjual kembali seharga Rp 400 untuk gelas yang sudah berlogo.

Rudy menghitung, untuk setiap konsumen yang datang, biasanya membutuhkan antara 1.000 gelas sampai 2.000 gelas. "Per bulan rata-rata omzet yang saya peroleh di atas Rp 10 juta," jelas Rudy, senang. Untuk meraih omzet lebih gede lagi, kini Rudy sibuk memasarkan usaha sablon gelasnya ini lewat dunia maya.

Namun, Rudy mengeluh, kalau ada pesanan dari luar kota, mahalnya ongkos kirim justru menjadi kendala. Maklum, tak semua pembeli sepakat dengan ongkos kirim yang diajukan Rudy.

Kalau Ingin Sukses Jangan Takut Memulai

Di usianya yang tergolong muda, Eko Krisyanto sudah memiliki empat Uni bisnis dengan omzet miliaran rupiah. Dengan prinsip tak pernah takut untuk memulai usaha, membuat Eko gemar buka usaha baru. Lihat saja, usai sukses berbisnis sumpit, kini ia memiliki bisnis jasa interior, bisnis payet, dan bisnis garmen.

Untuk meraih sukses dalam bisnis, syarat paling penting tentu jangan takut memulainya Prinsip itu pula yang dipegang Eko Krisyanto pemilik Media .JB Chopsticks, produsen sumpit di Bandung, Jawa Barat.

Karena prinsip itu pula, Eko pun tak takut memulai usaha baru. Setelah sukses di dunia sumpit, pada 2009, Eko tak segan membuka bisnis baru yang jauh berbeda dari bisnis sumpit, yakni membuka bisnis jasa desain interior. Bisnis ini dia beri nama Media Jasa Desain. Bisnis jasa mempercantik ruangan itu terinspirasi dari saudaranya yang berprofesi sebagai desainer.

Cukup hanya dua tahun saja, bisnis jasa desain interiornya itu berkembang pesat. Hingga kini usaha itu mampu mendulang omzet Rp 1 miliar per bulan dengan laba bersih 10%. "Ini berkat adik saya yang memang spesialis sebagai desainer," terang Eko yang mengaku hanya membantu marketing saja

Sukses membuka usaha jasa desain interior, semangat berbisnis Eko semakin inriiil ii iti ali. Kali ini juga bisnis yang berbeda dengan sumpit atau desain interior. Tepatnya pada Januari 2010, Eko membuka jasa pemasangan payet untuk produk garmen.

Saat memulai usaha ini Eko hanya memasang payet . saja Namun belakangan usaha itu berkembang hingga dia bisa memproduksi payetsendiri. Tapi saya masih terima jasa pemasangan payet," terang Eko. Nah, agar bisnis pemasangan payet ini lancar, Eko menggandeng mitra usaha dari kelompok perajin payet di Bandung.

Pelanggan payet milik Eko datang dari dalam dan luar negeri, Dari dalam negeri, pesanan payet datang dari Jakarta dan Makassar. Sementara, dari luar negeri pesanan datang dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Rusia. "Rata-rata pesanan payet 10.000 pieces di setiap kota," terang Eko.

Dalam sebulan, dari bisnis payet itu Eko mendulang omzet Rp 700 juta Sedangkan laba yang berhasil dibawa pulang Eko, rata-rata sebesar 30% dari omzet.

Belum cukup sampai di situ, awal 2011 lalu, Eko kembali bikin gebrakan bam dengan membuka pabrik garmen. Ia memproduksi produk garmen seperti baju kemeja seragam, kaos, dan juga celana denim atau jeans.

Pesanan terbanyak produk garmen miliknya itu adalah celana denim yang dipesan khusus oleh eksportir. "Eksportir itu ekspor ke Italia sebanyak 20.000 pieces," terang Eko yang mengaku dapat omzet Rp 500 juta per bulan dari bisnis garmen tersebut.

Selain melayani eksportir, bisnis garmen itu juga melayani kostum untuk keperluan kampanye politisi. Saat ini Eko sedang mempersiapkan pesanan dari salah satu kandidat calon Gubernur Banten.

Walaupun gemar membukausaha baru, bukan berarti Eko mengabaikan usahanya yang lama. Di sela kesibukan mengurus bisnis itu, Eko tetap melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebagai brand manager pada sebuah pabrik garmen milik perusahaan orang lain.

Memang berat untuk mengatur bisnis sembari bekerja Tetapi itulah yang dilakukan oleh Eko. Dia harus pandai-pandai mengatur waktu yang terbatas itu. Apalagi saban hari dia bisa harus mengurus banyak hal, mulai mengurus bisnis sumpit, payet, dan garmen, diajuga bekerja di perusahaan milik orang lain.

Eko juga rutin datang ke Garut untuk melihat produksi sumpit. Selain itu, ia mesti datang ke Bogor guna mencari tambahan pasokan sumpit dari produsen lain.

Di sela kesibukan itu, ia juga menyempatkan diri pulang ke rumah orangtua-nya di Ciganjur. "Di kota-kota itu, saya punya rumah dan ruko sehingga tidak binggung untuk menginap," kata Eko yang temyata gemar berinvestasi di sektor properti itu.

Agar sukses membuka bisnis baru, Eko bilang, membuka usaha dilakukan setelah melakukan analisa pasar. Proses menganalisa bisa dilakukan dengan pengamatan atau wawancara "Saya butuh tiga bulan untuk . menganalisa pasar," terang Eko.

Dalam menganalisa pasar tersebut mesti diketahui siapa pembeli, pesaing, dan mitra usaha Tapi hal terpenting adalah bagaimana kita mencari mitra," kata Eko.

Thursday, September 22, 2011

Ade Supriatna, Angkat Perekonomian Warga Cisompet dengan Bambu

Selalu ada hikmah di balik bencana. Seperti bencana gempa yang menimpa Provinsi Garut pada 2009 lalu. Bencana itu mampu menggugah Ade Supriatna untuk memberdayakan masyarakat melalui bambu. Dengan bambu, Ade mengajak warga Desa Cisompet kembali membangun kehidupan ekonomi paska gempa supaya tak bergantung pada bantuan siapapun.

Keterpurukan ekonomi yang melanda Desa Cisompet, Provinsi Garut paska gempa, menimbulkan keprihatinan mendalam di hati Ade Supriatna. Warga desa yang sebelumnya mengandalkan hasil pertanian, tak.bisa lagi bergantung pada lahannya.

Desa Cisompet merupakan satu dari lima desa yang menderita kerugian terparah akibat gempa pada 2009 silam. Akibat gempa pereko-nomian warga juga tak berdaya Lahan-lahan sawah jadi tak optimal hasilnya

Kondisi inilah yang memprihatinkan Ade. Namun Ade tak sekadar prihatin namun tak berbuat apa-apa Dia ingin mengajak warga desanya bangkit dari penderitaan dan melepaskan ketergantungan dari bantuan pihak lain.

Bagi Ade, desanya masih punya potensi yang belum digarap dengan baik, yakni pohon bambu. Itulah sebabnya, dia bersama dua rekannya, menggagas pendirian Bambu Indah Nusantara (BIN) pada awal 2011. "Saya ingin mengubah pola pikir masyarakat tentang bambu yang memiliki daya jual tinggi," ujar Ade yang telah meriset tanaman rumpun ini sejak 2002.

Mulanya, BIN mengajarkan masyarakat untuk membuat rumah ramah gempa dengan bahan dasar bambu. Ade yang pernah berkunjung ke Jepang, melihat banyak rumah tahan gempa di sana yang terbuat dari bambu.

Selain membuat rumah bambu, warga juga mengolah bambu sebagai pengganti kayu untuk lantai, furnitur, barang kerajinan, dan aneka perkakas.

Tentu keterlibatan warga itu tak serta merta. Ade harus lebih memberikan sosialisasi dan motivasi pada warga tentang banyaknya produk bisa dibuat dari bambu.

Ade juga mengajarkan caramenebang batang bambu serta membelah bambu. Kemudian, BIN membeli bambu-bambu itu dengan harga Rp 5.000 per meter. Menurut Ade, harga ini lebih tinggi dibandingkan harga yang ditawarkan pengepul yang hanya Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per meter. "Ini untuk mendorong masyarakat agar lebih giat  mengolah bambu," kata Ade.

Selain itu, BIN membeli bambu itu bertujuan mengurangi pengangguran. Selanjutnya dari hasil pemasaran bambu ini, BIN akan memberikan bibit pohon bambu sehingga tetap tercipta kesinambungan.

Ade menetapkan konsep tebang satu batang bambu, tanam dua pohon bambu. Dengan program ini, BIN ingin masyarakat mau menanam dan memelihara bambu sebagai aset sekaligus mata pencaharian. "Saya berharap akan tercipta siklus yang bisa mengurangi jumlah pengangguran, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ketrampilan masyarakat serta penghijauan," tutur Ade.

Ade yakin, produk olahan BIN bisa bersaing dengan berbagai peralatan rumah tangga produk impor. "Kualitas produk dan harga kerajinan bambu ini juga cukup bersaing," ujarnya

Ade menjual beragam produk berbahan bambu itu masih di seputar Bandung. Konsumen BIN biasanya datang dari pengembang perumahan atau perkantoran. "Kamijuga sudah ada pembicaraan dengan desainer interior salah satu perumahan di Bandung yang ingin melengkapi perabotanrumah dengan bambu," ungkap Ade.

Meski baru berjalan, BIN sudah mampu mengumpulkan omzet hingga mencapai Rp 20 juta per bulan. Dari penjualan bambu, Warga Desa Cisompet pun bisa mengumpulkan omzet Rp 5 juta dari 1.000 batang bambu yang terjual per bulan.

Pria 50 tahun ini pun berharap, program BIN ini tak hanya berlangsung di satu desa saja "Kami ingin melakukan program ini secara nasional," ujar Ade bersemangat.